Rabu, 23 Agustus 2017

Catatan Dini Hari

Tangis.

Apa itu tangis?
Apakah sebuah stimulus/rangsangan dari perasaan terdalam saat sakit, tersakiti, kehilangan, mengalami perpisahan?

Apa tangis tanda kesedihan?
Ada tangis bahagia, tangis syukur, tangis haru. Tak melulu soal kesedihan. Tapi, katanya, seseorang bisa menangis karena hatinya benar-benar tersentuh.

Seorang aktor bisa menangis, tentu tak hanya sekadar akting. Ia profesional mendalami peran. Ia sadar ia tengah hidup dalam suatu cerita sebagai seorang tokoh. Apa itu artinya ia pura-pura menangis? Tidak, jika dilihat dari sudut ia sebagai tokoh, aku yakin ia menangis. Namun jika dilihat ia sebagai pribadi dirinya. Jelas itu pura-pura.

Seperti halnya tangisan manusia dalam hidup. Muncul istilah air mata buaya. Air mata palsu. Mengartikan palsu pun, bagiku, ada dua hal. Satu, palsu karena si pelaku menyadari betul ia pura-pura. Dua, palsu karena si pelaku memiliki kesadaran pendek. Barangkali, ketika berbuat dosa, dan melakukan taubat nasuha, seseorang bisa menangis kejer-kejer dalam doa usai salatnya. Ia sungguh menyesali semua perbuatannya.  Namun, di suatu kondisi saat godaan datang, ia bisa kembali melakukan. Kembali menyesal. Kembali melakukan, kembali menyesal. Begitu seterusnya.

Mempelajari cinta pada Tuhan itu serupa cinta LDR. Kita memiliki ikatan di batin pada Tuhan, mengakui Allah ialah Tuhan kita. Namun, pada aksi nyatanya kerap terabaikan. Seperti kekasih jauh. Tuhan tak berwujud. Dan barangkali, inilah yang membuat kita gampang sekali menyepelekan Tuhan. Aku yakin, kita lebih takut berhadapan dengan bencana di depan mata, ketimbang Tuhan. Janji pada Tuhan bisa dianggap angin lalu. Misal hal sepele, salat lima waktu. Andai Tuhan berwujud, dan jelas ada di dekat kita, barangkali kita sudah mati-matian menunjukan: akulah hamba yang paling mencintaiMu. Namun, hal demikian apa bisa menjadi tolak ukur ketulusan? Tidak.

Ya... Karena merasa LDR secara wujud dengan Tuhan, manusia kerap menyepelekan. Tak bisa kita pahami, betapa Tuhan selalu memikirkan hambaNya meski telah dilupakan atau hanya diberi janji palsu. Saat ada perluNya, ingin Tuhan segera mendengar doa dan mengabulkan. Saat berbuat dosa, dengan PD dan masa bodo Tuhan tak melihatnya.

Tulisan ini kutujukan pada pribadi. Hati kecil yang tengah berdialog dengan diri. Aku coba meretas diri. Kapan terakhir aku sungguh merasa ingin dekat pada Tuhan?

Setahun yang lalu, bukan saat aku bahagia dan ingin berbagi cerita dengan Tuhan. Namun, saat aku terjatuh dan merasa remuk redam. Tangisku pecah, memohon ampun dan belas kasihan dariNya. Sejenak kala itu, aku dekat denganNya. Barangkali karena aku bandel, kerap janji untuk sementara waktu, janji hanya untuk mencapai suatu keinginan saat itu. Tuhan mengujiku dengan mendatangkan kekasih lain dalam hidupku. Ternyata aku abai.

Aku ingat lagi, kapan perasaanku terasa tergerus, tersulut emosi hingga menitikkan air mata?
Saat wisuda dan berpisah dengan kawan-kawan. Sebuah tangisan yang tak begitu berarti sebenarnya. Karena, ketika berpisah dari satu hal. Kita akan masuk ke satu hal lain. Berpisah lagi. Masuk lagi.  Begini misal: Lulus SMA, kita pasti merasakan sesaknya perpisahan. Merasa itu momen berarti. Pesan, status bertebaran, foto masa silam terapung kembali, tapi hanya untuk jangka waktu tertentu. Setelah memasuki dunia masing-masing entah kerja, entah menikah,kuliah, kita memasuki babak grupping baru. Bersiap bertemu dan berpisah lagi. Misal aku dengan kuliahku. Aku mengalami masa PPL di mana satu bulan, hidupku tercurahkan di sebuah sekolah, saat waktu perpisahan tiba, rasanya berat sekali. Tangis pecah, seolah berat meninggalkan momen itu. Tapi apa kita musti tetap di masa itu? Life must goon. Kemudiam aku mulai lupa kesedihan masa PPL. Yang tersisa hanya kenangan, aku pernah PPL. Kadang memang merindukan suasananya.

Ya sejauh setahunan itu, aku tak menyadari perpisahanku dengan Tuhan. Aku terus asyik dengan duniawiku. Karena Tuhan amat setia pada hambaNya dan mudah memaafkan, membuatku lalai. Aku terfokus pada masalahku ,urusan Tuhan nanti sajalah, aku janji jika urusanku selesai. Aku fokus padaNya. Sembrononya kadang menganggap diri kebih kuasa dari Tuhan. Padahal Tuhanlah yang mampu menyelesaikan masalah manusia.

Jika merenung begini, aku pun bertanya-tanya pada diri. Kesadaran macam apakah ini? Jujur, aku akui, aku mengira ini kesadaran jangka pendek. Imanku masih lemah dan kerap goyah.

Barangkali karena kesombonganku menyepelekan Tuhan dan janjiku ketika terjatuh dulu, Tuhan memberi alur cerita yang mau tak mau 'memaksaku' untuk 'bersujud'.

Ibadah itu bukan untuk Tuhan. Kupikir lagi, ibadah itu wujud cinta Tuhan pada diri yang tak bisa dijangkau akal pikiran manusia pada umumnya. Usia manusia terbatas. Dan memang benar manusia dilahirkan dengan keunikan dan tugas masing-masing. Seorang anak manusia lahir dan tumbuh menjadi dokter. Seorang anak manusia lahir dan tumbuh menjadi ahli politik. Seorang dokter tak akan paham begitu dalam masalah politik, begitu juga sebaliknya. Manusia memiliki fokus masing-masing. Namun, lewat cinta Tuhan mengcover semua. Manusia sudah diberikan perlengkapan "instan" untuk mengetahui kehidupan. Seorang dokter tak perlu jadi politisi untuk tahu politik, begitu juga sebaliknya. Semua sudah terangkum pada Al-Qur'an dan hadits.

Begini, seorang dokter pun memiliki fokus masing-masing. Ada fokus kandungan, saraf, organ dalam. Dan Tuhan memahami dunia kedokteran secara keseluruhan. Semua sudah Dia ramu dalam perintahNya. Misal perintah salat lima waktu. Semua muslim, dari latar belakang apapun, wajib salat lima waktu. Kenapa? Apa Tuhan mau dipuji-puji, disembah-sembah? Kita kerap merasa kuasa pada diri, namun tak memahi betul diri sendiri. Seorang politisi, pelawak, tukang becak, apa paham tentang susunan tubuh dan bagaimana cara menjagaNya? Mempelajari satu perkara di dunia itu tidak akan ada habisnya. Apa yang lebih kecil dari (.) titik kecil? Titik kecil dari titik keci? Titik kecil dari titik kecilnya titik kecil? Rumit. Atau bercerminlah. Liat lensa matamu. Ada bayangmu dalam bercermin. Ada bayang dalam bayang dalam bayang dalam bayang, menjadi dimensi tak berkesudahan. Susah dijangkau. Hal ter-, ter-: terkecil, terbesar. Itu susah. Semakin dikejar, semakin mendekatkan pada keedanan.

Memikirkan dunia membuat diri bisa lupa akan dunia yang sesungguhnya. Seorang tukang becak, akan sulit jika harus mempelajari struktur sendi manusia. Kapan ia mencari nafkah? Nah, karena Tuhan mencintai hambaNya ia sudah merangkumkan petunjuk hidup untuk manusia. Kenapa salat lima waktu? Kenapa gerakannya begitu? Semua ada alasannya. Ditelisik dari kesehatan. Tentu agar persendian manusia lebih lentur, jadi masa tuanya terhindar dari penyakit sendi. Kenapa sujud? Agar alirah darah di kepala lancar.karena aku awam kesehatan, kapasitas penjabaranku hanya sejauh itu. Jika aku memaksakan diri mengkorek-korek alasan perintah Tuhan, tidak akan ada habisnya. Justru waktuku habis sendiri. Lupa tugas kehidupan. Nah, di situlah iman diperlukan. Tuhan sudah mencurahkan cintaNya. Seperti gombalan remaja, cinta tak perlu memiliki alasan, cukup dirasakan. Jika cinta terus dipertanyakan, kadang malah muncul keraguan.

Mencintai Tuhan bukanlah mencintai karena wujud fisikNya. Tuhan tak berbentuk. Namun Tuhan 'mewujud' dalam 99 sifatNya.

Sungguh karena keterbatasanku dan karena keagunganNya. Melukiskan apa yang kurasakan saja rasaNya sulit dijangkau dengan kata-kata. Kekaguman ini mengendap pada rasa, hingga kata-kata tak memiliki makna apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar