Jumat, 16 November 2018

HUJAN BERCERITA




Hujan itu air. Air itu  basah. Basah itu dingin. Dingin itu menyakitkan, bukan begitu? Menyakitkan bisa saja dalam arti membuat sakit seperti,  batuk, pilek, gatal-gatal, demam, dan lain sebagainya,  dan aku tak suka musim hujan karena itu membuatku menjadi dingin.  Sungguh dinginya hujan merubah ku menjadi perempuan yang dingin,  Kang.
***
Usai memandikan Uun aku bersiap-siap menuju ke sawah Pak Jirun. Aku sudah lama bekerja untuk Pak Jirun, mengurus sawah dekat kali itu.  Hari ini aku hanya merebus ubi, persediaan beras habis. Syukurlah Uun tak rewel. Meski masih kecil, sepertinya dia memahami keadaanku sekarang.
Aku menggendong Uun dengan menggunakan kain jarit menuju ke sawah. Tak lupa aku membawa bekal ubi rebus untuk makan siang nanti. Setibanya aku di sawah Pak Jirun, aku membiarkan Uun bermain di gubug kecil yang terletak di sudut sawah. Uun sudah biasa ku tinggal di situ. Setidaknya dia masih berada dalam pengawasanku. Biasanya setelah ku tangkapkan beberapa belalang dia akan tenang berada di gubug itu sembari bermain belalang.
***
Matahari sudah mengangkang tepat dia atas kepalaku. Aku rasa, ini sudah menginjak pukul 12.00, ini waktunya istirahat.
“Un, ayo makan dulu,” kataku seraya menyodorkan ubi ke Uun.
Uun melahapnya sembari kakinya aktif berlarian di dalam gubug. Bocah usia 2 tahun itu terlihat begitu lucu sekali. Aku hanya memakan satu gigit ubi itu, selebihnya masih berada digenggamanku. Lamunan membuat perutku mendadak kenyang.
“War?” Sapa Simah sembari menepuk pundakku. Aku merasa sangat kaget karena tak menyadari kedatangan Simah.
“Wah, kaget ya War? Jangan melamun War,” ucap Simah yang duduk disebelahku. Ia terlihat kepanasan. Diusapnya bulir-bulir keringat yang merayap turun dari celah-celah rambut yang  membasahi keningnya, tak lupa ia mengibas-kibaskan capingnya, mencoba menyaring angin dari panasnya siang kala itu.
“Iya Mah, aku tidak sengaja melamun.”
“Ngelamunin Samir ya?”
Aku hanya terdiam, sambil mengangguk lemas. Tak tahu harus berkata apa lagi.
“Kamu masih menunggu dia War? Sudah satu tahun lebih dia tak pulang.”
“Nanti pasti dia pulang. Dia sudah janji,” kataku yakin.
***
Ketika itu hujan turun sangat lebat, kang Samir pamit padaku untuk pergi menambang pasir ke lereng gunung. Jaraknya cukup jauh dari desa. Dia pergi bersama rombongan. Katanya dia akan di sana hanya selama satu bulan. Dia sudah menyetujui kontrak kerjanya. Aku sebenarnya tak begitu mengizinkan dia pergi. Ini musim hujan, menambang pasir di lereng gunung itu sangat beresiko. Tentunya keadaan tanah galian yang terguyur hujan akan labil. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Namun, kang Samir terus saja meyakinkanku. Dia berkata ini demi menyukupi kebutuhan rumah tangga kami. Dia berjanji pasti pulang.
Selang satu bulan kemudian, kang Samir, tak kunjung pulang. Hari demi hari yang terus berlalu membuatku bingung, minggu demi minggu yang terus berjalan membuatku cemas, dan bulan demi bulan yang terus berganti membuatku dirundung ketakutan, “dimana kau Kang?” Gerutuku dalam hati.
Kadang beberapa tetangga berceletuk mengatakan mungkin suamiku sudah mati tertimbun longsoran tanah, sebab daerah tersebut terkenal rawan longsor dan sudah biasa memakan korban jiwa. Meski harapanku terasa ciut, tapi aku yakin kang Samir bakal pulang. Pokoknya dia sudah janji, dia sudah janji padaku dan Uun.
***
“Ya sudah, aku pulang ke rumah dulu War, kau tak pulang?” Tanya Simah
“Ah, nanti saja Mah, kau pulang saja dulu.”
            Simah beranjak dari duduknya, sedang aku masih terduduk di gubug. Pertanyaan Simah tadi  sebenarnya membuatku agak was-was. Apakah ini pertanda aku sudah tidak mulai yakin kang Samir bakal pulang? Tentunya tidak hanya Simah yang bertanya seperti itu, sudah banyak orang menanyakannya padaku. Wajarlah ini sudah terlalu lama. Aku tak tahu statusku saat ini harus dibilang janda atau apa.
***
            Rona langit berubah gelap. Mendung aku rasa. Suasana panas mulai tergantikan sapuan angin yang seakan mengabarkan akan segera turun hujan. Ya, ini sudah memasuki musim penghujan, sebentar lagi hujan pasti turun. Dan akhirnya, hujan benar-benar turun. Benar-benar sudah satu tahun lebih kau pergi kang?
            “War! Siwar!” Aku menoleh ke sumber suara itu. Itu Simah, dia berjalan bertudung daun pisang, begitu tergesa-gesa menyusuri pematang sawah menuju ke gubugku. Dia begitu terengah-engah sesampainya di hadapanku.
            “Lho  cepat sekali pulangnya Mah? Ada apa?” Tanyaku keheranan.
            “War suamimu sudah pulang.” 
            “Apa ku bilang, Kang Samir pasti menepati janjinya,” kataku senang disertai senyum mengembang.
            “Ayo Un kita pulang, bapakmu sudah pulang”
            Aku segera membereskan bekalku dan menggendong si Uun. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan kang Samir. Akupun tak sabar untuk bercerita kepada tetangga-tetanggaku tentang kepulangan kang Samir.
            “Tapi War, dia pulang membawa seorang wanita yang membopong bayi”
Aku tertegun. Dalam hati aku berkata, “wanita? Bayi?” Benar-benar banyak yang disembunyikan dari hujan. Akupun turut menyembunyikan sesuatu dari derasnya air yang turun dari langit itu. Turunnya hujan kali ini memang hanya berkawan angin. Tidak ada petir. Pantas sajalah tidak ada petir, karena sepertinya petir itu sedang ada di dalam hatiku. Rasanya meledak-ledak begitu dahsyat.
 Aku tahu, sebenarnya tanah merasa sakit saat tetesean hujan menghujam keras ke arahnya. Terkadang membuat tanah yang lapang menjadi berkubang dan tanah tebing menjadi rapuh, gugur, tak mampu menahan derasnya air yang menyelusup ke setiap pori permukaan tanah, benar-benar menyakitinya secara perlahan. Batu-batu kalipun harus kehilangan arah kala serombongan air hujan itu menyerangnya dengan ganas, melemparnya ke sana kemari, bahkan mengikisnya hingga menjadi pasir. Pohon-pohon yang tumbang karena tanah yang longsorpun harus merenggut sarang burung-burung kecil, tak menyisakan sedikitpun kehangatan. Hujan yang sangat menyakitkan.
            Aku tersenyum dan memegang pundak Simah, “Kang Samir pulang. Dia menepati janjinya.”
            “Tapi...”
“Tolong jaga Uun. Aku mau pulang sebentar, mengambil payung untuk Uun agar dia bisa bertemu bapaknya.”
“Kau mau hujan-hujanan, War?”
“Tak apa, Mah,” ucapku dengan tenang tanpa ada beban.
. Kini Uun berada digendongan Simah. Aku mulai melangkah menerobos derasnya tetasan air dari langit itu. Aku menoleh ke arah Uun yang sedang dalam gendongan Simah. Masih saja ku lontarkan senyum. Aku kembali melangkahkan kakiku. Rasanya dingin, sangat dingin dan terlalu dingin. Sengaja aku membiarkan hujan mengguyur tubuhku. Aku tak ingin ada banyak tanya di sepanjang perjalananku dan aku ingin hujan turun lebih lebat. Dengan itu, tak kan ada seorang pun yang tahu bahwa ada tetesan tangis yang mengalir dari bola mataku. Sebuah tangis yang lebih basah dari pada hujan.

Semarang, 10 Juni 2013
Dina Ahsanta Puri
FPBS/PBI/Semester 2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar