Gerimis,
Tetesan Cerita yang Jatuh dari Langit
Hujan
dan gerimis memang terlahir dari mendung yang sama. Namun, bagiku langit lebih
banyak menjatuhkan cerita bersama gerimis. Saat masih kecil, aku sempat merasa
kesal dengan datangnya gerimis. Serupa hujan yang tak terlalu basah. Orang
tuaku melarangku keluar rumah. Bisa jadi demam dan flu menderaku ketika aku
bermain di bawah rintik gerimis apalagi hujan. Sebagai anak yang percaya dengan
dongeng Malin Kundang, tentu aku menurut saja. Aku tak mau dikutuk menjadi batu
karena durhaka.
Aku
hanya bisa berdiri di depan jendela kaca, di ruang tamu. Memandangi rerumputan
dan bunga-bunga di halaman yang terlihat
gembira dengan datangnya air dari langit. Tenyata berdiam diri di dalam rumah
bagiku tak buruk. Bukankah terkadang gerimis mengundang pelangi, muncul setelah
rintik-rintik kecil menjenguknya? Ini semacam uji kesabaran. Jika aku sabar,
mungkin di beberapa tetes terakhir hujan akan menampakan pelangi.
Saat
aku tumbuh remaja, gerimis sering menyulapku mendadak menjadi gadis melankolis.
Terlebih gerimis yang turun di waktu senja. Tetesan ringkih yang berjatuhan di
genting, selalu mengetuk-ketuk rasa yang sangat menyesakkan untuk dikenang.
Rasa ini sebenarnya sederhana saja.
Hadir ketika seorang lelaki melintas di hadapanku, menyerbakan aroma parfum
yang biasa kaugunakan. Iya, kau! Lelaki yang tak usah kusebut namanya. Rasa ini
sungguh sederhana. Terlintas ketika aku merenung di malam hari sembari memutar
lagu kesukaan kita dulu. Benar-benar sederhana, namun diam-diam menjadi rumit
ketika kau tak melakukan apa yang kulakukan. Sial, pada ujungnya gerimis selalu
menawarkan ingatan kebencian tentangmu.
Dan
ketika aku mulai tumbuh dewasa, gerimis serupa alarm waktu dari alam. Tiap
tetesnya mengantarkanku kembali menerobos mesin waktu, menyudutkanku ke dalam
labirin buram. Aku tak boleh tersesat lagi dari ruang-ruang itu. Gerimis juga
mengajariku, bahwa ketika ia dijatuhkan dibumi, bisa jadi ia mengembun beberapa
saat di dedaunan atau menggenang di lubang-lubang jalan sebelum lenyap, menguap
terkena panas matahari. Mungkin juga dia jatuh ke tanah dan meresap hilang
begitu saja. Kemungkinan lainnya, ia mengalir perlahan hingga dia menemui muara
terakhirnya. Yang jelas ia akan kembali ke langit dan beristirahat sejenak,
hingga Tuhan membangunkannya dan menjatuhkannya ke tempat yang masih menjadi
rahasia sebelum waktunya tiba.
Gerimis.
Entah hujan lebat, sedang, biasa, bercampur angin kencang, kilatan dan gemuruh
petir, hujan selalu diakhiri secara pelan-pelan, berupa gerimis. Gerimis yang
mengajariku meneteskan air mata dengan amat sangat perlahan, hingga tiada
telinga lain kecuali malaikat di kedua bahuku yang mampu mendengarnya.
Sebenarnya aku terlampau lelah melekatkan hal berbau kesedihan dalam gerimis di
tiap ujung tulisan ini. Orang-orang pun barangkali bosan, didera kebasahan tiap
kali selesai membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar