Saya bukan
penulis yang baik, tapi saya berusaha menjadi pembaca yang baik. Membaca cerpen
Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara, sangat terasa begitu klise. Tentang
emansipasi wanita yang ingin menuntut pendidikan tinggi tapi malah terkurung
oleh kewajiban istri yang melulu melayani suami. Saya kurang suka dengan
temanya. Kurang seksi. Zaman sekarang masih ada perempuan terpaksa? Apakah Siti
Nurbaya masih hidup? Jika saya seorang penulis cerita ini, sebagai perempuan
saya tidak akan memposisikan Dinaya sekalah itu. Setidaknya tokoh Dinaya yang
tengah terkungkung masalah akan saya bekali dengan karakter yang kuat. Ini
bukan cerpen pertama NKA yang pernah saya baca, Perempuan yang Tergila-gila pada Idenya ialah
cerpen NKA yang lagi-lagi mengusung tema perempuan.
Penulis
cerita haruslah pandai bermain logika; bermain intrik—tentang bagaimana
merangkai sebab akibat serta menyusun alur agar tidak rancu.
Inilah alasan mengapa Dinaya dulu selalu menolak untuk meneruskan
sekolahnya. Betapapun ia menyukai ilmu yang serasa melambungkannya ke cakrawala
dunia, ia tahu semua itu akan sia-sia
belaka. Ketika kedua orangtuanya memintanya untuk meneruskan kuliahnya,
Dinaya menolak mentah-mentah anjuran
itu.
Cuplikan
cerita di atas sudah mengisahkan bahwa
Dinaya menolak mentah-mentah untuk lanjut sekolah. Tapi, kok tiba tiba bisa jadi dosen? Lantas pekerjaannya sebagai pendidik
inilah yang di jadikan konflik cerita yang membuatnya terkurung. Permainan
logika yang terlalu dipaksa.
Dengan buku Wanita Dulu Sekarang dan Esok karya
Hajjah Ani Idrus, saya mencoba memahami cerpen ini dengan pendekatan
poskolonial. Ternyata ada bagian yang menarik juga. Feminisme dalam cerpen ini
disimbolkan oleh konflik dua perempuan; ibunya dan Dinaya. Ibu Dinaya terhitung
sebagai “orang dulu” tentu pemikirannya masih sempit. Pergerakan feminisme di
Indonesia termasuk lambat. Dulu untuk mengetahui tentang kemajuan wanita-wanita
di luar negri sangatlah sulit. Itu karena wanita Indonesia masih banyak yang tidak
baham bahasa asing bahkan buta huruf.
Perempuan
adalah obyek
Apakah ketika seorang perempuan dilahirkan ke dunia ia telah terlahir
sebagai manusia atau hanya sebuah barang yang kebetulan bernyawa?
Hati saya
bergetar ketika membacanya. Penulis seperti menitipkan ruh pada penggalan kata
ini. Teringat cuplikan kata-kata Nancy Tuana dalam buku Filsafat Berperspektif
Feminis karya Gadis Arivia, pendiri Yayasan Jurnal Perempuan:
...perempuan inferior terhadap laki-laki, sebagi makhluk yang lemah, jenis
kelamin yang kedua. Perempuan dilihat sangat kurang memadai dalam definisi sebagai manusia yaitu: kurang rasional dan
tidak memiliki moralitas yang lengkap.
Pada tahun
1985, seorang feminis kelahiran India, Gayatri Spivak, melontarkan sebuah pernyataan kritis, “apakah ‘subaltern’
dapat berbicara?” Subaltern di sini dimaksudkan kaum lemah yang tidak berdaya.
Ketika Spivak melontarkan pertanyaan ini, para akademikus ketika itu diajak
berpikir keras apakah semua pengetahuan mengenai yang tidak berdaya benar-benar
berasal dari yang tidak berdaya atau hasil konstruksi kaum intelektual, LSM
atau kaum superios lainnya?
Ketidakadilan
Gender
Acapkali
ketika mendengar kata “ketidakadilan gender” pikiran kita akan tertuju kepada
perempuan yang tertindas. Padahal, ketidakadilan gender merupakan sistem dan
struktur di mana baik kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem
tersebut. Kebetulan cerpen NKA ini lebih menonjolkan ketidakadilan gender yang
menimpa perempuan. Perhatikan penggalan cerita berikut:
Dinaya menyeka peluh yang membasahi pipinya.
Tubuhnya sudah terasa begitu lengket. Kedua kakinya pegal luar biasa. Mukanya
tentu saja terlihat sangat berantakan. Dinaya tidak ingat lagi berapa banyak
pekerjaan yang sudah dikerjakannya sejak subuh tadi. Begitu satu pekerjaan
selesai, pekerjaan lainnya menunggu. Begitu seterusnya seolah tidak ada
habisnya.
Dinaya belum
sempat mendudukkan pantatnya barang sejenak pun sejak tadi pagi. Pekerjaan
dapur dan tetek bengek rumah tangga ini seolah memutarnya seperti gasing yang
tidak tahu kapan akan berhenti.
Penggalan cerita tersebut merupakan
manifesti dari ketidakadilan gender yang ada; gender dan beban kerja. Adanya
anggapan bahwa kaum perempuan mempunyai sifat memelihara dan rajin, serta tidak
cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, mengakibatkan semua pekerjaan domestik
rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan yang harus bekerja keras
dalam waktu lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya. Mulai
dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air, memlihara
anak. Di kalangan keluarga miskin, beban yang sangat berat ini harus ditanggung
oleh perempuan sendiri. Terlebih jika perempuan itu harus bekerja, maka ia
memikul beban ganda.
Bias gender yang mengakibatkan beban
kerja tersebut diperkuat atas keyakinan masyarakat bahwa jenis “pekerjaan
perempuan”. Seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah
dari jenis “pekerjaan laki-laki,” dikategorikan “tidak produktif”. Perempuan
bekerja lebih lama dan berat, tanpa perlindungan dan kejelasan kebijakan
negara.
Meski di paragraf awal saya sudah
mengatakan kurang suka dengan tema dan cara pengemasan cerita tentang masalah
perempuan yang amat klise. Akan tetapi, sebagai perempuan saya ingin
mengucapkan terima kasih juga ke NKA. Dari kisah yang sederhana dan cendrung
biasa ini, saya dapat menyimpulkan bahwa manifesti ketidakadilan gender ini
telah mengakar mulai dalam keyakinan di masing-masing orang, keluarga hingga
tingkat negara yang bersifat global. Cerita berlatar rumah ini juga seakan
mengisahkan bahwa rumah tangga seringkali menjadi tempat kritis dalam
menyosialisasikan ketidakadilan gender.
Semarang, 19-03-2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar