Jumat, 16 November 2018

KIRIMAN DOA



Oleh: Dina Ahsanta Puri*

Malam Jum’at ini tepat satu minggu Mahdzi menjadi penghuni pemakaman Jati Roso. Tujuh hari yang lalu Tuhan mengutus malaikat untuk mencabut nyawanya. Masa aktifnya sebagai manusia telah habis. Dia meninggal saat duduk di ruang kerjanya. Di usia 53 tahun. Rupanya dia terkena serangan jantung akibat tenaganya terlalu diforsir.
Semasa hidupnya, Mahdzi berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Gigih dan berani, itulah Mahdzi. Bersama kawannya dia kerap memperjuangkan nasib guru. Terutama masalah kesejahteraan. Gajinya sangat minim. Mereka merasa upah tak sebanding dengan pengorbanannya untuk mencerdaskan bangsa. Terkadang mereka sampai melancarkan aksi demo. Itu semua agar pemerintah tahu diri. Mengajar bukan pekerjaan gampang. Ada banyak tanggungan dipundak para guru.
Mahdzi mati meninggalkan seorang istri dan dua anak. Untung anaknya sudah besar.  Nitami, anak pertamanya sudah berkeluarga. Dia diboyong suaminya ke Kalimantan. Di rumah tinggal Sri yang tidak lain ialah istri Mahdzi, serta anak keduanya, Fadhil; sedang menempuh kuliah semester  akhir. Semasa hidupnya, Mahdzi selalu mewanti-wanti istri dan anaknya agar rajin beribadah. Dia juga kerap memberi wejangan kepada istri, terutama anak-anaknya agar mengirimi dia doa, seandainya dia sudah meninggal. Kelak, doa itu akan menerangi kuburnya nanti di samping amal ibadah semasa hidup.
Setiap hari, para malaikat penyampai doa datang ke pemakaman. Kedatangan mereka sangat ditunggu. Terutama malam Jumat. Di malam itu, mereka banyak membawa kiriman doa untuk penghuni makam. Doa-doa dari suami, istri, anak, cucu, teman, mantan pacar, mantan selingkuhan, dan dari siapapun yang masih hidup. Para penghuni pemakaman pun saling berburu harapan untuk mendapat kiriman doa. Tanah kubur yang menjadi tempat tinggal mereka saat ini sangat gelap, lembab dan sumpek. Terlebih jika malam. Seuntai doa dari mereka yang masih hidup bisa menjadi penerang kubur. Penghangat kesendirian. Penyejuk jiwa yang telah terlepas dari jasadnya.
***
Malam ini malaikat datang. Mahdzi melihat ada ibu menangis bahagia sebab mendapat kiriman doa dari anak angkatnya. Ada juga yang kecewa tidak mendapat kiriman doa dari siapapun. Bahkan ada nenek-nenek yang gondok karena mendapat kiriman doa dari tetangganya, tapi buruk. Entah bisa disebut doa atau bukan. Isinya tentang permintaan kepada tuhan supaya kuburan si nenek itu jadi sempit, sebab semasa hidupnya dirasa pelit. Malaikat hanya bisa memberinya pengertian bahwa masalah dosa, pahala dan segala macam balasan itu urusan tuhan semata. Dialah yang paling mengetahui dan yang bisa menentukan.
Ketika malaikat menghampiri kuburan Mahdzi. Malaikat berkata bahwa Mahdzi mendapatkan kiriman doa dari istri dan anak-anaknya. Siang malam mereka mendoakan Mahdzi disertai air mata bercucuran. Terbukti tujuh hari ini, kuburan Mahdzi masih bersinar terang. Mahdzi  melihat sekeliling, tak ada yang seterang kuburannya. Kebanyakan redup, remang-remang, bahkan gelap.
“Beruntungnya istri dan anakku rajin mengirimi do’a,” ucap Mahdzi diwarnai senyum sumringah.
“Semoga saja mereka tak bosan mengirimimu doa,” ujar sang malaikat. Mahdzi menampakkan wajah kebingungan. Malaikat kembali menyambung perkataannya dengan suara tenang dan hati-hati “kebanyakan penghuni di sini, pada tujuh hari pertama biasanya memang mendapat kiriman doa begitu banyak, tapi...”
Mahdzi segera menyerobot tak sabar, “Tapi, tapi apa wahai malaikat?”
“Tapi, lambat laun berkurang, sampai-sampai tidak ada kiriman doa sama sekali,” ucap malaikat.
Mahdzi melotot kaget sembari menelan ludah. Seketika itu Mahdzi merasa khawatir. Takut istrinya tua dan pikun sehingga lupa tidak mengirimi doa. Galibnya perkembangan manusia, dari bayi merah, belajar beranak-pinak, lalu renta dan pikun. Mahdzi juga takut anak-anaknya sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Dia tidak bisa mengandalkan kiriman doa dari siapapun kecuali anak istrinya. Sanak saudaranya berada di luar kota semua. Bertemu pun jarang. Hubungan mereka jadi agak renggang. Mahdzi bergidik ngeri. Tak bisa membayangkan seandainya menghuni gelapnya tanah kubur.
            Berhubung Mahdzi penghuni baru di pemakaman, sang malaikat menjelaskan seluk beluk seputar pemakaman. Sang malaikat bercerita tentang makam yang mengagumkan. “Di sini ada satu makam yang bersinar terang tanpa pernah redup sedikit pun,” kata sang malaikat. Mahdzi hampir-hampir tak percaya. Itu diluar dugaannya. Sebelumnya dia mengira bahwa kuburannya  yang paling terang.
“Oh, ya? Mana? Aku tak melihatnya,” tanya Mahdzi.
            “Di bawah pohon randu itu, ” kata sang malaikat mencoba menunjukan pada Mahdzi.
            Ketika Mahdzi mengayunkan matanya ke arah yang ditunjukan sang malaikat, dia tercengang kaget. Rupanya benar. Ada kuburan yang memancarkan cahaya luar biasa, di bawah rindangnya dedaunan pohon randu. Dia tak menyangka, ada kuburan yang lebih bersinar darinya. Sangat hangat dan terang. Rupanya tadi dia terlalu buru-buru melihat sekeliling hingga tak menyadari adanya kuburan itu.
            “Siapa pemiliknya?” tanya Mahdzi
            Sang malaikat menjawab, “Sobari, meninggal 52 tahun yang lalu, di usia ke 80.”
            Lagi-lagi Mahdzi melotot kaget sembari menelan ludah. Dia menggerutu dalam hati. Sudah meninggal lima puluh dua tahun pun masih ada yang mengiriminya doa? Siapa yang mengenalnya? Istrinya pasti sudah meninggal, anak-anaknya kemungkin juga. Cucu-cucunnya mungkin sekarang sudah setua dirinya saat terakhir hidup, bahkan  mungkin sedang banyak berdoa untuk bekal mati. Mana sempat mengiriminya doa. Sedangkan keturunan selanjutnya belum tentu mengenalnya. Mahdzi keheranan sendiri. Saat dia ingin mengajukan pertanyaan kepada malaikat, sang malaikat sudah pergi entah ke mana. Mahdzi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dunia barunya memang aneh. Para penghuninya mendadak bisa muncul dan pergi secara tiba-tiba, menembus pohon, batu dan apa saja yang dihadapannya.
            Mahdzi duduk termenung di atas batu, samping kuburnya. Dia mencoba mengingat-ingat hidupnya. Menerka-nerka siapakah yang mungkin masih mengingatnya dan segan mengiriminya doa.  Entah mengapa dia teringat muridnya yang berjumlah ribuan. Murid-murid bertampang lugu. Dia juga teringat saat masih hidup dan mengajar mereka. Jika dia bertanya apakah mereka sudah paham, mereka akan mengangguk bersama, seraya berkata, “sudah” meskipun sejujurnya belum. Entah karena takut, malu, atau tak ingin mengulang pelajaran yang membosankan. Mahdzi begitu menyayangi muridnya, mungkin doa mereka bisa diandalkan nanti.
Suasana kuburan begitu sepi. Hening. Menghanyutkan Mahdzi ke cerita lalu. Membawanya ke suasana kesedihan. Tentang kisahnya sebagai guru. Dulu dia sering mengalami berbagai tekanan dengan tugas yang cukup banyak. Kadang Mahdzi dan guru yang lainnya menyisihkan sedikit uang untuk menomboki kebutuhan sekolah. Sekadar untuk membeli buku atau memperbaiki atap sekolah yang bocor. Mau bagaimana lagi, uang yang diglontorkan oleh pemerintah nampaknya masih kurang. Jika SPP dinaikkan, bisa-bisa Mahdzi dan rekan guru lainnya dibanjiri umpatan oleh wali murid. Dikira korupsi atau apalah.
Sebagai wali kelas, Mahdzi juga kerap pusing dengan anak didiknya yang terlambat membayar SPP sampai berbulan-bulan. Dengan berat hati, beberapa anak didiknya yang tak mampu membayar harus berhenti sekolah. Dia sebenarnya kasihan, tapi memang sudah seperti itu sistemnya. Meski begitu, anak  didik  Mahdzi juga banyak yang sukses. Di dalam negri ada yang jadi lurah, pegawai kecamatan, pengusaha keramik besar, dokter, anggota DPR, bahkan mentri. Di luar negri juga banyak. Ada yang bekerja di kedutaan besar Indonesia di Jerman, arsitek pada perusahaan besar di Belanda, pengusaha rumah makan dan perhotelan di Prancis, dan masih banyak lainnya. Mahdzi  bangga menghasilkan murid-murid yang cerdas  dan berhasil.
Di ujung perenungannya, Mahdzi berpikir di dunia nyata saja mereka banyak yang lupa, apalagi di dunia yang sudah berbeda seperti ini. Sepertinya mereka menyanyikan hymne guru di bawah alam sadar. Hanya sebatas lagu. Sekadar untuk mengingat nama pun sulit. Padahal sebagian besar waktunya tercurahkan untuk mereka. Mungkin mereka hanya mengingatnya ketika di dalam kelas. Saat Mahdzi menyampaikan materi dan mereka menerimanya. Saat bel pulang berbunyi, dia sama halnya buku yang dibenamkan ke dalam tas. Membukanya lagi jika teringat PR. Ingat PR jadi ingat guru. Ingat guru pun karena ingat hukuman.
“Kau kenapa?” tanya seorang kakek berpakaian serba putih yang tanpa di sadari berdiri di depan Mahdzi. Lagi-lagi dia merasa kaget karena kemunculan si kakek yang tiba-tiba Mahdzi memandang wajah kakek yang berdiri di hadapannya “kakek bisa melihatku?” tanya Mahdzi.
Kakek berwajah meneduhkan itu tersenyum. “Kita sama-sama sudah mati,” tutur si kakek. Mahdzi tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. “Maaf, aku penghuni baru di sini. Belum bisa membedakan mana manusia dan mana yang sudah mati, masih perlu beradaptasi.”
“Lambat laun pasti kau terbiasa. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau kenapa? tanya si kakek.
“Aku hanya sedang khawatir. Khawatir kalau sewaktu-waktu tidak ada yang mengirimiku doa. Aku juga sedang merasa kesepian. Rindu istri, rindu anak. Apa kau juga rindu anak istrimu?”
Kakek berwajah tenang itu menghela nafas pelan, “istriku lebih dulu meninggal dibandingakn aku. Dia dimakamkan di kampung halamannya. Sedang kami juga tak dikaruniani anak.”
“Pasti kau lebih merasa kesepian daripada diriku. Tak ada yang merawat makammu dan tak ada yang mengirimimu doa. Pasti kuburanmu terasa begitu gelap. Malang sekali, “ kata Mahdzi sembari menampakan wajah empati. “Lihatlah makam di bawah pohon randu itu. Cahayanya terang sekali, bukan? Katanya dia sudah lama mati. Lima puluh dua tahun yang lalu. Beruntung sekali ya dia? ”  ujar Mahdzi mantap sembari berdecak kagum. Si kakek hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Mahdzi. Tak lama kemudian Mahdzi kembali termenung. Kakek itu melangkah pergi.
“Lho, kakek, kau mau ke mana?” tanya Mahdzi ketika menyadari si kakek sudah tidak berdiri di depannya, melangkahkan kaki entah ke mana tujuannya. Si kakek menghentikan langkahnya dan menoleh ke Mahdzi. “Pulang,” ucap kakek singkat.
“Pulang kemana?” tanya Mahdzi.
 “Ke kuburanku sendiri,” jawab si kakek yang kemudian kembali melangkahkan kaki.
Mahdzi segera berdiri, melangkahan kaki, menyusul kakek misterius itu. “Memang di mana kuburanmu, kakek?”
“Dihadapanmu,” ucap si kakek pelan.
Tanpa terasa Mahdzi berdiri di bawah pohon randu yang rindang. Dihadapannya ada tiga kuburan. Bagian tengah adalah kuburan yang paling bercahaya di pemakaman. Mahdzi yakin itu bukan kuburan si kakek. Apalagi kuburan sebelah kiri, Mahdzi malah sangat yakin kuburan  itu bukan makamnya. Di nisan tertulis Siti Julaiha. Tak mungkin itu namanya. Ah, pastilah makam sebelah kanan sendiri, kata Mahdzi dalam hati.
“Oh, jadi nama kakek ini Supri, ya?” kata Mahdzi mencoba menerka.
Kakek itu menggeleng dengan gerak kepala sopan dan simpatik, melembutkan otot muka, “bukan.”
“Kalau bukan Supri, siapa lagi? Mahdzi memandang ke arah makam bercahaya itu. “So... Sobari?” tanya Mahdzi ragu.
 “Iya, itu namaku. Itu kuburanku.” Kata si kakek sembari menunjuk kuburannya.
Mahdzi pun menyerbunya dengan beragam pertanyaan, “jadi ini kuburan kakek? Mengapa cahayanya begitu terang? Siapa yang mengirimimu do’a?”
“Para malaikat yang datang mengatakan itu dari anak dan cucuku,” ujar kakek.
“Anak? Cucu? Kau bilang kau tak punya anak. Apalgi cucu?”
“Lebih tepatnya anak didikku. Murid di pesantren; para santri. Itu kiriman do’a dari mereka, baik yang masih di pesantren maupun yang sudah keluar. Mereka yang sudah keluar terkadang juga masih mengunjungi pesantren, bahkan menitipkan anak mereka di sana, begitu kata malaikat.”
 Mahdzi terdiam. Suasana kembali hening.

Purbalingga, 09 Agustus 2013
(*)
Lahir di Purbalingga, 06 Juni 1995
Mahasiswi semester 3, Fak. Pend. Bahasa dan Seni,
Jurusan  Pend. B. Inggris, IKIP PGRI Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar