Sore
ini, aku duduk di teras rumah sembari menyetel radio tua pembelian bopoku.
Suaranya sudah agak tidak jelas, Aku putar kesana sini antena radio tersebut. Ku
angkat ke atas, ke bawah ke samping dan sesekali ku tepuk-tepuk radio tua ini.
Tapi, tetap saja suaranya tidak jelas.
“Mo,
biyung pergi ke rumah wa Harto dulu ya?
Ingat pesan biyung kemarin malam!” Ucap
biyungku
Aku mengangguk sebagai pertanda mengiyakan
perkataan biyung. Sore ini biyung pergi menjenguk wa Harto yang sedang sakit.
Sebelumnya, beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengan wa Harto saat
biyung menyuruhku membeli gula merah di warungnya Bi Jarmi. Kala itu hujan
turun begitu lebat, tubuh Wa Harto basah kuyup. Sembari menunggu antrean pembeli
aku sempat menguping pembicaraan wa Harto dan beberapa orang yang sedang duduk
santai di depan warung.
“Gila To, kau berani menebang pohon dekat bangunan
itu?” kata Pak Junaidi ketua RW desa kami sambil menepuk pundak wa Harto
“Lho, kenapa tidak? Toh pohonnya sudah mati, lebih
baik kan ditebang biar jadi kayu bakar Pak.” Jawab wa Harto santai.
“Tapi tempat itu keramat lho, kita di larang untuk
dekat-dekat dengan tempat itu.” Tukas Paman Ijang
“Cuma Pabrik gula tua peninggalan Belanda kok.
Orang-orang Belanda kan sudah pulang ke negri asalnya.” Wa Harto menjawabnya
dengan enteng.
“Ya tapi kan di situ terkenal angker, jangan nggampangin kaya gitu To, bisa-bisa
kualat kamu To” Ucap Pak Junaidi begitu mantap.
“Halah, takhayul Pak. Ayo kita main catur saja.” Ajak
wa Harto mengambil papan catur di bawah meja.
Setelah itu, keesokan harinya wa
Harto dikabarkan sakit bahkan sampai hari ini. Tubuhnya begitu panas, dia
selalu mengerang-ngerang kesakitan. Ki Sarwa yang dikenal sebagai sesepuh desa
segera diundang ke rumah wa Harto. Setelah istri wa Harto menceritakan bahwa
beberapa hari yang lalu wa Harto menebang pohon dekat bangunan tua yang
terkenal angker, Ki Sarwa mengatakan bahwa wa Harto telah kesambet lelembut
penghuni pohon dekat bangunan tua itu, sebab bangunan tua dan segala sesuatu
yang ada di sekelilingnya itu terkenal sangat angker. Warga sangat menghormati
Ki Sarwa dan percaya pada kekutan Ki Sarwa,
tidak hanya untuk mengobati orang sakit, tetapi juga meminta pengasihan
agar orang tersebut memiliki aura menarik, meminta agar lekas kaya, bahkan ada
yang meminta untuk di ramal. Ramalannya kadang ada yang tepat tapi tidak
sedikit pula yang melenceng. Namun, warga desa tetap menghormati dan
memercayainya. Ramalan Ki Sarwa yang terbaru ialah di musim ini petani cocoknya
menanam padi agar terhindar dari bahaya kelaparan yang akan menghadang desa
kami. Ramalan tersebut memang tepat, aku saja sudah beberapa hari ini musti
makan nasi jagung, tapi lebih sering
tiwul. Selain karena bibit padi yang mahal, serta hama tikus dan wereng yang
sedang marak menyerang, juga karena sudah lama desa kami tidak dipasok bantuan
raskin dari pemerintah.entah karena apa, apakah karena desa kami sulit
dijangkau karena letaknya terpencil dan sulit dilalui kendaraan, atau mereka
lupa mengasih. Entahlah aku tak tahu urusan orang-orang atas seperti itu yang
jelas daerahku memang sangat pelosok.
***
Di dalam kamar, aku
mengenakan seragam merah putih khas anak SD. Aku berkaca sembari menyisir
rambut yang sudah ku lumuri minyak orang-aring, terlihat kelimis. Ku tata
rambutku menjadi belah pinggir terlihat begitu rapi.
“Imo, sini
sarapan dulu nak.”
Aku keluar dari kamar, biyungku
sudah kembali ke belakang terdengar suara “gebyar
gebyur” mungkin biyung sedang mandi. Aku membuka tutup saji yang berada di
meja makan, “ah, tiwul lagi tiwul lagi.” Segera ku tutup lagi. Aku rasa aku
sudah kesiangan, akupun segera berangkat sekolah.
“Yung, aku berangkat
dulu ya!” Aku berteriak pamitan, agar suaraku mampu menjangkau biyung yang
sedang berada di dalam.
“Iya hati-hati” jawab
Biyung dari dalam kamar mandi.
***
Di
tengah jam istirahat sekolah, aku bermain gundu bersama teman-temanku di
halaman sekolah. Ibarat turnamen, sekarang sedang babak final antara aku
melawan Mail. Gundu milik Imun dan Mi’un sudah gugur terkalahkan gundu milikku
dan Mail.
“Yang pada kalah nanti di hukum ya?” kata Mail
sambil mengamatiku menyentil gundu
“Ya oke, kelihatannya seru” Jawab Imun
“Bagaiman kalau hukumannya pergi ke bangunan tua
dekat hutan?” Tantang Mail
“Heh,
hukumannya ngeri sekali. Itu kan angker” Jawab Mi’un
“Iya
benar, di suatu siang aku dan Paman Badri juga mendengar suara aneh, seperti
gaduh dan sesekali ada suara suara seperti orang tapi tak jelas, aku
mendengarnya saat melewati bangunan tersebut sehabis berburu bajing di hutan.” Ucap
Imun
“Aku
bercanda kok. Lalu apa hukuman yang pas? Apa menurutmu Mo?” Tanya Mail seraya membidik gundunya dan masih melenceng
“Ha?
Terserah kalian saja lah” Aku masih
berkonsentrasi menyentil gunduku
Bidikan
gunduku melenceng, kini giliran Mail lagi. Dia membidikan gundunya ke arah
gunduku. Gundu tersebut terpental dan jatuh menggelinding ke sisi kanan gunduku
berjarak kurang lebih 10cm. Melenceng cukup jauh. Batinku sudah tenang. Tapi,
karena permukaannya yang tidak rata dan agak miring tiba-tiba gundu tersebut
menggelinding agak cepat ke arah gunduku dan di jarak beberapa mili gundu
tersebut berhenti lalu “Tiikkk” gundu tersebut akhirnya menyenggol gunduku.
“Yeee... aku menang.” Teriak Mail kegirangan.
“Jadi hukumannya mijitin yang menang, ayo kalian
semua pijitin aku” Kata Mail
“Huuuuuu” Aku dan yang lain menyoraki Mail, dan pergi
meninggalkannya
“Lho,
lho kalian mau kemana tunggu aku!” Mail memberesi gundu-gundunya dan berlari
mengejar kami.
***
Aku
pulang sendirian, aku dan beberapa kawanku terpisah di persimpangan jalan,
karena arah jalan rumah kami berbeda. Beberapa kali aku menyeka keringat yang
membasahi mukaku dengan menggunakan lengan bajuku. Sebenarnya Ibu kerap memarahiku
jika menyeka keringat dengan lengan baju, karena akan meninggalkan noda di
bagian lengan baju, mungkin bekas kotoran berupa debu-debu yang menempel di
muka dan bercampur dengan keringat. Saking panasnya terik matahari aku memilih
untuk mengambil jalan pintas yang agak masuk hutan, tapi masih di bagian pinggiran
hutan. Banyak pepohonan di sepanjang jalan ini, sehingga aku bisa terhindar
dari sengatan matahari. Ditengah perjalanan, saat aku menengok kanan kiri, dari
kejauhan terlihat bangunan tua yang kerap diceritakan orang-orang. Aku berhenti
sejenak, agak penasaran dengan bangunan tersebut. Saat aku akan melangkahkan
kaki sekadar untuk melihat bangunan itu
dari dekat aku teringat dengan wejangan biyungku dan cerita Imun saat istirahat
tadi, jujur saja aku juga takut, aku mengurungkan langkahku. Tapi, karena aku
sangat penasaran aku tetap juga melangkahkan kaki menuju bangunan tua tersebut.
Mendekati bangunan tua tersebut aku memelankan langkah kakiku dan berdiri di
samping pohon kokosan yang sudah berbuah cukup lebat namun belum matang. Beberapa
buah yang belum matang tersebut terlihat sudah berjatuhan di atas tanah.
***
“Krik...
krik... krikkk” Suara jangkrik memekikkan telingaku dan membuatku terbangun. Aku
terkaget-kaget saat ku dapati diriku sudah berada di dalam kamar, dari ventilasi
kamar terlihat di luar sana sudah gelap, ini sudah malam. Sejak kapan aku
berada di kamar ini. Kepalaku begitu pusing, badanku sangat panas ditambah
perutku sangat ngilu.
“Imo kamu sudah sadar nak?”
“Memangnya kenapa yung?”
“Tadi Paman Ijang menemukanmu
tergeletak tak sadarkan diri di dekat bagunan tua itu Mo”
“Oh ya? Aku tak ingat”
“Kan sudah biyung bilang, kamu
jangan main-main ke situ. Bagaimana keadaanmu? Apa perlu biyung suruh Bopo
panggilkan Ki Sarwa untuk meruwatmu, barangkali kamu ketempelan lelembut
bangunan tua itu Mo.”
“Tak usah... tak usah... aku tidak
apa-apa kok.”
Tentu
saja aku segera menolaknya, aku tak ingin melakukan ritual aneh yang biasa
dilakukan Ki Sarwa dalam mengobati pasiennya. Aku juga tak mau disemprot dengan
ludahnya yang habis mengunyah dedaunan dan menyerbakan baun tak jelas, agak busuk,
amis dan lain sebagainaya. Aku sudah pernah merasakannya saat dulu aku sakit
panas, bahkan aku di suruh mandi kala purnama tiba dengan bunga tujuh rupa,
katanya agar roh-roh jahat yang ada di tubuhku keluar.
***
Di
hari Minggu pagi aku sudah berjanji dengan Mail, Imun dan Mi’un untuk bermain
bersama. Saat ku buka tutup saji, yang ada lagi-lagi hanya tiwul, aku tak nafsu
makan. Nanti siang sajalah kalau lapar. Aku dan ketiga kawanku bermain di kebun
kosong milik Pak Haji Imron. Kami main petak umpet. Setelah hom pim pa,
akhirnya diputuskan Imun yang jaga sedang yang lain sembunyi. Imun menghitung
satu sampai sepuluh. Mail bersembunyi dekat kandang bebek pinggir kebun milik Haji
imron, Mi’un di balik tumpukan kayu, sedang aku masih kebingungan mencari
tempat persembunyian, lalu aku bersembunyi dibalik semak-semak. Setelah ku
amati sekeliling ku, ternyata kebun Pak Imron ini dekat jalan pintas yang ku
lalaui sewaktu pulang sekolah. Memang benar bahkan bangunan tua itu agak
kelihatan meski tak begitu jelas.
Lama
aku bersembunyi di balik semak-semak, tenggorokanku kering sekali, perutku juga
keroncongan, aku jadi teringat buah kokosan dekat bangunan tua itu. Aku
mengintip Imun yang sedang kebingungan mencari persembunyian kami. Kemudian,
diam-diam aku pergi untuk mengambil buah kokosan sebentar. Aku sebenarnya masih
takut untuk kembali ke tempat itu, tapi pikirku daripada aku kehausan dan kelaparan,
toh nanti setelah mengambil beberapa buah
yang terjatuh, aku akan langsung lari kembali ke tempat persembunyianku.
Sesampainya di bawah pohon kokosan dekat bangunan tua, aku mulai memungut beberapa buah yang kokosan muda yang tergeletak di atas tanah. Ketika ku rasa cukup dan aku hendak berbalik kembali ke persembunyian terdengar suara kendaraan, aku mengurungkan niatku untuk berbalik. Terlihat sebuah mobil pick-up berhenti di depan bangunan tua itu, aku segera bersembunyi di balik pohon kokosan yang sudah tua dan cukup besar sehingga cukup untuk menyembunyikan tubuh kecilku ini. Mobil tersebut terlihat mengangkut sesuatu begitu banyak sampai terlihat menggunung namun tertutupi tenda. Tidak lama kemuadian datanglah sebuah mobil berwarna hijau dari pintu depan sisi kanan keluarlah Pak Lurah, dia terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan supir pick-up beserta beberapa orang yang turut serta. Setelah itu orang-orang tersebut membuka tenda penutup pick-up tersebut dan mengangkuti karung-karung entah berisi apa, ku amati lebih lanjut ada bagian karung yang robek dan dari dalam keluarlah bulir-bulir beras, dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang mengangkuti karung-karung berisi beras. Aku masih mengawasi pergerakan mereka sembari mengupas buah kokosan. Aku tahu buah kokosan muda ini rasanya luar biasa asam, karena aku pernah memakannya beberapa hari yang lalu sewaktu pulang sekolah melewati jalan pintas dan memberanikan diri mendekati tempat ini. Tapi, sungguh aku sangat kehausan dan kelaparan. Aku memakannya sampai habis. Tidak lama kemudian perutku terasa ngilu, sakit sekali kepalaku juga pusing, keadaan berubah menjadi gelap.
Sesampainya di bawah pohon kokosan dekat bangunan tua, aku mulai memungut beberapa buah yang kokosan muda yang tergeletak di atas tanah. Ketika ku rasa cukup dan aku hendak berbalik kembali ke persembunyian terdengar suara kendaraan, aku mengurungkan niatku untuk berbalik. Terlihat sebuah mobil pick-up berhenti di depan bangunan tua itu, aku segera bersembunyi di balik pohon kokosan yang sudah tua dan cukup besar sehingga cukup untuk menyembunyikan tubuh kecilku ini. Mobil tersebut terlihat mengangkut sesuatu begitu banyak sampai terlihat menggunung namun tertutupi tenda. Tidak lama kemuadian datanglah sebuah mobil berwarna hijau dari pintu depan sisi kanan keluarlah Pak Lurah, dia terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan supir pick-up beserta beberapa orang yang turut serta. Setelah itu orang-orang tersebut membuka tenda penutup pick-up tersebut dan mengangkuti karung-karung entah berisi apa, ku amati lebih lanjut ada bagian karung yang robek dan dari dalam keluarlah bulir-bulir beras, dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang mengangkuti karung-karung berisi beras. Aku masih mengawasi pergerakan mereka sembari mengupas buah kokosan. Aku tahu buah kokosan muda ini rasanya luar biasa asam, karena aku pernah memakannya beberapa hari yang lalu sewaktu pulang sekolah melewati jalan pintas dan memberanikan diri mendekati tempat ini. Tapi, sungguh aku sangat kehausan dan kelaparan. Aku memakannya sampai habis. Tidak lama kemudian perutku terasa ngilu, sakit sekali kepalaku juga pusing, keadaan berubah menjadi gelap.
***
Dalam
keadaan mata tertutup, aku mencium bau sesuatu. Baunya sangat menyengat.
Perlahan aku membuka mata ini, terlihat masih meremang. Nampak kepulan asap di
hadapanku, ada seseorang dengan mulut komat-kamit sedang memegang wadah berisi
bunga-buangaan, di tengahnya menyembul asap , batinku berkata “itu menyan aku
tahu baunya, dan itu adalah...” penglihatanku
sudah begitu jelas, tiba-tiba, “brusssshh”
Muka ku basah terkena cairan hijau yang baunya busuk tak enak.
Ya,
itu adalah Ki Sarwa yang menyemburku dengan dedaunan yang habis dimamahnya. Ku
lihat banyak orang-orang di sekelilingku. Aneh.
Purbalingga, 21
Februari 2013
Dina Ahsanta
Puri
Mahasiswi
semester 2
FPBS/PBI/IKIP
PGRI Semarang
Lahir di
Purbalingga, 06-06-1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar