Jumat, 16 November 2018

SESEPUH




Sore ini, aku duduk di teras rumah sembari menyetel radio tua pembelian bopoku. Suaranya sudah agak tidak jelas, Aku putar kesana sini antena radio tersebut. Ku angkat ke atas, ke bawah ke samping dan sesekali ku tepuk-tepuk radio tua ini. Tapi, tetap saja suaranya tidak jelas.
“Mo, biyung pergi ke rumah  wa Harto dulu ya? Ingat pesan biyung kemarin  malam!” Ucap biyungku
 Aku mengangguk sebagai pertanda mengiyakan perkataan biyung. Sore ini biyung pergi menjenguk wa Harto yang sedang sakit. Sebelumnya, beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengan wa Harto saat biyung menyuruhku membeli gula merah di warungnya Bi Jarmi. Kala itu hujan turun begitu lebat, tubuh Wa Harto basah kuyup. Sembari menunggu antrean pembeli aku sempat menguping pembicaraan wa Harto dan beberapa orang yang sedang duduk santai di depan warung.
“Gila To, kau berani menebang pohon dekat bangunan itu?” kata Pak Junaidi ketua RW desa kami sambil menepuk pundak wa Harto
“Lho, kenapa tidak? Toh pohonnya sudah mati, lebih baik kan ditebang biar jadi kayu bakar Pak.” Jawab wa Harto santai.
“Tapi tempat itu keramat lho, kita di larang untuk dekat-dekat dengan tempat itu.” Tukas Paman Ijang
“Cuma Pabrik gula tua peninggalan Belanda kok. Orang-orang Belanda kan sudah pulang ke negri asalnya.” Wa Harto menjawabnya dengan enteng.
“Ya tapi kan di situ terkenal angker, jangan nggampangin kaya gitu To, bisa-bisa kualat kamu To” Ucap Pak Junaidi begitu mantap.
“Halah, takhayul Pak. Ayo kita main catur saja.” Ajak wa Harto mengambil papan catur di bawah meja.
            Setelah itu, keesokan harinya wa Harto dikabarkan sakit bahkan sampai hari ini. Tubuhnya begitu panas, dia selalu mengerang-ngerang kesakitan. Ki Sarwa yang dikenal sebagai sesepuh desa segera diundang ke rumah wa Harto. Setelah istri wa Harto menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu wa Harto menebang pohon dekat bangunan tua yang terkenal angker, Ki Sarwa mengatakan bahwa wa Harto telah kesambet lelembut penghuni pohon dekat bangunan tua itu, sebab bangunan tua dan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya itu terkenal sangat angker. Warga sangat menghormati Ki Sarwa dan percaya pada kekutan Ki Sarwa,  tidak hanya untuk mengobati orang sakit, tetapi juga meminta pengasihan agar orang tersebut memiliki aura menarik, meminta agar lekas kaya, bahkan ada yang meminta untuk di ramal. Ramalannya kadang ada yang tepat tapi tidak sedikit pula yang melenceng. Namun, warga desa tetap menghormati dan memercayainya. Ramalan Ki Sarwa yang terbaru ialah di musim ini petani cocoknya menanam padi agar terhindar dari bahaya kelaparan yang akan menghadang desa kami. Ramalan tersebut memang tepat, aku saja sudah beberapa hari ini musti makan nasi jagung,  tapi lebih sering tiwul. Selain karena bibit padi yang mahal, serta hama tikus dan wereng yang sedang marak menyerang, juga karena sudah lama desa kami tidak dipasok bantuan raskin dari pemerintah.entah karena apa, apakah karena desa kami sulit dijangkau karena letaknya terpencil dan sulit dilalui kendaraan, atau mereka lupa mengasih. Entahlah aku tak tahu urusan orang-orang atas seperti itu yang jelas daerahku memang sangat pelosok.
***
                        Di dalam kamar, aku mengenakan seragam merah putih khas anak SD. Aku berkaca sembari menyisir rambut yang sudah ku lumuri minyak orang-aring, terlihat kelimis. Ku tata rambutku menjadi belah pinggir terlihat begitu rapi.
 “Imo, sini sarapan dulu nak.”
            Aku keluar dari kamar, biyungku sudah kembali ke belakang terdengar suara “gebyar gebyur” mungkin biyung sedang mandi. Aku membuka tutup saji yang berada di meja makan, “ah, tiwul lagi tiwul lagi.” Segera ku tutup lagi. Aku rasa aku sudah kesiangan, akupun segera berangkat sekolah.
                        “Yung, aku berangkat dulu ya!” Aku berteriak pamitan, agar suaraku mampu menjangkau biyung yang sedang berada di dalam.
                        “Iya hati-hati” jawab Biyung dari dalam kamar mandi.
***
Di tengah jam istirahat sekolah, aku bermain gundu bersama teman-temanku di halaman sekolah. Ibarat turnamen, sekarang sedang babak final antara aku melawan Mail. Gundu milik Imun dan Mi’un sudah gugur terkalahkan gundu milikku dan Mail.
“Yang pada kalah nanti di hukum ya?” kata Mail sambil mengamatiku menyentil gundu
“Ya oke, kelihatannya seru” Jawab Imun
“Bagaiman kalau hukumannya pergi ke bangunan tua dekat hutan?” Tantang Mail
                        “Heh, hukumannya ngeri sekali. Itu kan angker” Jawab Mi’un
                        “Iya benar, di suatu siang aku dan Paman Badri juga mendengar suara aneh, seperti gaduh dan sesekali ada suara suara seperti orang tapi tak jelas, aku mendengarnya saat melewati bangunan tersebut sehabis berburu bajing di hutan.” Ucap Imun
                        “Aku bercanda kok. Lalu apa hukuman yang pas? Apa menurutmu Mo?” Tanya Mail seraya  membidik gundunya dan masih melenceng
                        “Ha? Terserah kalian saja lah”  Aku masih berkonsentrasi menyentil gunduku
Bidikan gunduku melenceng, kini giliran Mail lagi. Dia membidikan gundunya ke arah gunduku. Gundu tersebut terpental dan jatuh menggelinding ke sisi kanan gunduku berjarak kurang lebih 10cm. Melenceng cukup jauh. Batinku sudah tenang. Tapi, karena permukaannya yang tidak rata dan agak miring tiba-tiba gundu tersebut menggelinding agak cepat ke arah gunduku dan di jarak beberapa mili gundu tersebut berhenti lalu “Tiikkk”  gundu tersebut akhirnya menyenggol gunduku.
“Yeee... aku menang.” Teriak Mail kegirangan.
“Jadi hukumannya mijitin yang menang, ayo kalian semua pijitin aku” Kata Mail   
“Huuuuuu” Aku dan yang lain menyoraki Mail, dan pergi meninggalkannya
                        “Lho, lho kalian mau kemana tunggu aku!” Mail memberesi gundu-gundunya dan berlari mengejar kami.

***
Aku pulang sendirian, aku dan beberapa kawanku terpisah di persimpangan jalan, karena arah jalan rumah kami berbeda. Beberapa kali aku menyeka keringat yang membasahi mukaku dengan menggunakan lengan bajuku. Sebenarnya Ibu kerap memarahiku jika menyeka keringat dengan lengan baju, karena akan meninggalkan noda di bagian lengan baju, mungkin bekas kotoran berupa debu-debu yang menempel di muka dan bercampur dengan keringat. Saking panasnya terik matahari aku memilih untuk mengambil jalan pintas yang agak masuk hutan, tapi masih di bagian pinggiran hutan. Banyak pepohonan di sepanjang jalan ini, sehingga aku bisa terhindar dari sengatan matahari. Ditengah perjalanan, saat aku menengok kanan kiri, dari kejauhan terlihat bangunan tua yang kerap diceritakan orang-orang. Aku berhenti sejenak, agak penasaran dengan bangunan tersebut. Saat aku akan melangkahkan kaki sekadar untuk melihat  bangunan itu dari dekat aku teringat dengan wejangan biyungku dan cerita Imun saat istirahat tadi, jujur saja aku juga takut, aku mengurungkan langkahku. Tapi, karena aku sangat penasaran aku tetap juga melangkahkan kaki menuju bangunan tua tersebut. Mendekati bangunan tua tersebut aku memelankan langkah kakiku dan berdiri di samping pohon kokosan yang sudah berbuah cukup lebat namun belum matang. Beberapa buah yang belum matang tersebut terlihat sudah berjatuhan di atas tanah.

***
“Krik... krik... krikkk” Suara jangkrik memekikkan telingaku dan membuatku terbangun. Aku terkaget-kaget saat ku dapati diriku sudah berada di dalam kamar, dari ventilasi kamar terlihat di luar sana sudah gelap, ini sudah malam. Sejak kapan aku berada di kamar ini. Kepalaku begitu pusing, badanku sangat panas ditambah perutku sangat ngilu.
            “Imo kamu sudah sadar nak?”
            “Memangnya kenapa yung?”
            “Tadi Paman Ijang menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di dekat bagunan tua itu Mo”
            “Oh ya? Aku tak ingat”
            “Kan sudah biyung bilang, kamu jangan main-main ke situ. Bagaimana keadaanmu? Apa perlu biyung suruh Bopo panggilkan Ki Sarwa untuk meruwatmu, barangkali kamu ketempelan lelembut bangunan tua itu Mo.”
            “Tak usah... tak usah... aku tidak apa-apa kok.”
Tentu saja aku segera menolaknya, aku tak ingin melakukan ritual aneh yang biasa dilakukan Ki Sarwa dalam mengobati pasiennya. Aku juga tak mau disemprot dengan ludahnya yang habis mengunyah dedaunan dan menyerbakan baun tak jelas, agak busuk, amis dan lain sebagainaya. Aku sudah pernah merasakannya saat dulu aku sakit panas, bahkan aku di suruh mandi kala purnama tiba dengan bunga tujuh rupa, katanya agar roh-roh jahat yang ada di tubuhku keluar.
***

Di hari Minggu pagi aku sudah berjanji dengan Mail, Imun dan Mi’un untuk bermain bersama. Saat ku buka tutup saji, yang ada lagi-lagi hanya tiwul, aku tak nafsu makan. Nanti siang sajalah kalau lapar. Aku dan ketiga kawanku bermain di kebun kosong milik Pak Haji Imron. Kami main petak umpet. Setelah hom pim pa, akhirnya diputuskan Imun yang jaga sedang yang lain sembunyi. Imun menghitung satu sampai sepuluh. Mail bersembunyi dekat kandang bebek pinggir kebun milik Haji imron, Mi’un di balik tumpukan kayu, sedang aku masih kebingungan mencari tempat persembunyian, lalu aku bersembunyi dibalik semak-semak. Setelah ku amati sekeliling ku, ternyata kebun Pak Imron ini dekat jalan pintas yang ku lalaui sewaktu pulang sekolah. Memang benar bahkan bangunan tua itu agak kelihatan meski tak begitu jelas.
Lama aku bersembunyi di balik semak-semak, tenggorokanku kering sekali, perutku juga keroncongan, aku jadi teringat buah kokosan dekat bangunan tua itu. Aku mengintip Imun yang sedang kebingungan mencari persembunyian kami. Kemudian, diam-diam aku pergi untuk mengambil buah kokosan sebentar. Aku sebenarnya masih takut untuk kembali ke tempat itu, tapi pikirku daripada aku kehausan dan kelaparan, toh nanti setelah mengambil beberapa buah  yang terjatuh, aku akan langsung lari kembali ke tempat persembunyianku.
            Sesampainya di bawah pohon kokosan dekat bangunan tua, aku mulai memungut beberapa buah yang kokosan muda yang tergeletak di atas tanah.  Ketika ku rasa cukup dan aku hendak berbalik kembali ke persembunyian terdengar suara kendaraan, aku mengurungkan niatku untuk berbalik. Terlihat sebuah mobil pick-up berhenti di depan bangunan tua itu, aku segera bersembunyi di balik pohon kokosan  yang sudah tua dan cukup besar sehingga cukup untuk menyembunyikan tubuh kecilku ini. Mobil tersebut  terlihat mengangkut sesuatu begitu banyak sampai terlihat menggunung namun tertutupi tenda. Tidak lama kemuadian datanglah sebuah mobil  berwarna hijau dari pintu depan sisi kanan keluarlah Pak Lurah, dia terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan supir pick-up beserta beberapa orang yang turut serta. Setelah itu orang-orang tersebut membuka tenda penutup pick-up tersebut dan mengangkuti karung-karung entah berisi apa, ku amati lebih lanjut ada bagian karung yang robek dan dari dalam keluarlah bulir-bulir beras, dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang mengangkuti karung-karung berisi beras. Aku masih mengawasi pergerakan mereka sembari mengupas buah kokosan. Aku tahu buah kokosan muda ini rasanya luar biasa asam, karena aku pernah memakannya beberapa hari yang lalu sewaktu pulang sekolah melewati jalan pintas dan memberanikan diri mendekati tempat ini. Tapi, sungguh aku sangat kehausan dan kelaparan. Aku memakannya sampai habis. Tidak lama kemudian perutku terasa ngilu, sakit sekali kepalaku juga pusing, keadaan berubah menjadi gelap.

***
Dalam keadaan mata tertutup, aku mencium bau sesuatu. Baunya sangat menyengat. Perlahan aku membuka mata ini, terlihat masih meremang. Nampak kepulan asap di hadapanku, ada seseorang dengan mulut komat-kamit sedang memegang wadah berisi bunga-buangaan, di tengahnya menyembul asap , batinku berkata “itu menyan aku tahu baunya, dan itu adalah...”  penglihatanku sudah begitu jelas, tiba-tiba, “brusssshh” Muka ku basah terkena cairan hijau yang baunya busuk tak enak.
Ya, itu adalah Ki Sarwa yang menyemburku dengan dedaunan yang habis dimamahnya. Ku lihat banyak orang-orang di sekelilingku. Aneh.


Purbalingga, 21 Februari 2013
Dina Ahsanta Puri
Mahasiswi semester 2
FPBS/PBI/IKIP PGRI Semarang
Lahir di Purbalingga, 06-06-1995

Tidak ada komentar:

Posting Komentar