
Sabtu, 30 Juli 2022
PROCEEDINGS-UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2014

Puipui Reborn!
TERAPI DIRI UNTUK KEMBALI
Jika ada kesempatan, aku ingin
kembali mengunjungi Semarang. Kota yang pernah menumbuhkan suatu mimpi dan sekaligus
menjadikanku pecundang yang melepaskan mimpi itu. Mimpi yang seandainya mewujud
manusia, ia baru sebesar balita. Balita yang digadang tumbuh menjadi jawara
itu, kutelantarkan karena kepayahan dan langkah yang tertahan kekecewaan. Berkali
kali aku menyalahkan diri, dasar pecundang! Sungguh aku egois pada diri.
Aku terus berlari dengan dalih
menyembuhkan diri. Pelarian yang memperparah dan menghambat kesembuhan. Banyak
kawan mencoba meraih tanganku dan memintaku kembali, ‘menulislah, kami rindu
tulisanmu.” Aku selalu sensitif jika ada seseorang membahas aku yang dulu, “dulu
kamu... aku mengenal kamu sebagai... aku selalu ingin sepertimu, kenapa kamu
berhenti.” Aku membenci pertanyaan macam itu, tanya yang membuatku merasa
semakin payah. Mentalku payah, bukannya terpantik untuk memulai kembali, justru
semakin kencang berlari. Memasuki persinggahan demi persinggahan yang
mengungkung jati diri.
Pertama aku mengenali apa itu
mimpi, saat aku sadar aku sangat ingin menjadi atlet badminton. Tapi aku sadar,
itu berat dan sudah ikhlas menjadi penggemar bulu tangkis saja. Serupa hukum
kekekalan energi, bahwasannya energi tidak pernah musnah, ia hanya berubah
wujud. Seperti itulah mimpiku, mimpiku masih hidup dan berubah ke tulisan.
Hampir 7 tahun aku berhenti dan
meyakini mimpi itu telah mati. Namun, hari-hari yang kulewati serupa malam yang
berkepanjangan. Gelap dan menyesakkan, mimpi itu kerap menyelinap dan menghantui
diri. Ia seperti meminta pertanggung jawabanku menghidupkannya.
7 tahun aku menyepi dengan
caraku. Merenungi setiap langkah, setiap tatap, setiap aroma, setiap sentuhan,
setiap ingatan. Aku mencoba menggapai kepercayaan diri kembali dan mengajak
diri ini berdamai dengan diri.
MULAI BANGKIT
Aku bertapa dalam senyum, dalam komunikasi, dalam bacaan, dalam
kesabaran, dalam keberanian. Sampai aku mendapati Haruki Murakami saja
melahirkan karya ketika usia 29 tahun, banyak karyanya yang lahir dari
kesepian. Menilik usiaku, aku belum terlambat dan memang tidak ada batasan
usia. Ini bukan perekrutan CPNS.
MENGINGAT KEMBALI AWAL MULA
1.
Receh, humoris,
‘aneh dan nyleneh’, imajinatif, memiliki sudut pandang berbeda.
Seorang kawan belum lama ini
mengatakan, “kamu ada-ada saja ya, dulu perkara tai kuda saja bisa kamu tulis
semenarik itu.” Tai kuda? Biasanya ingatanku sangat tajam. Tapi memang karena
there were some problems hit me hard, membuat sebagian ingatanku hilang. Bukan
semacam amnesia tapi seperti autoprotect dari pikiran yang mengeblok beberapa
file ingatan untuk melindungi diri dari rasa sakit. Dan ia serupa antibody yang
tak bisa memilih mana bakteri baik dan bakteri jahat, atau serupa antivirus
yang justru mengformat banyak file penting.
Aku bekerja pada suatu tempat
yang mungkin agak susah untuk mengembangkan kesenanganku ini, jadi tak banyak
orang yang tahu siapa aku. Aku sebenarnya menikmati ketidaktahuan itu. Karena
terkadang banyak pencapaian masa lalu yang tidak bisa kita banggakan di masa
yang lain, kebangaan yang sudah tidak relevan dan perlu diupdate.
2. Media
Aku pun teringat dulu banyak
mengenalku karena ‘notes’ FB. Keberadaan FB kala itu sebenarnya sangat berjasa
untukku. Keisenganku menulis mengundang pembaca gabut yang makin gabut dengan
mengeshare tulisan receh itu.
3. Wadah atau Komunitas
Di semarang, aku di dukung Vokal,
KIAS, dan kenalan dari beragam komunitas. Setiap saat otakku bekerja,
menjadikan diri semakin haus akan ilmu. Bisa kusebut beberapa orang yang sangat
berjasa, Mas Sanul, Mbak Tami, Mas Farid, Mas Priyo, Fauzi, Widha, Evi, Mas
Hajir besar, Mbak Rini, Mbak Ari, Mbak Hani, Mbak Sofi, Mas Wid, Mbak Santi,
Mas Deska, Pak Pras, Mbak Hae, Ita, Putri, Si Kembar and family dan rekan-rekan
Vokal dan KIAS yang mampu mengapresiasi karya dengan baik
4. Kopi, Musik, Malam
Mbak Hae, senior kos ucup
mungkin kerap kaget melihatku pukul 1 atau 2 dini hari nangkring di genting kos
dengan laptop. Katanya kos itu sebenarnya angker tapi sepertinya setan akan
takut kepadaku, karena aku lebih berani. Ia mendukungku untuk menulis dan
berkeyakinan suatu saat nanti aku bisa melahirkan suatu karya. Saat itu aku
berpikir, ia memiliki keyakinan yang aku sendiri tak terpikirkan apalagi
memiliki.
Dokter klinik kampus sangat
hafal denganku. Saat aku menempuh pendidikan PPG (2 tahun setelah lulus) ia
masih mengenalku. Memang aku dulu kerap ke klinik. Salah satunya karena kopi.
Karena kebanyakan kopi jadi magh atau anyang-anyangen hahaha.
Aku tidak menyebut diri maniak
kopi. Aku hanya menyukainya.
Laptop masa kuliahku full dengan
beberapa lagu. Jangan tanya siapa penyanyi favorit atau genre apa yang kusukai,
pokoknya asal enak didengar. Aku pernah menemukan suatu flashdisk, entah milik
siapa. Aku cek isinya untuk mengidentifikasi pemiliknya tapi tidak ada
jejak-jejak kepemilikan. Yang kudapati hanya folder-folder album dari naif,
sheila, dewa19, slowrock, indie, payung teduh, pop 2000an, lagu jadul barat,
banyak lainnya. Aku mengopy semuanya. Meski selama ini bisa mendengarkan lewat
YT, ini bisa menjadi alternatif jika tidak ada koneksi. Lagu-lagu itu kerap
menemani malamku juga. Salah satu yang sering kuputar “mama dan bulan
purnam-Naif”
5. Diam-diam berusaha
Aku tidak pernah sesumbar mengikuti
perlombaan atau mengirim karya ke media massa. 15% tidak suka pamer, 85%
malu-maluin lah kalau gagal hahaha. Gak sih, lebih tidak ingin terintervensi orang
lain.
6.
Menulis
seperti hasrat BAB
Pak Pras, pernah
berkata menulis seperti hasrat BAB. Ia tidak bisa kita tahan. Jika ada hasrat
untuk menulis, meski hanya satu kalimat. Maka tulislah. Dulu aku memiliki
banyak draft tulisan. Tapi sayamg, laptopku rusak.
7.
Intuisi, Logika
dan Analogi yang baik
Satu hal sih, jangan bodoh
karena cinta.
Dan saya menulis ini bagian dari
pemberhentian pelarian. Aku sudah mendeklarasikan diri aku akan kembali di
instagram. Bukan berarti aku menyalahi poin 5. Ini sebagai pengikat sosial
saja. Serupa diet yang katanya kalau mau berhasil harus diumumkan, agar orang
lain memperhatikan perubahan kita. Ya kalau ada yang perhatian ya ....
Sekarang aku mulai stabil,
berkarib dengan laptop kembali, membuka wacana dengan banyak membaca kembali,
mulai pemanasan dengan asal menulis begini. Dan memiliki support systems: kopi,
musik plus kucing. Meooong...
Ya semoga juga dapat bonus
support system hidup hahaha
Welcome
back, Puipui!

