Jumat, 18 Oktober 2013

OPINI-Tantangan Kampus Pencetak Guru- Suara Kampus Competition



 Tantangan Kampus Pencetak Guru
Sebagai negara berkembang, Indonesia masih perlu meningkatkan mutu pendidikan agar bisa sejajar dengan negara maju. Mutu pendidikan ini erat kaitannya dengan mutu guru/pendidiknya. Semantara kualitas guru/pendidik tak bisa tidak dipengaruhi oleh kualitas "pabrik" pencetak guru dalam hal ini LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Hanya LPTK yang bermutulah yang akan menghasilkan guru bermutu juga.  Pertanyaannya seberapa bermutukah IKIP PGRI Semarang?
Saat ini IKIP PGRI Semarang merupakan satu-satunya LPTK yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menyiapkan guru-guru berkualitas internasional melalui program PGMIPA (Pendidikan Guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) bertaraf internasional. Selain itu, juga merupakan satu-satunya PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Jawa Tengah yang dipercaya oleh pemerintah menjadi model pendidikan karakter sekaligus penyelenggara Character Award. Institut keguruan tersebut juga semakin melebarkan sayapnya untuk go internasional, yaitu dengan melakukan program pertukaran pelajar dengan UTM (Universitas Teknologi Malaysia) dan juga sebagai pusat belajar bahasa dan budaya Indonesia para mahasiswa luar negeri. Sebuah kampus yang dikenal dengan motto “Melaju dengan Mutu” ini pun memiliki program PPG (Pendidikan Profesi Guru) serta masih banyak keunggulan lainnya sehingga patut diperhitungkan sebagai perguruan tinggi berkualitas yang dapat menghasilkan tenaga kependidikan profesional dan berjati diri.
Sejauh ini, IKIP PGRI Semarang juga merupakan salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia yang menjadi incaran banyak lulusan SLTA. Hal ini terbukti dengan pendaftar lima tahun terakhir melonjak, yaitu dengan rata-rata per-tahun mencapai 12.000 pendaftar. Melihat kedepannya, bukan tidak mungkin perguruna tinggi swasta yang berdiri  pada tanggal 23 Juli 1981 ini menjadi perguruan tinggi yang lebih besar lagi dan lebih disegani calon mahasiswa. Tentunya apabila terus berkonsentrasi dalam menyiapkan calon guru berkualitas melalui pembelajaran kreatif inovatif yang berjatidiri. Bahkan bukan tidak mungki bisa menjadi kiblat model pembelajaran bagi LPTK lain dalam menjawab tantangan dan kebutuhan kualitas dan kualifikasi guru yang dibutuhkan di persekolahan. 
Dibalik sebuah kesuksesan pasti akan ada banyak rintangan. Sebagai salah satu LPTK penghasil tenaga pendidik dan kependidikan yang  profesional dan berjati diri, IKIP PGRI Semarang hendaknya mampu menjawab tantangan pendidikan di masa yang akan datang. Jangan hanya dimaknai sebagai lembaga “pencetak” ijazah sarjana pendidikan  mengingat di tangan sarjana pendidikan inilah masa depan pendidikan dipertaruhkan.  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa kualifikasi akademik guru minimal sarjana (S1) atau Program Diploma IV yang sesuai dengan tugasnya sebagai guru. Konsekuensinya, guru yang sudah menduduki jabatan fungsional guru namun belum sarjana (S1) harus menyesuaikan diri.
Ada banyak cara yang ditempuh oleh para guru untuk menyikapi amanat Undang-Undang tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah studi lanjut dan  up grading bagi guru yang sudah memiliki ijazah diploma II atau diploma III. Mereka melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S1).  Namun yang harus menjadi bahan renungan bersama, apakah mereka memilih LPTK yang berkualitas dan kredibilitasnya baik? Hal ini penting, mengingat tidak semua LPTK itu baik (yang ditunjukkan oleh grade akreditasinya). Bahkan, ada juga yang masih proses akreditasi namun berani merekrut mahasiswa dalam jumlah banyak. Hal tersebut harus menjadi perhatian penting bagi IKIP PGRI Semarang yang harus bisa memperlihatkan “dirinya” secara apa adanya, khusunya dalam hal grade akreditasi. Jangan sampai sudah susah payah kuliah namun kompetensi dan ijazahnya tidak diakui.
Seorang guru juga dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Tidak semua orang bisa menjadi pendidik, meski semua orang bisa mengajar.  Mungkin kebanyakan guru-guru hanya menjalankan tugasnya sebagai “pengajar” yang hanya melakukan aktivitas transfer of knowledge. Akibatnya, tidak jarang orang yang pandai secara akademik tapi malah cacat secara moral, misalnya melakukan kekerasan, korupsi dan sebagainya.
Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas IKIP PGRI Semarang perlu melakukan perbaikan pada saat rekruitmen calon mahasiswa. Calon mahasiswa harus diseleksi secara ketat agar dihasilkan sarjana yang juga berkualitas. Selain itu, kurikulum, kualitas dosen, atmosfir akademik, sarana, dan budaya akademik yang dibangun juga harus mendukung lahirnya sarjana pendidikan yang handal secara intelektual dan memiliki kualitas akhlak yang baik. Jika masih ada sarjana menganggur, mungkin ada banyak sebabnya. Namun, jika sebabnya karena buruknya mutu kampus maka inilah yang jadi masalah. IKIP PGRI Semarang harus bisa mempersiapkan calon sarjana yang siap pakai dengan rancangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk mencapai semua itu tentu tidak semudah membalikan telapak tangan.  Di butuhkan kerja keras dan kerja sama seluruh civitas academica agar bisa terus melaju dengan mutu. Akan tetapi, Sebaik serta sebagus apapun rencana dan usaha tidak akan mencapai tujuan tanpa konsistensi bersama, sebab mutu bisa dihasilkan dari sebuah konsistensi berkelanjutan.
Semarang, 22 Juni 2013
Dina Ahsanta Puri
Aktif di UKM KIAS dan LPM Vokal
Mahasiswi semester 2/IKIP PGRI SMG/FPBS/PBI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar