Maria merapikan selimut Valent. Tak ingin
angin malam mengusik tidur anaknya. Dia memegang tangan Valent dan berkata,
“entah kenapa, ketika mama memegang tanganmu, rasanya tanganmu tak sehangat
dulu, sayang.” Maria mengecupnya, “Tapi, mama tetap sayang padamu. Maafkan mama
yang tak mampu menjagamu.” Maria sangat menyesali peristiwa tiga tahun
lalu. Peristiwa yang menjadi awal
perubahan besar dalam diri Valent.
***
Suasana gereja sudah agak sepi. Maria selesai
Berdo’a pada Tuhan Yesus. Dia panik ketika membuka matanya yang terpejam.
Valent tidak ada di sampingnya. Segera dia mencari putra semata wayangnya itu.
Dia berlari ke arah pintu gereja. Maria menghela nafas dan merasa tenang.
Rupanya Valent sedang berdiri di halaman gereja, memandangi burung-burung dara
yang biasa berkerumun di sana. Tanpa disadari ada seorang pendeta tua di
samping Maria. Dia tengah memerhatiakan Valent. Mulut pendeta itu bergumam,
“oh, Yesus, benarkah yang ku lihat ini?” Maria mengeryitkan jidat keheranan dan
berjalan menghampiri Valent, mengajaknya pulang. Minggu pagi ini, sebelum
berangkat ke gereja, mereka belum sempat sarapan. Maria harap mereka tidak terlalu
lama menunggu bus di halte dan sepertinya Tuhan Yesus mengamini do’anya. Tak
lama bus datang. Maria dan Valent mengantri naik, tak lupa mendahulukan para
penumpang yang turun. Penumpang yang turun terakhir adalah seorang biksu tua
dengan jenggot putih, turun perlahan digandeng seorang biksu kecil. Mata biksu
kecil itu terlihat kaget saat berpapasan dengan Valent. Dia terus memandangi
Valent dengan mata lugunya. Maria menuntun Valent untuk bergegas naik. Mereka
duduk di kursi belakang. Dari kejauhan biksu kecil itu berjalan sembari menoleh
ke arah bus. Memandangi Bus yang mengangkut Maria dan Valent sampai jarak tak
menampakkannya.
***
Segelas susu hangat masih di genggaman Maria.
Sedari tadi Valent tak berminat meraihnya. Selepas dari gereja tadi, Valent
langsung mendekam ke kamar. Duduk di samping jendela dan melukis. Mula-mula
pelan, sangat pelan, tipis, dengan guratan-guratan samar. Lambat laun bergerak
lebih cepat dan tegas. Maria meletakkan
segelas susu itu di meja belajar. Dia memilih untuk membereskan tempat tidur
Valent yang berantakan, lalu duduk sejenak di atasnya. Memandangi Valent dan
lukisannya yang setengah jadi. Meski begitu, Maria tahu persis akan seperti apa
lukisan Valent nanti. Warna dan bentuknya Maria tahu. Lukisan itu sering di
lukis Valent: tentang seorang anak laki-laki yang terjatuh dari lantai dua, wajahnya begitu
ketakutan. Terlihat di lantai bawah, tepatnya di sisi lemari ada anak kecil
yang melihatnya. Wajah anak kecil dengan ekspresi muka datar. Maria tahu
mengapa Valent kerap melukisnya. Mungkin ini semacam trauma. Rumah ini memang
terdiri dari dua lantai. Tiga tahun yang lalu, Valent memang terjatuh dari
lantai atas. Rupanya dia bersandar ke pagar kayu lapuk. Maria merasa bersalah
karena tak bisa mengondisikan rumah agar aman untuk di huni. Dinding-dinding
terlihat sudah lupa warna catnya, beberapa atap saling berpegangan nyaris
jatuh. Semenjak suaminya meninggal, Maria sering mengalami masalah dengan
keuangan. Menjahit bukanlah sekedar perkara menyambungkan beberapa potong kain,
tapi juga pekerjaan yang mampu menyambung hidupnya sampai saat ini. Valent pun
jatuh karena dia lepas dari pengawasan Maria.
Saat itu suara gerak mesin menjahit mulai
melambat dan berhenti. Sepotong kemeja sudah selesai dijahit Maria.
”Aaaaaaaaa....” “Brakkkkk,” Maria
kaget mendengar Valent berteriak dan diikuti suara benda jatuh dari lantai dua.
Segera Maria keluar dari ruang menjahitnya. Valent terjatuh dari lantai dua.
Maria histeris. Saat Maria berjalan mengampirinya, Valent terbangun. Dia duduk
seperti orang linglung. Maria memeluknya. Kepalanya masih jelas mengucurkan
darah segar. Valent tak mengeluh sakit. Menangispun tidak. Namun, Maria tetap
membawanya ke dokter. Dia khawatir anaknya kenapa-kenapa. Dokter yang
memeriksanya merasa keheranan. Mustahil Valent masih bertahan dengan luka
seperti itu. Pendarahan di otaknya cukup parah. Kaki kiri patah. Lengan kanan
retak.
Semenjak kejadian itu. Valent lebih suka
mengurung diri di kamar. Menyibukkan diri untuk melukis. Maria tak tahu darah
seni mengalir pada diri Valent. Sebelum dia jatuh, dia sama sekali tak suka
melukis, tapi kini, dia menjadi gemar melukis. Lukisannya pun hampir setara
dengan yang sudah ahli. Dan tentang maksud lukisan Valent, Maria sesungguhnya
masih dirundung rasa penasaran: siapa anak laki-laki di samping lemari itu?
Valent tak pernah bercerita. Pernah Maria sedikit memaksa ingin tahu. Valent
kesal, matanya tajam menyakitkan untuk ditatap Maria. Lebih menyakitkan lagi
saat dia berkata, “Pergi, kau!”
Semenjak kecelakaan itu, Valent jadi berubah.
Selain ingatannya yang kacau, sikap dan perilakunya jadi aneh, sering melamun.
Pendiam dan pemarah. Valent lebih sering memanggilnya dengan sebutan “kau”
daripada “mama”. Tak ada lagi rengekan memanja ataupun polah menggemaskan.
Bocah usia 7 tahun itu benar-benar berubah.
***
Angin meniup-niup kecil kain korden di
jendela. Membuat bayang-bayang korden berkelibatan di wajah Maria,
menyadarkannya dari lamunan. Terdengar suara orang mengetuk pintu rumah. Maria
berdiri dan menghampiri Valent, mengelus lembut rambutnya. “Jangan lupa susunya
diminum ya, sayang?” kata Maria. Dia Bergegas turun dan membukakan pintu.
Ternyata itu adalah seorang nenek tua dengan pakaian compang-camping dan kumal.
Wajahnya berbuduk. Rambutnya yang beruban terlihat dikitari lalat. Dengan
bantuan tongkat, dia mendekat dengan langkah agak
tergopoh-gopoh. Seakan tulang belulang di telapak kakinya tak kuat menjaga
beban tubuh.
“Saya
lapar nyonya, maukah nyonya berbagi sedikit makanan untukku?” pinta nenek tua.
Maria merasa iba, “iya sebentar, nek. Tunggu di sini.” Di lemari hanya ada dua
potong kue. Satu untuknya dan satu lagi untuk Valent. Maria mengambil bagiannya
untuk di berikan kepada nenek tua itu.
“Maaf,
nek. Saya hanya punya ini.”
“Tidak
apa-apa, nyonya. Terima kasih sekali.”
Nenek
tua terlihat sangat bahagia. Ketika hendak membalikan tubuh untuk pergi.
Pandangan nenek tua tertahan ke dalam ruangan rumah Maria. Jidatnya mengeryit,
keriput di wajahnya kian nyata.
“Kenapa,
nek?”
“Itu....
itu lukisan siapa?” kata nenek tua, menunjuk ke arah lukisan yang terpajang di
dinding.
“Itu
lukisan Valent, anakku.” Ucap Maria dengan senyum hangat. “Nah, itu anaknya.
Sini, nak!” Valent kebetulan turun dari lantai dua. Dia tak menghiraukan ajakan
ibunya untuk mendekat. Menyelonong saja dan duduk di sudut ruangan sembari memainkan
kotak musiknya yang mengalunkan musik klasik Fur Elise-Beethoven.
“Maaf,
nek. Valent memang seperti itu anaknya.”
“Lukisan
itu harus dihancurkan.” Ucap nenek tua. Kotak musik Valent tiba-tiba menutup,
memutuskan alunan musik.
“Memang
kenapa, nek?”
“Dengar
kan aku. Entah percaya atau tidak. Lukisan itu bukan lukisan sembarangan. Dan itu
bukan anakmu!”
Maria
memandang Valent yang tengah bermain di sudut ruangan. Mata Valent terlihat
melotot tajam dan agak memerah, menyiratkan amarah.
“Ne...ne..nek..
bicara apa?”
“Anakmu
sudah mati. Mati tiga tahun yang lalu. Di hadapanmu saat ini hanyalah anak jin
yang menempati raga anakmu. Bukankah anakmu pernah terjatuh dari lantai dua
ini?”
Maria
tercengang kaget. Dari mana nenek tua itu tahu kejadian itu. Valent berdiri
menjulurkan tangannya agar diraih Maria, “mama, ke mari, ma. Aku takut.” Ucap
Valent sembari berurai air mata. Maria pun menangis, sudah sekian lama Valent
tak memanggilnya mama. Maria menggerakan kakinya hendak menghampiri Valent.
Namun, nenek tua itu mencegahnya, “jangan! Jangan kau dekati dia! Bahaya!”
“Mamaaaa...”
Valent merengek. Maria tak kuasa mendengarnya, air matanya bercucuran. Baru
beberapa langkah Maria berjalan. Nenek itu melemparkan tongkatnya ke arah
lukisan. Tepat menembus ke arah anak laki-laki yang ada di sisi pintu.
“Valeeeeenttt....!!!”
Maria berteriak sejadi-jadinya. Lukisan itu terjatuh. Robek. Beberapa lukisan
di ruangan lain pun sama. Meski tak terkena lemparan tongkat secara langsung,
namun turut robek dan terjatuh. Semua lukisan sejenis itu hancur. Nenek tua
misterius pun menghilang. Rumah Maria sudah cukup kosong, tak banyak perabaotan
menjejali sudut ruangan, mungkin sesepi itulah hatinya. Valent terkulai lemas
di pangkuan Maria. Dia menggenggam erat tangan Valent yang kini benar-benar
sangat dingin.
Purbalingga,
31-08-2013.
Dina
Ahsanta Puri.
Mahasiswi
Semester 3, Fak. Pendidikan Bahasa dan Seni,
Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP PGRI
Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar