Pretend
you're happy when you're blue
It isn't very hard to do
And you'll find happiness without an end
Whenever you pretend.
It isn't very hard to do
And you'll find happiness without an end
Whenever you pretend.
Hampir
seminggu, Sera sering memutar lagu Pretend
berulang-ulang. Liriknya sudah di luar kepala. Bisa jadi kebiasaan memutar lagu
itu melebihi penyanyinya aslinya, Nat King Cole.
Mata
sayu Sera menyerap wajah malam, menyemburatkan lingkar hitam dan kerut lelah.
Dia hampir lupa rasanya tidur nyenyak. Jasmaninya menuntut hak istirahat. Namun, batin yang bersetru urung mengabulkan.
Jika keterusan, dia akan menua dalam hitungan hari. Saat sudah mampu tidur
nanti, dia ingin mimpi pingsan. Biar nyenyak, senyenyak-nyenyaknya. Tak ada
masalah yang menelusup dalam kepala, meski lewat mimpi sekali pun.
Pintu
kamar apartemen Sera berderit, mengabarkan ada seseorang yang datang. Dia Ben,
pria cassanova, yang menjadi rekan
kerja di kantor.
“Kau
pasti kesepian. Maaf aku terlambat, sayangku,” ucap Ben dengan gaya khasnya
yang menjijikan; memanggil sembarang perempuan dengan sapaan mesra. Meski muak
dengan sikapnya, untuk urusan bercerita, Ben mampu memberikan ruang yang nyaman
untuk Sera. Dia butuh pendengar yang baik. Untuk itu, Ben dimintnya datang.
“Mengapa
kau diam saja?” Ben memandangi Sera yang duduk termenung di tepi tempat tidur.
Lalu matanya terlempar ke sekeliling ruang. Pandangan tertuju pada benda yang
tergeletak di meja sampingya. “Hei, ini botol minuman pereda nyeri datang
bulan. Kau tengah datang bulan ya?” Ben menaksir Wajah Sera muram lantaran
tengah datang bulan. “Ngomong-ngomong bagaimana perempuan menggunakan sebotol
minuman ini untuk meredakan nyerinya? Botol ini ditenggak lewat mulut atau
sini?” tanya Ben sambil menunjuk ke arah selangkangannya.
“Diam
lah, Ben. Ketololan yang tak lucu. Aku tak datang bulan.”
“Kau
kenapa? Kau memintaku datang kemari. Sekarang kau memintaku diam. Lantas aku
harus bagaimana?”
“Aku
butuh pendengar yang baik.”
“Kau
dalam masalah? Berceritalah, bidadariku.”
Tak
hanya kelangkaan mata air yang menyengsarakan, air mata pun juga. Jika tak
menangis, kemanakah kesedihan yang dimiliki perempuan macam Sera terluapkan?
Lewat kediaman, kekosongan, dan sakit kepala yang teramat. Obat anti depresi
mungkin memberikan solusi. Tetapi, Sera ingin menajamkan rasa bukan
menumpulkannya[i].
“Perempuan
memberikan sex untuk cinta. Laki-laki
memberikan cinta untuk sex. Hubungan
yang tak adil.”
“Aku
tak mengerti maksudmu, cintaku.”
“Kau
laki-laki bukan, Ben? Perempuan memberikan dirinya dengan harapan memeroleh
cinta. Sedang laki-laki mengiming-imingi cinta untuk mendapatkan kepuasan.
Lantas ditinggalkan.”
Ben
yang telah berpengalaman dengan banyak wanita, menangkap maksud Sera. “Yuda
menyakitimu?” Kediaman Sera Ben tafsirkan sebagai jawaban mengiyakan.
“Oh,
Sera sayang. Kau seperti gadis lugu yang baru berpacaran saja. Sera, laki-laki
itu titit. Laki-laki modus mau memberikan rayuan semanis apa pun untuk
mendapatkan maunya. Sudah jadi kodratnya brengsek. Titit mau dibaca dari depan,
maupun belakang tetap saja titit.”
“Termasuk
kau?” sergah Sera.
“Emm....
yah, mau bagaimana lagi. Aku pun ingin suatu saat nanti bisa bersetia.” Ben tak
ingin pembicaraan terfokus pada dirinya. Dia kembali ke topik utama
pembicaraan—Sera dan Yuda. “Sera, maksud pembicaraanmu tadi. Apakah kau dan
Yuda?”
“Iya...
aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku memang tolol,” sesal Sera. Dia terlalu
percaya laki-laki akan tenggelam dalam adorasi dan
mistikus cinta abadi kepada perempuan yang selalu setia dan berkorban
sepertinya.
“Jadi
kau dan Yuda sudah...? Hahaha.. Sera, kau tak sendiri. Itu hal yang biasa. Sudah
umum. Dan aku yakin masa-masa seperti ini, perempuan bukan sedih karena patah
hati.” Tak ada solusi berarti yang keluar dari mulut Ben. Hanya gurauan payah.
“Maksudmu?”
tanya Sera
“Sedih
karena kepingin,” jawab Ben tanpa
canggung.
“Tutup
mulutmu. Kau tak tahu apa-apa. Sudah kubilang, aku hanya butuh pendengar yang
baik.”
Selama
ini Ben tak berani macam-macam padanya. Sera dikenal dengan perempuan yang cuek
dan terkesan antipati pada lelaki. Hingga hubungannya dengan Yuda menggemparkan
sekeliling. Hampir saja orang-orang mengira Sera akan menjadi biarawati, sebab
tak menampakan kedekatan atau ketertarikan pada lelaki.
“Awalnya
dia hanya mencium bibirku dan melilitkan lidahnya. Brengsek!”
Ben
mendekat dan duduk di sampinya. Sera sadar, ceritanya barusan membuat dirinya
berubah 180 derajat dihadapan Ben. Dari kerling mata Ben, Sera tak lagi
berkedudukan sebagai kawan, melainkan mangsa yang siap Ben terkam.
“Beginikah,
sayang?” Ben melumat bibir Sera. Sera bergeming. “Ini bukan brengsek. Nikmat,”
ucap Ben.
“Ben,
bisakah kau diam? Sungguh aku butuh pendengar yang baik.”
“Tidak.
Kau tak butuh pendengar yang baik. Perempuan yang patah hati sepertimu butuh
ini untuk membunuh sepi,” Ben kembali mecium bibir Sera. Menggigitnya kecil dan
memasukan lidahnya ke langit-langit mulut Sera. Tangannya aktif bergeriliya ke
perbukitan di dada sera. Dalam kepala, Ben merasa menang. Akhirnya mampu
menakhlukan perempuan sekeras Sera. Pikirnya, semua perempuan itu sama.
Penolakan hanya di mulut. Tak berhenti sampai di situ. Jari-jarinya turun,
menelusup ke selangkangan Sera. Perlahan dia merebahkan tubuh Sera dan
menindihnya. Urusan membuka kancing baju
dan melepas kaitan bra sudah menjadi keterampilan Ben. Dia siap menuju inti
permainan dengan menyingkap rok Sera.
Sera
melepaskan kecupan Ben, “Ben, bisakah aku melanjutkan ceritaku?”
“Aku
tahu ceritanya. Dan dia melakukan ini padamu,” ucap Ben sembari mengeluarkan
penisnya yang sedari tadi sesak, terkurung di celana.
Pada
akhirnya mereka bercinta. Kekosongan yang melanda diri Sera, membuatnya tak
tentu arah. Sungguh dia butuh pendengar yang baik. Nampaknya dia salah memilih
Ben untuk menjadi pendengar. Otaknya di selangakangan. Hati kecilnya berkata,
salah jika orang beranggapan lelaki mengutamakan logika. Urutan cara berpikir
laki-laki ialah kelamin, logika baru perasaan jika punya. Sera memukul rata
semua lelaki, baginya semua sama saja brengsek. Dia mengikuti permainan Ben dan
berharap usai perkelaminan ini selesai, Ben mau mendengarkan ceritanya hingga
tuntas. Seperti rencana awal, dia hanya butuh pendengar yang baik. Untuk
meluapkan kegetiran hati.
“Yuda
iblis!”
“Cup..cup..cup.
Sudah. Jangan kau caci mantanmu.” Ben membelai lembut rambut Sera. “
“Sudahlah,
sayangku. Jangan disesali. Bukankah sudah kukatakan tadi. Kesedihanmu ini
karena kau kesepian. Memori tak hanya tersimpan di kepala tapi juga di...” kata
Ben terputus, disambung dengan pandangan menjijikan ke tubuh Sera yang dibasahi
peluh keringat. “Kau butuh pemuas. Berkelamin itu memiliki efek candu. Bakal
ketagihan. Untung kau memiliki sahabat sepertiku. Aku bersedia menemani sepimu.
Nyatanya kau menikmati permainan tadi bukan?”
“Ben...”
“Iya?”
“Sudah
kubilang, aku butuh pendengar yang baik. Masihkah kau mau mendengar ceritaku
baik-baik?”
Ben
mendekap tubuh Sera dari balik selimut. Mendengus ke lehernnya. “Tentu.
Ceritakanlah. Tak usah terbawa emosi dengan mencaci mantanmu ya.”
“Brengsek!
Anjing!”
“Sera,
sayang ja...”
“Dia
tak hanya meninggalkan sakit hati, Ben. Dia juga meninggalkan sakit fisik
padaku.”
“Dia
menganiayamu, malaikatku?”
Sera
menatap wajah Ben yang berhias senyuman. Dia yakin, sebuatan malaikatku, akan
menjadi bujuk rayu terakhir yang diucapkan. Setelah sebelumnya Ben memanggil
sayangku, bidadariku dan cintaku
“Aku
positif HIV,” jawab Sera tenang.
Ben
melepaskan dekapannya pada Sera. Duduk. Diam beberapa saat. “Lelaki brengsek memang!
Bajingan! Anjing! Setan! Pantas dikirim ke neraka!”
Setelah
mengumpat banyak. Ben mengenakan pakainnya tergesa. Tanpa sepatah kata, pergi
meninggalkan Sera di tempat tidur. Sera menarik selimut yang membalut tubuh
polosnya lebih tinggi, seleher. Dia rapatkan dan memiringkan tubuh ke kanan.
Matanya mulai menyipit lelah.
And if you
sing this melody
You'll be pretending just like me
The world is mine, it can be yours, my friend
So why don't you pretend?
You'll be pretending just like me
The world is mine, it can be yours, my friend
So why don't you pretend?
Tak sadar
lagu yang Sera putar berulang-ulang berhenti tepat di ujung lagu. Dan tak
memutar ulang lagi. Rusak mungkin. Tak hanya Sera yang lelah. Tape pemutar
musik itu juga. Awalnya Sera hanya butuh pendengar yang baik. Namun, Ben kawan
lelaki yang terlalu baik. Tak hanya mau mendengar tapi turut merasakan. Ini
malam pertama Sera tidur nyenyak (kembali).
Kos Ucup, Maret 2015
[i]
Kalimat terakir dikutip dari Novel Selingkuh karya Paulo Coelho, “...Tetapi
Linda ingin menajamkan rasa, bukan menumpulkannya...”
(*)
Dina Ahsanta Puri. Lahir di
Purbalingga 06 Juni 1995. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, Semester 6,
Universitas PGRI Semarang. Bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal dan
Kajian Ilmu Apresiasi Sastra (KIAS). Bisa dihubungi via email: ahsantapuipui@gmail.com atau telepon:
087737260009.