Jumat, 16 November 2018

PERTEMUAN DUA HATI



Umpatan Raswi masih terdengar samar-samar, berdengung, menyusup di antara derasnya rintik hujan. Berkali-kali dia mengutuk Ki Argo, seorang pemimpin sebuah kelompok pemusik dan penari keliling. Tangan Raswi mengepal, menggenggam sampur erat, geram lalu menggerutu. Sudah berpuluh-puluh tahun dia setia mengikuti rombongan Ki Argo dan menjadi tambang uangnya. Namun, sore hari ini, sehabis berkeliling ke sana ke mari, dia didepak begitu saja dengan pesangon yang minim. Alasannya sederhana, Raswi sudah tua. Meski ketika gendang ditabuh Raswi masih bisa gesit meliukan tubuh, sayang seribu sayang usia tak bisa membohongi paras dan bentuk tubuh seseorang. Menurut Ki Argo tarian Raswi sudah tak bernilai jual lagi. Dadanya sudah kendur, pantatnya tak menggoda, keriput diwajahnya kian nyata, lemak di pinggang dan perutnya mulai berlipat, belum lagi uban yang mulai tumbuh. Selama ini, keseharian Raswi ialah mencari uang dengan menari dan menyanyi keliling pasar. Dengan begitu dia bisa bertahan hidup. Kini si tua bangka itu membuangnya lantaran sudah punya pengganti juga.
Menari dan menyanyi adalah segala-galanya bagi Raswi. Itu adalah seni, bukan bentuk tubuh yang menjadi ukuran. Siapa pun berhak menjadi penari dan penyanyi. Namun, tidak bagi si tua bangka itu. Cantik dan bentuk tubuh adalah segala-galanya. Maka dari itu, dulu Raswi muda kerap dielok-elokan. Hingga Ki Argo menaruh hati padanya. Kerap dia dinyanyikan lagu dengan petikan siter oleh Ki Argo, di bawah rimbun pohon, di tepian sungai atau di gubuk kecil Raswi. Raswi menyukai tembangnya, tapi dia tak menaruh hati ke Argo muda. Dia sudah menganggap Argo seperti kakaknya.
Hanya lelaki terlalu naif yang tak tergoda untuk memilikiknya. Dia perempuan satu-satunya di kelompok musik dan tari keliling itu. Karena sakit hati dan kalap, Ki Argo pernah hampir memerkosa Raswi. Beruntung Raswi cekatan utuk kabur meminta bantuan ke teman-teman satu anggotanya. Akhirnya Ki Argo tersadar, meminta maaf dan keadaan kembali seperti semula meski terasa canggung. Raswi tahu dirinya  penyanyi dan penari keliling, tapi Raswi juga tahu tentang pentingnya menjaga harga diri. Biarlah orang berprasangka dirinya lacur lagi hina. Dia berharap Dewa selalu melindunginya.
Dan hari sesungguhnya belumlah gelap. Hanya hujan yang amat meredupkan sore. Tiada senja mampu menembus gulungan awan hitam, tiada mega yang bisa diselami mata. Kedua bola mata Raswi memarah penuh amarah juga pedih terkena air hujan yang menghujam bumi tanpa ampun. Jalanan di di bukit kian licin. Kedua kaki Raswi tak mampu menapak erat pada tanah. Dia terpleset. Jatuh dan terpelanting ke sebuah jurang. Tak terlalu curam. Tapi, cukup membuat tubuhnya yang kuyup terasa remuk redam. Dia hanya bisa tengkurap. Tak mampu bergerak sama sekali. Sebelum dia kehilangan kesadaran sempat berpikir—semalang inikah akhir hidupnya?  Telinga kananya yang menelungkup ke tanah, samar-samar mendengar langkah kaki kuda, kian dekat, dekat dan—Raswi keburu tak sadarkan diri.
***
Dalam keadaan mata tertutup, Raswi mencium bau menyan, menusuk-nusuk kesadaran lewat hidungnya. Perlahan dia membuka mata. Masih meremang. Nampak kepulan asap lamban di hadapannya. Ada seseorang dengan mulut komat-kamit sedang memegang wadah berisi ramuan, di tengahnya beberapa dupa menyembulkan asap. Ketika penglihatannya sudah jelas, tiba-tiba, “brusssshh” Mukanya basah terkena cairan hijau busuk, baunya sungguh tak enak. Dia disembur oleh seorang kakek tua berjenggot putih.
“Siapa namamu?” tanya seorang perempuan yang duduk di sampingnya.
“Raswi,” jawabnya bingung. Dipandanginya sudut-sudut dan langit langit ruangan dengan tatapan asing.
“Aku Nyi Arung. Adik ipar mendiang Raja Jayadiningrat. Tadi aku menemukanmu terkapar di hutan. Di mana kamu tinggal?”
Raswi terdiam mencoba mengingat-ingat kejadian tadi sore. Lalu dia menjawab, “di gubuk dekat telaga, Yang Mulia Nyi Arung.”
“Nyi Arung saja,” ucap Nyi Arung lembut. “Raswi, tubuhmu luka-luka. Baiknya kau tinggal di sini dulu. Kerajaan kami mempunyai seorang tabib handal,” tuturnya sembari menatap ke kakek tua berjenggot putih.
Serasa mimpi ketika dia bisa berada di istana kerajaan—Kerajaan Wanalaya. Selama ini dia tinggal di dekat telaga, di balik bukit yang memisahkan tempat tinggalnya dengan kawasan kerajaan. Sering dia mendengar kisah tentang kerajaan ini. Para penghuni kerajaan pun sesekali lewat ke pasar di mana dia sering mencari nafkah. Begitu penghuni kerajaan lewat. Orang-orang langsung menunduk bahkan bersujud menyembah. Oleh sebab itu, Raswi tak terlalu hafal wajah-wajah penghuni kerajaan. Dia hanya ingat wajah Raja Jayadiningrat dan Ratu Cendowati. Tapi, Dewa terlalu sayang pada raja dan ratu yang terkenal dengan kebaikannya itu. Mereka dikabarkan mati muda. Ratu Cendowati meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, sedang lima tahun kemudian Raja Jayadiningrat gugur dalam medan perang melawan serbuan Kerajaan Krangean.
“Oh, ya. Nanti kusuruh prajuritku ke rumahmu. Biar mereka mengabari keluargamu.”
“Tidak usah, Nyi.”
“Tidak usah bagaimana?”
“Aku hidup sebatang kara,” katanya menunduk pilu
“Sebatang kara? Di mana anak-anakmu tinggal?”
Raswi mengarahkan pandangan ke jendela kayu yang bergoyang pelan tertiup angin. “Jangankan anak. Bersuami pun tidak,” jawabnya.
Nyi Arung menupuk pundak Raswi perlahan. “Ya. Aku mengerti.”
Hidup sebagai penari dan penyanyi keliling membuatnya tak berjumpa dengan lelaki yang dirasanya baik. Banyaknya mereka adalah pemabuk dan penjudi berat. Dia tak sudi menikah dengan lelaki yang buruk laku dan hatinya. Jadilah dia perawan tua.
***
            Tiga hari dirawat di kerajaan membuat tubuhnya berangsur bugar lagi. Luka terbukanya sudah mengering, tinggal beberapa memar di tubuhnya yang masih nampak. Raswi memutuskan untuk kembali ke gubugnya. Hujan deras bebrapa hari yang lalu pasti membuat atapnya bocor, mungkin juga posisinya miring sebab tertiup angin.
“Raswi, kau sudah merasa lebih baik?” tanya Nyi Arung yang rajin memantau keadaanya dan menemaninya bercerita ketika terbaring di kamar. Raswi menceritakan dirinya dari kecil, hingga bergabung ke kelompok pemusik dan penari keliling Ki Argo, sampai dia di campakan begitu saja. Nyi Arung menyimaknya baik-baik, dia memang anggota keluarga kerajaan yang amat peduli kepada rakyatnya.
“Iya. Ini sudah waktunya saya pulang. Terima kasih, Nyi Arung.”
Em, Tunggu Raswi.” Nyi Arung menatap mata Raswi dalam, “Raswi, bukankah di gubukmu itu kau tinggal seorang diri?” Sepasang mata di hadapan Raswi itu menatap penuh harap. “Tinggalah di sini. Kami butuh seseorang yang dapat menjaga raja,” pinta Nyi Arung.
“Apa Nyi Arung bercanda? Perempuan separuh baya macam ini mana mungkin bisa menjaga raja. Bukankah di sini sudah disediakan banyak Prajurit-prajurit tangguh?”
“Lebih baik kau ikut aku saja.”
            Raswi mengikuti langkah kaki Nyi Arung dengan sesekali terkagum-kagum ke suasana kerajaan. Semua prajurit dan dayang akan menyapa dan merunduk hormat ketika Nyi Arung. Ini kali pertamanya dia masuk ke kerajaan dan mengelilingi isinya yang teramat megah baginya. Saking kagumnya dia sampai tak sadar sudah berada di halaman tengah istana kerajaan, di bawah pohon cemara teduh dan menyejukkan. Belum lagi cericit burung kutilang yang membuat suasana kian menyatu dengan alam, menenangkan.
“Itu Yang Mulia Raja Rana Tirta,” kata Nyi Arung sambil menunjuk Raja Rana Tirta.
`           “Dia keponakanku. Ibunya meninggal saat meliharkannya. Ayahnya gugur dalam medan perang saat usianya lima tahun. Raja Jayadiningrat ialah putra tunggal, begitu juga Rana Tirta. Selama masih ada keturunan sang raja, maka tiada seorang pun yang berhak menggantikannya. Itu sudah jadi aturan,” ujar Nyi Arung.
“Kini usianya tujuh tahun. Selama ini aku yang mendampinginya mengurus kerajaan. Tapi, aku akan sering pergi jauh karena urusan kerajaan. Aku butuh seseorang untuk menjaganya,” tambahnya.
Ya, Raswi tahu kisah itu. Tapi, dia tak menyangka penggantinya adalah bocah sekecil Raja Rana Tirta. Dia pun heran, mengapa Nyi Arung memilih dirinya untuk menjaga sang raja.
            “Mengapa Nyi Arung memercayakannya kepada saya? Saya ini...”
            Nyi Arung segera menyaut, “Matamu memancarkan kejujuran. Semoga harapanku benar bahwa kau orang baik-baik. Bagaimana, kau bersedia?”
            Raswi tersenyum penuh haru. Dewa betul-betul adil. Baru saja dia didepak oleh Ki Argo dan kebingungan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidup. Kini dia sudah mendapatkan ganti atas rasa sakitnya, malah jauh lebih baik.
***
            Nyi Arung bersiap untuk melakukan perjalanan keliling kerajaan hingga keluar pulau. Perjalanan ini diperkirakan akan memakan waktu enam bulan. Dayang kepercayaannya, Sumini, membantunya mengepak-kepaki barang.
“Kenapa Nyi Arung memercayakan perempuan itu untuk menjaga Yang Mulia Raja Rana Tirta?” tanya Sumini ketika dia selesai memberesi barang-barang Nyi Arung.
Nyi Arung hanya tersenyum.
“Hati-hati yang mulia. Dia masih terlampau asing. Saya hanya takut dia memanfaatkan Yang Mulia Raja Rana Tirta,” tandas Sumini
“Aku rasa dia orang baik-baik,” jawab Nyi Arung tenang.
“Tapi,”
Nyi Arung segera memotong pembicaraan,“sudahlah tak perlu dibahas. Lebih baik kau suruh Pujo menyiapkan kuda terbaikku.”
***
            Waktu menunaikan janjinya untuk terus berputar.  Hari berangsur menjadi minggu, minggu pun berangsur menjadi bulan. Sudah setengah tahun Raswi tinggal di kerajaan. Raja Rana Tirta kian akrab dengan Raswi. Tak lagi murung, tak lagi merajuk apabila dipinta berlatih pedang, berkuda dan berburu kancil. Raja kecil itu amat penurut berada di samping perlindungan Raswi. Dia tahu bagaimana menghargai makanan, bagaimana berdoa pada Dewa juga bagaimana caranya menghargai orang lain.
            Siang ini adalah jadwal si raja kecil itu untuk berlatih pedang. Raswi masih setia menemani dan memantaunya. Dia duduk di gazebo sembari menikmati semilir angin yang mengusap-usap tubuh yang tak lagi muda. Tiada satu sisi pun yang mampu mengalih pandangannya. Matanya hanya tertuju pada Raja Rana Tirta. Bocah tampan dengan sejuta karisma dan polah lucu khas anak-anak.
            “Nyi Arung kembali!” teriak seorang prajurit.
            Raja Rana Tirta menjatuhkan pedangnya dan berlari ke pelukan Nyi Arung yang berjalan ke arahnya. Raswi pun segera bangkit menghampiri. Dia bersujud dan menyalami juru selamatnya itu.
“Rana Tirta, bibi berhasil menjalin kerjasama perdagangan rempah-rempah dengan beberapa kerajaan. Nanti malam, bibi ingin mengadakan pesta syukuran.”
“Hore pesta!” sambut si raja kecil gembira. Dia berjingkrak ke sana ke mari.
            Usia perjalanan panjang, Nyi Arung merasa lelah. Dia meminta Sumini untuk memijati tubuhnya di kamar. Mata Nyi Arung sayu-sayu ingin tidur. Namun, Sumini melontarkan pernyataan yang membuat Nyi Arung urung tidur.
“Saya mencium tabiat buruk dari Raswi, Nyi Arung.”
“Perempuan paruh baya itu dulunya penari dan penyanyi keliling, bukan? Dia itu perempuan jalang,” tukas Sumini
“Hati-hati kalau bicara, Sumini,” jawab Nyi Arung tegas.
“Saya sering memerhatikan mata Raswi saat menyaksikan Yang Mulia Raja Rana Tirta berlatih pedang. Matanya berbinar. Lebih dari sekadar kagum. Nyi Arung tahu sendiri, meski Yang Mulia Raja Rana Tirta masih kecil, tapi sudah memiliki aura karismatik, belum lagi harta dan tahta.”
“Maksudmu Raswi menaruh hati ke Rana Tirta?”
“Bukan hanya itu. Yang Mulia Raja Rana Tirta sangat lekat dengannya. Tak mau makan jika tak ada Raswi. Tak mau berlatih menunggang kuda juga berlatih pedang jika tak ada Raswi. Tak mau berburu Kijang jika tak ada Raswi.”
Nyi Arung menggeleng heran, “ketakutanmu sungguh tak beralasan.”
***
Hanya dalam persiapan beberapa jam, istana sudah disetting megah untuk berpesta. Pekerja kerajaan memang giat dan gesit menunaikan perintah. Beberapa masakan dari daging babi, rusa dan kambing sudah tersedia di meja hidang. Buah-buah segar pun telah tertata rapi. Masih terngiang ucapan Sumini tadi. Nyi Arung menepuk-tepuk pipinya agar tak terlalu berlebih dalam berpikir.
Pesta dimulai, tapi Raja Rana Tirta dan Raswi belum nampak juga. Nyi Arung memutuskan untuk mencari mereka. Pesta ini terlampau sayang untuk dilewatkan.
“Rana... Rana Tirta. Raswi. Kalian di mana?” panggil Nyi Arung.
Nyi Arung berjalan sampai di depan pintu kamar Rana Tirta. Kamar itu amat sunyi. Perlahan dia membuka pintu kamar.  Sungguh, demi Dewa yang bersemayam di langit, hatinya amat hancur. Matanya seketika memerah penuh amarah, “Raswi! Terkutuk kau!” teriak Nyi Arung saat mendapati Raja Rana Tirta tengah membuka kancing baju Raswi dan membenamkan kepalanya ke dalam dadanya.
“Nyi... Nyi Arung,” Raswi panik.
“Bibi,” sambut Raja Rana Tirta dengan gembira
“Prajurit!”
Beberapa prajurit segera berlari mendekat, “ya, Nyai”
“Gantung perempuan jalang itu!”
“Bi, kenapa Raswi di bawa pergi?”
“Maafkan bibi yang tak memerhatikanmu.”
Para prajurit menarik Raswi kasar. Nyi Arung segera memeluk Raja Rana Tirta. Dengan isak tangis paling pilu, raja kecil itu memberontak, berlari mengejar langkah penuh tergesa-gesa para prajurit yang menyeret Raswi. Nyi Arung tak mengejar Rana Tirta,  dia masih terpukul. Menangis antara kecewa dan tak tega dengan keputusannya pada Raswi.
Raswi sudah berada tepat di bawah tiang gantung. Tangisnya makin deras. Bukan karena takut mati. Tapi, hatinya teramat hancur meninggalkan seorang anak kecil—anak yang telah membuatnya merasa menjadi wanita sempurna; menjadi sosok ibu.
Pertemuan dua hati itu—Raswi dan Raja Rana Tirta berakhir dengan tangis yang makin sesenggukan, si raja kecil berteriak, “Ibu... Ibu... aku belum menyusu!”
Semarang, 04-04-2014
Dina Ahsanta Puri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar