Dari langit, air terlalu banyak membawa kawannya. Bibirmu bergetar. Aku kuyup. Hujan mengembun di wajah. Hujannya asin, begitu kataku. Tanganmu mengusap lembut bawah mataku. Memilah beberapa butir air yang mengembun di wajahku. Masih saja teraba olehmu. Segera kau singkirkan butiran air yang bukan hujan itu. Terlalu lama kau paham sadarku hampir disadap dingin. Jaket kulitmu kau kenakan pada punggungku, di bawah rindang pohon yang tak menjanjikan teduh. Ada rindu yang menjalar dalam hangat. Berapa musim hujan yang tak kita saksikan bersama? Tengadahkan tanganmu. Doakan hujan turun sederas mungkin. Biar tetesan air yang jatuh dari langit itu menjebak kita, kau dan aku. Mendung di hati musti lekas meluruh. Hingga tiada alasan saling menunggu jika hujan tak kunjung berhenti. Namun, kita harus pulang ke rumah masing-masing. Kembali menjadi asing.
Semarang, 09 Mei 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar