Selasa, 26 Februari 2013

Cerpen @Koran Metamorfosa



HUJAN BERCERITA

Hujan itu air. Air itu  basah. Basah itu dingin. Dingin itu menyakitkan, bukan begitu? Menyakitkan bisa saja dalam arti membuat sakit seperti,  batuk, pilek, gatal-gatal, demam , dan lain sebagainya,  dan aku tak suka musim hujan karena itu membuatku menjadi dingin.  Sungguh dinginya hujan merubah ku menjadi perempuan yang dingin,  Mir.
***
Usai memandikan Uun aku bersiap-siap menuju ke sawah Pak Jirun. Aku sudah lama bekerja untuk Pak Jirun, mengurus sawah dekat kali itu.  Hari ini aku tak memasak, hanya merebus ubi. Syukurlah Uun tak rewel, meski masih kecil sepertinya dia memahami keadaanku sekarang.
Doc.Internet
Aku menggendong Uun dengan menggunakan kain jarit menuju ke sawah, tak lupa aku membawa bekal ubi rebus untuk makan siang nanti. Setibanya aku di sawah Pak Jirun, aku mendudukan Uun di gubug kecil yang terletak di sudut sawah tersebut. Uun sudah biasa ku tinggal di situ, setidaknya dia masih berada dalam pengawasanku. Biasanya setelah ku tangkapkan beberapa belalang dia akan tenang berada di gubug itu sembari bermain belalang.
***
Matahari sudah mengangkang tepat dia atas kepalaku. Aku rasa, ini sudah menginjak pukul 12 , ini waktunya istirahat.
            “Un, ayo makan dulu.” Kataku seraya menyodorkan ubi ke Uun.
Uun melahapnya sembari kakinya aktif berlarian di dalam gubug. Bocah usia 2 tahun ini terlihat begitu lucu sekali. Aku hanya memakan satu gigit ubi itu, selebihnya masih berada digenggamanku. Lamunan membuat perutku mendadak kenyang.
            “War?” Sapa Simah sembari menepuk pundakku. Aku terkaget.
            “Wah, kaget ya War? Jangan ngelamun War.” Ucap Simah yang duduk disebelahku yang terlihat kepanasan mengusap keringat dan mengibas-kibaskan capingnya.
            “Iya Mah, aku tidak sengaja ngelamun.”
            “Ngelamunin Samir ya?”
Aku hanya terdiam, sambil mengangguk lemas. Tak tahu harus berkata apa lagi.
            “Kau masih menunggu dia War? Sudah satu tahun lebih dia tak pulang.”
            “Nanti pasti dia pulang. Dia sudah janji.” Kataku yakin.
***
Ketika itu hujan turun sangat lebat, kang Samir pamitan padaku untuk pergi menambang pasir ke lereng gunung. Jaraknya cukup jauh dari desa, dia pergi bersama rombongan. Katanya dia akan di sana selama satu bulan, karena dia sudah menyetujui kontraknya. Aku sebenarnya tak begitu mengijinkan dia pergi. Ini musim hujan, menambang pasir di lereng gunung itu sangat beresiko. Tentunya keadaan tanah galian yang terguyur hujan akan labil. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Namun, kang Samir terus saja meyakinkanku. Dia berkata ini demi menyukupi kebutuhan rumah tangga kami, dia berjanji pasti pulang.
Inilah resiko nikah muda jika belum ada kematangan, apalagi jika si lelaki belum mempunyai pekerjaan tetap sehingga tidak bisa menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Ku lepaskan kau pergi kang
Selang satu bulan kemudian, kang Samir, tak kunjung pulang. Hari demi hari yang terus berlalu membuatku bingung, minggu demi minggu yang terus berjalan membuatku cemas, dan bulan demi bulan yang terus berganti membuatku dirundung ketakutan, “dimana kau kang?”
Kadang beberapa tetangga berceletuk mengatakan mungkin suamiku sudah mati tertimbun longsoran tanah, sebab daerah tersebut terkenal rawan longsor dan sudah biasa memakan korban jiwa. Meski harapanku terasa ciut, tapi aku yakin kang Samir bakal pulang. Pokoknya dia sudah janji, dia sudah janji padaku dan Uun.
***
“Ya sudah, aku pulang ke rumah dulu War, kau tak pulang?” Tanya Simah
“Ah, nanti saja Mah, kau pulang saja dulu.”
            Simah beranjak dari duduknya, sedang aku masih terduduk di gubug. Pertanyaan Simah tadi  sebenarnya membuatku agak was-was apakah ini pertanda aku sudah mulai tidak yakin kang Samir bakal pulang? Tak ku pungkiri memang tidak hanya Simah yang bertanya seperti itu, sudah banyak orang menanyakannya padaku, wajarlah ini sudah terlalu lama. Aku tak tahu statusku saat ini harus dibilang janda atau apa. Usiaku memang baru 22 tahun dan beberapa orang kadang menyarankanku untuk menikah lagi mumpung aku masih muda. Namun, aku tak menghiraukannya sebab aku masih setia dan masih yakin pada janji kang Samir.
            Rona langit berubah gelap. Mendung aku rasa. Suasana panas mulai tergantikan sapuan angin yang seakan mengabarkan akan segera turun hujan. Ya, ini sudah memasuki musim penghujan, sebentar lagi hujan pasti turun. Dan akhirnya, hujan benar-benar turun. Benar-benar sudah satu tahun lebih kau pergi kang?
            “War! Siwar!” Aku menoleh ke sumber suara itu. Itu Simah, dia berjalan bertudung daun pisang, begitu tergesa-gesa menyusuri pematang sawah menuju ke gubugku. Dia begitu terengah-engah sesampainya di hadapanku.
                        “Lho  cepat sekali pulangnya Mah? Ada apa?”
                        “War suamimu sudah pulang.” 
                        “Apa ku bilang, kang Samir pasti menepati janjinya.” Kataku senang disertai senyum mengembang.
                        “Ayo Un kita pulang, Bapakmu sudah pulang”
            Aku segera membereskan bekalku dan menggendong si Uun, rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan kang Samir.
                        “Tapi War, dia pulang membawa seorang wanita yang membopong bayi”
                        “Wanita? Bayi?” Jidatku mengeryit.
                                                                                                                           
                                                                                                                          LPM Vokal/Metamorfosa                                    
Semarang, 12 Februari 2013
Dina Ahsanta Puri
FPBS/PBI/Semester 2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar