Jumat, 16 November 2018

PENDENGAR YANG BAIK (*)




Pretend you're happy when you're blue
It isn't very hard to do
And you'll find happiness without an end
Whenever you pretend.
Hampir seminggu, Sera sering memutar lagu Pretend berulang-ulang. Liriknya sudah di luar kepala. Bisa jadi kebiasaan memutar lagu itu melebihi penyanyinya aslinya, Nat King Cole.  
Mata sayu Sera menyerap wajah malam, menyemburatkan lingkar hitam dan kerut lelah. Dia hampir lupa rasanya tidur nyenyak. Jasmaninya menuntut hak istirahat.  Namun, batin yang bersetru urung mengabulkan. Jika keterusan, dia akan menua dalam hitungan hari. Saat sudah mampu tidur nanti, dia ingin mimpi pingsan. Biar nyenyak, senyenyak-nyenyaknya. Tak ada masalah yang menelusup dalam kepala, meski lewat mimpi sekali pun.
Pintu kamar apartemen Sera berderit, mengabarkan ada seseorang yang datang. Dia Ben, pria cassanova, yang menjadi rekan kerja di kantor.
“Kau pasti kesepian. Maaf aku terlambat, sayangku,” ucap Ben dengan gaya khasnya yang menjijikan; memanggil sembarang perempuan dengan sapaan mesra. Meski muak dengan sikapnya, untuk urusan bercerita, Ben mampu memberikan ruang yang nyaman untuk Sera. Dia butuh pendengar yang baik. Untuk itu, Ben dimintnya datang.
“Mengapa kau diam saja?” Ben memandangi Sera yang duduk termenung di tepi tempat tidur. Lalu matanya terlempar ke sekeliling ruang. Pandangan tertuju pada benda yang tergeletak di meja sampingya. “Hei, ini botol minuman pereda nyeri datang bulan. Kau tengah datang bulan ya?” Ben menaksir Wajah Sera muram lantaran tengah datang bulan. “Ngomong-ngomong bagaimana perempuan menggunakan sebotol minuman ini untuk meredakan nyerinya? Botol ini ditenggak lewat mulut atau sini?” tanya Ben sambil menunjuk ke arah selangkangannya.
“Diam lah, Ben. Ketololan yang tak lucu. Aku tak datang bulan.”
“Kau kenapa? Kau memintaku datang kemari. Sekarang kau memintaku diam. Lantas aku harus bagaimana?”
“Aku butuh pendengar yang baik.”
“Kau dalam masalah? Berceritalah, bidadariku.”
Tak hanya kelangkaan mata air yang menyengsarakan, air mata pun juga. Jika tak menangis, kemanakah kesedihan yang dimiliki perempuan macam Sera terluapkan? Lewat kediaman, kekosongan, dan sakit kepala yang teramat. Obat anti depresi mungkin memberikan solusi. Tetapi, Sera ingin menajamkan rasa bukan menumpulkannya[i].
“Perempuan memberikan sex untuk cinta. Laki-laki memberikan cinta untuk sex. Hubungan yang tak adil.”
“Aku tak mengerti maksudmu, cintaku.”
“Kau laki-laki bukan, Ben? Perempuan memberikan dirinya dengan harapan memeroleh cinta. Sedang laki-laki mengiming-imingi cinta untuk mendapatkan kepuasan. Lantas ditinggalkan.”
Ben yang telah berpengalaman dengan banyak wanita, menangkap maksud Sera. “Yuda menyakitimu?” Kediaman Sera Ben tafsirkan sebagai jawaban mengiyakan.
“Oh, Sera sayang. Kau seperti gadis lugu yang baru berpacaran saja. Sera, laki-laki itu titit. Laki-laki modus mau memberikan rayuan semanis apa pun untuk mendapatkan maunya. Sudah jadi kodratnya brengsek. Titit mau dibaca dari depan, maupun belakang tetap saja titit.”
“Termasuk kau?” sergah Sera.
“Emm.... yah, mau bagaimana lagi. Aku pun ingin suatu saat nanti bisa bersetia.” Ben tak ingin pembicaraan terfokus pada dirinya. Dia kembali ke topik utama pembicaraan—Sera dan Yuda. “Sera, maksud pembicaraanmu tadi. Apakah kau dan Yuda?”
“Iya... aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku memang tolol,” sesal Sera. Dia terlalu percaya laki-laki akan tenggelam dalam adorasi dan mistikus cinta abadi kepada perempuan yang selalu setia dan berkorban sepertinya.
“Jadi kau dan Yuda sudah...? Hahaha.. Sera, kau tak sendiri. Itu hal yang biasa. Sudah umum. Dan aku yakin masa-masa seperti ini, perempuan bukan sedih karena patah hati.” Tak ada solusi berarti yang keluar dari mulut Ben. Hanya gurauan payah.
“Maksudmu?” tanya Sera
“Sedih karena kepingin,” jawab Ben tanpa canggung.
“Tutup mulutmu. Kau tak tahu apa-apa. Sudah kubilang, aku hanya butuh pendengar yang baik.”
Selama ini Ben tak berani macam-macam padanya. Sera dikenal dengan perempuan yang cuek dan terkesan antipati pada lelaki. Hingga hubungannya dengan Yuda menggemparkan sekeliling. Hampir saja orang-orang mengira Sera akan menjadi biarawati, sebab tak menampakan kedekatan atau ketertarikan pada lelaki.
“Awalnya dia hanya mencium bibirku dan melilitkan lidahnya. Brengsek!”
Ben mendekat dan duduk di sampinya. Sera sadar, ceritanya barusan membuat dirinya berubah 180 derajat dihadapan Ben. Dari kerling mata Ben, Sera tak lagi berkedudukan sebagai kawan, melainkan mangsa yang siap Ben terkam.
“Beginikah, sayang?” Ben melumat bibir Sera. Sera bergeming. “Ini bukan brengsek. Nikmat,” ucap Ben.
“Ben, bisakah kau diam? Sungguh aku butuh pendengar yang baik.”
“Tidak. Kau tak butuh pendengar yang baik. Perempuan yang patah hati sepertimu butuh ini untuk membunuh sepi,” Ben kembali mecium bibir Sera. Menggigitnya kecil dan memasukan lidahnya ke langit-langit mulut Sera. Tangannya aktif bergeriliya ke perbukitan di dada sera. Dalam kepala, Ben merasa menang. Akhirnya mampu menakhlukan perempuan sekeras Sera. Pikirnya, semua perempuan itu sama. Penolakan hanya di mulut. Tak berhenti sampai di situ. Jari-jarinya turun, menelusup ke selangkangan Sera. Perlahan dia merebahkan tubuh Sera dan menindihnya.  Urusan membuka kancing baju dan melepas kaitan bra sudah menjadi keterampilan Ben. Dia siap menuju inti permainan dengan menyingkap rok Sera.
Sera melepaskan kecupan Ben, “Ben, bisakah aku melanjutkan ceritaku?”
“Aku tahu ceritanya. Dan dia melakukan ini padamu,” ucap Ben sembari mengeluarkan penisnya yang sedari tadi sesak, terkurung di celana.
Pada akhirnya mereka bercinta. Kekosongan yang melanda diri Sera, membuatnya tak tentu arah. Sungguh dia butuh pendengar yang baik. Nampaknya dia salah memilih Ben untuk menjadi pendengar. Otaknya di selangakangan. Hati kecilnya berkata, salah jika orang beranggapan lelaki mengutamakan logika. Urutan cara berpikir laki-laki ialah kelamin, logika baru perasaan jika punya. Sera memukul rata semua lelaki, baginya semua sama saja brengsek. Dia mengikuti permainan Ben dan berharap usai perkelaminan ini selesai, Ben mau mendengarkan ceritanya hingga tuntas. Seperti rencana awal, dia hanya butuh pendengar yang baik. Untuk meluapkan kegetiran hati.
“Yuda iblis!”
“Cup..cup..cup. Sudah. Jangan kau caci mantanmu.” Ben membelai lembut rambut Sera. “
“Sudahlah, sayangku. Jangan disesali. Bukankah sudah kukatakan tadi. Kesedihanmu ini karena kau kesepian. Memori tak hanya tersimpan di kepala tapi juga di...” kata Ben terputus, disambung dengan pandangan menjijikan ke tubuh Sera yang dibasahi peluh keringat. “Kau butuh pemuas. Berkelamin itu memiliki efek candu. Bakal ketagihan. Untung kau memiliki sahabat sepertiku. Aku bersedia menemani sepimu. Nyatanya kau menikmati permainan tadi bukan?”
“Ben...”
“Iya?”
“Sudah kubilang, aku butuh pendengar yang baik. Masihkah kau mau mendengar ceritaku baik-baik?”
Ben mendekap tubuh Sera dari balik selimut. Mendengus ke lehernnya. “Tentu. Ceritakanlah. Tak usah terbawa emosi dengan mencaci mantanmu ya.”
“Brengsek! Anjing!”
“Sera, sayang ja...”
“Dia tak hanya meninggalkan sakit hati, Ben. Dia juga meninggalkan sakit fisik padaku.”
“Dia menganiayamu, malaikatku?”
Sera menatap wajah Ben yang berhias senyuman. Dia yakin, sebuatan malaikatku, akan menjadi bujuk rayu terakhir yang diucapkan. Setelah sebelumnya Ben memanggil sayangku, bidadariku dan cintaku
“Aku positif HIV,” jawab Sera tenang.
Ben melepaskan dekapannya pada Sera. Duduk. Diam beberapa saat. “Lelaki brengsek memang! Bajingan! Anjing! Setan! Pantas dikirim ke neraka!”
Setelah mengumpat banyak. Ben mengenakan pakainnya tergesa. Tanpa sepatah kata, pergi meninggalkan Sera di tempat tidur. Sera menarik selimut yang membalut tubuh polosnya lebih tinggi, seleher. Dia rapatkan dan memiringkan tubuh ke kanan. Matanya mulai menyipit lelah.
And if you sing this melody
You'll be pretending just like me
The world is mine, it can be yours, my friend
So why don't you pretend?
Tak sadar lagu yang Sera putar berulang-ulang berhenti tepat di ujung lagu. Dan tak memutar ulang lagi. Rusak mungkin. Tak hanya Sera yang lelah. Tape pemutar musik itu juga. Awalnya Sera hanya butuh pendengar yang baik. Namun, Ben kawan lelaki yang terlalu baik. Tak hanya mau mendengar tapi turut merasakan. Ini malam pertama Sera tidur nyenyak (kembali).
Kos Ucup, Maret 2015


[i] Kalimat terakir dikutip dari Novel Selingkuh karya Paulo Coelho, “...Tetapi Linda ingin menajamkan rasa, bukan menumpulkannya...”



(*) Dina Ahsanta Puri. Lahir di Purbalingga 06 Juni 1995. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, Semester 6, Universitas PGRI Semarang. Bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal dan Kajian Ilmu Apresiasi Sastra (KIAS). Bisa dihubungi via email: ahsantapuipui@gmail.com atau telepon: 087737260009.

HUJAN BERCERITA




Hujan itu air. Air itu  basah. Basah itu dingin. Dingin itu menyakitkan, bukan begitu? Menyakitkan bisa saja dalam arti membuat sakit seperti,  batuk, pilek, gatal-gatal, demam, dan lain sebagainya,  dan aku tak suka musim hujan karena itu membuatku menjadi dingin.  Sungguh dinginya hujan merubah ku menjadi perempuan yang dingin,  Kang.
***
Usai memandikan Uun aku bersiap-siap menuju ke sawah Pak Jirun. Aku sudah lama bekerja untuk Pak Jirun, mengurus sawah dekat kali itu.  Hari ini aku hanya merebus ubi, persediaan beras habis. Syukurlah Uun tak rewel. Meski masih kecil, sepertinya dia memahami keadaanku sekarang.
Aku menggendong Uun dengan menggunakan kain jarit menuju ke sawah. Tak lupa aku membawa bekal ubi rebus untuk makan siang nanti. Setibanya aku di sawah Pak Jirun, aku membiarkan Uun bermain di gubug kecil yang terletak di sudut sawah. Uun sudah biasa ku tinggal di situ. Setidaknya dia masih berada dalam pengawasanku. Biasanya setelah ku tangkapkan beberapa belalang dia akan tenang berada di gubug itu sembari bermain belalang.
***
Matahari sudah mengangkang tepat dia atas kepalaku. Aku rasa, ini sudah menginjak pukul 12.00, ini waktunya istirahat.
“Un, ayo makan dulu,” kataku seraya menyodorkan ubi ke Uun.
Uun melahapnya sembari kakinya aktif berlarian di dalam gubug. Bocah usia 2 tahun itu terlihat begitu lucu sekali. Aku hanya memakan satu gigit ubi itu, selebihnya masih berada digenggamanku. Lamunan membuat perutku mendadak kenyang.
“War?” Sapa Simah sembari menepuk pundakku. Aku merasa sangat kaget karena tak menyadari kedatangan Simah.
“Wah, kaget ya War? Jangan melamun War,” ucap Simah yang duduk disebelahku. Ia terlihat kepanasan. Diusapnya bulir-bulir keringat yang merayap turun dari celah-celah rambut yang  membasahi keningnya, tak lupa ia mengibas-kibaskan capingnya, mencoba menyaring angin dari panasnya siang kala itu.
“Iya Mah, aku tidak sengaja melamun.”
“Ngelamunin Samir ya?”
Aku hanya terdiam, sambil mengangguk lemas. Tak tahu harus berkata apa lagi.
“Kamu masih menunggu dia War? Sudah satu tahun lebih dia tak pulang.”
“Nanti pasti dia pulang. Dia sudah janji,” kataku yakin.
***
Ketika itu hujan turun sangat lebat, kang Samir pamit padaku untuk pergi menambang pasir ke lereng gunung. Jaraknya cukup jauh dari desa. Dia pergi bersama rombongan. Katanya dia akan di sana hanya selama satu bulan. Dia sudah menyetujui kontrak kerjanya. Aku sebenarnya tak begitu mengizinkan dia pergi. Ini musim hujan, menambang pasir di lereng gunung itu sangat beresiko. Tentunya keadaan tanah galian yang terguyur hujan akan labil. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Namun, kang Samir terus saja meyakinkanku. Dia berkata ini demi menyukupi kebutuhan rumah tangga kami. Dia berjanji pasti pulang.
Selang satu bulan kemudian, kang Samir, tak kunjung pulang. Hari demi hari yang terus berlalu membuatku bingung, minggu demi minggu yang terus berjalan membuatku cemas, dan bulan demi bulan yang terus berganti membuatku dirundung ketakutan, “dimana kau Kang?” Gerutuku dalam hati.
Kadang beberapa tetangga berceletuk mengatakan mungkin suamiku sudah mati tertimbun longsoran tanah, sebab daerah tersebut terkenal rawan longsor dan sudah biasa memakan korban jiwa. Meski harapanku terasa ciut, tapi aku yakin kang Samir bakal pulang. Pokoknya dia sudah janji, dia sudah janji padaku dan Uun.
***
“Ya sudah, aku pulang ke rumah dulu War, kau tak pulang?” Tanya Simah
“Ah, nanti saja Mah, kau pulang saja dulu.”
            Simah beranjak dari duduknya, sedang aku masih terduduk di gubug. Pertanyaan Simah tadi  sebenarnya membuatku agak was-was. Apakah ini pertanda aku sudah tidak mulai yakin kang Samir bakal pulang? Tentunya tidak hanya Simah yang bertanya seperti itu, sudah banyak orang menanyakannya padaku. Wajarlah ini sudah terlalu lama. Aku tak tahu statusku saat ini harus dibilang janda atau apa.
***
            Rona langit berubah gelap. Mendung aku rasa. Suasana panas mulai tergantikan sapuan angin yang seakan mengabarkan akan segera turun hujan. Ya, ini sudah memasuki musim penghujan, sebentar lagi hujan pasti turun. Dan akhirnya, hujan benar-benar turun. Benar-benar sudah satu tahun lebih kau pergi kang?
            “War! Siwar!” Aku menoleh ke sumber suara itu. Itu Simah, dia berjalan bertudung daun pisang, begitu tergesa-gesa menyusuri pematang sawah menuju ke gubugku. Dia begitu terengah-engah sesampainya di hadapanku.
            “Lho  cepat sekali pulangnya Mah? Ada apa?” Tanyaku keheranan.
            “War suamimu sudah pulang.” 
            “Apa ku bilang, Kang Samir pasti menepati janjinya,” kataku senang disertai senyum mengembang.
            “Ayo Un kita pulang, bapakmu sudah pulang”
            Aku segera membereskan bekalku dan menggendong si Uun. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan kang Samir. Akupun tak sabar untuk bercerita kepada tetangga-tetanggaku tentang kepulangan kang Samir.
            “Tapi War, dia pulang membawa seorang wanita yang membopong bayi”
Aku tertegun. Dalam hati aku berkata, “wanita? Bayi?” Benar-benar banyak yang disembunyikan dari hujan. Akupun turut menyembunyikan sesuatu dari derasnya air yang turun dari langit itu. Turunnya hujan kali ini memang hanya berkawan angin. Tidak ada petir. Pantas sajalah tidak ada petir, karena sepertinya petir itu sedang ada di dalam hatiku. Rasanya meledak-ledak begitu dahsyat.
 Aku tahu, sebenarnya tanah merasa sakit saat tetesean hujan menghujam keras ke arahnya. Terkadang membuat tanah yang lapang menjadi berkubang dan tanah tebing menjadi rapuh, gugur, tak mampu menahan derasnya air yang menyelusup ke setiap pori permukaan tanah, benar-benar menyakitinya secara perlahan. Batu-batu kalipun harus kehilangan arah kala serombongan air hujan itu menyerangnya dengan ganas, melemparnya ke sana kemari, bahkan mengikisnya hingga menjadi pasir. Pohon-pohon yang tumbang karena tanah yang longsorpun harus merenggut sarang burung-burung kecil, tak menyisakan sedikitpun kehangatan. Hujan yang sangat menyakitkan.
            Aku tersenyum dan memegang pundak Simah, “Kang Samir pulang. Dia menepati janjinya.”
            “Tapi...”
“Tolong jaga Uun. Aku mau pulang sebentar, mengambil payung untuk Uun agar dia bisa bertemu bapaknya.”
“Kau mau hujan-hujanan, War?”
“Tak apa, Mah,” ucapku dengan tenang tanpa ada beban.
. Kini Uun berada digendongan Simah. Aku mulai melangkah menerobos derasnya tetasan air dari langit itu. Aku menoleh ke arah Uun yang sedang dalam gendongan Simah. Masih saja ku lontarkan senyum. Aku kembali melangkahkan kakiku. Rasanya dingin, sangat dingin dan terlalu dingin. Sengaja aku membiarkan hujan mengguyur tubuhku. Aku tak ingin ada banyak tanya di sepanjang perjalananku dan aku ingin hujan turun lebih lebat. Dengan itu, tak kan ada seorang pun yang tahu bahwa ada tetesan tangis yang mengalir dari bola mataku. Sebuah tangis yang lebih basah dari pada hujan.

Semarang, 10 Juni 2013
Dina Ahsanta Puri
FPBS/PBI/Semester 2


SESEPUH




Sore ini, aku duduk di teras rumah sembari menyetel radio tua pembelian bopoku. Suaranya sudah agak tidak jelas, Aku putar kesana sini antena radio tersebut. Ku angkat ke atas, ke bawah ke samping dan sesekali ku tepuk-tepuk radio tua ini. Tapi, tetap saja suaranya tidak jelas.
“Mo, biyung pergi ke rumah  wa Harto dulu ya? Ingat pesan biyung kemarin  malam!” Ucap biyungku
 Aku mengangguk sebagai pertanda mengiyakan perkataan biyung. Sore ini biyung pergi menjenguk wa Harto yang sedang sakit. Sebelumnya, beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengan wa Harto saat biyung menyuruhku membeli gula merah di warungnya Bi Jarmi. Kala itu hujan turun begitu lebat, tubuh Wa Harto basah kuyup. Sembari menunggu antrean pembeli aku sempat menguping pembicaraan wa Harto dan beberapa orang yang sedang duduk santai di depan warung.
“Gila To, kau berani menebang pohon dekat bangunan itu?” kata Pak Junaidi ketua RW desa kami sambil menepuk pundak wa Harto
“Lho, kenapa tidak? Toh pohonnya sudah mati, lebih baik kan ditebang biar jadi kayu bakar Pak.” Jawab wa Harto santai.
“Tapi tempat itu keramat lho, kita di larang untuk dekat-dekat dengan tempat itu.” Tukas Paman Ijang
“Cuma Pabrik gula tua peninggalan Belanda kok. Orang-orang Belanda kan sudah pulang ke negri asalnya.” Wa Harto menjawabnya dengan enteng.
“Ya tapi kan di situ terkenal angker, jangan nggampangin kaya gitu To, bisa-bisa kualat kamu To” Ucap Pak Junaidi begitu mantap.
“Halah, takhayul Pak. Ayo kita main catur saja.” Ajak wa Harto mengambil papan catur di bawah meja.
            Setelah itu, keesokan harinya wa Harto dikabarkan sakit bahkan sampai hari ini. Tubuhnya begitu panas, dia selalu mengerang-ngerang kesakitan. Ki Sarwa yang dikenal sebagai sesepuh desa segera diundang ke rumah wa Harto. Setelah istri wa Harto menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu wa Harto menebang pohon dekat bangunan tua yang terkenal angker, Ki Sarwa mengatakan bahwa wa Harto telah kesambet lelembut penghuni pohon dekat bangunan tua itu, sebab bangunan tua dan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya itu terkenal sangat angker. Warga sangat menghormati Ki Sarwa dan percaya pada kekutan Ki Sarwa,  tidak hanya untuk mengobati orang sakit, tetapi juga meminta pengasihan agar orang tersebut memiliki aura menarik, meminta agar lekas kaya, bahkan ada yang meminta untuk di ramal. Ramalannya kadang ada yang tepat tapi tidak sedikit pula yang melenceng. Namun, warga desa tetap menghormati dan memercayainya. Ramalan Ki Sarwa yang terbaru ialah di musim ini petani cocoknya menanam padi agar terhindar dari bahaya kelaparan yang akan menghadang desa kami. Ramalan tersebut memang tepat, aku saja sudah beberapa hari ini musti makan nasi jagung,  tapi lebih sering tiwul. Selain karena bibit padi yang mahal, serta hama tikus dan wereng yang sedang marak menyerang, juga karena sudah lama desa kami tidak dipasok bantuan raskin dari pemerintah.entah karena apa, apakah karena desa kami sulit dijangkau karena letaknya terpencil dan sulit dilalui kendaraan, atau mereka lupa mengasih. Entahlah aku tak tahu urusan orang-orang atas seperti itu yang jelas daerahku memang sangat pelosok.
***
                        Di dalam kamar, aku mengenakan seragam merah putih khas anak SD. Aku berkaca sembari menyisir rambut yang sudah ku lumuri minyak orang-aring, terlihat kelimis. Ku tata rambutku menjadi belah pinggir terlihat begitu rapi.
 “Imo, sini sarapan dulu nak.”
            Aku keluar dari kamar, biyungku sudah kembali ke belakang terdengar suara “gebyar gebyur” mungkin biyung sedang mandi. Aku membuka tutup saji yang berada di meja makan, “ah, tiwul lagi tiwul lagi.” Segera ku tutup lagi. Aku rasa aku sudah kesiangan, akupun segera berangkat sekolah.
                        “Yung, aku berangkat dulu ya!” Aku berteriak pamitan, agar suaraku mampu menjangkau biyung yang sedang berada di dalam.
                        “Iya hati-hati” jawab Biyung dari dalam kamar mandi.
***
Di tengah jam istirahat sekolah, aku bermain gundu bersama teman-temanku di halaman sekolah. Ibarat turnamen, sekarang sedang babak final antara aku melawan Mail. Gundu milik Imun dan Mi’un sudah gugur terkalahkan gundu milikku dan Mail.
“Yang pada kalah nanti di hukum ya?” kata Mail sambil mengamatiku menyentil gundu
“Ya oke, kelihatannya seru” Jawab Imun
“Bagaiman kalau hukumannya pergi ke bangunan tua dekat hutan?” Tantang Mail
                        “Heh, hukumannya ngeri sekali. Itu kan angker” Jawab Mi’un
                        “Iya benar, di suatu siang aku dan Paman Badri juga mendengar suara aneh, seperti gaduh dan sesekali ada suara suara seperti orang tapi tak jelas, aku mendengarnya saat melewati bangunan tersebut sehabis berburu bajing di hutan.” Ucap Imun
                        “Aku bercanda kok. Lalu apa hukuman yang pas? Apa menurutmu Mo?” Tanya Mail seraya  membidik gundunya dan masih melenceng
                        “Ha? Terserah kalian saja lah”  Aku masih berkonsentrasi menyentil gunduku
Bidikan gunduku melenceng, kini giliran Mail lagi. Dia membidikan gundunya ke arah gunduku. Gundu tersebut terpental dan jatuh menggelinding ke sisi kanan gunduku berjarak kurang lebih 10cm. Melenceng cukup jauh. Batinku sudah tenang. Tapi, karena permukaannya yang tidak rata dan agak miring tiba-tiba gundu tersebut menggelinding agak cepat ke arah gunduku dan di jarak beberapa mili gundu tersebut berhenti lalu “Tiikkk”  gundu tersebut akhirnya menyenggol gunduku.
“Yeee... aku menang.” Teriak Mail kegirangan.
“Jadi hukumannya mijitin yang menang, ayo kalian semua pijitin aku” Kata Mail   
“Huuuuuu” Aku dan yang lain menyoraki Mail, dan pergi meninggalkannya
                        “Lho, lho kalian mau kemana tunggu aku!” Mail memberesi gundu-gundunya dan berlari mengejar kami.

***
Aku pulang sendirian, aku dan beberapa kawanku terpisah di persimpangan jalan, karena arah jalan rumah kami berbeda. Beberapa kali aku menyeka keringat yang membasahi mukaku dengan menggunakan lengan bajuku. Sebenarnya Ibu kerap memarahiku jika menyeka keringat dengan lengan baju, karena akan meninggalkan noda di bagian lengan baju, mungkin bekas kotoran berupa debu-debu yang menempel di muka dan bercampur dengan keringat. Saking panasnya terik matahari aku memilih untuk mengambil jalan pintas yang agak masuk hutan, tapi masih di bagian pinggiran hutan. Banyak pepohonan di sepanjang jalan ini, sehingga aku bisa terhindar dari sengatan matahari. Ditengah perjalanan, saat aku menengok kanan kiri, dari kejauhan terlihat bangunan tua yang kerap diceritakan orang-orang. Aku berhenti sejenak, agak penasaran dengan bangunan tersebut. Saat aku akan melangkahkan kaki sekadar untuk melihat  bangunan itu dari dekat aku teringat dengan wejangan biyungku dan cerita Imun saat istirahat tadi, jujur saja aku juga takut, aku mengurungkan langkahku. Tapi, karena aku sangat penasaran aku tetap juga melangkahkan kaki menuju bangunan tua tersebut. Mendekati bangunan tua tersebut aku memelankan langkah kakiku dan berdiri di samping pohon kokosan yang sudah berbuah cukup lebat namun belum matang. Beberapa buah yang belum matang tersebut terlihat sudah berjatuhan di atas tanah.

***
“Krik... krik... krikkk” Suara jangkrik memekikkan telingaku dan membuatku terbangun. Aku terkaget-kaget saat ku dapati diriku sudah berada di dalam kamar, dari ventilasi kamar terlihat di luar sana sudah gelap, ini sudah malam. Sejak kapan aku berada di kamar ini. Kepalaku begitu pusing, badanku sangat panas ditambah perutku sangat ngilu.
            “Imo kamu sudah sadar nak?”
            “Memangnya kenapa yung?”
            “Tadi Paman Ijang menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri di dekat bagunan tua itu Mo”
            “Oh ya? Aku tak ingat”
            “Kan sudah biyung bilang, kamu jangan main-main ke situ. Bagaimana keadaanmu? Apa perlu biyung suruh Bopo panggilkan Ki Sarwa untuk meruwatmu, barangkali kamu ketempelan lelembut bangunan tua itu Mo.”
            “Tak usah... tak usah... aku tidak apa-apa kok.”
Tentu saja aku segera menolaknya, aku tak ingin melakukan ritual aneh yang biasa dilakukan Ki Sarwa dalam mengobati pasiennya. Aku juga tak mau disemprot dengan ludahnya yang habis mengunyah dedaunan dan menyerbakan baun tak jelas, agak busuk, amis dan lain sebagainaya. Aku sudah pernah merasakannya saat dulu aku sakit panas, bahkan aku di suruh mandi kala purnama tiba dengan bunga tujuh rupa, katanya agar roh-roh jahat yang ada di tubuhku keluar.
***

Di hari Minggu pagi aku sudah berjanji dengan Mail, Imun dan Mi’un untuk bermain bersama. Saat ku buka tutup saji, yang ada lagi-lagi hanya tiwul, aku tak nafsu makan. Nanti siang sajalah kalau lapar. Aku dan ketiga kawanku bermain di kebun kosong milik Pak Haji Imron. Kami main petak umpet. Setelah hom pim pa, akhirnya diputuskan Imun yang jaga sedang yang lain sembunyi. Imun menghitung satu sampai sepuluh. Mail bersembunyi dekat kandang bebek pinggir kebun milik Haji imron, Mi’un di balik tumpukan kayu, sedang aku masih kebingungan mencari tempat persembunyian, lalu aku bersembunyi dibalik semak-semak. Setelah ku amati sekeliling ku, ternyata kebun Pak Imron ini dekat jalan pintas yang ku lalaui sewaktu pulang sekolah. Memang benar bahkan bangunan tua itu agak kelihatan meski tak begitu jelas.
Lama aku bersembunyi di balik semak-semak, tenggorokanku kering sekali, perutku juga keroncongan, aku jadi teringat buah kokosan dekat bangunan tua itu. Aku mengintip Imun yang sedang kebingungan mencari persembunyian kami. Kemudian, diam-diam aku pergi untuk mengambil buah kokosan sebentar. Aku sebenarnya masih takut untuk kembali ke tempat itu, tapi pikirku daripada aku kehausan dan kelaparan, toh nanti setelah mengambil beberapa buah  yang terjatuh, aku akan langsung lari kembali ke tempat persembunyianku.
            Sesampainya di bawah pohon kokosan dekat bangunan tua, aku mulai memungut beberapa buah yang kokosan muda yang tergeletak di atas tanah.  Ketika ku rasa cukup dan aku hendak berbalik kembali ke persembunyian terdengar suara kendaraan, aku mengurungkan niatku untuk berbalik. Terlihat sebuah mobil pick-up berhenti di depan bangunan tua itu, aku segera bersembunyi di balik pohon kokosan  yang sudah tua dan cukup besar sehingga cukup untuk menyembunyikan tubuh kecilku ini. Mobil tersebut  terlihat mengangkut sesuatu begitu banyak sampai terlihat menggunung namun tertutupi tenda. Tidak lama kemuadian datanglah sebuah mobil  berwarna hijau dari pintu depan sisi kanan keluarlah Pak Lurah, dia terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan supir pick-up beserta beberapa orang yang turut serta. Setelah itu orang-orang tersebut membuka tenda penutup pick-up tersebut dan mengangkuti karung-karung entah berisi apa, ku amati lebih lanjut ada bagian karung yang robek dan dari dalam keluarlah bulir-bulir beras, dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang mengangkuti karung-karung berisi beras. Aku masih mengawasi pergerakan mereka sembari mengupas buah kokosan. Aku tahu buah kokosan muda ini rasanya luar biasa asam, karena aku pernah memakannya beberapa hari yang lalu sewaktu pulang sekolah melewati jalan pintas dan memberanikan diri mendekati tempat ini. Tapi, sungguh aku sangat kehausan dan kelaparan. Aku memakannya sampai habis. Tidak lama kemudian perutku terasa ngilu, sakit sekali kepalaku juga pusing, keadaan berubah menjadi gelap.

***
Dalam keadaan mata tertutup, aku mencium bau sesuatu. Baunya sangat menyengat. Perlahan aku membuka mata ini, terlihat masih meremang. Nampak kepulan asap di hadapanku, ada seseorang dengan mulut komat-kamit sedang memegang wadah berisi bunga-buangaan, di tengahnya menyembul asap , batinku berkata “itu menyan aku tahu baunya, dan itu adalah...”  penglihatanku sudah begitu jelas, tiba-tiba, “brusssshh” Muka ku basah terkena cairan hijau yang baunya busuk tak enak.
Ya, itu adalah Ki Sarwa yang menyemburku dengan dedaunan yang habis dimamahnya. Ku lihat banyak orang-orang di sekelilingku. Aneh.


Purbalingga, 21 Februari 2013
Dina Ahsanta Puri
Mahasiswi semester 2
FPBS/PBI/IKIP PGRI Semarang
Lahir di Purbalingga, 06-06-1995