ORANG YANG DILARANG MASUK
Tak hanya perbaikan ekonomi yang
digalangkan. Pemerintah yang makin cinta kebersihan juga mengadakan gerakan
bersih lingkungan. Solo Berseri (Bersih,Sehat,Rapi,Indah), Yogya Berhati
Nyaman, Klaten Bersinar, Boyolali Tersenyum, dan lain sebagainya. Julukan yang
menandakan eksistensi kota dalam gerakan tersebut. Salah satu momentumnya
adalah penghargaan Adipura. Ketika sebuah kota sudah mendapatkan penghargaan
Adipura, kota tersebut dianggap berhasil dalam mengorganisir kebersihan
lingkungannya.
Konsep bersih benar-benar menciptakan
penampilan baru. Seragam dan tertata rapi. Sialnya, orang miskin macam Pujo
dijadikan sasaran pembersihan karena lingkungan yang kotor. Dianggap masih
bodoh dan belum maju. Penertiban pedagang kaki lima, penggusuran daerah kumuh,
pemulung dilarang memasuki lingkungan perumahan. Katanya itu adalah cara agar
bisa menjadi bagian dari negara Indonesia modern. Pujo tak mengenal kata
modern, yang Pujo kenal adalah uang. Uang agar hidup tenang. Memang kutu kupret sekali orang-orang yang membuat
aturan itu.
Jangan salahkan Pujo. Dia buta
huruf. Tak pernah menegenal apalagi memegang yang namanya buku dan pulpen. Dia
hanya tahu karung, botol bekas, kardus, besi tua dan barang-barang rongsok
lainnya. Oh ya, selain itu dia juga tahu Satpol PP.
Sehabis Jumatan tadi, dia nyaris
jadi bulan-bulanan warga Kampung Resik. Bu Jumaroh, seorang pedangan nasi pecel
di kampung, melihatnya tengah mengorek-orek sampah di kebun belakang rumah.
Tanpa ba-bi-bu, dia langsung berteriak
maling. Sontak warga berlarian ke kebun belakang rumahnya. Dari anak-anak,
remaja hingga dewasa berkumpul. Pemuda dan bapak-bapak membawa kayu, clurit,
dan parang. Ibu-ibu membawa panci, wajan dan parutan yang siap untuk
dilemparkan. Sebegitu siaganya mereka, seakan maling yang mereka hadapi begitu
tangguh, ganas, liar dan menakutkan. Padahal itu hanya Pujo. Apa yang perlu
ditakuti dari dia. Badannya hanyalah belulang yang dilapisi kulit keriput.
Jalannya juga sudah lamban. Tak usah khawatir dia akan melawan atau kabur
sekencang kancil. Lagi pula dia bukan maling. Sungguh. Lihat saja tampangnya. Matanya
sayu tak bergairah. Keriput di wajahnya sudah terlihat kian nyata. Rambutnya
sudah nyaris beruban semua. Jika berjalan, dia lebih sering menunduk penuh
kesahajaan. Tampang dan lagaknya sungguh tak layak dicap maling.
“Ini dia maling yang suka nyolong jemuran! Berlagak jadi
pemulung!” teriak Jumaroh. Membuat dada para warga kian panas. Ada yang
mengumpat. Ada yang tak sabar untuk menghakiminya. Ada yang hanya bergumam
sambil geleng-geleng tak menyangka tua bangka seperti itu adalah maling.
Akhir-akhir ini warga memang kerap
kehilangan barang-barangnya. Mulai dari pakaian yang tengah dijemur, perabotan
rumah tangga yang tergeletak di luar rumah, juga sepeda yang terparkir di
halaman. Katanya itu ulah pemulung yang suka menyelusup. Berlagak mencari
rongsok. Mungkin ada satu atau dua oknum pemulung yang seperti itu. Tapi,
percayalah Pujo tak melakukan hal hina seperti itu. Jika dia orang yang malas
tentu dia lebih memilih mengemis sebab maling terlampau berat baginya. Fisiknya
tidak mendukung. Gampang ketangkap nantinya. Baru mau maling sudah ditangkap
duluan.
“Saya bukan maling. Sungguh,” terang
Pujo dengan wajah bingung dan ketakutan.
“Alasan! Ingat umur. Sudah tua saja
masih buat dosa!” ucap seorang bapak yang tengah memegang parang.
“Saya bukan maling, pak, bu. Saya
pemulung.”
“Pemulung itu cuma kedok! Lagian apa
bapak tidak baca papan di mulut gang? Pemulung dilarang masuk!”
“Maaf, bapak-bapak, ibu-ibu. Ini
karena kebodohan saya. Saya tidak bisa baca tulis. Sungguh saya tidak tahu
peringatan itu.”
“Beberapa hari ini kami sering
kemalingan. Bapak-bapak, ibu-ibu, saya saksi matanya. Saya pernah lihat ada
pemulung yang masuk dan mencuri jemuran. Lalu kabur dengan cepat. Padahal kalau
ketangkap mau saya kasih pelajaran,” jelas Pak Ridwan, hansip Kampung Resik.
“Sudah kita kasih pelajaran saja
baru kita gelandang ke polisi,” ucap seorang pemuda yang mulai kehilangan
kendali.
Kerumunan warga pun mulai merangsek.
Siap menghajar Pujo, disertai riuh amarah dan beragam umpatan. Pujo nyaris saja
babak belur dihajar masa apabila Pak Jamali tak bergegas datang dan melerai
warga. Dia langsung masuk ke kerumunan warga dan melindungi Pujo.
“Tunggu saudara-saudara, jangan main
hakim sendiri. Kita ini negara hukum.”
Warga pun mengurungkan niatnya untuk
menghajar Pujo. Rupanya Pak Jamali yang sangat dihormati warga mampu meredam
amarah mereka. Itu semua lantaran dia orang terkaya sekampung. Almarhum
bapaknya dulu juga mantan lurah.
“Kami sudah gerah, Pak Jamali.
Kampung kita ini sering kemalingan. Banyak maling pura-pura jadi pemulung.”
“Saya bukan maling, Pak. Saya
benar-benar pemulung.”
“Dasar Maling! Kalau ketangkap pasti
tak mengaku,” tandas Bu Ratri.
“Sudah, sudah. Siapa yang mau jadi
saksi kalau bapak ini seorang maling?”
Warga kembali riuh dengan nada lebih
rendah. Saling tunjuk menunjuk untuk menjadi saksi. Dan pada akhirnya semua
mata tertuju pada Bu Jumaroh.
“Ha, saya? Ke...kenapa saya?” tanya
bu Jumaroh kaget dan mundur beberapa langkah dari kerumunan. “Pak Ridwan juga dong. Dia juga pernah lihat,”
sambungnya.
‘Lha kok saya? Bukannya Bu Jumaroh
yang teriak-teriak ada maling,” ucap Pak Ridwan yang keberatan untuk jadi
saksi. Mereka berdua malah saling memojok-pojokan diri untuk jadi saksi.
“Stop, stop! Tak usah saling tunjuk.
Saya langsung ke inti permasalahannya saja. Bu Jumaroh, apa benar ibu melihat
bapak ini maling?”
“ Ya, tidak sih, Pak. Saya...”
“Huuuuu!” belum selesai menjelaskan,
para warga keburu menyoraki Bu Jumaroh. Seakan kini berbalik Bu Jumaroh yang
bersalah. Menuduh tanpa bukti.
“Lain kali kalau menuduh pakai bukti
dong, bu,” kata salah seorang ibu
yang tengah menggendong anaknya.
Warga akhirnya bubar meski tetap
disertai gerutuan. Pujo memeluk kaki Pak Jamali dan berkali-kali mengucapkan
terima kasih. Pak Jamali menyuruhnya berdiri dan memberinya nasehat bahwa
sekarang banyak kampung yang melarang pemulung masuk. Pak Jamali benar-benar
pahlawan untuk Pujo di hari itu. Dia pun bergegas pergi dari Kampung Resik. Pergi
ke tempat lain untuk mengais rongsok. Masih ada perasaan was-was dalam dirinya.
Takut masuk perkampungan yang anti orang kotor sepertinya.
***
“Pak, nanti jam satu malam ada teman
saya yang akan datang ke sini. Pakai mobil hitam.”
“Jam segitu portalnya sudah ditutup,
Pak.”
“Maka dari itu, saya minta tolong
agar nanti teman saya dibiarkan masuk. Ada urusan sangat penting.”
“Ok, baik-baik, Pak.”
Dan benar saja, pukul satu malam
meski lebih beberapa menit, datanglah seorang laki-laki yang mengendarai mobil
hitam. Ridwan segera membukakan portal dan mempersilakannya masuk. Padahal
sudah menjadi perjanjian warga kampung, siapa pun itu. Jika datang lewat pukul
dua belas malam. Maka dia dilarang masuk. Putar arah adalah satu-satunya jalan untuk
masuk. Selain menghabiskan waktu, berputar arah berarti harus masuk lewat jalan
belakang gang Kampung Resik. Jalan yang sepi, sempit, gelap, dan becek. Hanya
cukup dilewati satu mobil. Sekali lagi, karena Pak Jamali dianggap sebagai
orang baik-baik dan terpandang maka warga pun mengistimewakannya.
Mendengar deru mobil yang sudah Pak
Jamali hafal, maka segeralah dia keluar dan membukakan pintu gerbang. Lalu
mempersilakan lelaki yang turun dari mobil untuk masuk ke rumah. Duduk di ruang
tamu, saling berhadapan. Lelaki tersebut bernama Dahlan. Sahabat karibnya
semasa SMU.
Malam itu pula, Pujo berjalan
melewati mulut gang Kampung Resik. Dia berdiri di depan mulut gang yang sudah
ditutp portal. Menenteng karung yang hanya berisi setengah barang rongsokan.
Masih berkelebatan dalam bayangnya peristiwa tadi siang. Hampir saja dia habis
dikeroyok masa. Diperhatikannya baik-baik papan kecil bertuliskan “Pemulung
dilarang masuk”. Jangan salahkan Pujo. Dia buta huruf. Tak bisa baca tulis. Dia
sadar keterbatasannya.Yang bisa dilakukannya hanyalah mengingat rupa tulisan
itu agar tak salah lagi masuk—masuk ke tempet orang yang tak menginginkan
pemulung. Pujo memperhatikan dirinya sendiri. Pakainnya kotor dan kumuh. Bau
lagi. Dia sadar betul akan pekerjaannya yang kotor. Orang-orang tentu akan
mengatur jarak dengannya. Jijik.
“Aku kira bakal dilarang masuk. Portalnya
sudah ditutup,” ucap Pak Dahlan saat memasuki rumah. Pak Jamali hanya tersenyum
simpul.
Pak Dahlan membuka tas koper yang
tadi ditentengnya. “Ini bagianmu, usaha kita sukses berat. Aku mau impor daging sapi dari India.”
“Legal?”
Pak Dahlan menyandarkan punggungnya
ke kursi, mendongakkan kepala dan terbahak. “Katanya mau untung besar?” Ejek
Pak Dahlan.
Pak Jamali menghela nafas. Diusap-usap
kepalanya sambil berpikir.
“Pasti bisa masuk,” ucapnya mantap sambil
menaik turunkan alis. Pak Jamali diam sejenak. Keduanya pun tertawa. Entah apa
yang lucu.
Di luar sana, lelah mengantarkan
Pujo untuk tidur. Dengan penuh kepasrahan pada malam, Pujo tidur di emperan
trotoar; tempat kotor yang makin membuat tubuhnya kotor. “Pemulung dilarang masuk,”
beberapa kali dia mengigaukannya. Betapa takutnya dia.
Semarang, 17
Februari 2014
Dina Ahsanta
Puri
Mahasiswi
Universitas PGRI Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar