Senin, 24 Februari 2014

Antologi Puisi Nyayian Parau Bocah Jalanan- Alif Gemilang Pressindo


SEPENGGAL CERITA

Ketika langkah kaki tergesa memenuhi trotoar
Dan suara klakson kendaraan mengapung di jalanan
Bagiku bekal pasti setiap pagi hanyalah sepenggal do’a
Teringat dongeng ibu tercinta agar aku tak berputus asa
Kisah haru tentang basah keringnya keringat di tubuh ayah
Dan ketika waktu memeluk mereka menjadi debu
Aku di sini hidup dalam beberapa penggal irama lagu
Menyudut di antara gedung-gedung berbentuk kubis, menjulang  menyundul langit
Berkelana di sepanjang jalan yang bagiku penuh penghidupan
Entah seberapa pekat hitam di paru-paru yang telah sesak oleh asap kendaraan
Seberapa pun orang memandangku tegar
Aku hanyalah bocah yang ingin dipeluk ibu saat demam mendera
Dan dilindungi ayah saat terjadi bahaya
Aku belum dewasa, tak banyak mengerti kata-kata bagus dan indah untuk dilantunkan menjadi harapan dalam do’a
Apapun yang terjadi maka terjadilah...
Ini hanya sepenggal cerita sederhana tentangku dan jalan yang masih membujur panjang di hadapan...

Dina Ahsanta Puri
Semarang, 16-10-2013

Minggu, 26 Januari 2014

JUARA I LOMBA MENULIS GERIMIS VOKAL INSTITUTE (ViS)



Gerimis, Tetesan Cerita yang Jatuh dari Langit

Hujan dan gerimis memang terlahir dari mendung yang sama. Namun, bagiku langit lebih banyak menjatuhkan cerita bersama gerimis. Saat masih kecil, aku sempat merasa kesal dengan datangnya gerimis. Serupa hujan yang tak terlalu basah. Orang tuaku melarangku keluar rumah. Bisa jadi demam dan flu menderaku ketika aku bermain di bawah rintik gerimis apalagi hujan. Sebagai anak yang percaya dengan dongeng Malin Kundang, tentu aku menurut saja. Aku tak mau dikutuk menjadi batu karena durhaka.
Aku hanya bisa berdiri di depan jendela kaca, di ruang tamu. Memandangi rerumputan dan bunga-bunga di halaman  yang terlihat gembira dengan datangnya air dari langit. Tenyata berdiam diri di dalam rumah bagiku tak buruk. Bukankah terkadang gerimis mengundang pelangi, muncul setelah rintik-rintik kecil menjenguknya? Ini semacam uji kesabaran. Jika aku sabar, mungkin di beberapa tetes terakhir hujan akan menampakan pelangi.
Saat aku tumbuh remaja, gerimis sering menyulapku mendadak menjadi gadis melankolis. Terlebih gerimis yang turun di waktu senja. Tetesan ringkih yang berjatuhan di genting, selalu mengetuk-ketuk rasa yang sangat menyesakkan untuk dikenang. Rasa ini sebenarnya  sederhana saja. Hadir ketika seorang lelaki melintas di hadapanku, menyerbakan aroma parfum yang biasa kaugunakan. Iya, kau! Lelaki yang tak usah kusebut namanya. Rasa ini sungguh sederhana. Terlintas ketika aku merenung di malam hari sembari memutar lagu kesukaan kita dulu. Benar-benar sederhana, namun diam-diam menjadi rumit ketika kau tak melakukan apa yang kulakukan. Sial, pada ujungnya gerimis selalu menawarkan ingatan kebencian tentangmu.
Dan ketika aku mulai tumbuh dewasa, gerimis serupa alarm waktu dari alam. Tiap tetesnya mengantarkanku kembali menerobos mesin waktu, menyudutkanku ke dalam labirin buram. Aku tak boleh tersesat lagi dari ruang-ruang itu. Gerimis juga mengajariku, bahwa ketika ia dijatuhkan dibumi, bisa jadi ia mengembun beberapa saat di dedaunan atau menggenang di lubang-lubang jalan sebelum lenyap, menguap terkena panas matahari. Mungkin juga dia jatuh ke tanah dan meresap hilang begitu saja. Kemungkinan lainnya, ia mengalir perlahan hingga dia menemui muara terakhirnya. Yang jelas ia akan kembali ke langit dan beristirahat sejenak, hingga Tuhan membangunkannya dan menjatuhkannya ke tempat yang masih menjadi rahasia sebelum waktunya tiba.
Gerimis. Entah hujan lebat, sedang, biasa, bercampur angin kencang, kilatan dan gemuruh petir, hujan selalu diakhiri secara pelan-pelan, berupa gerimis. Gerimis yang mengajariku meneteskan air mata dengan amat sangat perlahan, hingga tiada telinga lain kecuali malaikat di kedua bahuku yang mampu mendengarnya. Sebenarnya aku terlampau lelah melekatkan hal berbau kesedihan dalam gerimis di tiap ujung tulisan ini. Orang-orang pun barangkali bosan, didera kebasahan tiap kali selesai membacanya.

JUARA I LOMBA MENULIS CERPEN PROFETIK ANTAR MAHASISWA SE-INDONESIA--UHAMKA BEKERJASAMA DENGAN LEMBAGA SENI BUDAYA DAN OLAHRAGA PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH



TAMU ISTIMEWA KAMPUNG RANDU


Terkadang orang waras tidak lebih baik daripada orang gila, ketika orang waras memiliki nafsu yang lebih gila dari orang gila. Orang gila tidak akan menyembunyikan kegilaannya. Berbeda dengan orang waras yang selalu menutupi kegilaannya dengan hal-hal yang wajar. Orang gila diasingkan karena kegilaanya, sementara orang waras mencoba mengasingkan diri sebab kegilaanya. Banyak orang gila dicerca karena suka tertawa dan berjalan-jalan tak jelas. Lalu bagaimana dengan orang waras yang penuh kegirangan, berjalan ke tempat hiburan malam? Orang gila selalu diumpat sebab tak mengenakan pakaian. Lalu bagaimana dengan orang waras yang sengaja menutup tubuhnya dengan pakaian seminimal mungkin? Ternyata kehidupan yang tak berharfiah mampu menghajar batin, menumpulkan kata hati dan memutuskan beberapa urat otak manusia waras. Bisa saja orang waras diantara kita ada yang diam-diam gila.
Sebut saja kampung Randu tengah kedatangan tamu istimewa: orang gila. Dia bukan orang gila biasa. Tak seperti orang gila yang pernah meresahkan warga beberapa waktu lalu, membuat eyang Astro yang agak bongkok  mengomel-ngomel, berkeliling ke sepenjuru kampung; seakan ingin menyiarkan kekesalan dengan suara selantang toa masjid agung di kota. Pelataran rumahnya diberaki Darno, orang gila dari kampung seberang. Sungguh tak seperti itu. Percayalah! Cerita orang gila kali ini berbeda. Dia benar-benar istimewa. Selain rajin beribadah juga dianggap sakti mandraguna. Boleh jadi ungkapan yang menyelubunginya semacam doa yang dipanjatkan. Ucapannya sarat makna, bahkan membawa peruntungan.
Asal muasalnya yang tak diketahui membuat warga beranggapan dia adalah orang gila pengembara. Mungkin sepanjang perjalanannya, dia mencari kesaktian dari segala penjuru nusantara. Menemui datuk-datuk dan daeng-daeng sakti, mbah-mbah berjenggot putih panjang, kyai-kyai bersorban, serta orang-orang tua berilmu lainnya. Membuat dia kelebihan ilmu lalu gila, begitu pikir warga.
Kini warga mulai tergila-gila dengan orang gila yang biasa dikenal dengan nama Ki Jenggot. Tak jarang banyak orang menghampiri gubug Ki Jenggot di kebun kelapa Lurah Karyo. Mereka cukup duduk dan mendengarkan nasihatnya. Di saat itu mereka akan mulai menerka-nerka, mencari makna tersirat dan menghubung-hubungkan omongan itu untuk medapatkan peruntungan.
***
“Aku kaya! Aku kaya! Ki Jenggot memang hebat! Dia benar-benar Sakti!” seru Pujo yang menjadi awal kisah keistimewaan nasihat Ki Jenggot. Siang itu warga segera mengerubung Pujo yang tengah berjalan membawa segepok uang. Ada yang takjub, kagum, curiga, bahkan langsung mendakwa.
“Ya ampun, uang! Banyak sekali!”
“Wah, Jo,  nyolong mana kamu?”
“Jangan-jangan kamu melakukan pesugihan ya, Jo?”
“Ini berkat nasihatnya Ki Jenggot! Dia bukan orang sinting biasa! lotreku tembus berkat dia!” jelas Pujo. Pemuda penganguran itu bercerita bahwa tadi pagi dia melewati kebun kelapa Lurah Karyo. Di sana dia bertemu Ki Jenggot. Terlihat Ki Jenggot tengah mengkhotbahi tupai-tupai agar tidak mencuri kelapa Lurah Karyo. Entah berapa tupai yang sudah dijejali ceramah dan nasihat olehnya. Dia hanya menjalankan pesan tuannya yang tidak lain Lurah Karyo untuk menjaga kebun. Sudah sekitar tiga bulanan Ki jenggot merawat kebun itu.
Iseng-iseng Pujo singgah di gubug dan berbincang dengan Ki Jenggot.  Percakapan yang awalnya tanpa arah akhirnya bermuara pada curahan hati Pujo. Entah apa yang dipikirkan Pujo sampai dia bercerita kepada pendengar sinting. Dia hanya butuh tempat berbagi cerita. Kantong kering nyaris mencekik lehernya.
“Andai aku menang lotre, bisa mendadak kaya aku!” ucap Pujo
“Kamu bisa kaya.”
“Maksud Ki Jenggot?”
“Banyak beribadah. Berdo’alah kepada Allah ta’ala. Berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibumu! Do’a ibu itu keramat lho!” tutur Ki Jenggot seakan lebih waras dari Pujo.
“Emak sudah lama mati, Ki!”
“Nah, kirimilah dia do’a. Rawat makamnya. Niscaya do’amu akan jadi penerang kuburnya. Ini malam Jum’at. Hari yang baik untuk mengirimi do’a. Lekas tengoklah makamnya. Semoga kamu mujur!”
Awalnya Pujo merasa kesal karena diceramahi dan dinasihati orang sinting. Tapi, ucapan Ki Jenggot serupa mantra yang membiusnya. Setelah mencoba bersabar mendengarkan beberapa saat, perkataan itu benar-benar menggetarkan hati Pujo. Dakwah menggebu-gebu dari  kyai, ataupun alim ulama saja jarang diresapi pendengarnya. Hanya membuat kepala mereka mengangguk-angguk serupa boneka di dashbor mobil.
Pada akhirnya Pujo memutuskan untuk pergi menengok makam emaknya. Keadaannya betul-betul memrihatinkan. Sebagian permukaan lantai retak karena pondasinya amblas. Usai membersihkan makam dan berdo’a, Pujo mencium nisan emaknya. Namun, entah keisengan dari mana lagi yang didapat Pujo. Dia melihat angka kematian emaknya itu unik. Tanggal sembilan belas, bulan sembilan, tahun sembilan satu. Segera dia pergi ke kota membeli nomor lotre. Nomornya tembus!
“Itu hanya kebetulan saja, tidak ada hubungannya!” kata salah seorang warga.
“Tapi benar apa yang dikatakan Pujo. Omongan Ki Jenggot memang bawa hoki,” ucap Wanto seorang hansip yang seketika itu menjadi pusat perhatian. Kemarin dia juga diceramahi Ki Jenggot. Jalu, ayam jago kesayangannya hilang. Dicarinya sampai ke kebun kelapa Lurah Karyo. Biasanya Jalu main di kebun itu. Mengetahui Wanto tengah pusing mencari ayamnya yang hilang, Ki Jenggot langsung menceramahinya dengan sejumlah nasihat. Dilantunkannya beberapa potong ayat. Ki Jenggot menyuruh Wanto untuk mengikhlaskan Jalu. Dia juga mendo’akan  agar Allah memberi ganti yang lebih baik. Wanto pun mengikhlaskan Jalu. Keesokan harinya, si Jalu pulang bersama empat ayam betina hutan. Rupanya Jalu habis berkelana ke hutan yang tidak jauh dari belakang rumah Wanto.
Beberapa orang lagi pun mulai angkat bicara. Mereka bercerita perihal keberuntungannya selepas mendengar nasihat Ki Jenggot baik-baik. Warga berdecak kagum. Lama-lama warga tersadar dari keterpukauannya. Suasana pun berangsur jadi gaduh. Warga yang sudah lama merindukan tumpukan rupiah merasa tak sabar bertemu dengan Ki Jenggot dan meminta nasihatnya. Mereka rela diceramahi habis-habisan oleh orang gila asalkan hoki.  Warga kembali bubar sembari tetap bergumam membicarakan ki Jenggot.
“Aku menyesal pernah menyiram Ki Jenggot dengan air bekas cucian saat dia menceramahiku.”
“Aku kira ocehannya selama ini hanyalah omong kosong layaknya orang miring.”
“Andai dia masih di surau, tentu aku tak perlu jauh-jauh ke kebun Lurah Karyo.”
***
Pada awal kedatangannya, Ki Jenggot memang menghuni surau kampung sepi jama’ah selama beberapa malam. Warga sempat gempar dengan kedatangannya. Dia seorang lelaki tua berjengkot dengan rambut nyaris beruban semua. Pakainnya lusuh. Warga menjulukinya Ki Jenggot karena dia memiliki Jenggot yang agak panjang. Kesehariannya adalah beribadah di surau. Dia tak pernah mengganggu warga, hanya saja suka berceramah, ngelantur tidak jelas, memukul bedhug dan kenthongan tidak pada waktunya. Pernah Ki Jenggot memukul bedhug dan kenthongan pukul sembilan pagi dan mengundang amarah warga.
Salah seorang warga yang rumahnya terletak di samping surau persis sampai menghampirinya. Dia berkata, “dasar orang gila! Ngapain jam segini pukul bedhug? Subuh sudah lewat!” Dengan santai Ki Jenggot menjawab, “kau yang gila! Jam segini baru datang ke surau. Subuh sudah lewat!” Orang tersebut merasa kesal. Serasa dipermalukan oleh orang sinting. Dia tak berkata apa-apa dan pergi begitu saja. Mau bagaimana lagi, apa yang diucapkan Ki Jenggot memang benar. Surau tua itu sangat sepi dan makin sepi. Hanya Kyai Toha yang sering berada di sana. Mungkin karena kondisi surau yang memrihatinkan, membuat warga tak berminat datang atau bahkan mungkin mereka benar-benar tak suka pergi ke surau.
Pada suatu malam saat Ki Jenggot sedang berdzikir dengan mulut komat kamit, Kyai Toha mengusirnya dari surau. Melihat penampilan dan tingkahnya, Kyai Toha beranggapan Ki Jenggot bukan orang baik-baik. Kyai Toha khawatir orang-orang bertambah enggan datang ke surau. Ki Jenggot hanya tersenyum. Dia tak memberi perlawanan apa pun, langsung saja meninggalkan surau. Tak lupa dia memberi salam ke Kyai Toha dan tetap disertai muka sumringahnya. Dia pergi menembus malam tanpa arah dan tujuan pasti. Hanya mengikuti takdir  yang ada. Kemana pun kakinya melangkah, dia pasrah.
Beberapa hari kemudian, Lurah Karyo menemukan Ki Jenggot tertidur di depan gubug, di kebun kelapanya. Saat itu Lurah Karyo berniat menengok kebun. Kebetulan Wasmin tukang kebunnya berhenti bekerja. Dia pergi merantau ke kota. Dua minggu kemudian Lurah Karyo pun masih mendapati Ki Jenggot berada di sana. Duduk di depan gubug.  Tak ada yang janggal di kebun selama Ki Jenggot berada di sana. Kebun kelapanya aman-aman saja. Lurah Karyo yang tak sanggup merawat kebun sendiri akhirnya menyuruh Ki Jenggot untuk merawatnya, toh selama ini Ki Jenggot tak pernah berbuat yang aneh-aneh. Dia juga bukan orang gila yang mengerikan. Tidak gila total. Mungkin lebih tepatnya orang aneh. Gila sudah pasti aneh. Tapi, aneh belum tentu gila, begitu pikir Lurah Karyo. Dia juga memperbolehkannya untuk menempati gubug di kebunnya. Ki Jenggot tidak meminta balas jasa berupa uang. Dia hanya minta beras setengah karung perbulan. Itu cukup untuk makan ki Jenggot yang rajin puasa Senin Kamis.
***
                    Kabar kemujaraban nasihat Ki Jenggot sudah sampai ke telinga Lurah Karyo. Dia tak memedulikannya. Itu hanya isapan jempol orang sinting  yang kebetulan sedang benar.  Pikirannya sedang penuh dengan kegelisahan, tidak ada ruang untuk memikirkan kemujaraban omongan Ki Jenggot. Lurah Karyo kini tengah duduk di ruang tamu. Masih dipegangnya gagang telepon, meski sudah terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon seberang ditutup. Dia baru meletakan gagang telopon ketika ada orang mengetuk pintu depan rumahnya. Rupanya itu adalah seorang pengemis yang meminta sedekah. Segera Lurah Karyo merogoh kantong celananya dalam-dalam, mengambil  koin kuning senilai lima ratus rupiah.
                     Blakk”  Lurah Karyo menutup pintu agak keras setelah si pengemis pergi. Dia kesal dengan ulah pengemis yang sering meminta-minta ke rumahnya. Terlebih pikirannya saat itu tengah kacau. Dengan muka masam, Lurah Karyo berjalan mondar mandir di ruang tamu, persis orang linglung. Sejenak dia berdiri di depan pintu dan diraihnya gagang pintu,“krek”.
“Bapak mau ke mana?” tanya istri Lurah Karyo.
            “Ke kebun, bu. Sudah lama tidak lihat kondisinya.”
            Istri Lurah Karyo merasa keheranan. Tumben sekali suaminya peduli dengan kebun. Selama ini suaminya hanya peduli dengan uang dari hasil perkebunan. Jika uang lancar, maka Lurah Karyo tak perlu menengok kebun. Untuk perawatan dia lebih memilih mempekerjakan tukang kebun, bahkan untuk mengirit biaya dia samapai mempekerjakan Ki Jenggot yang jelas-jelas tidak waras.
            Jarak rumah ke kebun tidaklah terlalu jauh. Kurang lebih tiga ratus meter. Lurah Karyo berjalan tergesa-gesa. Sesampainya di kebun, dia duduk di kursi kayu depan gubug sembari mengatur nafas. Ki Jenggot yang tengah memotongi rumput segera menghampirinya. Dia merasa senang tuannya datang.
            “Assalamu’alaikum, Pak Haji,” ucap Ki Jenggot. Dia terbiasa memanggil Lurah Karyo dengan sebutan Pak Haji. Padahal Lurah Karyo sama sekali belum naik haji. Dia menyebutnya seperti itu karena saat pertama kali bertemu di surau, Lurah karyo mengenakan koko putih, sarung putih, dan peci putih. Putih dan bersih, sangat mencolok di antara beberapa orang yang pergi ke surau saat itu, pakaian mereka kusam.
            “Wa’alaikum salam,” jawab Lurah Karyo.
            “Tumben Pak Haji datang ke sini.”
            “Hanya ingin menengok keadaan kebun saja.”
            “Tenang, kebun Pak Haji baik-baik saja.”
            Lurah Karyo pergi ke kebun sebenarnya untuk menghindari kedatangan Pak Taslim dan Kyai Toha. Pak Taslim dan Kyai Toha adalah pengurus rencana pengrenovasian surau. Tadi Pak Taslim menelpon, mereka bakal datang ke rumah Lurah Karyo sore ini, membicarakan kelanjutan renovasi surau. Uang sumbangan dari warga sudah terkumpul banyak di tangan Lurah Karyo. Tapi, surau tak kunjung direnovasi. Lurah Karyo selalu mengatakan agar jangan terburu-buru melakukan sesuatu. Dia berbelit dengan dalih menurut perhitungan Jawa, bulan ini tidak baik untuk membangun. Lurah Karyo memang tak tahan mengemban uang banyak. Rasanya gatal. Sebenarnya warga tidak serta merta memercayakan uang itu dipegang oleh Lurah Karyo. Selain dia jelas-jelas lurah, dia juga orang yang terkadang menyempatkan diri ke surau, meski maksud Lurah Karyo hanya untuk pencitraan. Dia juga sering menjedot-jedotkan kepalanya ke tembok agar nampak tanda hitam dijidatnya.
            “Pak haji kenapa? Kok bengong?” tanya Ki Jenggot, memecahkan lamunan Lurah Karyo.
            “Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya lapar dan haus. Tolong petikan satu buah kelapa muda yang bagus untukku! Pokoknya yang daging buahnya enak dan airnya segar .”
            Dengan sigap Ki Jenggot langsung memanjat salah satu pohon kelapa. Dia memuntir-puntir buah kelapa agar tanggal dari pohonnya. Dijatuhkannya satu buah dan Ki Jenggot segera turun. Dengan parang Ki Jenggot mulai membuka salah satu ujung kelapa. Dia membukanya agak lebar supaya Lurah Karyo bisa menikmati daging buahnya juga. Dia masuk ke dalam gubug, diambilnya sendok lalu mempersilakan lurah Karyo untuk menikmati buah kelapa itu.
“Ini tidak enak. Airnya terasa hambar. Daging buahnya juga kaku”
“Sebentar, Pak Haji, saya petikan yang lainya lagi.”
Kelapa ke dua yang dipetikan Ki Jenggot pun tidak jauh beda. Pilihan Ki Jenggot tak sesuai harapan Lurah Karyo “Airnya memang agak segar, tapi daging buahnya terlalu tipis. Ini terlalu muda,” keluh Lurah Karyo.
“Oh, ya? Tunggu sebentar, saya carikan lagi.”
Setelah dipetikan kelapa yang ke tiga, Lurah Karyo hanya memandangi kelapa itu. Dia tak meminumnya, tapi langsung membelahnya dengan parang. Dicukilnya secuil daging buah kelapa dari tempurungnya, “Lihat Ki Jenggot! Dagingnya sudah keras dan tebal. Ini sudah tua. Pasti tidak enak.”
“Baik, saya akan mencarinya lagi.”
“Sudah. Tidak usah! Ki Jenggot ini bagaimana? Tidak becus! Masa sudah hampir tiga bulanan di kebun kelapaku, tapi tidak tahu mana kelapa muda yang bagus dengan yang tidak.”
 “Maaf Pak Haji, selama saya di sini, saya belum pernah mendapat izin untuk memakan buah kelapa yang ada. Jadi, saya tidak tahu seperti apakah kelapa muda yang bagus dan yang tidak.” Lurah Karyo terdiam, dia kaget dengan pernyataan Ki Jenggot yang rasanya sulit dipercaya itu.
“Pak Haji kenapa? Apa kecewa dengan buah kelapa yang saya ambilkan?”
“Tidak.”
“Pak Haji tidak wajib bercerita kepada saya, tapi jika Pak Haji ingin bercerita, saya siap mewajibkan diri untuk  mendengarnya,“ ucap Ki Jenggot dengan bahasa yang cukup ruwet didengar.
“Saya sedang merasa kesal dengan orang-orang yang suka seenaknya saja.”
“Seenaknya bagaimana, Pak Haji? Bisakah Pak Haji bicara dengan bahasa yang lebih jelas?”  
Dalam hati Lurah Karyo menggerutu, “sial! Kayak omongannya lebih jelas saja!” Lurah Karyo menghela nafas pelan dan berkata, “mentang-mentang saya lurah, orang-orang kerap datang minta sumbangan, utang, ngemis dengan alasan minta sedekah. Demi citraku sebagai lurah, mau tidak mau kukasih.”
“Tapi memang nyatanya Pak Haji ini orang kaya.”
“Kaya juga ada usahanya, Ki Jenggot. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku jatuh miskin.”
“Lalu apa yang Pak Haji inginkan?”
“Aku ingin mereka berhenti mengejar-ngejarku. Aku capek dimintai sumbangan, utang, dan sejenisnya. Tapi, bagaimana? Aku tidak tahu caranya. Ruwet!”
“Saya Tahu.”
“Ah, tak usah bercanda.”
“Serius! Saya tahu caranya. Di jamin ampuh!”
“Memang apa?”
“Orang kampung Randu ini sedang krisis iman. Rezekinya jadi sempit.”
“Lalu?”
“Bangunlah masjid yang layak untuk orang-orang, pelataran yang luas dan fasilitas yang memadai agar mereka rajin beribadah. Dengan begitu,  do’a mereka dapat di dengar oleh Yang Maha Kuasa dan dilancarkan rezekinya. Surau di kampung ini sudah tua dan terlalu kecil. Semoga kampung ini mujur.”
Lurah Karyo menggangguk-angguk seolah membenarkan perkataan Ki Jenggot. Memang benar, suaru di kampung keadaannya sudah memrihatinkan. Orang-orang jarang beribadah. Moral mereka jadi  bobrok, jadi pemalas, malas mikir, malas kerja. Akhirnya utang, minta-minta bahkan maling. Lurah Karyo juga berpikir, itu bisa membuat citra Lurah Karyo naik. Sebentar lagi masa jabatannya habis. Dia berniat ingin mencalonkan diri lagi, mungkin saja cara itu bisa membuat warganya luluh dan memilihnya kembali. Dia akan memugar surau menjadi masjid. Dia juga akan memberitahu warga, bahwa sebagian besar dana pembangunan berasal darinya, termasuk tanah untuk perluasan.
***
Satu tahun berlalu, proyek pembangun masjid akhirnya selesai. Masjid berdiri dengan gagah. Orang-orang jadi gemar beribadah dan suasana kampung menjadi damai. Memang benar apa kata Ki Jenggot, tidak ada lagi orang yang datang meminta sumbangan, sedekah ataupun pinjaman ke  Lurah Karyo. Tapi, bukan karena mendadak orang-orang hidup berkecukupan, melainkan Lurah Karyo jatuh miskin. Dia membangun masjid secara besar-besaran. Dia juga gagal mencalon lurah untuk periode selanjutnya. Modalnya tidak cukup. Lurah Karyo marah besar. Dia pergi ke kebun kelapanya dengan membawa celurit, mencari Ki jenggot.
“Ki jenggotoooootttt! Di mana kau, Ki Jengot! Keluarlah! Dasar orang gila!” teriak Lurah Karyo. Didobraknya pintu gubug, namun tidak ada Ki Jenggot. Sepertinya Ki Jenggot sudah pergi beberapa hari yang lalu. Terlihat meja dan dipan lapuknya sudah agak berdebu.
Selang beberapa minggu, perkebunan kelapa lurah Karyo disita oleh debt collector. Rupanya dia terlilit utang untuk pembangunan masjid. Wajarlah hartanya hilang. Sebagian besar kekayaannnya adalah hasil penyelewengan. Uang renovasi surau, uang pembangunan jembatan, proyek penghijauan, Program bantuan Raskin. Sudah banyak hak yang bukan miliknya.  Selang beberapa hari kemudian Lurah Karyo jatuh sakit. Lumpuh karena stroke. Sedangkan Ki Jenggot terus berkelana. Melewati hutan, sungai dan jalan mana pun yang ingin dia lewati, bersama senyum bahagianya yang tak pernah luntur. Alam seolah mengizinkan Ki Jenggot untuk terus menjamahnya.
***
Suatu hari diantara gerimis yang berjatuhan kala sore, Ki Jenggot muncul kembali di kampung Randu, tepatnya di depan gerbang masjid. Berdiri, mengangguk-anggukan kepala sembari terkekeh-kekeh senang.
“Ki Jenggot, kau mau apa lagi datang kemari? Sudah pergi sana! Jangan buat orang-orang takut datang ke masjid!” kata Kyai Toha yang hendak masuk melewati gerbang.
Ki Jenggot tertawa kecil. “Assalamu’alaikum, Pak Kyai,” ucap Ki Jenggot. Kyai Toha tak menjawabnya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Lagi-lagi Ki Jenggot tidak melakukan perlawanan apa pun. Dia hanya mengangguk-angguk sembari senyam-senyum tak jelas lalu pergi menembus gerimis. Gerimis putih yang menaburi senja, membuat hari semakin tua, semakin gelap. Ki Jenggot kembali mengikuti kemana tanah menarik kakinya, menjalani hidup dengan bahagia.
Semenjak itu tidak ada yang tahu ke mana perginya Ki Jenggot. Sehari setelah Ki Jenggot diusir, Kyai Toha jatuh sakit. Dia terus mengigau memanggil nama Ki Jenggot. Warga pun saling melempar tanya: kapan lagi kampung Randu kedatangan tamu istimewa.


Purbalingga, Agustus 2013