Berumah Rahasia
Muka
Hajir masih masam semenjak Hani melontarkan pernyataan semalam. Farid, akan melamar
Hani. Dia adalah anak Bu Sofiyah, janda yang menjadi tetangga sebrang jalan. Tak
hanya tangisan Hani yang pecah semalam. Cangkir kopi pun ikut pecah mengakhiri
perdebatan antara ayah dan anak. Hani melengos masuk ke kamar. Sedang istri Hajir
marah-marah karena cangkir baru; hadiah arisan ikut jadi sasaran. Hajir tahu ketika
putri semata wayangnya terbangun nanti, akan ada sebuah tanya yang akan menohoknya.
Tentu perihal alasan penolakan lamaran.
Istri
Hajir sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Secangkir kopi menemani Hajir
duduk di kursi teras depan rumah. Dia menyeruputnya pelan. Matanya merem melek.
Jidatnya mengeryit, membuat kerut keriput samar di wajahnya kian nyata. Hajir
yakin betul, gula di toples masih penuh. Mungkin istrinya masih ngambek perihal cangkirnya yang pecah
semalam. Hajir tak ingin marah-marah dan memperpanjang masalah kopi pahit buatan
istrinya. Baginya ini tak akan sepahit
kata yang membuat lidahnya kaku untuk memberikan alasan kepada Hani.
“Pagi, Pak Hajir,” sapa Priyo, tetangga
samping rumah. Seorang bujang lapuk. Hingga kepala empat pun dia tak kunjung
menikah.
“Pagi,”
balas Hajir dengan senyum yang sejatinya alot dipampangkan. Perasaannya masih
semrawut.
Seperti
pagi-pagi yang lain. Priyo selalu mengurusi burung kutilang kesayangannya. Membersihkan kandang dan
memberi pakan. “Woy, ngurus burung
kutilang mulu! Urus burung sendiri dong. Masa sudah empat puluh tahun cuma buat pipis doang. Ya, nggak, Pak Hajir?” celetuk Rofiq yang pagi-pagi itu menunggangi
sepeda ontel tuanya, melewati jalan depan rumah Priyo dan Hajir.
“Hahaha....
ada-ada saja kau,” timpal Priyo yang sudah terbiasa dicandai orang-orang.
Mendengarnya
Hajir merasa agak geli. Sedikit senyum tersungging diantara bibirnya yang
kusut. Namun, senyum itu tak berlangsung lama ketika Hani muncul dihadapannya.
“Bagaimana,
ayah?” tanya Hani dengan mata yang masih terlihat sembab.
“Bagaimana
apanya?” kata Hajir pura-pura tidak tahu. Diraihnya koran yang ada di atas
meja, lantas membukanya lebar, menutup wajah hingga dadanya.
“Yang
kemarin itu,ayaaaahh,” ucap Hani kesal.
“Lamaran?”
tanya Hajir sembari menurunkan koran ke
pangkuan. “Kamu dengar ayah ngomong
apa kemarin?”
Hani
duduk di kursi sebelah Hajir. Merengek mencoba meluluhkan kerasnya hati Hajir, “Ayaahhhh...”
Hajir
melipat koran dan membantingnya keras ke meja. Dia ingat betul untuk tidak
membanting cangkir lagi. Bisa-bisa istrinya membuatkan kopi sepahit bratawali. “Pokoknya
ayah tidak setuju!” Hani melihat sekeliling, takut jadi perhatian tetangga.
Untung masih sepi hanya Priyo yang menoleh ke arah Hajir dan Hani. Tanpa sepatah kata Hajir masuk ke
dalam rumah. Hani membuntuti.
“Mas
Farid orang baik-baik kok. Ayah tahu keseharian mas Farid seperti apa, bukan? Rajin
beribadah, sudah mapan juga.”
Hajir
tak mengacuhkan. Dia duduk di sofa dan menyalakan televisi.
“Ayah
mau aku jadi perawan tua?”
“Nggak mungkin! Ayah bisa carikan
laki-laki lain.”
“Tapi ayah, Hani cuma mau mas Farid. Ayah ini kaya nggak
pernah muda aja, sih!”
Hajir
menaikan volume televesi begitu keras. Lelaki usia empat puluh tiga tahun itu pura-pura
menikmati tayangan kartun yang sebenarnya sama sekali tak disukainya.
“Oke,
kalau ayah tidak setuju! Jangan salahkan Hani, jika Hani nanti nekat kawin
lari!”
Hajir
mematikan televisi dan berdiri membentak Hani, “jangan konyol kamu!”
“Ayah
yang jangan konyol! Apa alasan ayah melarang mas Farid melamarku?” ucap Hani
dengan nada lebih tinggi. Hajir duduk kembali dan terdiam.
“Ayah
tidak bisa menjawab, bukan? Hani sudah besar, yah! Hani berhak menentukan
pilihan!” Kamar kembali menjadi tempat pelarian Hani untuk memeras air mata. “Brakkk,” Dibantingnya pintu kamar
keras-keras. Menggoyangkan beberapa bingkai foto jadul Hani saat kecil, yang terpajang di dinding. Hani; gadis kecil
Hajir sudah tumbuh dewasa. Kemarahannya bukanlah hal sepele seperti dulu lagi.
Bukan amarah seorang anak kecil yang bisa diobati dengan permen, boneka atau
iming-iming pergi ke tempat wisata dan hiburan.
Pernikahan adalah hal yang sakral. Tak boleh
main-main. Kalau bisa hanya sekali seumur hidup. Tapi, putrinya telah
menjatuhkan pilihan pada lelaki yang tak Hajir inginkan. Walau bagaimanapun,
Hani berhak tahu alasan penolakan itu. Hajir memantapkan diri untuk menghadapi
putrinya.
“tok...tok...tok...,” Hajir mengetok
pintu kamar Hani pelan. “Hani, keluar nak, ayah ingin bicara sebentar,” pinta
Haijr. Hani pun keluar tersedu-sedu dengan hidung kembang kempis menahan laju
ingus akibat derasnya tangis. Dia berharap ayahnya telah berubah pikiran.
“Ayo,
duduk dulu.” Ajak Hajir ke arah sofa depan televisi.
“Hani, kamu mau tahu alasan ayah
menolak lamaran itu?”
Hani
mengangguk dengan bibir menyat-menyot
menahan tangis.
“Tapi,
kamu janji ya? Jangan beri tahu ibumu dulu.”
Hani
kembali mengangguk; serupa boneka di dashbor
mobil yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa sepatah kata.
“Farid
itu kakakmu.”
“A..a..Apa?” Sepatah kata keluar bersama nafas yang agak tersengal
oleh sisa tangis tersedu-sedunya.
“Itulah
sebabnya bapak tidak setuju.”
Semasa
SMAnya dulu, Bu Sofiyah adalah kekasih Hajir. Diam-diam Sofiyah hamil tanpa ada
seorang pun yang tahu bahwa itu anak Hajir. Saat Hajir akan melamarnya, orang
tua Sofiyah dan Hajir tidak setuju. Hubungan orang tua mereka memang tak
terlalu baik. Sofiyah dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Dia adalah
Pak Zainudin yang sejak dua tahun lalu sudah menjadi almarhum. Setelah Hajir
kuliah dan bekerja, dia dijodohkan dengan Sumarini. Anak gadis lurah Rasyid,
sahabat kakek Hani. Hajir pun tahu sebenarnya Sumarini juga terpaksa menikah
dengannya, tapi lambat laun Hajir dan dan Sumarini terbiasa menjalani kehidupan
berumah tangga. Meski tak tercipta romantisme
ala suami istri seperti biasanya. Hajir
percaya Hani pun bisa melakukannya. Bukan melalui perjodohan, tapi dengan
mencoba mencari laki-laki lain yang lebih pantas meminangnya.
***
Sepulang
dari pasar, Sumarini hendak menjemur se-ember pakaian. Semua sudah dicuci dan
dibilas bersih. Dia bingung ketika mendapati putrinya melamun di teras belakang
rumah. “Sedang apa kamu di sini, Han?” nampaknya tanya Sumarini hanya membentur
tiang jemuran dan pepohonan di belakang rumah. Hani masih saja terdiam. Sumarini
meletakkan ember jemurannya. “Ayahmu
sudah setuju, Han?” tanya Sumarini.
Hani
menggeleng lemah,“tidak, bu.”
“Ayahmu
aneh! Nanti ibu yang ngomong langsung
ke ayah.”
“Tidak
usah, bu.”
“Kamu
kok jadi ikut-ikutan aneh? Kemarin
nangis-nangis, ngotot minta direstuin.”
“Sudah
lah, bu. Jangan bahas ini lagi. Sampai kapan pun, aku tak bisa menyatu dengan
mas Farid.”
“Ah,
kata siapa? Kamu jangan jadi perempuan lemah dong, Han! Nanti kamu menyesal, lho!
Selama kamu yakin, apa salahnya coba? Tidak boleh pesismis. Cinta harus
diperjuangkan!“ ucap Sumarini yang berbalik lebih ngotot memperjuangkan cinta
anaknya.
Hani
meremas rambutnya, pusing dan geram. “Ibu, yang namanya kakak adik pasti tidak
boleh menikah!”
“Ha?”
Sumarini tercengang kaget.
Hani
sadar dia keceplosan. Mau bagaimana lagi, kata-katanya sudah tidak bisa ditarik.
Pendengaran ibunya masih baik. Mana mungkin dia pura-pura mengatakan ibunya
salah dengar. Perkataan adalah do’a. Itu sama saja dia mendo’akan ibunya biar budeg.
“Kata
ayah, Mas Farid itu sebenarnya kakakku.” Hani menunduk, air matanya kembali
menetes. “Maaf jika aku membuat ibu sedih dengan kenyataan ini.”
“Tidak
apa-apa,” jawab Sumarini datar.
Hani
menatap wajah ibunya. Tak disangka-sangka ibunya akan setegar itu. Kemarau
bertahan di mata Sumarini, menatap kosong halaman belakang rumah. Bukan tidak
mungkin jika kemarau di mata itu membuat
retakan-retakan kecil di relung hatinya. Mungkin saja ada tangis yang tak basah
dan tak nampak oleh pandangan. Hani merasa sangat tak pantas untuk terus
menangis. Ibunya yang jelas telah tersakiti saja masih bisa tegar, mengapa dia
tidak? Hani mengusap air matanya sendiri.
Pintu
belakang rumah Priyo terbuka. Dia keluar dan duduk di kursi belakang sembari
menyedu teh hangat. Memandangi kebun bunga mawarnya yang mulai bermekaran.
Sepasang kupu-kupu terbang rendah di atasnya, seakan menggoda Priyo yang masih
saja betah melajang. Rumahnya dengan tetangga hanya dibatasi pagar kayu setinggi
satu meter, karenanya dia bisa melihat jelas; dua perempuan penghuni rumah
sebelah, tengah duduk memperbincangkan sesuatu yang terlihat serius. Tak mau
dicap mengintai atau mengurusi urusan orang lain, Priyo memilih untuk menikmati
tehnya sebelum dingin.
“Dengarkan
ibu, Hani! Kamu masih berhak menikah dengan Farid,” ucap Sumarini. Priyo menoleh
ke arah tetangganya dan menggeleng keheranan. Dia tak tahu persis masalah apa
yang ada di tetangganya. Tidak di depan, tidak di belakang. Masih saja ribut di
hari sepagi ini. Dari pernyataan Sumarini, tanpa disengaja Priyo mulai tahu
akar permasalahannya, namun dia tetap memilih untuk menikmati secangkir teh
hangatnya. Menghirup asapnya yang bergemulai lemah, menyerbakan aroma teh dan
melati.
“Tapi,
kata bapak...”
Sumarini
segera memotong pembicaraan, “ibu sedang mencari cara untuk bicara dengan
ayahmu.”
“Masalah
sedarah itu sudah tidak bisa dibicarakan lagi, bu!”. Mendengar hal itu, Priyo mulai menajamkan
kupingnya. Kini dia merasa penasaran dengan kegaduhan tetangganya. Seandainya
bisa, dia akan menggunakan telinga setajam sunyi untuk mendengar
sejelas-jelasnya.
“Bukan
masalah itu.”
“Lalu?”
“Masalah
bahwa kamu juga bukan anak ayahmu,” ucap Sumarini pelan sembari menatap Priyo
yang sedang memperhatikan mereka.
Priyo
yang saat itu juga tengah menyeruput teh, tersedak kaget. Dia rasa teh
hangatnya sudah tidak nikmat lagi. Sepasang kupu-kupu yang menyaksikan, terbang
mendekat ke arahnya. Bersama jawaban yang diyakini sepasang kupu-kupu itu, mereka
seakan hendak menanyakan alasan Priyo melajang.
Purbalingga,
02-09-2013
Dina Ahsanta Puri.
Mahasiswi semester 3/PBI/IKIP PGRI Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar