Hujan
itu air. Air itu basah. Basah itu
dingin. Dingin itu menyakitkan, bukan begitu? Menyakitkan bisa saja dalam arti
membuat sakit seperti, batuk, pilek,
gatal-gatal, demam, dan lain sebagainya,
dan aku tak suka musim hujan karena itu membuatku menjadi dingin. Sungguh dinginya hujan merubah ku menjadi
perempuan yang dingin, Kang.
***
Usai
memandikan Uun aku bersiap-siap menuju ke sawah Pak Jirun. Aku sudah lama
bekerja untuk Pak Jirun, mengurus sawah dekat kali itu. Hari ini aku hanya merebus ubi, persediaan
beras habis. Syukurlah Uun tak rewel. Meski masih kecil, sepertinya dia
memahami keadaanku sekarang.
Aku
menggendong Uun dengan menggunakan kain jarit menuju ke sawah. Tak lupa aku
membawa bekal ubi rebus untuk makan siang nanti. Setibanya aku di sawah Pak
Jirun, aku membiarkan Uun bermain di gubug kecil yang terletak di sudut sawah.
Uun sudah biasa ku tinggal di situ. Setidaknya dia masih berada dalam
pengawasanku. Biasanya setelah ku tangkapkan beberapa belalang dia akan tenang
berada di gubug itu sembari bermain belalang.
***
Matahari
sudah mengangkang tepat dia atas kepalaku. Aku rasa, ini sudah menginjak pukul
12.00, ini waktunya istirahat.
“Un,
ayo makan dulu,” kataku seraya menyodorkan ubi ke Uun.
Uun
melahapnya sembari kakinya aktif berlarian di dalam gubug. Bocah usia 2 tahun
itu terlihat begitu lucu sekali. Aku hanya memakan satu gigit ubi itu,
selebihnya masih berada digenggamanku. Lamunan membuat perutku mendadak
kenyang.
“War?”
Sapa Simah sembari menepuk pundakku. Aku merasa sangat kaget karena tak
menyadari kedatangan Simah.
“Wah,
kaget ya War? Jangan melamun War,” ucap Simah yang duduk disebelahku. Ia
terlihat kepanasan. Diusapnya bulir-bulir keringat yang merayap turun dari
celah-celah rambut yang membasahi
keningnya, tak lupa ia mengibas-kibaskan capingnya, mencoba menyaring angin
dari panasnya siang kala itu.
“Iya
Mah, aku tidak sengaja melamun.”
“Ngelamunin
Samir ya?”
Aku
hanya terdiam, sambil mengangguk lemas. Tak tahu harus berkata apa lagi.
“Kamu
masih menunggu dia War? Sudah satu tahun lebih dia tak pulang.”
“Nanti
pasti dia pulang. Dia sudah janji,” kataku yakin.
***
Ketika
itu hujan turun sangat lebat, kang Samir pamit padaku untuk pergi menambang
pasir ke lereng gunung. Jaraknya cukup jauh dari desa. Dia pergi bersama
rombongan. Katanya dia akan di sana hanya selama satu bulan. Dia sudah
menyetujui kontrak kerjanya. Aku sebenarnya tak begitu mengizinkan dia pergi. Ini
musim hujan, menambang pasir di lereng gunung itu sangat beresiko. Tentunya
keadaan tanah galian yang terguyur hujan akan labil. Aku takut terjadi sesuatu
padanya. Namun, kang Samir terus saja meyakinkanku. Dia berkata ini demi menyukupi
kebutuhan rumah tangga kami. Dia berjanji pasti pulang.
Selang
satu bulan kemudian, kang Samir, tak kunjung pulang. Hari demi hari yang terus
berlalu membuatku bingung, minggu demi minggu yang terus berjalan membuatku
cemas, dan bulan demi bulan yang terus berganti membuatku dirundung ketakutan, “dimana
kau Kang?” Gerutuku dalam hati.
Kadang
beberapa tetangga berceletuk mengatakan mungkin suamiku sudah mati tertimbun
longsoran tanah, sebab daerah tersebut terkenal rawan longsor dan sudah biasa
memakan korban jiwa. Meski harapanku terasa ciut, tapi aku yakin kang Samir
bakal pulang. Pokoknya dia sudah janji, dia sudah janji padaku dan Uun.
***
“Ya
sudah, aku pulang ke rumah dulu War, kau tak pulang?” Tanya Simah
“Ah,
nanti saja Mah, kau pulang saja dulu.”
Simah beranjak dari duduknya, sedang
aku masih terduduk di gubug. Pertanyaan Simah tadi sebenarnya membuatku agak was-was. Apakah ini
pertanda aku sudah tidak mulai yakin kang Samir bakal pulang? Tentunya tidak
hanya Simah yang bertanya seperti itu, sudah banyak orang menanyakannya padaku.
Wajarlah ini sudah terlalu lama. Aku tak tahu statusku saat ini harus dibilang
janda atau apa.
***
Rona langit berubah gelap. Mendung
aku rasa. Suasana panas mulai tergantikan sapuan angin yang seakan mengabarkan
akan segera turun hujan. Ya, ini sudah memasuki musim penghujan, sebentar lagi
hujan pasti turun. Dan akhirnya, hujan benar-benar turun. Benar-benar sudah
satu tahun lebih kau pergi kang?
“War! Siwar!” Aku menoleh ke sumber
suara itu. Itu Simah, dia berjalan bertudung daun pisang, begitu tergesa-gesa
menyusuri pematang sawah menuju ke gubugku. Dia begitu terengah-engah
sesampainya di hadapanku.
“Lho
cepat sekali pulangnya Mah? Ada apa?” Tanyaku keheranan.
“War suamimu sudah pulang.”
“Apa ku bilang, Kang Samir pasti
menepati janjinya,” kataku senang disertai senyum mengembang.
“Ayo Un kita pulang, bapakmu sudah
pulang”
Aku segera membereskan bekalku dan
menggendong si Uun. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan kang Samir. Akupun
tak sabar untuk bercerita kepada tetangga-tetanggaku tentang kepulangan kang
Samir.
“Tapi War, dia pulang membawa seorang
wanita yang membopong bayi”
Aku
tertegun. Dalam hati aku berkata, “wanita? Bayi?” Benar-benar banyak yang
disembunyikan dari hujan. Akupun turut menyembunyikan sesuatu dari derasnya air
yang turun dari langit itu. Turunnya hujan kali ini memang hanya berkawan
angin. Tidak ada petir. Pantas sajalah tidak ada petir, karena sepertinya petir
itu sedang ada di dalam hatiku. Rasanya meledak-ledak begitu dahsyat.
Aku tahu, sebenarnya tanah merasa sakit saat
tetesean hujan menghujam keras ke arahnya. Terkadang membuat tanah yang lapang
menjadi berkubang dan tanah tebing menjadi rapuh, gugur, tak mampu menahan
derasnya air yang menyelusup ke setiap pori permukaan tanah, benar-benar
menyakitinya secara perlahan. Batu-batu kalipun harus kehilangan arah kala
serombongan air hujan itu menyerangnya dengan ganas, melemparnya ke sana
kemari, bahkan mengikisnya hingga menjadi pasir. Pohon-pohon yang tumbang
karena tanah yang longsorpun harus merenggut sarang burung-burung kecil, tak
menyisakan sedikitpun kehangatan. Hujan yang sangat menyakitkan.
Aku tersenyum dan memegang pundak
Simah, “Kang Samir pulang. Dia menepati janjinya.”
“Tapi...”
“Tolong
jaga Uun. Aku mau pulang sebentar, mengambil payung untuk Uun agar dia bisa
bertemu bapaknya.”
“Kau
mau hujan-hujanan, War?”
“Tak
apa, Mah,” ucapku dengan tenang tanpa ada beban.
.
Kini Uun berada digendongan Simah. Aku mulai melangkah menerobos derasnya
tetasan air dari langit itu. Aku menoleh ke arah Uun yang sedang dalam
gendongan Simah. Masih saja ku lontarkan senyum. Aku kembali melangkahkan
kakiku. Rasanya dingin, sangat dingin dan terlalu dingin. Sengaja aku
membiarkan hujan mengguyur tubuhku. Aku tak ingin ada banyak tanya di sepanjang
perjalananku dan aku ingin hujan turun lebih lebat. Dengan itu, tak kan ada
seorang pun yang tahu bahwa ada tetesan tangis yang mengalir dari bola mataku. Sebuah
tangis yang lebih basah dari pada hujan.
Semarang,
10 Juni 2013
Dina
Ahsanta Puri
FPBS/PBI/Semester
2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar