Umpatan
Raswi masih terdengar samar-samar, berdengung, menyusup di antara derasnya
rintik hujan. Berkali-kali dia mengutuk Ki Argo, seorang pemimpin sebuah
kelompok pemusik dan penari keliling. Tangan Raswi mengepal, menggenggam sampur
erat, geram lalu menggerutu. Sudah berpuluh-puluh tahun dia setia mengikuti
rombongan Ki Argo dan menjadi tambang uangnya. Namun, sore hari ini, sehabis berkeliling
ke sana ke mari, dia didepak begitu saja dengan pesangon yang minim. Alasannya
sederhana, Raswi sudah tua. Meski ketika gendang ditabuh Raswi masih bisa gesit
meliukan tubuh, sayang seribu sayang usia tak bisa membohongi paras dan bentuk
tubuh seseorang. Menurut Ki Argo tarian Raswi sudah tak bernilai jual lagi.
Dadanya sudah kendur, pantatnya tak menggoda, keriput diwajahnya kian nyata,
lemak di pinggang dan perutnya mulai berlipat, belum lagi uban yang mulai
tumbuh. Selama ini, keseharian Raswi ialah mencari uang dengan menari dan
menyanyi keliling pasar. Dengan begitu dia bisa bertahan hidup. Kini si tua
bangka itu membuangnya lantaran sudah punya pengganti juga.
Menari
dan menyanyi adalah segala-galanya bagi Raswi. Itu adalah seni, bukan bentuk
tubuh yang menjadi ukuran. Siapa pun berhak menjadi penari dan penyanyi. Namun,
tidak bagi si tua bangka itu. Cantik dan bentuk tubuh adalah segala-galanya.
Maka dari itu, dulu Raswi muda kerap dielok-elokan. Hingga Ki Argo menaruh hati
padanya. Kerap dia dinyanyikan lagu dengan petikan siter oleh Ki Argo, di bawah
rimbun pohon, di tepian sungai atau di gubuk kecil Raswi. Raswi menyukai tembangnya, tapi dia tak menaruh hati ke Argo muda.
Dia sudah menganggap Argo seperti kakaknya.
Hanya lelaki terlalu
naif yang tak tergoda untuk memilikiknya. Dia perempuan satu-satunya di
kelompok musik dan tari keliling itu. Karena sakit hati dan kalap, Ki Argo
pernah hampir memerkosa Raswi. Beruntung Raswi cekatan utuk kabur meminta
bantuan ke teman-teman satu anggotanya. Akhirnya Ki Argo tersadar, meminta maaf
dan keadaan kembali seperti semula meski terasa canggung. Raswi tahu dirinya penyanyi dan penari keliling, tapi Raswi juga tahu
tentang pentingnya menjaga harga diri. Biarlah orang berprasangka dirinya lacur
lagi hina. Dia berharap Dewa selalu melindunginya.
Dan hari sesungguhnya
belumlah gelap. Hanya hujan yang amat meredupkan sore. Tiada senja mampu
menembus gulungan awan hitam, tiada mega yang bisa diselami mata. Kedua bola
mata Raswi memarah penuh amarah juga pedih terkena air hujan yang menghujam
bumi tanpa ampun. Jalanan di di bukit kian licin. Kedua kaki Raswi tak mampu
menapak erat pada tanah. Dia terpleset. Jatuh dan terpelanting ke sebuah
jurang. Tak terlalu curam. Tapi, cukup membuat tubuhnya yang kuyup terasa remuk
redam. Dia hanya bisa tengkurap. Tak mampu bergerak sama sekali. Sebelum dia
kehilangan kesadaran sempat berpikir—semalang inikah akhir hidupnya? Telinga kananya yang menelungkup ke tanah,
samar-samar mendengar langkah kaki kuda, kian dekat, dekat dan—Raswi keburu tak
sadarkan diri.
***
Dalam
keadaan mata tertutup, Raswi mencium bau menyan, menusuk-nusuk kesadaran lewat
hidungnya. Perlahan dia membuka mata. Masih meremang. Nampak kepulan asap
lamban di hadapannya. Ada seseorang dengan mulut komat-kamit sedang memegang
wadah berisi ramuan, di tengahnya beberapa dupa menyembulkan asap. Ketika
penglihatannya sudah jelas, tiba-tiba, “brusssshh”
Mukanya basah terkena cairan hijau busuk, baunya sungguh tak enak. Dia
disembur oleh seorang kakek tua berjenggot putih.
“Siapa
namamu?” tanya seorang perempuan yang duduk di sampingnya.
“Raswi,”
jawabnya bingung. Dipandanginya sudut-sudut dan langit langit ruangan dengan
tatapan asing.
“Aku
Nyi Arung. Adik ipar mendiang Raja Jayadiningrat. Tadi aku menemukanmu terkapar
di hutan. Di mana kamu tinggal?”
Raswi
terdiam mencoba mengingat-ingat kejadian tadi sore. Lalu dia menjawab, “di
gubuk dekat telaga, Yang Mulia Nyi Arung.”
“Nyi
Arung saja,” ucap Nyi Arung lembut. “Raswi, tubuhmu luka-luka. Baiknya kau
tinggal di sini dulu. Kerajaan kami mempunyai seorang tabib handal,” tuturnya
sembari menatap ke kakek tua berjenggot putih.
Serasa
mimpi ketika dia bisa berada di istana kerajaan—Kerajaan Wanalaya. Selama ini
dia tinggal di dekat telaga, di balik bukit yang memisahkan tempat tinggalnya
dengan kawasan kerajaan. Sering dia mendengar kisah tentang kerajaan ini. Para
penghuni kerajaan pun sesekali lewat ke pasar di mana dia sering mencari
nafkah. Begitu penghuni kerajaan lewat. Orang-orang langsung menunduk bahkan
bersujud menyembah. Oleh sebab itu, Raswi tak terlalu hafal wajah-wajah
penghuni kerajaan. Dia hanya ingat wajah Raja Jayadiningrat dan Ratu Cendowati.
Tapi, Dewa terlalu sayang pada raja dan ratu yang terkenal dengan kebaikannya
itu. Mereka dikabarkan mati muda. Ratu Cendowati meninggal setelah melahirkan
anak pertamanya, sedang lima tahun kemudian Raja Jayadiningrat gugur dalam
medan perang melawan serbuan Kerajaan Krangean.
“Oh,
ya. Nanti kusuruh prajuritku ke rumahmu. Biar mereka mengabari keluargamu.”
“Tidak
usah, Nyi.”
“Tidak
usah bagaimana?”
“Aku
hidup sebatang kara,” katanya menunduk pilu
“Sebatang
kara? Di mana anak-anakmu tinggal?”
Raswi
mengarahkan pandangan ke jendela kayu yang bergoyang pelan tertiup angin. “Jangankan
anak. Bersuami pun tidak,” jawabnya.
Nyi
Arung menupuk pundak Raswi perlahan. “Ya. Aku mengerti.”
Hidup
sebagai penari dan penyanyi keliling membuatnya tak berjumpa dengan lelaki yang
dirasanya baik. Banyaknya mereka adalah pemabuk dan penjudi berat. Dia tak sudi
menikah dengan lelaki yang buruk laku dan hatinya. Jadilah dia perawan tua.
***
Tiga hari dirawat di kerajaan
membuat tubuhnya berangsur bugar lagi. Luka terbukanya sudah mengering, tinggal
beberapa memar di tubuhnya yang masih nampak. Raswi memutuskan untuk kembali ke
gubugnya. Hujan deras bebrapa hari yang lalu pasti membuat atapnya bocor,
mungkin juga posisinya miring sebab tertiup angin.
“Raswi,
kau sudah merasa lebih baik?” tanya Nyi Arung yang rajin memantau keadaanya dan
menemaninya bercerita ketika terbaring di kamar. Raswi menceritakan dirinya
dari kecil, hingga bergabung ke kelompok pemusik dan penari keliling Ki Argo,
sampai dia di campakan begitu saja. Nyi Arung menyimaknya baik-baik, dia memang
anggota keluarga kerajaan yang amat peduli kepada rakyatnya.
“Iya.
Ini sudah waktunya saya pulang. Terima kasih, Nyi Arung.”
“Em, Tunggu Raswi.” Nyi Arung menatap
mata Raswi dalam, “Raswi, bukankah di gubukmu itu kau tinggal seorang diri?”
Sepasang mata di hadapan Raswi itu menatap penuh harap. “Tinggalah di sini.
Kami butuh seseorang yang dapat menjaga raja,” pinta Nyi Arung.
“Apa
Nyi Arung bercanda? Perempuan separuh baya macam ini mana mungkin bisa menjaga
raja. Bukankah di sini sudah disediakan banyak Prajurit-prajurit tangguh?”
“Lebih
baik kau ikut aku saja.”
Raswi mengikuti langkah kaki Nyi
Arung dengan sesekali terkagum-kagum ke suasana kerajaan. Semua prajurit dan
dayang akan menyapa dan merunduk hormat ketika Nyi Arung. Ini kali pertamanya
dia masuk ke kerajaan dan mengelilingi isinya yang teramat megah baginya.
Saking kagumnya dia sampai tak sadar sudah berada di halaman tengah istana
kerajaan, di bawah pohon cemara teduh dan menyejukkan. Belum lagi cericit
burung kutilang yang membuat suasana kian menyatu dengan alam, menenangkan.
“Itu
Yang Mulia Raja Rana Tirta,” kata Nyi Arung sambil menunjuk Raja Rana Tirta.
` “Dia keponakanku. Ibunya meninggal
saat meliharkannya. Ayahnya gugur dalam medan perang saat usianya lima tahun. Raja
Jayadiningrat ialah putra tunggal, begitu juga Rana Tirta. Selama masih ada
keturunan sang raja, maka tiada seorang pun yang berhak menggantikannya. Itu
sudah jadi aturan,” ujar Nyi Arung.
“Kini
usianya tujuh tahun. Selama ini aku yang mendampinginya mengurus kerajaan.
Tapi, aku akan sering pergi jauh karena urusan kerajaan. Aku butuh seseorang
untuk menjaganya,” tambahnya.
Ya,
Raswi tahu kisah itu. Tapi, dia tak menyangka penggantinya adalah bocah sekecil
Raja Rana Tirta. Dia pun heran, mengapa Nyi Arung memilih dirinya untuk menjaga
sang raja.
“Mengapa Nyi Arung memercayakannya
kepada saya? Saya ini...”
Nyi Arung segera menyaut, “Matamu
memancarkan kejujuran. Semoga harapanku benar bahwa kau orang baik-baik.
Bagaimana, kau bersedia?”
Raswi tersenyum penuh haru. Dewa
betul-betul adil. Baru saja dia didepak oleh Ki Argo dan kebingungan bagaimana
caranya memenuhi kebutuhan hidup. Kini dia sudah mendapatkan ganti atas rasa
sakitnya, malah jauh lebih baik.
***
Nyi Arung bersiap untuk melakukan
perjalanan keliling kerajaan hingga keluar pulau. Perjalanan ini diperkirakan
akan memakan waktu enam bulan. Dayang kepercayaannya, Sumini, membantunya
mengepak-kepaki barang.
“Kenapa
Nyi Arung memercayakan perempuan itu untuk menjaga Yang Mulia Raja Rana Tirta?”
tanya Sumini ketika dia selesai memberesi barang-barang Nyi Arung.
Nyi
Arung hanya tersenyum.
“Hati-hati
yang mulia. Dia masih terlampau asing. Saya hanya takut dia memanfaatkan Yang
Mulia Raja Rana Tirta,” tandas Sumini
“Aku
rasa dia orang baik-baik,” jawab Nyi Arung tenang.
“Tapi,”
Nyi
Arung segera memotong pembicaraan,“sudahlah tak perlu dibahas. Lebih baik kau
suruh Pujo menyiapkan kuda terbaikku.”
***
Waktu menunaikan janjinya untuk
terus berputar. Hari berangsur menjadi
minggu, minggu pun berangsur menjadi bulan. Sudah setengah tahun Raswi tinggal
di kerajaan. Raja Rana Tirta kian akrab dengan Raswi. Tak lagi murung, tak lagi
merajuk apabila dipinta berlatih pedang, berkuda dan berburu kancil. Raja kecil
itu amat penurut berada di samping perlindungan Raswi. Dia tahu bagaimana
menghargai makanan, bagaimana berdoa pada Dewa juga bagaimana caranya
menghargai orang lain.
Siang ini adalah jadwal si raja
kecil itu untuk berlatih pedang. Raswi masih setia menemani dan memantaunya.
Dia duduk di gazebo sembari menikmati semilir angin yang mengusap-usap tubuh
yang tak lagi muda. Tiada satu sisi pun yang mampu mengalih pandangannya.
Matanya hanya tertuju pada Raja Rana Tirta. Bocah tampan dengan sejuta karisma
dan polah lucu khas anak-anak.
“Nyi Arung kembali!” teriak seorang
prajurit.
Raja Rana Tirta menjatuhkan
pedangnya dan berlari ke pelukan Nyi Arung yang berjalan ke arahnya. Raswi pun
segera bangkit menghampiri. Dia bersujud dan menyalami juru selamatnya itu.
“Rana
Tirta, bibi berhasil menjalin kerjasama perdagangan rempah-rempah dengan beberapa
kerajaan. Nanti malam, bibi ingin mengadakan pesta syukuran.”
“Hore
pesta!” sambut si raja kecil gembira. Dia berjingkrak ke sana ke mari.
Usia perjalanan panjang, Nyi Arung
merasa lelah. Dia meminta Sumini untuk memijati tubuhnya di kamar. Mata Nyi
Arung sayu-sayu ingin tidur. Namun, Sumini melontarkan pernyataan yang membuat
Nyi Arung urung tidur.
“Saya
mencium tabiat buruk dari Raswi, Nyi Arung.”
“Perempuan
paruh baya itu dulunya penari dan penyanyi keliling, bukan? Dia itu perempuan
jalang,” tukas Sumini
“Hati-hati
kalau bicara, Sumini,” jawab Nyi Arung tegas.
“Saya
sering memerhatikan mata Raswi saat menyaksikan Yang Mulia Raja Rana Tirta
berlatih pedang. Matanya berbinar. Lebih dari sekadar kagum. Nyi Arung tahu
sendiri, meski Yang Mulia Raja Rana Tirta masih kecil, tapi sudah memiliki aura
karismatik, belum lagi harta dan tahta.”
“Maksudmu
Raswi menaruh hati ke Rana Tirta?”
“Bukan
hanya itu. Yang Mulia Raja Rana Tirta sangat lekat dengannya. Tak mau makan
jika tak ada Raswi. Tak mau berlatih menunggang kuda juga berlatih pedang jika
tak ada Raswi. Tak mau berburu Kijang jika tak ada Raswi.”
Nyi
Arung menggeleng heran, “ketakutanmu sungguh tak beralasan.”
***
Hanya
dalam persiapan beberapa jam, istana sudah disetting megah untuk berpesta. Pekerja kerajaan memang giat dan
gesit menunaikan perintah. Beberapa masakan dari daging babi, rusa dan kambing
sudah tersedia di meja hidang. Buah-buah segar pun telah tertata rapi. Masih
terngiang ucapan Sumini tadi. Nyi Arung menepuk-tepuk pipinya agar tak terlalu
berlebih dalam berpikir.
Pesta
dimulai, tapi Raja Rana Tirta dan Raswi belum nampak juga. Nyi Arung memutuskan
untuk mencari mereka. Pesta ini terlampau sayang untuk dilewatkan.
“Rana...
Rana Tirta. Raswi. Kalian di mana?” panggil Nyi Arung.
Nyi
Arung berjalan sampai di depan pintu kamar Rana Tirta. Kamar itu amat sunyi. Perlahan
dia membuka pintu kamar. Sungguh, demi
Dewa yang bersemayam di langit, hatinya amat hancur. Matanya seketika memerah
penuh amarah, “Raswi! Terkutuk kau!” teriak Nyi Arung saat mendapati Raja Rana
Tirta tengah membuka kancing baju Raswi dan membenamkan kepalanya ke dalam
dadanya.
“Nyi...
Nyi Arung,” Raswi panik.
“Bibi,”
sambut Raja Rana Tirta dengan gembira
“Prajurit!”
Beberapa
prajurit segera berlari mendekat, “ya, Nyai”
“Gantung
perempuan jalang itu!”
“Bi,
kenapa Raswi di bawa pergi?”
“Maafkan
bibi yang tak memerhatikanmu.”
Para
prajurit menarik Raswi kasar. Nyi Arung segera memeluk Raja Rana Tirta. Dengan
isak tangis paling pilu, raja kecil itu memberontak, berlari mengejar langkah
penuh tergesa-gesa para prajurit yang menyeret Raswi. Nyi Arung tak mengejar
Rana Tirta, dia masih terpukul. Menangis
antara kecewa dan tak tega dengan keputusannya pada Raswi.
Raswi
sudah berada tepat di bawah tiang gantung. Tangisnya makin deras. Bukan karena
takut mati. Tapi, hatinya teramat hancur meninggalkan seorang anak kecil—anak
yang telah membuatnya merasa menjadi wanita sempurna; menjadi sosok ibu.
Pertemuan
dua hati itu—Raswi dan Raja Rana Tirta berakhir dengan tangis yang makin sesenggukan,
si raja kecil berteriak, “Ibu... Ibu... aku belum menyusu!”
Semarang,
04-04-2014
Dina
Ahsanta Puri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar