Jumat, 18 Oktober 2013

Cerpen-Berumah Rahasia-Tabloid Cempaka-Edisi 29.XXIV.12-18 Okt.2013



Berumah Rahasia

Muka Hajir masih masam semenjak Hani melontarkan pernyataan semalam. Farid, akan melamar Hani. Dia adalah anak Bu Sofiyah, janda yang menjadi tetangga sebrang jalan. Tak hanya tangisan Hani yang pecah semalam. Cangkir kopi pun ikut pecah mengakhiri perdebatan antara ayah dan anak. Hani melengos masuk ke kamar. Sedang istri Hajir marah-marah karena cangkir baru; hadiah arisan ikut jadi sasaran. Hajir tahu ketika putri semata wayangnya terbangun nanti, akan ada sebuah tanya yang akan menohoknya. Tentu perihal alasan penolakan lamaran.
Istri Hajir sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Secangkir kopi menemani Hajir duduk di kursi teras depan rumah. Dia menyeruputnya pelan. Matanya merem melek. Jidatnya mengeryit, membuat kerut keriput samar di wajahnya kian nyata. Hajir yakin betul, gula di toples masih penuh. Mungkin istrinya masih ngambek perihal cangkirnya yang pecah semalam. Hajir tak ingin marah-marah dan memperpanjang masalah kopi pahit buatan istrinya.  Baginya ini tak akan sepahit kata yang membuat lidahnya kaku untuk memberikan alasan kepada Hani.
 “Pagi, Pak Hajir,” sapa Priyo, tetangga samping rumah. Seorang bujang lapuk. Hingga kepala empat pun dia tak kunjung menikah.
“Pagi,” balas Hajir dengan senyum yang sejatinya alot dipampangkan. Perasaannya masih semrawut.
Seperti pagi-pagi yang lain. Priyo selalu mengurusi burung kutilang  kesayangannya. Membersihkan kandang dan memberi pakan. “Woy, ngurus burung kutilang mulu! Urus burung sendiri dong. Masa sudah empat puluh tahun cuma buat pipis doang. Ya, nggak, Pak Hajir?” celetuk Rofiq yang pagi-pagi itu menunggangi sepeda ontel tuanya, melewati jalan depan rumah Priyo dan Hajir.
“Hahaha.... ada-ada saja kau,” timpal Priyo yang sudah terbiasa dicandai orang-orang.
Mendengarnya Hajir merasa agak geli. Sedikit senyum tersungging diantara bibirnya yang kusut. Namun, senyum itu tak berlangsung lama ketika Hani muncul dihadapannya.
“Bagaimana, ayah?” tanya Hani dengan mata yang masih terlihat sembab.
“Bagaimana apanya?” kata Hajir pura-pura tidak tahu. Diraihnya koran yang ada di atas meja, lantas membukanya lebar, menutup wajah hingga dadanya.
“Yang kemarin itu,ayaaaahh,” ucap Hani kesal.
“Lamaran?”  tanya Hajir sembari menurunkan koran ke pangkuan. “Kamu dengar ayah ngomong apa kemarin?”
Hani duduk di kursi sebelah Hajir. Merengek mencoba meluluhkan kerasnya hati Hajir, “Ayaahhhh...”
Hajir melipat koran dan membantingnya keras ke meja. Dia ingat betul untuk tidak membanting cangkir lagi. Bisa-bisa istrinya membuatkan kopi sepahit bratawali. “Pokoknya ayah tidak setuju!” Hani melihat sekeliling, takut jadi perhatian tetangga. Untung masih sepi hanya  Priyo  yang menoleh ke arah Hajir  dan Hani. Tanpa sepatah kata Hajir masuk ke dalam rumah. Hani membuntuti.
“Mas Farid orang baik-baik kok. Ayah tahu  keseharian mas Farid seperti apa, bukan? Rajin beribadah, sudah mapan juga.”
Hajir tak mengacuhkan. Dia duduk di sofa dan menyalakan televisi.
“Ayah  mau aku jadi perawan tua?”
Nggak mungkin! Ayah bisa carikan laki-laki lain.”
“Tapi  ayah, Hani cuma mau mas Farid. Ayah ini kaya nggak pernah muda aja, sih!”
Hajir menaikan volume televesi begitu keras. Lelaki usia empat puluh tiga tahun itu pura-pura menikmati tayangan kartun yang sebenarnya sama sekali tak disukainya.
“Oke, kalau ayah tidak setuju! Jangan salahkan Hani, jika Hani nanti nekat kawin lari!”
Hajir mematikan televisi dan berdiri membentak Hani, “jangan konyol kamu!”
“Ayah yang jangan konyol! Apa alasan ayah melarang mas Farid melamarku?” ucap Hani dengan nada lebih tinggi. Hajir duduk kembali dan terdiam.
“Ayah tidak bisa menjawab, bukan? Hani sudah besar, yah! Hani berhak menentukan pilihan!” Kamar kembali menjadi tempat pelarian Hani untuk memeras air mata. “Brakkk,” Dibantingnya pintu kamar keras-keras. Menggoyangkan beberapa bingkai foto jadul Hani saat kecil, yang terpajang di dinding. Hani; gadis kecil Hajir sudah tumbuh dewasa. Kemarahannya bukanlah hal sepele seperti dulu lagi. Bukan amarah seorang anak kecil yang bisa diobati dengan permen, boneka atau iming-iming pergi ke tempat wisata dan hiburan.
 Pernikahan adalah hal yang sakral. Tak boleh main-main. Kalau bisa hanya sekali seumur hidup. Tapi, putrinya telah menjatuhkan pilihan pada lelaki yang tak Hajir inginkan. Walau bagaimanapun, Hani berhak tahu alasan penolakan itu. Hajir memantapkan diri untuk menghadapi putrinya.
tok...tok...tok...,” Hajir mengetok pintu kamar Hani pelan. “Hani, keluar nak, ayah ingin bicara sebentar,” pinta Haijr. Hani pun keluar tersedu-sedu dengan hidung kembang kempis menahan laju ingus akibat derasnya tangis. Dia berharap ayahnya telah berubah pikiran.
“Ayo, duduk dulu.” Ajak Hajir ke arah sofa depan televisi.
            “Hani, kamu mau tahu alasan ayah menolak lamaran itu?”
Hani mengangguk dengan bibir menyat-menyot menahan tangis.
“Tapi, kamu janji ya? Jangan beri tahu ibumu dulu.”
Hani kembali mengangguk; serupa boneka di dashbor mobil yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa sepatah kata.
“Farid itu kakakmu.”
“A..a..Apa?”  Sepatah kata keluar bersama nafas yang agak tersengal oleh sisa tangis tersedu-sedunya.
“Itulah sebabnya bapak tidak setuju.”
Semasa SMAnya dulu, Bu Sofiyah adalah kekasih Hajir. Diam-diam Sofiyah hamil tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa itu anak Hajir. Saat Hajir akan melamarnya, orang tua Sofiyah dan Hajir tidak setuju. Hubungan orang tua mereka memang tak terlalu baik. Sofiyah dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Dia adalah Pak Zainudin yang sejak dua tahun lalu sudah menjadi almarhum. Setelah Hajir kuliah dan bekerja, dia dijodohkan dengan Sumarini. Anak gadis lurah Rasyid, sahabat kakek Hani. Hajir pun tahu sebenarnya Sumarini juga terpaksa menikah dengannya, tapi lambat laun Hajir dan dan Sumarini terbiasa menjalani kehidupan berumah tangga. Meski tak tercipta romantisme ala suami istri seperti biasanya. Hajir percaya Hani pun bisa melakukannya. Bukan melalui perjodohan, tapi dengan mencoba mencari laki-laki lain yang lebih pantas meminangnya.
***
Sepulang dari pasar, Sumarini hendak menjemur se-ember pakaian. Semua sudah dicuci dan dibilas bersih. Dia bingung ketika mendapati putrinya melamun di teras belakang rumah. “Sedang apa kamu di sini, Han?” nampaknya tanya Sumarini hanya membentur tiang jemuran dan pepohonan di belakang rumah. Hani masih saja terdiam. Sumarini meletakkan ember jemurannya.  “Ayahmu sudah setuju, Han?” tanya Sumarini.
Hani menggeleng lemah,“tidak, bu.”
“Ayahmu aneh! Nanti ibu yang ngomong langsung ke ayah.”
“Tidak usah, bu.”
“Kamu kok jadi ikut-ikutan aneh? Kemarin nangis-nangis, ngotot minta direstuin.”
“Sudah lah, bu. Jangan bahas ini lagi. Sampai kapan pun, aku tak bisa menyatu dengan mas Farid.”
“Ah, kata siapa? Kamu jangan jadi perempuan lemah dong, Han! Nanti kamu menyesal, lho! Selama kamu yakin, apa salahnya coba? Tidak boleh pesismis. Cinta harus diperjuangkan!“ ucap Sumarini yang berbalik lebih ngotot memperjuangkan cinta anaknya.
Hani meremas rambutnya, pusing dan geram. “Ibu, yang namanya kakak adik pasti tidak boleh menikah!”
“Ha?” Sumarini tercengang kaget.
Hani sadar dia keceplosan. Mau bagaimana lagi, kata-katanya sudah tidak bisa ditarik. Pendengaran ibunya masih baik. Mana mungkin dia pura-pura mengatakan ibunya salah dengar. Perkataan adalah do’a. Itu sama saja dia mendo’akan ibunya biar budeg.
“Kata ayah, Mas Farid itu sebenarnya kakakku.” Hani menunduk, air matanya kembali menetes. “Maaf jika aku membuat ibu sedih dengan kenyataan ini.”
“Tidak apa-apa,” jawab Sumarini datar.
Hani menatap wajah ibunya. Tak disangka-sangka ibunya akan setegar itu. Kemarau bertahan di mata Sumarini, menatap kosong halaman belakang rumah. Bukan tidak mungkin jika kemarau di mata itu  membuat retakan-retakan kecil di relung hatinya. Mungkin saja ada tangis yang tak basah dan tak nampak oleh pandangan. Hani merasa sangat tak pantas untuk terus menangis. Ibunya yang jelas telah tersakiti saja masih bisa tegar, mengapa dia tidak? Hani mengusap air matanya sendiri.
Pintu belakang rumah Priyo terbuka. Dia keluar dan duduk di kursi belakang sembari menyedu teh hangat. Memandangi kebun bunga mawarnya yang mulai bermekaran. Sepasang kupu-kupu terbang rendah di atasnya, seakan menggoda Priyo yang masih saja betah melajang. Rumahnya dengan tetangga hanya dibatasi pagar kayu setinggi satu meter, karenanya dia bisa melihat jelas; dua perempuan penghuni rumah sebelah, tengah duduk memperbincangkan sesuatu yang terlihat serius. Tak mau dicap mengintai atau mengurusi urusan orang lain, Priyo memilih untuk menikmati tehnya sebelum dingin.
“Dengarkan ibu, Hani! Kamu masih berhak menikah dengan Farid,” ucap Sumarini. Priyo menoleh ke arah tetangganya dan menggeleng keheranan. Dia tak tahu persis masalah apa yang ada di tetangganya. Tidak di depan, tidak di belakang. Masih saja ribut di hari sepagi ini. Dari pernyataan Sumarini, tanpa disengaja Priyo mulai tahu akar permasalahannya, namun dia tetap memilih untuk menikmati secangkir teh hangatnya. Menghirup asapnya yang bergemulai lemah, menyerbakan aroma teh dan melati.
“Tapi, kata bapak...”
Sumarini segera memotong pembicaraan, “ibu sedang mencari cara untuk bicara dengan ayahmu.”
“Masalah sedarah itu sudah tidak bisa dibicarakan lagi, bu!”.  Mendengar hal itu, Priyo mulai menajamkan kupingnya. Kini dia merasa penasaran dengan kegaduhan tetangganya. Seandainya bisa, dia akan menggunakan telinga setajam sunyi untuk mendengar sejelas-jelasnya.
“Bukan masalah itu.”
“Lalu?”
“Masalah bahwa kamu juga bukan anak ayahmu,” ucap Sumarini pelan sembari menatap Priyo yang sedang memperhatikan mereka.
Priyo yang saat itu juga tengah menyeruput teh, tersedak kaget. Dia rasa teh hangatnya sudah tidak nikmat lagi. Sepasang kupu-kupu yang menyaksikan, terbang mendekat ke arahnya. Bersama jawaban yang diyakini sepasang kupu-kupu itu, mereka seakan hendak menanyakan alasan Priyo melajang.


Purbalingga, 02-09-2013
Dina Ahsanta Puri.
Mahasiswi semester 3/PBI/IKIP PGRI Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar