Minggu, 26 Januari 2014

JUARA I LOMBA MENULIS GERIMIS VOKAL INSTITUTE (ViS)



Gerimis, Tetesan Cerita yang Jatuh dari Langit

Hujan dan gerimis memang terlahir dari mendung yang sama. Namun, bagiku langit lebih banyak menjatuhkan cerita bersama gerimis. Saat masih kecil, aku sempat merasa kesal dengan datangnya gerimis. Serupa hujan yang tak terlalu basah. Orang tuaku melarangku keluar rumah. Bisa jadi demam dan flu menderaku ketika aku bermain di bawah rintik gerimis apalagi hujan. Sebagai anak yang percaya dengan dongeng Malin Kundang, tentu aku menurut saja. Aku tak mau dikutuk menjadi batu karena durhaka.
Aku hanya bisa berdiri di depan jendela kaca, di ruang tamu. Memandangi rerumputan dan bunga-bunga di halaman  yang terlihat gembira dengan datangnya air dari langit. Tenyata berdiam diri di dalam rumah bagiku tak buruk. Bukankah terkadang gerimis mengundang pelangi, muncul setelah rintik-rintik kecil menjenguknya? Ini semacam uji kesabaran. Jika aku sabar, mungkin di beberapa tetes terakhir hujan akan menampakan pelangi.
Saat aku tumbuh remaja, gerimis sering menyulapku mendadak menjadi gadis melankolis. Terlebih gerimis yang turun di waktu senja. Tetesan ringkih yang berjatuhan di genting, selalu mengetuk-ketuk rasa yang sangat menyesakkan untuk dikenang. Rasa ini sebenarnya  sederhana saja. Hadir ketika seorang lelaki melintas di hadapanku, menyerbakan aroma parfum yang biasa kaugunakan. Iya, kau! Lelaki yang tak usah kusebut namanya. Rasa ini sungguh sederhana. Terlintas ketika aku merenung di malam hari sembari memutar lagu kesukaan kita dulu. Benar-benar sederhana, namun diam-diam menjadi rumit ketika kau tak melakukan apa yang kulakukan. Sial, pada ujungnya gerimis selalu menawarkan ingatan kebencian tentangmu.
Dan ketika aku mulai tumbuh dewasa, gerimis serupa alarm waktu dari alam. Tiap tetesnya mengantarkanku kembali menerobos mesin waktu, menyudutkanku ke dalam labirin buram. Aku tak boleh tersesat lagi dari ruang-ruang itu. Gerimis juga mengajariku, bahwa ketika ia dijatuhkan dibumi, bisa jadi ia mengembun beberapa saat di dedaunan atau menggenang di lubang-lubang jalan sebelum lenyap, menguap terkena panas matahari. Mungkin juga dia jatuh ke tanah dan meresap hilang begitu saja. Kemungkinan lainnya, ia mengalir perlahan hingga dia menemui muara terakhirnya. Yang jelas ia akan kembali ke langit dan beristirahat sejenak, hingga Tuhan membangunkannya dan menjatuhkannya ke tempat yang masih menjadi rahasia sebelum waktunya tiba.
Gerimis. Entah hujan lebat, sedang, biasa, bercampur angin kencang, kilatan dan gemuruh petir, hujan selalu diakhiri secara pelan-pelan, berupa gerimis. Gerimis yang mengajariku meneteskan air mata dengan amat sangat perlahan, hingga tiada telinga lain kecuali malaikat di kedua bahuku yang mampu mendengarnya. Sebenarnya aku terlampau lelah melekatkan hal berbau kesedihan dalam gerimis di tiap ujung tulisan ini. Orang-orang pun barangkali bosan, didera kebasahan tiap kali selesai membacanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar