BISU BULU MATA
Oleh : Dina Ahsanta Puri
“Jam
berapa ini?” Mimpiku langsung terpental entah kemana saat aku tiba-tiba
terbangun dari tidurku. Kesadaranku
belum terkumpul penuh, aku menghadap ke
arah jam dinding yang dipasang di gedhek
kamarku. Sorot cahaya matahari pagi menyusup kecil lewat celah celah gedhek kamarku, terasa menusuk tajam ke arah
mata yang masih memanja, merayu tuk kembali tidur. Namun, hasrat untuk kembali bergumul dengan
kasur musti tertampik kala jarum jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 6 pagi,
begitu memacuku dengan waktu. Mas Warto
masih tertidur di sampingku, mbringsut
berkemul sarung.
“Mas,
bangun sudah pagi.”
“Aduh,
aku masih ngantuk Dar.”
Saat itu posisiku buru-buru aku tak
sempat tuk membangunkan suamiku lagi. Biasanya kalau dipaksa dia marah dan tak segan untuk memanggil nama-nama hewan alas sedangkan sekarang aku tidak ada
waktu untuk bercek-cok ria dengannya. Memang suamiku kalau tidur sudah sepeti bathang sulit untuk dibangunkan. Aku
mengambil handukku yang ku gantung dibalik pintu lantas menuju kamar mandi yang
bersebelahan dengan dapur. Sebelum masuk ke kamar mandi, aku melihat biyungku sedang memetiki sayur kangkung.
Geraknya begitu pelan, maklumlah sudah agak sepuh.
“Maaf yung, aku kesiangan jadi nggak
bisa membantu masak”
“Iya nggak apa-apa Dar, kamu mandi
saja daripada telat masuk kerja.”
***
Suamiku
memang seorang pengangguran, aku dan suamiku belum mempunyai rumah sendiri,
terpaksa kami tinggal di rumah biyungku. Rumah ini sebenarnya dihuni empat
orang, biyungku, aku, suamiku dan Sarjo adikku. Tapi, Sudah sekitar dua bulan
yang lalu Sarjo merantau ke Jakarta untuk mencari kerja dan kabarnya dia sudah
bekerja di suatu rumah makan.
Aku
sebenarnya malu, saudara-saudara ku yang lain sudah mampu membuat rumah
sendiri, sedangkan aku terlihat seperti bayi tua yang masih mengempeng pada ibunya. Mau bagaimana
lagi, suamiku pengangguran. Kerjaannya hanya makan, tidur, melintingi rokok dan
kadang membantu Uwakku mengurus
kebun. Sesekali memang ada tawaran kerja serabutan untuk suamiku, memacul
sawah, menebang pohon, jadi kuli bangunan, dan lainnya. Tapi, itu datangnya tak
tentu dan jarang. Kebutuhan rumah tangga
kami sedikit tertutupi ketika aku bekerja “ngidep”
di rumahnya Bu RT yang dijadikan industri rumah tangga bulu mata. Sebagian
besar industri kecil di Purbalingga memang berorientasi pada bidang ekspor. Biyungku bilang industri wig dan bulu mata palsu di Kabupaten
Purbalingga sudah ada sekitar tahun 1976’an dan terus terus berkembang pesat
sampai saat ini.
Industri wig
dan bulu mata tersebut tersebut merupakan hasil dari Penanaman Modal Asing (PMA). Ratusan industri
rumah tangga dalam bentuk plasma tumbuh di sejumlah pedesaan. Plasma-plasma ini
umumnya mengerjakan produk untuk PMA-PMA asal Korea Selatan. Aku senang
menjalani hidupku sebagai pekerja bulu mata, meski gajinya tidak seberapa, tapi
ada kebanggaan tersendiri yang ku rasakan.
Terlebih saat Pak Wahid mandor yang sudah agak tua dengan perawakan
tinggi, gemuk dan suka menggoda pekerja di tempatku “ngidep” pernah bercerita bahwa produksi bulu mata dari Purbalingga
itu sangat terkenal dan terbesar di Indonesia, bahkan Indonesia merupakan
produsen terbesar nomer dua setelah China. Artis Hollywood seperti Madonna saja memakai bulu mata dan wig produksi dari Purbalingga.
Mendengarnya aku merinding. Bulu kudukku sontak berdiri. Tak dapat dibayangkan,
bahwa hiasan yang mempercantik mata artis kelas dunia tersebut dibuat oleh tangan-tangan
orang desa sepertiku. Aku bangga.
. Kini ribuan kaum perempuan di
Purbalingga terserap di pabrik-pabrik rambut dan bulu mata palsu. Karenanya,
tak aneh bila di Purbalingga sangat jarang ditemui perempuan yang mau jadi
TKW. Akupun enggan jadi TKW , rasanya
ngeri, takut bernasib naas seperti
beberapa TKW yang kerap diberitakan di televisi. Disetrika tubuhnya, dipotong lidahnya,
diperkosa pula, bahkan ada yang pulang tinggal nama. Tragis sekali.
***
“Yung
lihat idepku tidak?” Tanyaku memusing
“Bukannya
semalam kamu taruh di atas meja dekat lemari.”
“Oh
iya, aku lali yung.”
Semalam
aku berhasil menyusun 30 ikatan bulu
mata, lumayan lah. Memang selain menegerjakan bulu mata di tempat kerja,
kami diperbolehkan membawa bahan-bahan idep untuk dikerjakan di rumah itung-itung untuk mendapatkan uang tambahan. Pukul setengah tujuh persis aku berjalan
menuju rumah Bu RT yang jaraknya sekitar
1 Km dari rumahku. Aku melangkahkan kaki dengan mengenakan seragam kebanggaanku, seragam “ngidep”
tentunya.
Sesampainya di tempat kerja, aku duduk di
kursi kayu yang memanjang cukup untuk duduk berjajar sekitar lima orang. Pencahayaan di ruang ini begitu terang,
maklumlah karena pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan ketajaman mata, tentunya dibarengi dengan ketelatenan. Aku duduk bersebalahan dengan Kasri. Kasri masih gadis, dia anaknya mbok Waginem,
bakul petis di Pasar Picung .
Aku penggemar petis buatan mbok Waginem,
bumbunya terasa gurih, membuat lidahku kecanduan untuk menikmati petis olahan
mbok Waginem.
“Ehmm...ehmm.. uhuk.. uhuk.. wuekk.” Kasri terlihat mual sembari menutup mulutnya sekencang mungkin,
lalu bergegas menuju kamar mandi khusus pekerja. Aku khawatir dengan keadaan Kasri. Aku membuntutinya ke kamar mandi.
“Kamu kenapa Kas? Masuk angin?” Tanyaku
sembari berdiri di depan pintu.
Kasri gelagapan sambil mengelap mulutnya
yang agak basah terkena muntahan “Eh... Mbak Darti, iya mungkin masuk angin.”
“Masa? Tapi ini bukan yang pertama
kalinya aku melihatmu mual-mual seperti ini.”
“Eh..anu itu.. ini... itu... anu ..Mbak...“
Bicara
Kasri semakin tidak jelas saja, dia menumbuhkan kecurigaan yang tadinya sama
sekali tidak terbesit dalam pikiranku. Raut
wajahnya berubah menjadi gelisah tak karuan.
“Kau ini kenapa Kas, kok gelisah.” Aku
mendekat padanya.
“Aku bingung mbak.” Kata Kasri menghirup
napas dalam dan kembali menghembuskannya. Ia mendongakkan wajahnya ke atas,
seraya matanya berkedip cepat mencoba menahan laju air mata. Aku mendekat
padanya sembari merangkul pundaknya mencoba menenangkan diri Kasri agar
tangisnya tak pecah.
“Ceritakanlah padaku Kas.”
“Aku... aku... aku hamil mba.” Kasri
segera memelukku erat, air matanya tumpah
membasahi pundakku, mungkin juga disertai ingus yang mengalir deras. Aku
bingung harus bagaimana. Bukankah Kasri masih gadis, lelaki mana yang telah
menghamilinya.
“Kau serius Kas?” Tanyaku dengan penuh
rasa kaget
Kasri
melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya, bibirnya yang menyak menyok tak karuan mencoba menjelaskan
sesuatu padaku.
“Aku tak bisa cerita lebih jauh mbak,
aku malu, aku takut.”
“Ya sudah jika kamu tidak mau cerita
sekarang. Tapi, lambat laun orang-orang pasti akan tahu. Kau harus siap itu.”
“Ya, aku tahu itu mbak. Akupun sedang
mencari jalan keluar, sudahlah ini memang sudah jadi jalan hidupku.”
***
Waktu
sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Satu jam lagi waktu bekerja selesai. Kasri melamun
tak jelas. Aku mencoba mengalihkan perhatiannya, tas rajut kecil berwarna ungu
yang diletakkan di samping tepat duduknya terlihat menarik untuk dijadikan
bahan obrolan.
“Hai
Kas, tas rajutmu lucu sekali” Aku mengambilnya, mengamati tas tersebut dengan
raut muka sangat tertarik.
Kasri
hanya tersenyum kecil, mungkin dia masih terbayang dengan masalahnya.
Sebenarnya aku penasaran, siapa lelaki yang telah menghamilinya, tapi aku
mengurungkan niatku untuk menanyakan kembali siapa lelaki itu, aku menghargai
perasaan Kasri yang jelas sedang tidak karuan. Kasri memang pernah bercerita sedang dekat
dengan lelaki, tapi ia tak pernah memberitahuku siapa lelaki itu.
“Wah Kas, ada tulisannya Kasri lho...
lucu sekali, eh ada kue bolunya lagi, bekalmu ya kas?.” Aku kembali mencoba
menghibur Kasri dengan terus mengajakknya bicara, tak ingin wajah murungnya
menarik perhatian orang-orang di sekeliling kami dan menimbulkan banyak tanya.
“Itu dari dia mba. Itu bukan bekalku,
itu rencanya mau ku kasih ke dia”
“Dia? Maksudmu itu” Kataku sembari
melirik kecil ke arah perutnya, aku takut keceplosan membicarakan kehamilannya.
“Iya mbak. Aku mau pulang saja lah mba.”
“Pulang? Nanggung ah Kas, tinggal satu
jam lagi lho.”
“Aku mau bertemu lelaki itu mba. Ingin
membicarakan masalah ini.”
“Oh... ya sudah, ijin sama mandor sana,
tapi dia dimana ya? Aku tak melihatnya, mungkin sedang di warung Mbok Darmi.”
Kasri
memberesi idep-idepnya dan
memasukkannya ke dalam tas rajut ungunya tersebut kemudian dia pergi masih
dengan raut muram yang menghiasi wajahnya. Aku hanya bisa berharap, semoga
masalahnya cepat selesai.
***
Sekarang
sudah pukul 15.30, aku meninggalkan tempat kerja sekitar 30 menit yang lalu.
Lelah sekali hari ini, tapi hasilnya lumayan. Nanti malam aku berniat mau
lembur lagi. Ku lihat suamiku sedang duduk di ruang tamu bertemankan secangkir
kopi dan sebatang rokok yang terlihat
nikmat sekali saat dia menghirupnya serta menghembuskan asapnya. Aku duduk
disamping suamiku.
“Mas coba cari kerja lah”
“Kerja apa? Emang cari kerja gamapang
apa? Sekarang ini sulit cari kerja, kebanyakan lowongan kerja membutuhkannya
tenaga perempuan, bahkan pabrik rokok yang terkenal di Purbalingga itu, membuka
lowongan besar-besaran tapi untuk perempuan, benar-benar penjajahan gender ini.”
“Haha... penjajahan gender, lambemu iku lho
mas, kaya ngerti aja artinya apa.”
“Haha... biar terlihat keren sedikit lah
Dar. Aduh ada panggilan alam ini Dar, aku ke WC dulu”
“Halah, mas ini ada-ada saja, ya sana gih”
Aku
memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Di atas meja terlihat ada kue bolu. Aku
jadi teringat Kasri, kasian sekali dia. Apa kabarnya ya? Apakah masalahnya
sudah selesai. Aku keroncongan, ku ambil satu kue bolu tersebut, enak juga.
Mungkin kue bolu Kasri juga seenak ini. Ku putuskan untuk mencuci baju. Saat
mengambil jaket suamiku yang tergeletak di meja, tiba-tiba ada sesuatu yang
terjatuh dari balik jaket tersebut “Blakk...”.
Sebuah tas rajut ungu terjatuh, bulu mata yang ada di dalamnya pun turut keluar
dan jatuh terurai. Aku lemas. Ku dapati nama Kasri di tas itu.
“Inikah
bolumu Kas? Rasanya berubah pahit...”
Keterangan :
Gedhek : Dinding rumah yang terbuat dari
anyaman bambu.
Alas : Hutan.
Ngempeng : Menyusu
Bathang : Bangkai.
Biyung : Ibu.
Uwak : Pak dhe / Bu dhe.
Idep : Bulu mata.
Ngidep : Bekerja membuat bulu
mata.
Lambe : Bibir.
Semarang, 07
Januari 2013
Dina Ahsanta Puri
Pendidikan
Bahasa Inggris
Kajian Ilmu
Apresiasi Sastra
Buletin Keris
Tidak ada komentar:
Posting Komentar