TAMU
ISTIMEWA KAMPUNG RANDU
Terkadang
orang waras tidak lebih baik daripada orang gila, ketika orang waras memiliki
nafsu yang lebih gila dari orang gila. Orang gila tidak akan menyembunyikan kegilaannya. Berbeda dengan orang
waras yang selalu menutupi kegilaannya dengan hal-hal yang wajar. Orang gila
diasingkan karena kegilaanya, sementara orang waras mencoba mengasingkan diri sebab
kegilaanya. Banyak orang gila dicerca karena suka
tertawa dan berjalan-jalan tak jelas. Lalu bagaimana dengan orang waras yang penuh
kegirangan, berjalan ke tempat hiburan malam? Orang gila selalu diumpat sebab tak
mengenakan pakaian. Lalu bagaimana dengan orang waras yang sengaja menutup tubuhnya
dengan pakaian seminimal mungkin? Ternyata kehidupan yang tak berharfiah mampu menghajar
batin, menumpulkan kata hati dan memutuskan beberapa urat otak manusia waras.
Bisa saja orang waras diantara kita ada yang diam-diam gila.
Sebut saja kampung Randu tengah kedatangan
tamu istimewa: orang gila. Dia bukan orang gila biasa. Tak seperti orang gila
yang pernah meresahkan warga beberapa waktu lalu, membuat eyang Astro yang agak
bongkok mengomel-ngomel, berkeliling ke
sepenjuru kampung; seakan ingin menyiarkan kekesalan dengan suara selantang toa
masjid agung di kota. Pelataran rumahnya diberaki Darno, orang gila dari
kampung seberang. Sungguh tak seperti itu. Percayalah! Cerita orang gila kali
ini berbeda. Dia benar-benar
istimewa. Selain rajin beribadah juga dianggap sakti mandraguna. Boleh jadi ungkapan yang menyelubunginya
semacam doa yang dipanjatkan. Ucapannya sarat makna, bahkan membawa
peruntungan.
Asal muasalnya yang tak diketahui membuat
warga beranggapan dia adalah orang gila pengembara. Mungkin sepanjang perjalanannya, dia
mencari kesaktian dari segala penjuru nusantara. Menemui datuk-datuk dan daeng-daeng
sakti, mbah-mbah berjenggot putih panjang, kyai-kyai bersorban, serta orang-orang
tua berilmu lainnya. Membuat dia kelebihan ilmu lalu gila, begitu pikir warga.
Kini
warga mulai tergila-gila dengan orang gila yang biasa dikenal dengan nama Ki
Jenggot. Tak jarang banyak orang menghampiri gubug Ki Jenggot di kebun kelapa
Lurah Karyo. Mereka cukup duduk dan mendengarkan nasihatnya. Di saat itu mereka
akan mulai menerka-nerka, mencari makna tersirat dan menghubung-hubungkan
omongan itu untuk medapatkan peruntungan.
***
“Aku
kaya! Aku kaya! Ki Jenggot memang hebat! Dia benar-benar Sakti!” seru Pujo yang
menjadi awal kisah keistimewaan nasihat Ki Jenggot. Siang itu warga segera
mengerubung Pujo yang tengah berjalan membawa segepok uang. Ada yang takjub,
kagum, curiga, bahkan langsung mendakwa.
“Ya
ampun, uang! Banyak sekali!”
“Wah,
Jo, nyolong
mana kamu?”
“Jangan-jangan
kamu melakukan pesugihan ya, Jo?”
“Ini
berkat nasihatnya Ki Jenggot! Dia bukan orang sinting biasa! lotreku tembus
berkat dia!” jelas Pujo. Pemuda penganguran itu bercerita bahwa tadi pagi dia melewati
kebun kelapa Lurah Karyo. Di sana dia bertemu Ki Jenggot. Terlihat Ki Jenggot tengah
mengkhotbahi tupai-tupai agar tidak mencuri kelapa Lurah Karyo. Entah berapa tupai yang
sudah dijejali ceramah dan nasihat olehnya. Dia hanya menjalankan pesan tuannya
yang tidak lain Lurah Karyo untuk menjaga kebun. Sudah sekitar tiga bulanan Ki
jenggot merawat kebun itu.
Iseng-iseng
Pujo singgah di gubug dan berbincang dengan Ki Jenggot. Percakapan yang awalnya tanpa arah akhirnya
bermuara pada curahan hati Pujo. Entah apa yang dipikirkan Pujo sampai dia
bercerita kepada pendengar sinting. Dia hanya butuh tempat berbagi cerita. Kantong
kering nyaris mencekik
lehernya.
“Andai
aku menang lotre, bisa mendadak kaya aku!” ucap Pujo
“Kamu
bisa kaya.”
“Maksud
Ki Jenggot?”
“Banyak
beribadah. Berdo’alah kepada Allah ta’ala.
Berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibumu! Do’a ibu itu keramat lho!”
tutur Ki Jenggot seakan lebih waras dari Pujo.
“Emak
sudah lama mati, Ki!”
“Nah,
kirimilah dia do’a. Rawat makamnya. Niscaya do’amu akan jadi penerang kuburnya.
Ini malam Jum’at. Hari yang baik untuk mengirimi do’a. Lekas tengoklah makamnya.
Semoga kamu mujur!”
Awalnya
Pujo merasa kesal karena diceramahi dan dinasihati orang sinting. Tapi, ucapan
Ki Jenggot serupa mantra yang membiusnya. Setelah mencoba bersabar mendengarkan
beberapa saat, perkataan itu benar-benar menggetarkan hati Pujo. Dakwah
menggebu-gebu dari kyai, ataupun alim
ulama saja jarang diresapi pendengarnya. Hanya membuat kepala mereka
mengangguk-angguk serupa boneka di dashbor
mobil.
Pada
akhirnya Pujo memutuskan untuk pergi menengok makam emaknya. Keadaannya
betul-betul memrihatinkan. Sebagian permukaan lantai retak karena pondasinya
amblas. Usai membersihkan makam dan berdo’a, Pujo mencium nisan emaknya. Namun,
entah keisengan dari mana lagi yang didapat Pujo. Dia melihat angka kematian
emaknya itu unik. Tanggal sembilan belas, bulan sembilan, tahun sembilan satu.
Segera dia pergi ke kota membeli nomor lotre. Nomornya tembus!
“Itu
hanya kebetulan saja, tidak ada hubungannya!” kata salah seorang warga.
“Tapi
benar apa yang dikatakan Pujo. Omongan Ki Jenggot memang bawa hoki,” ucap Wanto
seorang hansip yang seketika itu menjadi pusat perhatian. Kemarin dia juga diceramahi
Ki Jenggot. Jalu, ayam jago kesayangannya hilang. Dicarinya sampai ke kebun
kelapa Lurah Karyo. Biasanya Jalu main di kebun itu. Mengetahui Wanto tengah
pusing mencari ayamnya yang hilang, Ki Jenggot langsung menceramahinya dengan
sejumlah nasihat. Dilantunkannya beberapa potong ayat. Ki Jenggot menyuruh Wanto
untuk mengikhlaskan Jalu. Dia juga mendo’akan agar Allah memberi ganti yang lebih baik. Wanto
pun mengikhlaskan Jalu. Keesokan harinya, si Jalu pulang bersama empat ayam
betina hutan. Rupanya Jalu habis berkelana ke hutan yang tidak jauh dari
belakang rumah Wanto.
Beberapa
orang lagi pun mulai angkat bicara. Mereka bercerita perihal keberuntungannya
selepas mendengar nasihat Ki Jenggot baik-baik. Warga berdecak kagum. Lama-lama
warga tersadar dari keterpukauannya. Suasana pun berangsur jadi gaduh. Warga
yang sudah lama merindukan tumpukan rupiah merasa tak sabar bertemu dengan Ki
Jenggot dan meminta nasihatnya. Mereka rela diceramahi habis-habisan oleh orang
gila asalkan hoki. Warga kembali bubar
sembari tetap bergumam membicarakan ki Jenggot.
“Aku
menyesal pernah menyiram Ki Jenggot dengan air bekas cucian saat dia
menceramahiku.”
“Aku
kira ocehannya selama ini hanyalah omong kosong layaknya orang miring.”
“Andai
dia masih di surau, tentu aku tak perlu jauh-jauh ke kebun Lurah Karyo.”
***
Pada
awal kedatangannya, Ki Jenggot memang menghuni surau kampung sepi jama’ah selama
beberapa malam. Warga sempat gempar dengan kedatangannya. Dia seorang lelaki
tua berjengkot dengan rambut nyaris beruban semua. Pakainnya lusuh. Warga
menjulukinya Ki Jenggot karena dia memiliki Jenggot yang agak panjang.
Kesehariannya adalah beribadah di surau. Dia tak pernah mengganggu warga, hanya
saja suka berceramah, ngelantur tidak
jelas, memukul bedhug dan kenthongan tidak pada waktunya. Pernah Ki Jenggot
memukul bedhug dan kenthongan pukul sembilan pagi dan mengundang amarah warga.
Salah
seorang warga yang rumahnya terletak di samping surau persis sampai menghampirinya.
Dia berkata, “dasar orang gila! Ngapain
jam segini pukul bedhug? Subuh sudah lewat!” Dengan santai Ki Jenggot menjawab,
“kau yang gila! Jam segini baru datang ke surau. Subuh sudah lewat!” Orang
tersebut merasa kesal. Serasa dipermalukan oleh orang sinting. Dia tak berkata
apa-apa dan pergi begitu saja. Mau bagaimana lagi, apa yang diucapkan Ki
Jenggot memang benar. Surau tua itu sangat sepi dan makin sepi. Hanya Kyai Toha
yang sering berada di sana. Mungkin karena kondisi surau yang memrihatinkan,
membuat warga tak berminat datang atau bahkan mungkin mereka benar-benar tak
suka pergi ke surau.
Pada
suatu malam saat Ki Jenggot sedang berdzikir dengan mulut komat kamit, Kyai
Toha mengusirnya dari surau. Melihat penampilan dan tingkahnya, Kyai Toha
beranggapan Ki Jenggot bukan orang baik-baik. Kyai Toha khawatir orang-orang
bertambah enggan datang ke surau. Ki Jenggot hanya tersenyum. Dia tak memberi
perlawanan apa pun, langsung saja meninggalkan surau. Tak lupa dia memberi
salam ke Kyai Toha dan tetap disertai muka sumringahnya. Dia pergi menembus
malam tanpa arah dan tujuan pasti. Hanya mengikuti takdir yang ada. Kemana pun kakinya melangkah, dia
pasrah.
Beberapa
hari kemudian, Lurah Karyo menemukan Ki Jenggot tertidur di depan gubug, di
kebun kelapanya. Saat itu Lurah Karyo berniat menengok kebun. Kebetulan Wasmin
tukang kebunnya berhenti bekerja. Dia pergi merantau ke kota. Dua minggu
kemudian Lurah Karyo pun masih mendapati Ki Jenggot berada di sana. Duduk di
depan gubug. Tak ada yang janggal di
kebun selama Ki Jenggot berada di sana. Kebun kelapanya aman-aman saja. Lurah
Karyo yang tak sanggup merawat kebun sendiri akhirnya menyuruh Ki Jenggot untuk
merawatnya, toh selama ini Ki Jenggot
tak pernah berbuat yang aneh-aneh. Dia juga bukan orang gila yang mengerikan.
Tidak gila total. Mungkin lebih tepatnya orang aneh. Gila sudah pasti aneh.
Tapi, aneh belum tentu gila, begitu pikir Lurah Karyo. Dia juga
memperbolehkannya untuk menempati gubug di kebunnya. Ki Jenggot tidak meminta
balas jasa berupa uang. Dia hanya minta beras setengah karung perbulan. Itu
cukup untuk makan ki Jenggot yang rajin puasa Senin Kamis.
***
Kabar kemujaraban nasihat Ki
Jenggot sudah sampai ke telinga Lurah Karyo. Dia tak memedulikannya. Itu hanya
isapan jempol orang sinting yang
kebetulan sedang benar. Pikirannya sedang penuh dengan kegelisahan, tidak
ada ruang untuk memikirkan kemujaraban omongan Ki Jenggot. Lurah Karyo kini
tengah duduk di ruang tamu. Masih dipegangnya gagang telepon, meski sudah
terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon seberang ditutup. Dia baru
meletakan gagang telopon ketika ada orang mengetuk pintu depan rumahnya.
Rupanya itu adalah seorang pengemis yang meminta sedekah. Segera Lurah Karyo merogoh kantong celananya
dalam-dalam, mengambil koin kuning senilai
lima ratus rupiah.
“Blakk” Lurah Karyo menutup
pintu agak keras setelah si pengemis pergi. Dia kesal dengan ulah pengemis yang
sering meminta-minta ke rumahnya. Terlebih pikirannya saat itu tengah kacau. Dengan
muka masam, Lurah Karyo berjalan mondar mandir di ruang tamu, persis orang
linglung. Sejenak dia berdiri di depan pintu dan diraihnya gagang pintu,“krek”.
“Bapak
mau ke mana?” tanya istri Lurah Karyo.
“Ke kebun, bu. Sudah lama tidak
lihat kondisinya.”
Istri Lurah Karyo merasa keheranan.
Tumben sekali suaminya peduli dengan kebun. Selama ini suaminya hanya peduli
dengan uang dari hasil perkebunan. Jika uang lancar, maka Lurah Karyo tak perlu
menengok kebun. Untuk perawatan dia lebih memilih mempekerjakan tukang kebun,
bahkan untuk mengirit biaya dia samapai mempekerjakan Ki Jenggot yang
jelas-jelas tidak waras.
Jarak rumah ke kebun tidaklah terlalu jauh. Kurang lebih
tiga ratus meter. Lurah Karyo berjalan tergesa-gesa. Sesampainya di kebun, dia
duduk di kursi kayu depan gubug sembari mengatur nafas. Ki Jenggot yang tengah
memotongi rumput segera menghampirinya. Dia merasa senang tuannya datang.
“Assalamu’alaikum, Pak Haji,” ucap
Ki Jenggot. Dia terbiasa memanggil Lurah Karyo dengan sebutan Pak Haji. Padahal
Lurah Karyo sama sekali belum naik haji. Dia menyebutnya seperti itu karena saat
pertama kali bertemu di surau, Lurah karyo mengenakan koko putih, sarung putih,
dan peci putih. Putih dan bersih, sangat mencolok di antara beberapa orang yang
pergi ke surau saat itu, pakaian mereka kusam.
“Wa’alaikum salam,” jawab Lurah
Karyo.
“Tumben Pak Haji datang ke sini.”
“Hanya ingin menengok keadaan kebun
saja.”
“Tenang, kebun Pak Haji baik-baik
saja.”
Lurah Karyo pergi ke kebun
sebenarnya untuk menghindari kedatangan Pak Taslim dan Kyai Toha. Pak Taslim
dan Kyai Toha adalah pengurus rencana pengrenovasian surau. Tadi Pak Taslim menelpon, mereka
bakal datang ke rumah Lurah Karyo sore ini, membicarakan kelanjutan renovasi surau.
Uang sumbangan dari warga sudah terkumpul banyak di tangan Lurah Karyo. Tapi,
surau tak kunjung direnovasi. Lurah Karyo selalu mengatakan agar jangan
terburu-buru melakukan sesuatu. Dia berbelit dengan dalih menurut perhitungan
Jawa, bulan ini tidak baik untuk membangun. Lurah Karyo memang tak tahan
mengemban uang banyak. Rasanya gatal. Sebenarnya warga tidak serta merta memercayakan
uang itu dipegang oleh Lurah Karyo. Selain dia jelas-jelas lurah, dia juga
orang yang terkadang menyempatkan diri ke surau, meski maksud Lurah Karyo hanya
untuk pencitraan. Dia juga sering menjedot-jedotkan kepalanya ke tembok agar
nampak tanda hitam dijidatnya.
“Pak haji kenapa? Kok bengong?”
tanya Ki Jenggot, memecahkan lamunan Lurah Karyo.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya lapar
dan haus. Tolong petikan satu buah kelapa muda yang bagus untukku! Pokoknya yang
daging buahnya enak dan airnya segar .”
Dengan sigap Ki Jenggot langsung
memanjat salah satu pohon kelapa. Dia memuntir-puntir buah kelapa agar tanggal
dari pohonnya. Dijatuhkannya satu buah dan Ki Jenggot segera turun. Dengan
parang Ki Jenggot mulai membuka salah satu ujung kelapa. Dia membukanya agak
lebar supaya Lurah Karyo bisa menikmati daging buahnya juga. Dia masuk ke dalam
gubug, diambilnya sendok lalu mempersilakan lurah Karyo untuk menikmati buah
kelapa itu.
“Ini
tidak enak. Airnya terasa hambar. Daging buahnya juga kaku”
“Sebentar,
Pak Haji, saya petikan yang lainya lagi.”
Kelapa
ke dua yang dipetikan Ki Jenggot pun tidak jauh beda. Pilihan Ki Jenggot tak
sesuai harapan Lurah Karyo “Airnya memang agak segar, tapi daging buahnya terlalu
tipis. Ini terlalu muda,” keluh Lurah Karyo.
“Oh,
ya? Tunggu sebentar, saya carikan lagi.”
Setelah
dipetikan kelapa yang ke tiga, Lurah Karyo hanya memandangi kelapa itu. Dia tak
meminumnya, tapi langsung membelahnya dengan parang. Dicukilnya secuil daging
buah kelapa dari tempurungnya, “Lihat Ki Jenggot! Dagingnya sudah keras dan
tebal. Ini sudah tua. Pasti tidak enak.”
“Baik,
saya akan mencarinya lagi.”
“Sudah.
Tidak usah! Ki Jenggot ini bagaimana? Tidak becus! Masa sudah hampir tiga
bulanan di kebun kelapaku, tapi tidak tahu mana kelapa muda yang bagus dengan
yang tidak.”
“Maaf Pak Haji, selama saya di sini, saya
belum pernah mendapat izin untuk memakan buah kelapa yang ada. Jadi, saya tidak
tahu seperti apakah kelapa muda yang bagus dan yang tidak.” Lurah Karyo
terdiam, dia kaget dengan pernyataan Ki Jenggot yang rasanya sulit dipercaya itu.
“Pak
Haji kenapa? Apa kecewa dengan buah kelapa yang saya ambilkan?”
“Tidak.”
“Pak
Haji tidak wajib bercerita kepada saya, tapi jika Pak Haji ingin bercerita,
saya siap mewajibkan diri untuk
mendengarnya,“ ucap Ki Jenggot dengan bahasa yang cukup ruwet didengar.
“Saya
sedang merasa kesal dengan orang-orang yang suka seenaknya saja.”
“Seenaknya
bagaimana, Pak
Haji? Bisakah Pak Haji bicara dengan bahasa yang lebih jelas?”
Dalam
hati Lurah Karyo menggerutu, “sial! Kayak omongannya
lebih jelas
saja!” Lurah Karyo menghela nafas pelan dan berkata, “mentang-mentang saya
lurah, orang-orang kerap datang minta sumbangan, utang, ngemis dengan alasan minta sedekah. Demi citraku sebagai lurah, mau
tidak mau kukasih.”
“Tapi
memang nyatanya Pak Haji ini orang kaya.”
“Kaya
juga ada usahanya, Ki Jenggot. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku jatuh
miskin.”
“Lalu
apa yang Pak Haji inginkan?”
“Aku
ingin mereka berhenti mengejar-ngejarku. Aku capek dimintai sumbangan, utang,
dan sejenisnya. Tapi, bagaimana? Aku tidak tahu caranya. Ruwet!”
“Saya
Tahu.”
“Ah,
tak usah bercanda.”
“Serius!
Saya tahu caranya. Di jamin ampuh!”
“Memang apa?”
“Memang apa?”
“Orang
kampung Randu ini sedang krisis iman. Rezekinya
jadi sempit.”
“Lalu?”
“Bangunlah
masjid yang layak untuk orang-orang, pelataran yang luas dan fasilitas yang
memadai agar mereka rajin beribadah. Dengan begitu, do’a mereka dapat di dengar oleh Yang Maha
Kuasa dan dilancarkan rezekinya. Surau di kampung ini sudah tua dan terlalu
kecil. Semoga kampung ini mujur.”
Lurah
Karyo menggangguk-angguk seolah membenarkan perkataan Ki Jenggot. Memang benar,
suaru di kampung keadaannya sudah memrihatinkan. Orang-orang jarang beribadah. Moral
mereka jadi bobrok, jadi pemalas, malas mikir,
malas kerja. Akhirnya utang, minta-minta bahkan maling. Lurah Karyo juga
berpikir, itu bisa membuat citra Lurah Karyo naik. Sebentar lagi masa
jabatannya habis. Dia berniat ingin mencalonkan diri lagi, mungkin saja cara
itu bisa membuat warganya luluh dan memilihnya kembali. Dia akan memugar surau
menjadi masjid. Dia juga akan memberitahu warga, bahwa sebagian besar dana
pembangunan berasal darinya, termasuk tanah untuk perluasan.
***
Satu
tahun berlalu, proyek pembangun masjid akhirnya selesai. Masjid berdiri dengan
gagah. Orang-orang jadi gemar beribadah dan suasana kampung menjadi damai.
Memang benar apa kata Ki Jenggot, tidak ada lagi orang yang datang meminta
sumbangan, sedekah ataupun pinjaman ke Lurah
Karyo. Tapi, bukan karena mendadak orang-orang hidup berkecukupan, melainkan Lurah
Karyo jatuh miskin. Dia membangun masjid secara besar-besaran. Dia juga gagal
mencalon lurah untuk periode selanjutnya. Modalnya tidak cukup. Lurah Karyo
marah besar. Dia pergi ke kebun kelapanya dengan membawa celurit, mencari Ki
jenggot.
“Ki
jenggotoooootttt! Di mana kau, Ki Jengot! Keluarlah! Dasar orang gila!” teriak
Lurah Karyo. Didobraknya pintu gubug, namun tidak ada Ki Jenggot. Sepertinya Ki
Jenggot sudah pergi beberapa hari yang lalu. Terlihat meja dan dipan lapuknya
sudah agak berdebu.
Selang
beberapa minggu, perkebunan kelapa lurah Karyo disita oleh debt collector. Rupanya dia terlilit utang untuk pembangunan
masjid. Wajarlah hartanya hilang. Sebagian besar kekayaannnya adalah hasil
penyelewengan. Uang renovasi surau, uang pembangunan jembatan, proyek
penghijauan, Program bantuan Raskin. Sudah banyak hak yang bukan miliknya. Selang beberapa hari kemudian Lurah Karyo
jatuh sakit. Lumpuh karena stroke. Sedangkan Ki Jenggot terus berkelana.
Melewati hutan, sungai dan jalan mana pun yang ingin dia lewati, bersama senyum
bahagianya yang tak pernah luntur. Alam seolah mengizinkan Ki Jenggot untuk
terus menjamahnya.
***
Suatu
hari diantara gerimis yang berjatuhan kala sore, Ki Jenggot muncul kembali di
kampung Randu, tepatnya di depan gerbang masjid. Berdiri, mengangguk-anggukan
kepala sembari terkekeh-kekeh senang.
“Ki
Jenggot, kau mau apa lagi datang kemari? Sudah pergi sana! Jangan buat orang-orang
takut datang ke masjid!” kata Kyai Toha yang hendak masuk melewati gerbang.
Ki
Jenggot tertawa kecil. “Assalamu’alaikum, Pak Kyai,” ucap Ki Jenggot. Kyai Toha
tak menjawabnya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Lagi-lagi Ki
Jenggot tidak melakukan perlawanan apa pun. Dia hanya mengangguk-angguk sembari
senyam-senyum tak jelas lalu pergi menembus gerimis. Gerimis putih yang
menaburi senja, membuat hari semakin tua, semakin gelap. Ki Jenggot kembali
mengikuti kemana tanah menarik kakinya, menjalani hidup dengan bahagia.
Semenjak
itu tidak ada yang tahu ke mana perginya Ki Jenggot. Sehari setelah Ki Jenggot
diusir, Kyai Toha jatuh sakit. Dia terus mengigau memanggil nama Ki Jenggot. Warga
pun saling melempar tanya: kapan lagi kampung Randu kedatangan tamu istimewa.
Purbalingga,
Agustus 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar