Kabar
dari Laut
Seperti
malam-malam yang lain. Pastilah Sapto akan keluar menemui laut. Duduk sejenak
di hamparan pasir yang tak tersentuh oleh ombak. Mencoba membaca isyarat laut
sebelum berlayar ke tengahnya. Terlihat jejak kaki kura-kura di sekelilingnya
yang begitu dia hafal. Tak ketinggalan jejak manusia pun masih terlihat nyata,
bahkan jejak mereka di pasir tak terhapus oleh ombak sekali pun. Jejak-jejak
yang mengusik pandangan Sapto; segerombolan sampah.
Debur
ombak semakin terdengar jelas menyisipi sunyi malam. Kadang menerjang, surut, mengalir
perlahan, dan menyisakan buih di hamparan pesisir. Selalu begitu sebelum hilang
tak berbekas. Sesekali air ombak itu tersangkut
dilekuk batu karang, sejenak beristirahat di sana. Apapun yang terjadi ombak-ombak
itu akan selalu kembali ke pelukan samudra luas dengan membawa semua
kisah-kisahnya.
Dan
seperti malam-malam kemarin pula. Bulan masih terlihat begitu terang. Adalah
suatu kebiasaan para nelayan selama terang bulan untuk tidak melaut. Mereka lebih
memilih memperbaiki alat tangkap yang kondisinya rusak. Namun, tidak sedikit
dari mereka beralih profesi menjadi buruh tani, buruh bangunan, dan pedagang
demi memenuhi ekonomi keluarga. Percuma saja jika dipaksakan melaut. Tangkapan
ikan akan sedikit. Pantulan cahaya bulan di permukaan air laut yang mengandung
garam, membuat senar pancing ataupun jala yang terbenam terlihat menyala. Tentu
ikan-ikan akan enggan mendekat. Dan Sapto bukanlah nelayan kemarin sore yang
tak tahu tanda-tanda alam. Berlayar ke tengah laut baginya bukanlah semata
menacari ikan. Bagi yang pertama kali mendengarnya mungkin ini akan terdengar
konyol bahkan gila. Iya, Sapto lebih sering berlayar ke tengah laut untuk
mencari mayat. Aneh bukan? Memang begitu adanya. Ombak pantai kidul yang ganas
kerap mengambangkan mayat manusia. Entah korban
kecelakaan, dibunuh, ataupun bunuh diri, bahkan mungkin juga tumbal Nyi Roro
Kidul. Pekerjaan ini jauh lebih menguntungkan ketimbang mencari ikan di
waktu-waktu seperti ini. Dia cukup
membawa mayat itu dan membuat semacam pengumuman baik dari mulut ke mulut atau
pun melalui selebaran. Setelah itu, keluarga yang kehilangan akan
menghampirinya dan memberinya uang sebagai tanda terima kasih.
Ketika pengamatannya dirasa sudah cukup, Sapto tahu sisi
mana yang harus dia tuju. Segeralah dia berlayar dengan perahu tuanya, menuju
ombak yang paling keruh. Itulah patokannya selama ini. Dan benar adanya, mayat
seorang lelaki tengah mengambang di tengah laut. Sekuat tenaga dia dayung
perahunya untuk mendekat dan dengan sigap diangangkatnya mayat itu ke atas
perahu. Hidungnya benar-benar sudah tumpul terhadap bau busuk yang menyeruak.
Baginya bau busuk itu lebih nikmat ketimbang bau amis ikan-ikan yang pernah
terperangkap jalanya.
***
Keesokan harinya Sapto segera mengumumkan mayat yang
telah dia temukan. Kabar tersebut segera menyebar luas bahkan sampai keluar
perkampungan pesisir pantai. Warga berbondong-bondong mendatangi rumah gubuk Sapto
yang hanya di huni olehnya serta putra semata wayangnya, Dirun. Bocah usia
delapan tahun itu terlihat begitu kurus, nampak kurang gizi. Sejak lahir Dirun
juga tidak sempat menyusu puting ibunya, sebab Jumairoh, istri Sapto tersebut
meninggal ketika melahirkan Dirun.
Kedatangan seorang perempuan muda beserta ajudannya,
membuat orang-orang yang awalnya berdesakkan sembari menutup hidungnya mulai
mundur dan mengatur jarak, memberikan ruang yang
luas kepada perempuan dengan dagu terangkat dan tangan disilangkan. Perempuan
itu menyerbakan aroma rosemary. Wewangian yang cocok untuk perempuan energik, keras,
berani dan menyukai petualangan.
Salah seorang
ajudan mendekat ke mayat yang terbujur di tengah ruangan dan ditutupi beberapa
lembar kain jarit. Dibukanya sedikit kain yang menutupi wajah. Ajudan tersebut mengangguk
kepada perempuan itu seakan memberikan isyarat lantas berkata, “benar, nyonya.”
Dari sekian puluh mayat yang pernah dia pertemukan dengan
keluarganya, baru kali ini dia menyaksikan wajah tak berduka dari orang yang jelas-jelas
mengenal si mayat.
“Syukurlah,” gumam
perempuan itu. “Laki-laki brengsek! Menyesal aku menjadi istirmu!” tambahnya. Bersama
ajudannya dia berbalik hendak pergi, namun Sapto mencegatnya.
Dari pernyataan itu
Sapto tahu bahwa perempuan itu adalah istri lelaki yang telah terbujur kaku di
hadapannya. “Maaf, nyonya. Apa nyonya tidak ingin membawa suami nyonya pulang?”
tanya Sapto heran.
“Tidak.”
“Kenapa tidak? Suami nyonya harus segera di makamkan,
sudah membusuk. Bawalah nyonya, tenang aku tak meminta bayaran.”
“Kamu kira aku tak membawanya lantaran aku tak punya
uang? Buat apa membawa mayat terkutuk seperti dia? Sudah satu bulan ini dia
meninggalkanku. Kawin lagi dengan perempuan lain! Biarlah, lempar saja ke laut
lagi. Untuk pakan ikan!”
Jika sudah begini,
Sapto terpaksa harus menguburkan mayat laki-laki itu secara pantas.
Seperti mayat-mayat yang pernah dia temukan, namun tak diketahui siapa
keluarganya. Hari ini Sapto harus
mengurus mayat itu dan dia memilih untuk tak berlayar malam ini. Tak ada satu
pun tetangganya yang mau mendekat, membantu menguburkan mayat itu. Bagi mereka
itu tanggungan Sapto atas tindakan konyolnya.
***
Seperti keputusannya pagi tadi, malam ini dia tak
berlayar baik berburu ikan maupun mayat. Dia memilih tidur bersama Dirun, bocah
kecil yang sering dia tinggal malam hari ketika sudah tidur terlelap. Sapto
tertidur pulas, hingga menjelang fajar dia terpaksa bangun karena kaget oleh
suara seseorang yang menggedor-gedor pintu rumahnya.
“Kang, kang Sapto! Keluar, Kang! Ini Sarti, Kang!”
Setengah sadar Sapto berjalan membukakan pintu. Rupanya
di luar sudah banyak orang.
“Kang, tolong
saya, kang, tolong!”
“Tolong apa,
Sar?”
“Tolong carikan
suamiku, Kang. Lihat itu, Kang!”
“Itu perahu
Karyo, bukan?”
“Iya, malam ini suamiku nekat melaut. Dia pergi bersama
beberapa nelayan lain. Wasmin salah satunya. Kata dia perahu kang Karyo sempat
terbalik terkena goncangan ombak ganas . Sekarang hanya perahunya yang kembali.
Kang Karyo hilang.”
“Iya, To, tolong
carikan Karyo!” seru para warga. Awalnya Sapto merasa heran atas permintaan
warga yang sebelumnya sempat menyepelekan kemampuanya mencari mayat di lautan.
“Baik, baik.”
Sapto masuk ke dalam rumahnya mengambil beberapa
perlengkapan. Dia juga mencium kening Dirun yang masih terlelap dalam tidurnya.
Kemudian kembali keluar bersiap menjamah laut.
“Sar, titip Dirun,
ya?”
“Iya, Kang.”
Warga secara beriringan mengantar kepergian Sapto untuk
mencari Karyo. Mereka sangat mengharapkan Sapto menemukannya. Entah masih hidup
maupun sudah mati. Mereka juga membantu
mendorong perahu Karyo menuju ke tengah laut.
***
Terhitung sedari fajar
Sapto pergi. Cukup lama. Warga telah menanti kedatangan Sapto di bibir pantai. Awan-awan tampak liar. Bergulung-gulung,
membukit dan kelam dalam warna kelabu. Bergelayut diberati beban. Menambah
muram wajah langit senja dengan desir angin yang parau membawa debu. Dari
kejuhan ternyata perahu Sapto mulai nampak. Warga pun bersorak sorai
melihatnya. Ketika ombak kian mendekatkan Sapto ke bibir pantai dia berteriak,
“hai, aku menemukannya!”
Seperti yang telah di duga
sebelumnya, pastilah Karyo sudah tak bernyawa. Tangis Sarti langsung pecah
mendahului langit yang masih mempertahankan mendungnya. Empat orang warga
memanggul mayat Karyo, sedang sisanya membuntuti dengan raut duka begitu dalam.
Ketika warga sibuk membantu Sarti mengurus mayat suaminya, Sapto memilih untuk
beristirahat sejenak di rumah gubuknya. Pencarian kali ini sangatlah
melelahkan.
“Dirun, buatkan bapak kopi, nak.”
Tidak ada tanggapan. Biasanya jika
Dirun terdiam itu pertanda dia tengah kebingungan sebab persediaan kopi atau
gula sudah habis. Namun, Sapto yakin dia masih memiliki persediaan kopi dan
gula setengah toples.
“Dirun, Run?”
Tetap tidak ada jawaban. Sapto
mengahampiri kamarnya. Kosong. Dirun tidak ada. Dia cari ke belakan rumah pun
tak ada. Kembali dia ke depan rumah, dan berteriak memanggil-manggil anaknya,
“Diruuun! Kamu di mana!”
Dari kejauhan terlihat lambaian
bocah laki-laki. Dia berlari melambai-lambaikan tangan. Samar-samar bocah
tersebut berteriak mengatakan sesutau. Suaranya kalah keras dengan debur ombak.
Sapto mengira itu adalah Dirun, tapi ternyata bukan. Itu adalah Mi’un anak adik
iparnya.
“Paman, paman Sapto!” kata Mi’un
dengan nafas tersengal-sengal. “Dirun, paman, Dirun.”
“Iya, Dirun kenapa?”
“Dia terseret ombak.”
“Apa?” Sapto benar-benar
kebingungan, “toloooooongg!” teriak Sapto. Namun, tak seorang warga pun
mendekat, mereka semua tengah sibuk mengurusi kematian Karyo. Rumah Karyo
berada di ujung kampung, suara Sapto tak kan mampu menjangkaunya.
Mendung telah meluruh menjadi gerimis.
Sapto merasa sangat tidak karuan. Di antara gerimis putih yang menaburi senja. Keabu-abuan telah
memeluk waktu dengan diiringi langit jingga yang kian lama kian memudar. Hari sudah mendekati pelukan malam.
Perlahan gerimis mulai berganti hujan. Hujan yang kian deras. Dengan langkah
kecilnya, Mi’un berlari pulang ke rumah, sedangkan Sapto bergegas mendorong perahunya yang baru
saja menepi untuk kembali berlayar ke tengah laut. “Diruuunnn!!!”
teriak Sapto ditengah tirai ombak yang mengepung perahunya dari segala arah
bersama hujan tak hentinya terus
mengguyur.
***
Pagi harinya warga
berkumpul di bibir pantai dan sepakat untuk mencari Sapto serta anaknya. Namun
ombak seolah memulang-pulangkan mereka kembali ke bibir pantai. Seakan mereka
hanya akan mendapati kesia-siaan jika terus memaksa.
Semenjak saat itu
tidak ada seorang pun yang tahu
keberadaan Sapto dan Dirun. Mungkin sudah mati di tengah laut dan dikoyak oleh
ikan hiu. Beberapa orang kerap mendengar suara rintihan pilu serupa kesedihan
yang mengapung di udara. Para nelayan yang berlayar malam hari pun terkadang
melihat bayangan perahu Sapto, nampak seorang lelaki tengah memangku anaknya.
Dan siapapun yang menyaksikannya, maka ia sama saja mendapatkan tanda kesialan.
Tak dapat ikan, kapal rusak terterjang ombak dan beragam kesialan lainnya.
***
“Syukurlah mati. Hanya mencampuri
urusan orang lain saja!” ucap seorang perempuan setelah membaca berita di koran
mengenai seorang nelayan dan anaknya yang hilang di lautan dan dikabarkan mati.
“Nyonya, perempuan itu sudah kami
bunuh. Akan diapakan nantinya?”
“Buang saja ke laut. Biar dia
ketemu dengan pasangannya yang brengsek! Pastikan kau buang mayat itu di tempat
yang banyak ikan hiunya. Biar lekas lenyap dan tak ada yang menemukan!”
Para ajudan mengangguk. Perempuan
itu mengambil botol parfum kecil di atas meja. Menyemprotkannya ke sisi kanan
kiri leher secara bergantian, menyerbakan aroma rosemary. Wewangian yang cocok untuk perempuan energik, keras,
berani dan menyukai petualangan.
Dina Ahsanta Puri
Semarang, September
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar