Jumat, 16 November 2018

Feminisme dan Kisah Klise*



Saya bukan penulis yang baik, tapi saya berusaha menjadi pembaca yang baik. Membaca cerpen Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, sangat terasa begitu klise. Tentang emansipasi wanita yang ingin menuntut pendidikan tinggi tapi malah terkurung oleh kewajiban istri yang melulu melayani suami. Saya kurang suka dengan temanya. Kurang seksi. Zaman sekarang masih ada perempuan terpaksa? Apakah Siti Nurbaya masih hidup? Jika saya seorang penulis cerita ini, sebagai perempuan saya tidak akan memposisikan Dinaya sekalah itu. Setidaknya tokoh Dinaya yang tengah terkungkung masalah akan saya bekali dengan karakter yang kuat. Ini bukan cerpen pertama NKA yang pernah saya baca, Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya ialah cerpen NKA yang lagi-lagi mengusung tema perempuan.
Penulis cerita haruslah pandai bermain logika; bermain intrik—tentang bagaimana merangkai sebab akibat serta menyusun alur agar tidak rancu.
Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia belaka. Ketika kedua orangtuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya, Dinaya menolak mentah-mentah anjuran itu.
Cuplikan cerita di atas  sudah mengisahkan bahwa Dinaya menolak mentah-mentah untuk lanjut sekolah. Tapi, kok tiba tiba bisa jadi dosen? Lantas pekerjaannya sebagai pendidik inilah yang di jadikan konflik cerita yang membuatnya terkurung. Permainan logika yang terlalu dipaksa.
Dengan buku Wanita Dulu Sekarang dan Esok karya Hajjah Ani Idrus, saya mencoba memahami cerpen ini dengan pendekatan poskolonial. Ternyata ada bagian yang menarik juga. Feminisme dalam cerpen ini disimbolkan oleh konflik dua perempuan; ibunya dan Dinaya. Ibu Dinaya terhitung sebagai “orang dulu” tentu pemikirannya masih sempit. Pergerakan feminisme di Indonesia termasuk lambat. Dulu untuk mengetahui tentang kemajuan wanita-wanita di luar negri sangatlah sulit. Itu karena wanita Indonesia masih banyak yang tidak baham bahasa asing bahkan buta huruf.

Perempuan adalah obyek
Apakah ketika seorang perempuan dilahirkan ke dunia ia telah terlahir sebagai manusia atau hanya sebuah barang yang kebetulan bernyawa?
Hati saya bergetar ketika membacanya. Penulis seperti menitipkan ruh pada penggalan kata ini. Teringat cuplikan kata-kata Nancy Tuana dalam buku Filsafat Berperspektif Feminis karya Gadis Arivia, pendiri Yayasan Jurnal Perempuan:
...perempuan inferior terhadap laki-laki, sebagi makhluk yang lemah, jenis kelamin yang kedua. Perempuan dilihat sangat kurang memadai dalam definisi  sebagai manusia yaitu: kurang rasional dan tidak memiliki moralitas yang lengkap.
Pada tahun 1985, seorang feminis kelahiran India, Gayatri Spivak, melontarkan  sebuah pernyataan kritis, “apakah ‘subaltern’ dapat berbicara?” Subaltern di sini dimaksudkan kaum lemah yang tidak berdaya. Ketika Spivak melontarkan pertanyaan ini, para akademikus ketika itu diajak berpikir keras apakah semua pengetahuan mengenai yang tidak berdaya benar-benar berasal dari yang tidak berdaya atau hasil konstruksi kaum intelektual, LSM atau kaum superios lainnya?
Ketidakadilan Gender
Acapkali ketika mendengar kata “ketidakadilan gender” pikiran kita akan tertuju kepada perempuan yang tertindas. Padahal, ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Kebetulan cerpen NKA ini lebih menonjolkan ketidakadilan gender yang menimpa perempuan. Perhatikan penggalan cerita berikut:
            Dinaya menyeka peluh yang membasahi pipinya. Tubuhnya sudah terasa begitu lengket. Kedua kakinya pegal luar biasa. Mukanya tentu saja terlihat sangat berantakan. Dinaya tidak ingat lagi berapa banyak pekerjaan yang sudah dikerjakannya sejak subuh tadi. Begitu satu pekerjaan selesai, pekerjaan lainnya menunggu. Begitu seterusnya seolah tidak ada habisnya.
Dinaya belum sempat mendudukkan pantatnya barang sejenak pun sejak tadi pagi. Pekerjaan dapur dan tetek bengek rumah tangga ini seolah memutarnya seperti gasing yang tidak tahu kapan akan berhenti.
Penggalan cerita tersebut merupakan manifesti dari ketidakadilan gender yang ada; gender dan beban kerja. Adanya anggapan bahwa kaum perempuan mempunyai sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, mengakibatkan semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan yang harus bekerja keras dalam waktu lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya. Mulai dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air, memlihara anak. Di kalangan keluarga miskin, beban yang sangat berat ini harus ditanggung oleh perempuan sendiri. Terlebih jika perempuan itu harus bekerja, maka ia memikul beban ganda.
Bias gender yang mengakibatkan beban kerja tersebut diperkuat atas keyakinan masyarakat bahwa jenis “pekerjaan perempuan”. Seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dari jenis “pekerjaan laki-laki,” dikategorikan “tidak produktif”. Perempuan bekerja lebih lama dan berat, tanpa perlindungan dan kejelasan kebijakan negara.
Meski di paragraf awal saya sudah mengatakan kurang suka dengan tema dan cara pengemasan cerita tentang masalah perempuan yang amat klise. Akan tetapi, sebagai perempuan saya ingin mengucapkan terima kasih juga ke NKA. Dari kisah yang sederhana dan cendrung biasa ini, saya dapat menyimpulkan bahwa manifesti ketidakadilan gender ini telah mengakar mulai dalam keyakinan di masing-masing orang, keluarga hingga tingkat negara yang bersifat global. Cerita berlatar rumah ini juga seakan mengisahkan bahwa rumah tangga seringkali menjadi tempat kritis dalam menyosialisasikan ketidakadilan gender.

Semarang, 19-03-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar