Mbah putri itu nikah sama duda, kata ibuku saat kami berkunjung ke rumah lilik. "Masa sih? Duda gimana?" tanyaku penasaran.
"Duda, nikah 27 hari, cerai."
"Kok bisa?"
"Saking cintanya sama mbah putrimu. Cinta dari kecil, besarnya mbah kakung dijodohkan. Mbah putri sempat pergi ke Jakarta, di sana mau dijadikan pegawai pajak. Tapi, mbah kakung cerai dan kembali ke mbah putri. Terpisah 27 hari."
Batinku, so sweet sekali si mbah kakung. Iseng aku bertanya, "lha itu dah nikah 27 hari, apa nggak ngapa-ngapain?"
"Cerita orang-orang mbahmu dingin. Diemin istrinya, terus 27 hari kemudian cerai," sambung lilikku.
Padahal terkadang, tanpa cinta pun, jika seranjang nafsu lelaki kerap naik. Mbah kakunh benar-benar menjaga cintanya ke mbah putri, menjaga kepercayaan, dan memperjuangkan. Mendengar cerita itu, mataku memanas,terharu. Meski mereka berdua telah tiada, kisah perjuangan cintanya masih terkenang. Apa masih ada lelaki seperti mbah kakung?
Saat itu juga, kawanku, sebut saja Tapir tengah gundah gulana karena kekasihnya di Papua. Aku heran, apa yang perlu dirisaukan. Kekasihnya tentara, sudah tunangan, perhatian pula, jika merajuk pun kekasihnya masih memperjuangkan, biasanya lelaki kardus akan mundur dan memilih perempuan lain.
Tapir diberi dua boneka panda ukuran jumbo. Dia cabik-cabik, digantung, dibakar, alasannya karena kekasihnya ga peka. Aku kira tidak peka hanya urusan perhatian, ternyata tidak peka transfer uang.
Setiap orang punya standarnya masing-masing. Aku memandang kisah cinta Tapir itu sangat membahagiakan, kekasihnya mapan dan sangat perhatian. Namun, ia iri pada kawannya yang mendapat transferan dari kekasihnya dan dipamerkan di media sosial.
"Kalau cewek bener, ga bakal minta-minta sampai jutaan, kamu milih bergelimang harta atau biasa aja tapi setia?" tanyaku.
"Aku ingin diperjuangkan! Ingin bukti!" kata Tapir. Sebenarnya bentuk perjuangan cinta itu macam apa sih? Apa aku yang terlalu masa bodo.
Dulu aku tak peduli pasangan mau ngasih kabar atau tidak, positive thinking. Kata afik tingkatku, Jom, aku harusnya update kabarnya. Semenjak diselingkuhi, aku akhirnya membutuhkan sebuah perhatian. Karena, jika dilogika, ada benarnya juga. Jika tidak komunikasi dengan kita, pasangan akan komunikasi dengan siapa? Apalagi lelaki itu haus perhatiannya melebihi perempuan, nafsunya tinggi.
Sudah dua mingguan aku menenangkan kawanku Tapir. Aku paham, orang macam Tapir butuh pendengar yang baik.
"Pacarmu di Papua. Temenku di Medan, mau beli CD aja susah. Harus ke pusat kota, berjam jam. Mahal pula. Jadinya harus dipaketin dari Purbalingga."
"Kalau beneran cinta harusnya usaha dong. Gimana pun caranya. Aku mau bukti bahwa aku satu-satunya," ujar Tapir. Mendengat tuntutan Tapir, aku serasa nangis batin. Sekadar mendapat kabar saja aku sangat bahagia. Dulu aku hanya iri ke kawanku yang telepon, video call setiap hari dengan kekasihnya yang tengah melaksanakan kegiatan kampus sebulanan. Itu dulu, sekarang ah masa bodo deh.
"Tapir, kamu kan sudah tunangan kurang bukti apa lagi? Kamu tidak tahu kebutuhan pasanganmu. Coba kamu tanya pendapatan dan pengeluarannya untuk apa saja. Uang bisa dicari, tapi kesetiaan dan kejujuran susah."
Ya, meski sudah kunasihati bolak balik tetap tidak mempan. Aku kasihan juga dengan kekasihnya. Kurang berjuang apa lagi. Setiap Tapir merajuk, kekasihnya sangat tunduk padanya. Kadang tiap gajian ditransfer 300rb.
Apa perempuan harus banyak tuntutan ya biar keberadaannya dianggap? Aku heran saja. Kalau tak banyak permintaan, lelaki menganggap dirinya tak dibutuhkan, bisa juga menyepelekan pasangan. Kalau banyak permintaam bisa dicap matre.
Saat di salah gedung pemerintahan kota, aku bertemu kawanku. Ya, kebiasaan perempuan pasti pamer keunggulan pacarnya. "Pacarku mahasiswa, tapi selalu belanjain aku." Sebenarnya apa yang diharapkan dari ucapan macam itu? Apa agar nampak lelaki itu tunduk dan memuja? Aku menanggapi sekenaku. Ibarat api, aku tiup anginnya kencang-kencang agar membara, "wah hebat sekali pacarmu. Bla,bla,bla."
"Iya, awalnya dia yg perhatian. Aku ga minta apa-apa suka dikasih kejutan. Terus ngajakin belanja. Aku tiap butuh apa-apa minta dia," jawabnya.
Aku paham, setiap perempuan ingin diperjuangkan, apalagi kalau pernah disakiti. Tapi, perjuangan itu macam apa. Dari ketiga kisah itu, aku lebih berkesan kisah mbahku. Meski saat meminang mbah putri, mbah kakung tak membawa banyak bawaan seperti pernikahan pertama (karena tdk disetujui keluarga), namun mbah kakung menjaga diri, menjaga kepercayaan mbah putri dan menepati janji. Aku kira materi bisa menyusul.
Aku yakin tiap laki-laki memiliki cara masing-masing untuk menunjukan kasih sayangnya pada pasangan. Aku ingat mantan pertamaku. Dulu aku diselingkuhi sekali (setauku) Dan tidak diperjuangkan. Akhirnya ia kembali padaku, saat kembali ia masih berhubungan dengan mantan. Aku marah sejadinya, dan perjuangannya standar. Karena tangisku tak dianggap, pada akhirnya aku diam. Zaman pacaran dengan dia, aku memang tak banyak tuntutan. Bahkan tak pernah telepon karena beda operator. Namun, saat ia menyadari ada beberapa lelaki yang perhatian padaku. Ia membeli kartu satu operator denganku. Dan rajin sekali menelpon. Sayang sekali, aku sudah masa bodo saat itu karena merasa diacuhkan. Jauh setelah kuputuskan. Aku baru sadar 2 tahunan ia menggalau dan mencari keberadaanku. Itu pun kata kawannya. Dan saat membuka inbox FB memang banyak pesan darinya bahwa ia merasa sangat sakit. Alhamdulillah kabarnya dia sudah berkekasih lagi. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik.
Kadang aku bertanya, perempuan ingin diperjuangkan sungguh ingin karena cinta atau cukup tahu saja? Jika hanya cukup tahu saja kasihan juga pihak lelaki. Dan laki-laki, mereka berjuang sungguh memperjuangkan karena cinta atau hanya di awal saja sebagai pembuktian?
Oh ya, kawan yang kutemui di kantor itu dulu juga kerap membesarkan pacarnya. LDR tapi sangat diperhatikan, jauh-jauh Jakarta-Purbalingga hanya untuk mengantar kuliah. Ya pokoknya kerap disambangi. Perhatiannya luar biasalah. Sampai rapat organisasi telepon diaktifkan agar si dia bisa mendengar pembicaraan. Saat marah pun, si lelaki selalu mengalah bla,bla,bla. Namun, terakhir ada masalah: aduan dari kawan lelaki bahwa pacarnya tidak beres, kawanku mulai bimbang. Sebab saat diputuskan dia biasa saja. Ternyata ya memang benar selingkuh. Untuk itu, apa pantas mengukur perjuangan cinta dari perjuangan fisik? Kayaknya takaran waktu lebih arif. Bagaimana hubungan bisa dipertahankan menembus zaman.
Apakah tingkat kesulitan perjuangan menjadi indikasi laki-laki itu baik? Misal minta transfer jutaan. Aku kira tidak. Lebih elok berjuang menjaga kesucian pasangan, berjuang menjaga perasaan pasangan, berjuang menjaga kepercayaan, berjuang menata masa depan.
Anyway, setelah mendapat kabar buruk beberapa waktu lalu. Hingga telepon perempuan kemarin, aku lebih bisa menerima keadaan saja. Kenyataan adanya begini, kalau tidak diterima, ya bisa gila. Dan aku senang, aku merelakan perkara suatu hal, dan aku yakin di sisi lain kerelaan akan kembali menjadi wujud kebahagian, seperti kabar yang kuterima hari ini.
Semangat belajar berpuasa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar