Rabu, 23 Agustus 2017

Catatan Dini Hari

Tangis.

Apa itu tangis?
Apakah sebuah stimulus/rangsangan dari perasaan terdalam saat sakit, tersakiti, kehilangan, mengalami perpisahan?

Apa tangis tanda kesedihan?
Ada tangis bahagia, tangis syukur, tangis haru. Tak melulu soal kesedihan. Tapi, katanya, seseorang bisa menangis karena hatinya benar-benar tersentuh.

Seorang aktor bisa menangis, tentu tak hanya sekadar akting. Ia profesional mendalami peran. Ia sadar ia tengah hidup dalam suatu cerita sebagai seorang tokoh. Apa itu artinya ia pura-pura menangis? Tidak, jika dilihat dari sudut ia sebagai tokoh, aku yakin ia menangis. Namun jika dilihat ia sebagai pribadi dirinya. Jelas itu pura-pura.

Seperti halnya tangisan manusia dalam hidup. Muncul istilah air mata buaya. Air mata palsu. Mengartikan palsu pun, bagiku, ada dua hal. Satu, palsu karena si pelaku menyadari betul ia pura-pura. Dua, palsu karena si pelaku memiliki kesadaran pendek. Barangkali, ketika berbuat dosa, dan melakukan taubat nasuha, seseorang bisa menangis kejer-kejer dalam doa usai salatnya. Ia sungguh menyesali semua perbuatannya.  Namun, di suatu kondisi saat godaan datang, ia bisa kembali melakukan. Kembali menyesal. Kembali melakukan, kembali menyesal. Begitu seterusnya.

Mempelajari cinta pada Tuhan itu serupa cinta LDR. Kita memiliki ikatan di batin pada Tuhan, mengakui Allah ialah Tuhan kita. Namun, pada aksi nyatanya kerap terabaikan. Seperti kekasih jauh. Tuhan tak berwujud. Dan barangkali, inilah yang membuat kita gampang sekali menyepelekan Tuhan. Aku yakin, kita lebih takut berhadapan dengan bencana di depan mata, ketimbang Tuhan. Janji pada Tuhan bisa dianggap angin lalu. Misal hal sepele, salat lima waktu. Andai Tuhan berwujud, dan jelas ada di dekat kita, barangkali kita sudah mati-matian menunjukan: akulah hamba yang paling mencintaiMu. Namun, hal demikian apa bisa menjadi tolak ukur ketulusan? Tidak.

Ya... Karena merasa LDR secara wujud dengan Tuhan, manusia kerap menyepelekan. Tak bisa kita pahami, betapa Tuhan selalu memikirkan hambaNya meski telah dilupakan atau hanya diberi janji palsu. Saat ada perluNya, ingin Tuhan segera mendengar doa dan mengabulkan. Saat berbuat dosa, dengan PD dan masa bodo Tuhan tak melihatnya.

Tulisan ini kutujukan pada pribadi. Hati kecil yang tengah berdialog dengan diri. Aku coba meretas diri. Kapan terakhir aku sungguh merasa ingin dekat pada Tuhan?

Setahun yang lalu, bukan saat aku bahagia dan ingin berbagi cerita dengan Tuhan. Namun, saat aku terjatuh dan merasa remuk redam. Tangisku pecah, memohon ampun dan belas kasihan dariNya. Sejenak kala itu, aku dekat denganNya. Barangkali karena aku bandel, kerap janji untuk sementara waktu, janji hanya untuk mencapai suatu keinginan saat itu. Tuhan mengujiku dengan mendatangkan kekasih lain dalam hidupku. Ternyata aku abai.

Aku ingat lagi, kapan perasaanku terasa tergerus, tersulut emosi hingga menitikkan air mata?
Saat wisuda dan berpisah dengan kawan-kawan. Sebuah tangisan yang tak begitu berarti sebenarnya. Karena, ketika berpisah dari satu hal. Kita akan masuk ke satu hal lain. Berpisah lagi. Masuk lagi.  Begini misal: Lulus SMA, kita pasti merasakan sesaknya perpisahan. Merasa itu momen berarti. Pesan, status bertebaran, foto masa silam terapung kembali, tapi hanya untuk jangka waktu tertentu. Setelah memasuki dunia masing-masing entah kerja, entah menikah,kuliah, kita memasuki babak grupping baru. Bersiap bertemu dan berpisah lagi. Misal aku dengan kuliahku. Aku mengalami masa PPL di mana satu bulan, hidupku tercurahkan di sebuah sekolah, saat waktu perpisahan tiba, rasanya berat sekali. Tangis pecah, seolah berat meninggalkan momen itu. Tapi apa kita musti tetap di masa itu? Life must goon. Kemudiam aku mulai lupa kesedihan masa PPL. Yang tersisa hanya kenangan, aku pernah PPL. Kadang memang merindukan suasananya.

Ya sejauh setahunan itu, aku tak menyadari perpisahanku dengan Tuhan. Aku terus asyik dengan duniawiku. Karena Tuhan amat setia pada hambaNya dan mudah memaafkan, membuatku lalai. Aku terfokus pada masalahku ,urusan Tuhan nanti sajalah, aku janji jika urusanku selesai. Aku fokus padaNya. Sembrononya kadang menganggap diri kebih kuasa dari Tuhan. Padahal Tuhanlah yang mampu menyelesaikan masalah manusia.

Jika merenung begini, aku pun bertanya-tanya pada diri. Kesadaran macam apakah ini? Jujur, aku akui, aku mengira ini kesadaran jangka pendek. Imanku masih lemah dan kerap goyah.

Barangkali karena kesombonganku menyepelekan Tuhan dan janjiku ketika terjatuh dulu, Tuhan memberi alur cerita yang mau tak mau 'memaksaku' untuk 'bersujud'.

Ibadah itu bukan untuk Tuhan. Kupikir lagi, ibadah itu wujud cinta Tuhan pada diri yang tak bisa dijangkau akal pikiran manusia pada umumnya. Usia manusia terbatas. Dan memang benar manusia dilahirkan dengan keunikan dan tugas masing-masing. Seorang anak manusia lahir dan tumbuh menjadi dokter. Seorang anak manusia lahir dan tumbuh menjadi ahli politik. Seorang dokter tak akan paham begitu dalam masalah politik, begitu juga sebaliknya. Manusia memiliki fokus masing-masing. Namun, lewat cinta Tuhan mengcover semua. Manusia sudah diberikan perlengkapan "instan" untuk mengetahui kehidupan. Seorang dokter tak perlu jadi politisi untuk tahu politik, begitu juga sebaliknya. Semua sudah terangkum pada Al-Qur'an dan hadits.

Begini, seorang dokter pun memiliki fokus masing-masing. Ada fokus kandungan, saraf, organ dalam. Dan Tuhan memahami dunia kedokteran secara keseluruhan. Semua sudah Dia ramu dalam perintahNya. Misal perintah salat lima waktu. Semua muslim, dari latar belakang apapun, wajib salat lima waktu. Kenapa? Apa Tuhan mau dipuji-puji, disembah-sembah? Kita kerap merasa kuasa pada diri, namun tak memahi betul diri sendiri. Seorang politisi, pelawak, tukang becak, apa paham tentang susunan tubuh dan bagaimana cara menjagaNya? Mempelajari satu perkara di dunia itu tidak akan ada habisnya. Apa yang lebih kecil dari (.) titik kecil? Titik kecil dari titik keci? Titik kecil dari titik kecilnya titik kecil? Rumit. Atau bercerminlah. Liat lensa matamu. Ada bayangmu dalam bercermin. Ada bayang dalam bayang dalam bayang dalam bayang, menjadi dimensi tak berkesudahan. Susah dijangkau. Hal ter-, ter-: terkecil, terbesar. Itu susah. Semakin dikejar, semakin mendekatkan pada keedanan.

Memikirkan dunia membuat diri bisa lupa akan dunia yang sesungguhnya. Seorang tukang becak, akan sulit jika harus mempelajari struktur sendi manusia. Kapan ia mencari nafkah? Nah, karena Tuhan mencintai hambaNya ia sudah merangkumkan petunjuk hidup untuk manusia. Kenapa salat lima waktu? Kenapa gerakannya begitu? Semua ada alasannya. Ditelisik dari kesehatan. Tentu agar persendian manusia lebih lentur, jadi masa tuanya terhindar dari penyakit sendi. Kenapa sujud? Agar alirah darah di kepala lancar.karena aku awam kesehatan, kapasitas penjabaranku hanya sejauh itu. Jika aku memaksakan diri mengkorek-korek alasan perintah Tuhan, tidak akan ada habisnya. Justru waktuku habis sendiri. Lupa tugas kehidupan. Nah, di situlah iman diperlukan. Tuhan sudah mencurahkan cintaNya. Seperti gombalan remaja, cinta tak perlu memiliki alasan, cukup dirasakan. Jika cinta terus dipertanyakan, kadang malah muncul keraguan.

Mencintai Tuhan bukanlah mencintai karena wujud fisikNya. Tuhan tak berbentuk. Namun Tuhan 'mewujud' dalam 99 sifatNya.

Sungguh karena keterbatasanku dan karena keagunganNya. Melukiskan apa yang kurasakan saja rasaNya sulit dijangkau dengan kata-kata. Kekaguman ini mengendap pada rasa, hingga kata-kata tak memiliki makna apa-apa.

Minggu, 20 Agustus 2017

Kepada Arif

;Kepada Arif
Tahukah kau perbedaan santri dengan mahasiswa?
Santri, semakin lama mondok semakin dianggap berilmu.
Mahasiswa semakin lama kuliah semakin dianggap sampah.
Lekas lulus, anakmu butuh ayah.

2017

Tentang Setia

Setia, kamu tercipta dari apa?
Dari sebuah pengenalan batin
Atau cukup cinta?
Lalu cinta, kamu tercipta dari apa?
Dari otak, hati, atau kelamin?
Dan kelamin, kamu mencipta apa?
Selain anak dan persimpangan jalan pikir.

Ruang Gelap
00:21, 19-04-2015

Hujan yang Mengembun di Wajah

Dari langit, air terlalu banyak membawa kawannya. Bibirmu bergetar. Aku kuyup. Hujan mengembun di wajah. Hujannya asin, begitu kataku. Tanganmu mengusap lembut bawah mataku. Memilah beberapa butir air yang mengembun di wajahku. Masih saja teraba olehmu. Segera kau singkirkan butiran air yang bukan hujan itu. Terlalu lama kau paham sadarku hampir disadap dingin. Jaket kulitmu kau kenakan pada punggungku, di bawah rindang pohon yang tak menjanjikan teduh. Ada rindu yang menjalar dalam hangat. Berapa musim hujan yang tak kita saksikan bersama? Tengadahkan tanganmu. Doakan hujan turun sederas mungkin. Biar tetesan air yang jatuh dari langit itu menjebak kita, kau dan aku. Mendung di hati musti lekas meluruh. Hingga tiada alasan saling menunggu jika hujan tak kunjung berhenti. Namun, kita harus pulang ke rumah masing-masing. Kembali menjadi asing.

Semarang, 09 Mei 2014.

Jumat, 18 Agustus 2017

Nothing

Mbah putri itu nikah sama duda, kata ibuku saat kami berkunjung ke rumah lilik. "Masa sih? Duda gimana?" tanyaku penasaran.
"Duda, nikah 27 hari, cerai."
"Kok bisa?"
"Saking cintanya sama mbah putrimu. Cinta dari kecil, besarnya mbah kakung dijodohkan. Mbah putri sempat pergi ke Jakarta, di sana mau dijadikan pegawai pajak. Tapi, mbah kakung cerai dan kembali ke mbah putri. Terpisah 27 hari."

Batinku, so sweet sekali si mbah kakung. Iseng aku bertanya, "lha itu dah nikah 27 hari, apa nggak ngapa-ngapain?"
"Cerita orang-orang mbahmu dingin. Diemin istrinya, terus 27 hari kemudian cerai," sambung lilikku.

Padahal terkadang, tanpa cinta pun, jika seranjang nafsu lelaki kerap naik. Mbah kakunh benar-benar menjaga cintanya ke mbah putri, menjaga kepercayaan, dan memperjuangkan. Mendengar cerita itu, mataku memanas,terharu. Meski mereka berdua telah tiada, kisah perjuangan cintanya masih terkenang. Apa masih ada lelaki seperti mbah kakung?

Saat itu juga, kawanku, sebut saja Tapir tengah gundah gulana karena kekasihnya di Papua. Aku heran, apa yang perlu dirisaukan. Kekasihnya tentara, sudah tunangan, perhatian pula, jika merajuk pun kekasihnya masih memperjuangkan, biasanya lelaki kardus akan mundur dan memilih perempuan lain.

Tapir diberi dua boneka panda ukuran jumbo. Dia cabik-cabik, digantung, dibakar, alasannya karena kekasihnya ga peka. Aku kira tidak peka hanya urusan perhatian, ternyata tidak peka transfer uang.

Setiap orang punya standarnya masing-masing. Aku memandang kisah cinta Tapir itu sangat membahagiakan, kekasihnya mapan dan sangat perhatian. Namun, ia iri pada kawannya yang mendapat transferan dari kekasihnya dan dipamerkan di media sosial.
"Kalau cewek bener, ga bakal minta-minta sampai jutaan, kamu milih bergelimang harta atau biasa aja tapi setia?" tanyaku.
"Aku ingin diperjuangkan! Ingin bukti!" kata Tapir.  Sebenarnya bentuk perjuangan cinta itu macam apa sih? Apa aku yang terlalu masa bodo.

Dulu aku tak peduli pasangan mau ngasih kabar atau tidak, positive thinking. Kata afik tingkatku, Jom, aku harusnya update kabarnya. Semenjak diselingkuhi, aku akhirnya membutuhkan sebuah perhatian. Karena, jika dilogika, ada benarnya juga. Jika tidak komunikasi dengan kita, pasangan akan komunikasi dengan siapa? Apalagi lelaki itu haus perhatiannya melebihi perempuan, nafsunya tinggi.

Sudah dua mingguan aku menenangkan kawanku Tapir. Aku paham, orang macam Tapir butuh pendengar yang baik.
"Pacarmu di Papua. Temenku di Medan, mau beli CD aja susah. Harus ke pusat kota, berjam jam. Mahal pula. Jadinya harus dipaketin dari Purbalingga."
"Kalau beneran cinta harusnya usaha dong. Gimana pun caranya. Aku mau bukti bahwa aku satu-satunya," ujar Tapir. Mendengat tuntutan Tapir, aku serasa nangis batin. Sekadar mendapat kabar saja aku sangat bahagia. Dulu aku hanya iri ke kawanku yang telepon, video call setiap hari dengan kekasihnya yang tengah melaksanakan kegiatan kampus sebulanan. Itu dulu, sekarang ah masa bodo deh.

"Tapir, kamu kan sudah tunangan kurang bukti apa lagi? Kamu tidak tahu kebutuhan pasanganmu. Coba kamu tanya pendapatan dan pengeluarannya untuk apa saja. Uang bisa dicari, tapi kesetiaan dan kejujuran susah."

Ya, meski sudah kunasihati bolak balik tetap tidak mempan. Aku kasihan juga dengan kekasihnya. Kurang berjuang apa lagi. Setiap Tapir merajuk, kekasihnya sangat tunduk padanya. Kadang tiap gajian ditransfer 300rb.

Apa perempuan harus banyak tuntutan ya biar keberadaannya dianggap? Aku heran saja. Kalau tak banyak permintaan, lelaki menganggap dirinya tak dibutuhkan, bisa juga menyepelekan pasangan. Kalau banyak permintaam bisa dicap matre.

Saat di salah gedung pemerintahan kota, aku bertemu kawanku. Ya, kebiasaan perempuan pasti pamer keunggulan pacarnya. "Pacarku mahasiswa, tapi selalu belanjain aku." Sebenarnya apa yang diharapkan dari ucapan macam itu? Apa agar nampak lelaki itu tunduk dan memuja? Aku menanggapi sekenaku. Ibarat api, aku tiup anginnya kencang-kencang agar membara, "wah hebat sekali pacarmu. Bla,bla,bla."
"Iya,  awalnya dia yg perhatian. Aku ga minta apa-apa suka dikasih kejutan. Terus ngajakin belanja. Aku tiap butuh apa-apa minta dia," jawabnya.

Aku paham, setiap perempuan ingin diperjuangkan, apalagi kalau pernah disakiti. Tapi, perjuangan itu macam apa. Dari ketiga kisah itu, aku lebih berkesan kisah mbahku. Meski saat meminang mbah putri, mbah kakung tak membawa banyak bawaan seperti pernikahan pertama (karena tdk disetujui keluarga), namun mbah kakung menjaga diri, menjaga kepercayaan mbah putri dan menepati janji. Aku kira materi bisa menyusul.

Aku yakin tiap laki-laki memiliki cara masing-masing untuk menunjukan kasih sayangnya pada pasangan. Aku ingat mantan pertamaku. Dulu aku diselingkuhi sekali (setauku) Dan tidak diperjuangkan. Akhirnya ia kembali padaku, saat kembali ia masih berhubungan dengan mantan. Aku marah sejadinya, dan perjuangannya standar. Karena tangisku tak dianggap, pada akhirnya aku diam. Zaman pacaran dengan dia, aku memang tak banyak tuntutan. Bahkan tak pernah telepon karena beda operator. Namun, saat ia menyadari ada beberapa lelaki yang perhatian padaku. Ia membeli kartu satu operator denganku. Dan rajin sekali menelpon. Sayang sekali, aku sudah masa bodo saat itu karena merasa diacuhkan. Jauh setelah kuputuskan. Aku baru sadar 2 tahunan ia menggalau dan mencari keberadaanku. Itu pun kata kawannya. Dan saat membuka inbox FB memang banyak pesan darinya bahwa ia merasa sangat sakit. Alhamdulillah kabarnya dia sudah berkekasih lagi. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik.

Kadang aku bertanya, perempuan ingin diperjuangkan sungguh ingin karena cinta atau cukup tahu saja? Jika hanya cukup tahu saja kasihan juga pihak lelaki. Dan laki-laki, mereka berjuang sungguh memperjuangkan karena cinta atau hanya di awal saja sebagai pembuktian?

Oh ya, kawan yang kutemui di kantor itu dulu juga kerap membesarkan pacarnya. LDR tapi sangat diperhatikan, jauh-jauh Jakarta-Purbalingga hanya untuk mengantar kuliah. Ya pokoknya kerap disambangi. Perhatiannya luar biasalah. Sampai rapat organisasi telepon diaktifkan agar si dia bisa mendengar pembicaraan. Saat marah pun, si lelaki selalu mengalah bla,bla,bla. Namun, terakhir ada masalah: aduan dari kawan lelaki bahwa pacarnya tidak beres, kawanku mulai bimbang. Sebab saat diputuskan dia biasa saja. Ternyata ya memang benar selingkuh. Untuk itu, apa pantas mengukur perjuangan cinta dari perjuangan fisik? Kayaknya takaran waktu lebih arif. Bagaimana hubungan bisa dipertahankan menembus zaman.

Apakah tingkat kesulitan perjuangan menjadi indikasi laki-laki itu baik? Misal minta transfer jutaan. Aku kira tidak. Lebih elok berjuang menjaga kesucian pasangan, berjuang menjaga perasaan pasangan, berjuang menjaga kepercayaan, berjuang menata masa depan.

Anyway, setelah mendapat kabar buruk beberapa waktu lalu. Hingga telepon perempuan kemarin, aku lebih bisa menerima keadaan saja. Kenyataan adanya begini, kalau tidak diterima, ya bisa gila. Dan aku senang, aku merelakan perkara suatu hal, dan aku yakin di sisi lain kerelaan akan kembali menjadi wujud kebahagian, seperti kabar yang kuterima hari ini.

Semangat belajar berpuasa!







Kamis, 17 Agustus 2017

.....

Pagi ini kuawali dengan membuka email. Email satu, berbuntut pada membuka email-email lalu.

Senyam senyum sendiri, mendapati email masuk dan terkirim. Ternyata ada beberapa orang yang sudah kukenal lama via email. Geli juga mendapati pesan Vokalist yang kelabakan karena kutodong tulisan.

Di email juga kudapati semangatku yang dulu membara. Aku selalu 'cemburu' jika ada kawan yang berkata, 'aku sudah mengirim.' Telingaku panas dan reflek menggiring jari-jariku untuk manuntaskan suatu hal.

Tiba-tiba aku kangen Bos Ting (Bos Keriting) dan kekasihnya Mbak Tam. Awal mengenal Bos Ting, aku kira ia bapak-bapak penajaga PKM atau pemilik lapak PKL. Ternyata ia masih mahasiswa. Tampilannya begitu sih... Iya begitu.

"Kamu suka buku apa?" pertanyaan rumit. Aku tidak bisa mengspesifikkan kesukaanku, apapun asal nyaman, aku suka.

"Ini tulisanmu?" tanya lanjut Bos Ting saat sesi wawancara Vokal. Kala itu syarat masuk Vokal ialah dengan menyertakan tulisan. Aku membawa tulisan yang pernah kuikutsertakan pada lomba penulisan artikel populer SMA Jateng.

"Apa kita bisa bertukar buku?" sayang sekali saat itu koleksi bukuku belum banyak.

Nah, sejak saat itu aku membuntut Bos Ting dan Mbak Tam. Meski Bos Ting sangat nyinyir dalam 'mendidik' aku merasakan dampak positifnya.

Namun, aku merasa kehilangan Bos Ting dan Mbak Tam usai mereka ada masalah dengan alumni. Tidak ada lagi yang mrngomporiku menulis. Mereka berubah menjadi pendiam. Padahal aku menyukai sosok nyinyirnya, sindiran konyol, canda penuh makna.

Bos Ting dan Mbak Tam ialah pasangan yang lahir di Vokal. Bos Ting fokus kepenulisan, Mbak Tam fokus mendesain. Melihat lagak mereka yang konyol, kadang aku bertanya-tanya, seperti apa gaya mereka saat pacaran?

Iseng pernah aku melihat panggilan di HPnya, sayang aku lupa apa sebutan Mbak Tam di kontak Bos Ting. Pokoknya imut sekali. Haha.

Saat wisuda Mbak Tam, aku yang dipinta membelikan bunga, ia nampak canggung menunjukan perhatian di muka umum. Tapi, anehnya hubungan mereka awet. Skip membahas hubungan orang.

Email, selain mengingatkanku pada Vokal. Mengingatkanku pada KIAS pula. Di KIAS juga ada pasangan idola. Mas Wid dan Mbak San, esais dan cerpenis. Aku juga terpantik menulis gegara mereka.
"Wah, Purbalingga juga, ya?" kata Mas Wid
"Menulis saja, nanti bisa konsultasi ke aku," kata Mbak San.
Melihat sosok Mbak San dan Mas Wid, aku pun bergairah menulis. Merekajuga kerap menculikku ke beragam acara.

Pernah suatu malam aku meminta Mbak San melihat tulisanku, intinya tulisanku masih belum baik. Aku stres rasanya, bagaimana cara menulis cerpen. Galau berhari-hari lantaran tulisan membuatku susah tidur. Sambil mendengarkan lagu-lagu, aku pacu diri menulis lagi, seminggu kemudian aku datang ke camp KIAS, dan pertama kalinta tulisanku dipuji. Namun, lagi-lagi aku kehilangan dua sosok itu. Perkaranya karena aku pemalu saja. Aku pemalu dan lebih banyak di Vokal. Tidak ada kawan untuk ke KIAS. Dari ratusan anak Bahasa Inggris angkatanku, hanya aku yanh mengikuti KIAS. Canggung untuk ke lantai PKM 3. Apalagu banyak laki-laki. Sedang di Vokal, aku memiliki kawan ke sana kemari meski lain prodi.

Sebenarnya aku jenuh hanya megulas kisah lalu. Tapi, bagimana lagi. Di sini aku sendiri, stag di satu tempat, tanpa kegiatan. Aku kerap mematikan rasa sepi dengan mengenang hari lalu. Beragam sosial media aku istirahatkan, tak ada chat berarti, aku tak enak chat melulu dengan kawan-kawanku. Apalagi mendapatkan info yang tak mengenakan hati.

Alhasil menulis serampangan keluh kesah di blog atau twitter. Ya karena hanya dengan ini, aku bisa merasakan keramaian. Aku hidupkan tokoh lewat ingatan, aku rangkai peristiwa lewat kenangan.

***

"Aku mau lihat kembang Api di rumah lilik ya?" izinku semalam pada bapak.
"Tidak boleh!"

Kesal rasanya, aku merasa kebebasanku terenggut sejak ada perjanjian konyol itu. Rasanya lebih sesak ketimbang saat bekerja di Batang. Meski bangak tuntutan, setidaknya ada kawan ngobrol di sana.

Ibuku awam dengan istilah 'curhat' setiap aku memiliki masalah, ibuku nampak cuek. Bukan tak peduli, mungkin kapasitas ibuku begitu.
"Kenapa setiap aku cerita ibu tidak tanggap?"
"Tanggap bagaimana?"
Jangankan ditanggapi, kadang tidak didengar sampai kemarin aku membandingkan dengan ibu-ibu yang lain.
"Kenapa tidak seperji Wak Ju dan Bu dhe. Mereka mau menanggapi, atau setidaknya mendengarkan. Di sini aku jenuh, tidak ada teman, ke sana kemari di kekang, bisakah ibu memposisikan diri sebagai ibu?"
"Ya, gimana?"
"Kalau aku cerita di dengarkan, ditanggapi."
Memang aku salah membandingkan dengan ibu-ibu lain. Ibuku memang tidak bisa menjadi pndengar yang baik, tapi untuk urusan royalitas, ibuku sangat royal.
Sebenarnya bapakku juga pernah bilang ke ibuku, "kalau anak cerita ya didengarkan. Kasih masukan." 

Akhirnya aku kerap menyendiri saja, karena ibuku royal, aku menyalurkan uang untuk membeli kuota, membaca berita online misal, karena akses koran di sini sulit. Aku pernah mencari ke area kota, yang ada hanya koran lokal ecek ecek, mahal pula.

"Jadi kapan aku aktif?"
"Tunggu, sabar," begitu ucap bapak.

Dan setiap aku memiliki panggilan bekerja di sana sini, kerap ditolak bapak. Bapak sudah menyiapkan kursi di pemerintahan sini, dan meminta aku bersabar.

Paling kawan ceritaku hanya Aoliya. Karena sejauh ini dialah pendengar baikku. Namun, lagi-lagi aku tak enak berkeluh kesah padanya. Alhasil ngempet sendiri.

Saat hajatan khitanan sepupuku. Aku bertemu Sodirin, teman SDku. Ia bekerja pada lilikku dan saat acara itu ia membantu melayani tamu. Ternyata Sodirin sudah memiliki anak. Sempat terpikir, andai aku sudah punya anak, sepi tak lagi mempan menyerangku.

Tiga hari yang lalu, saat ada kabar buruk masuk HP. Aku tak tahu harus bercerita pada siapa. Di rumah sendiri hanya bisa menimbulkan tangis. Kadang aku melarikan diri dengan tidur. Berharap waktu cepat berlalu, rasanya sia-sia. Bangun bangun seperti orang linglung.

Akhirnya aku bertolak ke rumah Fahmi, kami membuat rangkaian bunga. Setidaknya bisa mengalihkan fokusku. Percuma memikirkan masalah yang kualami. Masalah itu datangnya dari luar, yang memiliki masalah saja masa bodo.

Kemarin aku menerima pesan via bbm.Sekitar 5 pesan dan disambung telepon via BBM.  Seorang perempuan baru kukenal, hanya satu menitan berbicara. Tapi, membuatku sesak saja. Dan lagi, aku bingung mau bagaimana. Mau kutangisi, buat apa? Itu bukan masalahku sebenarnya. Masalahku hanyalah perkara merelakan sakit.

Usai aku menulis begini, harapanku, aku mengantuk, dan tertidur panjang sampai ada kabar, "bangun, waktunya bekerja!" atau, "bangun, hari ini, hari pernikahnmu!"