Oleh:
Dina Ahsanta Puri*
Malam
Jum’at ini tepat satu minggu Mahdzi menjadi penghuni pemakaman Jati Roso. Tujuh
hari yang lalu Tuhan mengutus malaikat untuk mencabut nyawanya. Masa aktifnya
sebagai manusia telah habis. Dia meninggal saat duduk di ruang kerjanya. Di
usia 53 tahun. Rupanya dia terkena serangan jantung akibat tenaganya terlalu
diforsir.
Semasa
hidupnya, Mahdzi berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Gigih dan
berani, itulah Mahdzi. Bersama kawannya dia kerap memperjuangkan nasib guru.
Terutama masalah kesejahteraan. Gajinya sangat minim. Mereka merasa upah tak
sebanding dengan pengorbanannya untuk mencerdaskan bangsa. Terkadang mereka sampai
melancarkan aksi demo. Itu semua agar pemerintah tahu diri. Mengajar bukan pekerjaan
gampang. Ada banyak tanggungan dipundak para guru.
Mahdzi
mati meninggalkan seorang istri dan dua anak. Untung anaknya sudah besar. Nitami, anak pertamanya sudah berkeluarga. Dia
diboyong suaminya ke Kalimantan. Di rumah tinggal Sri yang tidak lain ialah
istri Mahdzi, serta anak keduanya, Fadhil; sedang menempuh kuliah semester akhir. Semasa hidupnya, Mahdzi selalu
mewanti-wanti istri dan anaknya agar rajin beribadah. Dia juga kerap memberi
wejangan kepada istri, terutama anak-anaknya agar mengirimi dia doa, seandainya
dia sudah meninggal. Kelak, doa itu akan menerangi kuburnya nanti di samping
amal ibadah semasa hidup.
Setiap
hari, para malaikat penyampai doa datang ke pemakaman. Kedatangan mereka sangat
ditunggu. Terutama malam Jumat. Di malam itu, mereka banyak membawa kiriman doa
untuk penghuni makam. Doa-doa dari suami, istri, anak, cucu, teman, mantan
pacar, mantan selingkuhan, dan dari siapapun yang masih hidup. Para penghuni
pemakaman pun saling berburu harapan untuk mendapat kiriman doa. Tanah kubur
yang menjadi tempat tinggal mereka saat ini sangat gelap, lembab dan sumpek. Terlebih
jika malam. Seuntai doa dari mereka yang masih hidup bisa menjadi penerang
kubur. Penghangat kesendirian. Penyejuk jiwa yang telah terlepas dari jasadnya.
***
Malam
ini malaikat datang. Mahdzi melihat ada ibu menangis bahagia sebab mendapat
kiriman doa dari anak angkatnya. Ada juga yang kecewa tidak mendapat kiriman doa
dari siapapun. Bahkan ada nenek-nenek yang gondok karena mendapat kiriman doa
dari tetangganya, tapi buruk. Entah bisa disebut doa atau bukan. Isinya tentang
permintaan kepada tuhan supaya kuburan si nenek itu jadi sempit, sebab semasa
hidupnya dirasa pelit. Malaikat hanya bisa memberinya pengertian bahwa masalah
dosa, pahala dan segala macam balasan itu urusan tuhan semata. Dialah yang
paling mengetahui dan yang bisa menentukan.
Ketika
malaikat menghampiri kuburan Mahdzi. Malaikat berkata bahwa Mahdzi mendapatkan
kiriman doa dari istri dan anak-anaknya. Siang malam mereka mendoakan Mahdzi disertai
air mata bercucuran. Terbukti tujuh hari ini, kuburan Mahdzi masih bersinar
terang. Mahdzi melihat sekeliling, tak
ada yang seterang kuburannya. Kebanyakan redup, remang-remang, bahkan gelap.
“Beruntungnya
istri dan anakku rajin mengirimi do’a,” ucap Mahdzi diwarnai senyum sumringah.
“Semoga
saja mereka tak bosan mengirimimu doa,” ujar sang malaikat. Mahdzi menampakkan
wajah kebingungan. Malaikat kembali menyambung perkataannya dengan suara tenang
dan hati-hati “kebanyakan penghuni di sini, pada tujuh hari pertama biasanya memang
mendapat kiriman doa begitu banyak, tapi...”
Mahdzi
segera menyerobot tak sabar, “Tapi, tapi apa wahai malaikat?”
“Tapi,
lambat laun berkurang, sampai-sampai tidak ada kiriman doa sama sekali,” ucap
malaikat.
Mahdzi
melotot kaget sembari menelan ludah. Seketika itu Mahdzi merasa khawatir. Takut
istrinya tua dan pikun sehingga lupa tidak mengirimi doa. Galibnya perkembangan
manusia, dari bayi merah, belajar beranak-pinak, lalu renta dan pikun. Mahdzi juga
takut anak-anaknya sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Dia tidak bisa
mengandalkan kiriman doa dari siapapun kecuali anak istrinya. Sanak saudaranya
berada di luar kota semua. Bertemu pun jarang. Hubungan mereka jadi agak
renggang. Mahdzi bergidik ngeri. Tak bisa membayangkan seandainya menghuni
gelapnya tanah kubur.
Berhubung Mahdzi penghuni baru di
pemakaman, sang malaikat menjelaskan seluk beluk seputar pemakaman. Sang
malaikat bercerita tentang makam yang mengagumkan. “Di sini ada satu makam yang
bersinar terang tanpa pernah redup sedikit pun,” kata sang malaikat. Mahdzi
hampir-hampir tak percaya. Itu diluar dugaannya. Sebelumnya dia mengira bahwa
kuburannya yang paling terang.
“Oh,
ya? Mana? Aku tak melihatnya,” tanya Mahdzi.
“Di bawah pohon randu itu, ” kata
sang malaikat mencoba menunjukan pada Mahdzi.
Ketika Mahdzi mengayunkan matanya ke
arah yang ditunjukan sang malaikat, dia tercengang kaget. Rupanya benar. Ada
kuburan yang memancarkan cahaya luar biasa, di bawah rindangnya dedaunan pohon
randu. Dia tak menyangka, ada kuburan yang lebih bersinar darinya. Sangat hangat
dan terang. Rupanya tadi dia terlalu buru-buru melihat sekeliling hingga tak
menyadari adanya kuburan itu.
“Siapa pemiliknya?” tanya Mahdzi
Sang malaikat menjawab, “Sobari,
meninggal 52 tahun yang lalu, di usia ke 80.”
Lagi-lagi Mahdzi melotot kaget
sembari menelan ludah. Dia menggerutu dalam hati. Sudah meninggal lima puluh
dua tahun pun masih ada yang mengiriminya doa? Siapa yang mengenalnya? Istrinya
pasti sudah meninggal, anak-anaknya kemungkin juga. Cucu-cucunnya mungkin
sekarang sudah setua dirinya saat terakhir hidup, bahkan mungkin sedang banyak berdoa untuk bekal mati.
Mana sempat mengiriminya doa. Sedangkan keturunan selanjutnya belum tentu
mengenalnya. Mahdzi keheranan sendiri. Saat dia ingin mengajukan pertanyaan
kepada malaikat, sang malaikat sudah pergi entah ke mana. Mahdzi hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala. Dunia barunya memang aneh. Para penghuninya
mendadak bisa muncul dan pergi secara tiba-tiba, menembus pohon, batu dan apa
saja yang dihadapannya.
Mahdzi duduk termenung di atas batu,
samping kuburnya. Dia mencoba mengingat-ingat hidupnya. Menerka-nerka siapakah
yang mungkin masih mengingatnya dan segan mengiriminya doa. Entah mengapa dia teringat muridnya yang
berjumlah ribuan. Murid-murid bertampang lugu. Dia juga teringat saat masih
hidup dan mengajar mereka. Jika dia bertanya apakah mereka sudah paham, mereka
akan mengangguk bersama, seraya berkata, “sudah” meskipun sejujurnya belum.
Entah karena takut, malu, atau tak ingin mengulang pelajaran yang membosankan. Mahdzi
begitu menyayangi muridnya, mungkin doa mereka bisa diandalkan nanti.
Suasana
kuburan begitu sepi. Hening. Menghanyutkan Mahdzi ke cerita lalu. Membawanya ke
suasana kesedihan. Tentang kisahnya sebagai guru. Dulu dia sering mengalami
berbagai tekanan dengan tugas yang cukup banyak. Kadang Mahdzi dan guru yang
lainnya menyisihkan sedikit uang untuk menomboki kebutuhan sekolah. Sekadar
untuk membeli buku atau memperbaiki atap sekolah yang bocor. Mau bagaimana
lagi, uang yang diglontorkan oleh pemerintah nampaknya masih kurang. Jika SPP
dinaikkan, bisa-bisa Mahdzi dan rekan guru lainnya dibanjiri umpatan oleh wali
murid. Dikira korupsi atau apalah.
Sebagai
wali kelas, Mahdzi juga kerap pusing dengan anak didiknya yang terlambat
membayar SPP sampai berbulan-bulan. Dengan berat hati, beberapa anak didiknya
yang tak mampu membayar harus berhenti sekolah. Dia sebenarnya kasihan, tapi
memang sudah seperti itu sistemnya. Meski begitu, anak didik Mahdzi
juga banyak yang sukses. Di dalam negri ada yang jadi lurah, pegawai kecamatan,
pengusaha keramik besar, dokter, anggota DPR, bahkan mentri. Di luar negri juga
banyak. Ada yang bekerja di kedutaan besar Indonesia di Jerman, arsitek pada
perusahaan besar di Belanda, pengusaha rumah makan dan perhotelan di Prancis,
dan masih banyak lainnya. Mahdzi bangga
menghasilkan murid-murid yang cerdas dan
berhasil.
Di ujung perenungannya, Mahdzi berpikir
di dunia nyata saja mereka banyak yang lupa, apalagi di dunia yang sudah
berbeda seperti ini. Sepertinya mereka menyanyikan hymne guru di bawah alam
sadar. Hanya sebatas lagu. Sekadar untuk mengingat nama pun sulit. Padahal
sebagian besar waktunya tercurahkan untuk mereka. Mungkin mereka hanya mengingatnya
ketika di dalam kelas. Saat Mahdzi menyampaikan materi dan mereka menerimanya.
Saat bel pulang berbunyi, dia sama halnya buku yang dibenamkan ke dalam tas.
Membukanya lagi jika teringat PR. Ingat PR jadi ingat guru. Ingat guru pun
karena ingat hukuman.
“Kau kenapa?” tanya seorang kakek
berpakaian serba putih yang tanpa di sadari berdiri di depan Mahdzi. Lagi-lagi
dia merasa kaget karena kemunculan si kakek yang tiba-tiba Mahdzi memandang wajah
kakek yang berdiri di hadapannya “kakek bisa melihatku?” tanya Mahdzi.
Kakek berwajah meneduhkan itu tersenyum.
“Kita sama-sama sudah mati,” tutur si kakek. Mahdzi tertawa kecil, menggaruk
kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. “Maaf, aku penghuni baru di sini.
Belum bisa membedakan mana manusia dan mana yang sudah mati, masih perlu
beradaptasi.”
“Lambat
laun pasti kau terbiasa. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau kenapa? tanya si
kakek.
“Aku
hanya sedang khawatir. Khawatir kalau sewaktu-waktu tidak ada yang mengirimiku
doa. Aku juga sedang merasa kesepian. Rindu istri, rindu anak. Apa kau juga
rindu anak istrimu?”
Kakek
berwajah tenang itu menghela nafas pelan, “istriku lebih dulu meninggal
dibandingakn aku. Dia dimakamkan di kampung halamannya. Sedang kami juga tak
dikaruniani anak.”
“Pasti
kau lebih merasa kesepian daripada diriku. Tak ada yang merawat makammu dan tak
ada yang mengirimimu doa. Pasti kuburanmu terasa begitu gelap. Malang sekali, “
kata Mahdzi sembari menampakan wajah empati. “Lihatlah makam di bawah pohon
randu itu. Cahayanya terang sekali, bukan? Katanya dia sudah lama mati. Lima
puluh dua tahun yang lalu. Beruntung sekali ya dia? ” ujar Mahdzi mantap sembari berdecak kagum. Si
kakek hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Mahdzi. Tak lama kemudian
Mahdzi kembali termenung. Kakek itu melangkah pergi.
“Lho,
kakek, kau mau ke mana?” tanya Mahdzi ketika menyadari si kakek sudah tidak
berdiri di depannya, melangkahkan kaki entah ke mana tujuannya. Si kakek
menghentikan langkahnya dan menoleh ke Mahdzi. “Pulang,” ucap kakek singkat.
“Pulang
kemana?” tanya Mahdzi.
“Ke kuburanku sendiri,” jawab si kakek yang
kemudian kembali melangkahkan kaki.
Mahdzi
segera berdiri, melangkahan kaki, menyusul kakek misterius itu. “Memang di mana
kuburanmu, kakek?”
“Dihadapanmu,”
ucap si kakek pelan.
Tanpa
terasa Mahdzi berdiri di bawah pohon randu yang rindang. Dihadapannya ada tiga
kuburan. Bagian tengah adalah kuburan yang paling bercahaya di pemakaman.
Mahdzi yakin itu bukan kuburan si kakek. Apalagi kuburan sebelah kiri, Mahdzi
malah sangat yakin kuburan itu bukan
makamnya. Di nisan tertulis Siti Julaiha. Tak mungkin itu namanya. Ah, pastilah makam sebelah kanan
sendiri, kata Mahdzi dalam hati.
“Oh,
jadi nama kakek ini Supri, ya?” kata Mahdzi mencoba menerka.
Kakek
itu menggeleng dengan
gerak kepala sopan dan simpatik, melembutkan otot muka,
“bukan.”
“Kalau
bukan Supri, siapa lagi? Mahdzi memandang ke arah makam bercahaya itu. “So... Sobari?”
tanya Mahdzi ragu.
“Iya, itu namaku. Itu kuburanku.” Kata si kakek
sembari menunjuk kuburannya.
Mahdzi
pun menyerbunya dengan beragam pertanyaan, “jadi ini kuburan kakek? Mengapa
cahayanya begitu terang? Siapa yang mengirimimu do’a?”
“Para
malaikat yang datang mengatakan itu dari anak dan cucuku,” ujar kakek.
“Anak?
Cucu? Kau bilang kau tak punya anak. Apalgi cucu?”
“Lebih
tepatnya anak didikku. Murid di pesantren; para santri. Itu kiriman do’a dari
mereka, baik yang masih di pesantren maupun yang sudah keluar. Mereka yang
sudah keluar terkadang juga masih mengunjungi pesantren, bahkan menitipkan anak
mereka di sana, begitu kata malaikat.”
Mahdzi
terdiam. Suasana kembali hening.
Purbalingga,
09 Agustus 2013
(*)
Lahir
di Purbalingga, 06 Juni 1995
Mahasiswi
semester 3, Fak. Pend. Bahasa dan Seni,
Jurusan Pend. B. Inggris, IKIP PGRI Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar