Pagi ini kuawali dengan membuka email. Email satu, berbuntut pada membuka email-email lalu.
Senyam senyum sendiri, mendapati email masuk dan terkirim. Ternyata ada beberapa orang yang sudah kukenal lama via email. Geli juga mendapati pesan Vokalist yang kelabakan karena kutodong tulisan.
Di email juga kudapati semangatku yang dulu membara. Aku selalu 'cemburu' jika ada kawan yang berkata, 'aku sudah mengirim.' Telingaku panas dan reflek menggiring jari-jariku untuk manuntaskan suatu hal.
Tiba-tiba aku kangen Bos Ting (Bos Keriting) dan kekasihnya Mbak Tam. Awal mengenal Bos Ting, aku kira ia bapak-bapak penajaga PKM atau pemilik lapak PKL. Ternyata ia masih mahasiswa. Tampilannya begitu sih... Iya begitu.
"Kamu suka buku apa?" pertanyaan rumit. Aku tidak bisa mengspesifikkan kesukaanku, apapun asal nyaman, aku suka.
"Ini tulisanmu?" tanya lanjut Bos Ting saat sesi wawancara Vokal. Kala itu syarat masuk Vokal ialah dengan menyertakan tulisan. Aku membawa tulisan yang pernah kuikutsertakan pada lomba penulisan artikel populer SMA Jateng.
"Apa kita bisa bertukar buku?" sayang sekali saat itu koleksi bukuku belum banyak.
Nah, sejak saat itu aku membuntut Bos Ting dan Mbak Tam. Meski Bos Ting sangat nyinyir dalam 'mendidik' aku merasakan dampak positifnya.
Namun, aku merasa kehilangan Bos Ting dan Mbak Tam usai mereka ada masalah dengan alumni. Tidak ada lagi yang mrngomporiku menulis. Mereka berubah menjadi pendiam. Padahal aku menyukai sosok nyinyirnya, sindiran konyol, canda penuh makna.
Bos Ting dan Mbak Tam ialah pasangan yang lahir di Vokal. Bos Ting fokus kepenulisan, Mbak Tam fokus mendesain. Melihat lagak mereka yang konyol, kadang aku bertanya-tanya, seperti apa gaya mereka saat pacaran?
Iseng pernah aku melihat panggilan di HPnya, sayang aku lupa apa sebutan Mbak Tam di kontak Bos Ting. Pokoknya imut sekali. Haha.
Saat wisuda Mbak Tam, aku yang dipinta membelikan bunga, ia nampak canggung menunjukan perhatian di muka umum. Tapi, anehnya hubungan mereka awet. Skip membahas hubungan orang.
Email, selain mengingatkanku pada Vokal. Mengingatkanku pada KIAS pula. Di KIAS juga ada pasangan idola. Mas Wid dan Mbak San, esais dan cerpenis. Aku juga terpantik menulis gegara mereka.
"Wah, Purbalingga juga, ya?" kata Mas Wid
"Menulis saja, nanti bisa konsultasi ke aku," kata Mbak San.
Melihat sosok Mbak San dan Mas Wid, aku pun bergairah menulis. Merekajuga kerap menculikku ke beragam acara.
Pernah suatu malam aku meminta Mbak San melihat tulisanku, intinya tulisanku masih belum baik. Aku stres rasanya, bagaimana cara menulis cerpen. Galau berhari-hari lantaran tulisan membuatku susah tidur. Sambil mendengarkan lagu-lagu, aku pacu diri menulis lagi, seminggu kemudian aku datang ke camp KIAS, dan pertama kalinta tulisanku dipuji. Namun, lagi-lagi aku kehilangan dua sosok itu. Perkaranya karena aku pemalu saja. Aku pemalu dan lebih banyak di Vokal. Tidak ada kawan untuk ke KIAS. Dari ratusan anak Bahasa Inggris angkatanku, hanya aku yanh mengikuti KIAS. Canggung untuk ke lantai PKM 3. Apalagu banyak laki-laki. Sedang di Vokal, aku memiliki kawan ke sana kemari meski lain prodi.
Sebenarnya aku jenuh hanya megulas kisah lalu. Tapi, bagimana lagi. Di sini aku sendiri, stag di satu tempat, tanpa kegiatan. Aku kerap mematikan rasa sepi dengan mengenang hari lalu. Beragam sosial media aku istirahatkan, tak ada chat berarti, aku tak enak chat melulu dengan kawan-kawanku. Apalagi mendapatkan info yang tak mengenakan hati.
Alhasil menulis serampangan keluh kesah di blog atau twitter. Ya karena hanya dengan ini, aku bisa merasakan keramaian. Aku hidupkan tokoh lewat ingatan, aku rangkai peristiwa lewat kenangan.
***
"Aku mau lihat kembang Api di rumah lilik ya?" izinku semalam pada bapak.
"Tidak boleh!"
Kesal rasanya, aku merasa kebebasanku terenggut sejak ada perjanjian konyol itu. Rasanya lebih sesak ketimbang saat bekerja di Batang. Meski bangak tuntutan, setidaknya ada kawan ngobrol di sana.
Ibuku awam dengan istilah 'curhat' setiap aku memiliki masalah, ibuku nampak cuek. Bukan tak peduli, mungkin kapasitas ibuku begitu.
"Kenapa setiap aku cerita ibu tidak tanggap?"
"Tanggap bagaimana?"
Jangankan ditanggapi, kadang tidak didengar sampai kemarin aku membandingkan dengan ibu-ibu yang lain.
"Kenapa tidak seperji Wak Ju dan Bu dhe. Mereka mau menanggapi, atau setidaknya mendengarkan. Di sini aku jenuh, tidak ada teman, ke sana kemari di kekang, bisakah ibu memposisikan diri sebagai ibu?"
"Ya, gimana?"
"Kalau aku cerita di dengarkan, ditanggapi."
Memang aku salah membandingkan dengan ibu-ibu lain. Ibuku memang tidak bisa menjadi pndengar yang baik, tapi untuk urusan royalitas, ibuku sangat royal.
Sebenarnya bapakku juga pernah bilang ke ibuku, "kalau anak cerita ya didengarkan. Kasih masukan."
Akhirnya aku kerap menyendiri saja, karena ibuku royal, aku menyalurkan uang untuk membeli kuota, membaca berita online misal, karena akses koran di sini sulit. Aku pernah mencari ke area kota, yang ada hanya koran lokal ecek ecek, mahal pula.
"Jadi kapan aku aktif?"
"Tunggu, sabar," begitu ucap bapak.
Dan setiap aku memiliki panggilan bekerja di sana sini, kerap ditolak bapak. Bapak sudah menyiapkan kursi di pemerintahan sini, dan meminta aku bersabar.
Paling kawan ceritaku hanya Aoliya. Karena sejauh ini dialah pendengar baikku. Namun, lagi-lagi aku tak enak berkeluh kesah padanya. Alhasil ngempet sendiri.
Saat hajatan khitanan sepupuku. Aku bertemu Sodirin, teman SDku. Ia bekerja pada lilikku dan saat acara itu ia membantu melayani tamu. Ternyata Sodirin sudah memiliki anak. Sempat terpikir, andai aku sudah punya anak, sepi tak lagi mempan menyerangku.
Tiga hari yang lalu, saat ada kabar buruk masuk HP. Aku tak tahu harus bercerita pada siapa. Di rumah sendiri hanya bisa menimbulkan tangis. Kadang aku melarikan diri dengan tidur. Berharap waktu cepat berlalu, rasanya sia-sia. Bangun bangun seperti orang linglung.
Akhirnya aku bertolak ke rumah Fahmi, kami membuat rangkaian bunga. Setidaknya bisa mengalihkan fokusku. Percuma memikirkan masalah yang kualami. Masalah itu datangnya dari luar, yang memiliki masalah saja masa bodo.
Kemarin aku menerima pesan via bbm.Sekitar 5 pesan dan disambung telepon via BBM. Seorang perempuan baru kukenal, hanya satu menitan berbicara. Tapi, membuatku sesak saja. Dan lagi, aku bingung mau bagaimana. Mau kutangisi, buat apa? Itu bukan masalahku sebenarnya. Masalahku hanyalah perkara merelakan sakit.
Usai aku menulis begini, harapanku, aku mengantuk, dan tertidur panjang sampai ada kabar, "bangun, waktunya bekerja!" atau, "bangun, hari ini, hari pernikahnmu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar