Senin, 11 Februari 2013

Bisu Bulu Mata-Buletin Keris


 BISU BULU MATA
Oleh : Dina Ahsanta Puri

“Jam berapa ini?” Mimpiku langsung terpental entah kemana saat aku tiba-tiba terbangun dari tidurku.  Kesadaranku belum terkumpul penuh,  aku menghadap ke arah jam dinding yang dipasang di gedhek kamarku. Sorot cahaya matahari pagi menyusup kecil lewat celah celah gedhek kamarku, terasa menusuk tajam ke arah mata yang masih memanja, merayu tuk kembali tidur.  Namun, hasrat untuk kembali bergumul dengan kasur musti tertampik kala jarum jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 6 pagi, begitu memacuku dengan waktu.  Mas Warto masih tertidur di sampingku, mbringsut berkemul sarung.
                        “Mas, bangun sudah pagi.”
                        “Aduh, aku masih ngantuk Dar.”
            Saat itu posisiku buru-buru aku tak sempat tuk membangunkan suamiku lagi. Biasanya kalau dipaksa dia marah  dan tak segan untuk memanggil nama-nama hewan alas sedangkan sekarang aku tidak ada waktu untuk bercek-cok ria dengannya.  Memang suamiku kalau tidur sudah sepeti bathang sulit untuk dibangunkan. Aku mengambil handukku yang ku gantung dibalik pintu lantas menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. Sebelum masuk ke kamar mandi, aku melihat biyungku sedang memetiki sayur kangkung. Geraknya begitu pelan, maklumlah sudah agak sepuh.
            “Maaf yung, aku kesiangan jadi nggak bisa membantu masak”
            “Iya nggak apa-apa Dar, kamu mandi saja daripada telat masuk kerja.”
***
Suamiku memang seorang pengangguran, aku dan suamiku belum mempunyai rumah sendiri, terpaksa kami tinggal di rumah biyungku. Rumah ini sebenarnya dihuni empat orang, biyungku, aku, suamiku dan Sarjo adikku. Tapi, Sudah sekitar dua bulan yang lalu Sarjo merantau ke Jakarta untuk mencari kerja dan kabarnya dia sudah bekerja di suatu rumah makan.
Aku sebenarnya malu, saudara-saudara ku yang lain sudah mampu membuat rumah sendiri, sedangkan aku terlihat seperti bayi tua yang masih mengempeng pada ibunya. Mau bagaimana lagi, suamiku pengangguran. Kerjaannya hanya makan, tidur, melintingi rokok dan kadang membantu Uwakku mengurus kebun. Sesekali memang ada tawaran kerja serabutan untuk suamiku, memacul sawah, menebang pohon, jadi kuli bangunan, dan lainnya. Tapi, itu datangnya tak tentu dan jarang.  Kebutuhan rumah tangga kami sedikit tertutupi ketika aku bekerja “ngidep” di rumahnya Bu RT yang dijadikan industri rumah tangga bulu mata. Sebagian besar industri kecil di Purbalingga memang berorientasi pada bidang ekspor. Biyungku bilang industri wig dan bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga sudah ada sekitar tahun 1976’an dan terus terus berkembang pesat sampai saat ini.
 Industri wig dan bulu mata tersebut tersebut merupakan hasil dari  Penanaman Modal Asing (PMA). Ratusan industri rumah tangga dalam bentuk plasma tumbuh di sejumlah pedesaan. Plasma-plasma ini umumnya mengerjakan produk untuk PMA-PMA asal Korea Selatan. Aku senang menjalani hidupku sebagai pekerja bulu mata, meski gajinya tidak seberapa, tapi ada kebanggaan tersendiri yang ku rasakan.  Terlebih saat Pak Wahid mandor yang sudah agak tua dengan perawakan tinggi, gemuk dan suka menggoda pekerja di tempatku “ngidep” pernah bercerita bahwa produksi bulu mata dari Purbalingga itu sangat terkenal dan terbesar di Indonesia, bahkan Indonesia merupakan produsen terbesar nomer dua setelah China. Artis Hollywood seperti Madonna saja memakai bulu mata dan wig produksi dari Purbalingga. Mendengarnya aku merinding. Bulu kudukku sontak berdiri. Tak dapat dibayangkan, bahwa hiasan yang mempercantik mata artis kelas dunia tersebut dibuat oleh tangan-tangan orang desa sepertiku. Aku bangga. 
. Kini ribuan kaum perempuan di Purbalingga terserap di pabrik-pabrik rambut dan bulu mata palsu. Karenanya, tak aneh bila di Purbalingga sangat jarang ditemui perempuan yang mau jadi TKW.  Akupun enggan jadi TKW , rasanya ngeri,  takut bernasib naas seperti beberapa TKW yang kerap diberitakan di televisi.  Disetrika tubuhnya, dipotong lidahnya, diperkosa pula, bahkan ada yang pulang tinggal nama. Tragis sekali. 
***
“Yung lihat idepku tidak?” Tanyaku memusing
“Bukannya semalam kamu taruh di atas meja dekat lemari.”
“Oh iya, aku lali yung.”

Semalam aku berhasil menyusun 30 ikatan bulu  mata, lumayan lah. Memang selain menegerjakan bulu mata di tempat kerja, kami diperbolehkan membawa bahan-bahan idep untuk dikerjakan di rumah  itung-itung untuk mendapatkan uang tambahan.  Pukul setengah tujuh persis aku berjalan menuju rumah Bu RT yang jaraknya sekitar  1 Km dari rumahku. Aku melangkahkan kaki dengan mengenakan seragam kebanggaanku,  seragam “ngidep” tentunya.
 Sesampainya di tempat kerja, aku duduk di kursi kayu yang memanjang cukup untuk duduk berjajar sekitar lima orang.  Pencahayaan di ruang ini begitu terang, maklumlah karena pekerjaan ini membutuhkan ketelitian dan ketajaman mata,  tentunya dibarengi dengan ketelatenan.  Aku duduk bersebalahan dengan Kasri.  Kasri masih gadis, dia anaknya  mbok Waginem,  bakul petis di Pasar Picung . Aku penggemar petis  buatan mbok Waginem, bumbunya terasa gurih, membuat lidahku kecanduan untuk menikmati petis olahan mbok Waginem.
“Ehmm...ehmm.. uhuk.. uhuk.. wuekk.”  Kasri terlihat mual  sembari menutup mulutnya sekencang mungkin, lalu bergegas menuju kamar mandi khusus pekerja.  Aku khawatir dengan keadaan Kasri.  Aku membuntutinya ke kamar mandi.
“Kamu kenapa Kas? Masuk angin?” Tanyaku sembari berdiri di depan pintu.
Kasri gelagapan sambil mengelap mulutnya yang agak basah terkena muntahan “Eh... Mbak Darti, iya mungkin masuk angin.”
“Masa? Tapi ini bukan yang pertama kalinya aku melihatmu mual-mual seperti ini.”           
“Eh..anu itu.. ini... itu... anu ..Mbak...“
Bicara Kasri semakin tidak jelas saja, dia menumbuhkan kecurigaan yang tadinya sama sekali tidak terbesit dalam pikiranku.         Raut wajahnya berubah menjadi gelisah tak karuan.
“Kau ini kenapa Kas, kok gelisah.” Aku mendekat padanya.
“Aku bingung mbak.” Kata Kasri menghirup napas dalam dan kembali menghembuskannya. Ia mendongakkan wajahnya ke atas, seraya matanya berkedip cepat mencoba menahan laju air mata. Aku mendekat padanya sembari merangkul pundaknya mencoba menenangkan diri Kasri agar tangisnya tak pecah.
“Ceritakanlah padaku Kas.”
“Aku... aku... aku hamil mba.” Kasri segera memelukku erat,  air matanya tumpah membasahi pundakku, mungkin juga disertai ingus yang mengalir deras. Aku bingung harus bagaimana. Bukankah Kasri masih gadis, lelaki mana yang telah menghamilinya.
“Kau serius Kas?” Tanyaku dengan penuh rasa kaget
Kasri melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya, bibirnya yang  menyak menyok tak karuan mencoba menjelaskan sesuatu padaku.
“Aku tak bisa cerita lebih jauh mbak, aku malu, aku takut.”
“Ya sudah jika kamu tidak mau cerita sekarang. Tapi, lambat laun orang-orang pasti akan tahu. Kau harus siap itu.”
“Ya, aku tahu itu mbak. Akupun sedang mencari jalan keluar, sudahlah ini memang sudah jadi jalan hidupku.”
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Satu jam lagi waktu bekerja selesai. Kasri melamun tak jelas. Aku mencoba mengalihkan perhatiannya, tas rajut kecil berwarna ungu yang diletakkan di samping tepat duduknya terlihat menarik untuk dijadikan bahan obrolan.
“Hai Kas, tas rajutmu lucu sekali” Aku mengambilnya, mengamati tas tersebut dengan raut muka sangat tertarik.
Kasri hanya tersenyum kecil, mungkin dia masih terbayang dengan masalahnya. Sebenarnya aku penasaran, siapa lelaki yang telah menghamilinya, tapi aku mengurungkan niatku untuk menanyakan kembali siapa lelaki itu, aku menghargai perasaan Kasri yang jelas sedang tidak karuan.  Kasri memang pernah bercerita sedang dekat dengan lelaki, tapi ia tak pernah memberitahuku siapa lelaki itu.
“Wah Kas, ada tulisannya Kasri lho... lucu sekali, eh ada kue bolunya lagi, bekalmu ya kas?.” Aku kembali mencoba menghibur Kasri dengan terus mengajakknya bicara, tak ingin wajah murungnya menarik perhatian orang-orang di sekeliling kami dan menimbulkan banyak tanya.
“Itu dari dia mba. Itu bukan bekalku, itu rencanya mau ku kasih ke dia”
“Dia? Maksudmu itu” Kataku sembari melirik kecil ke arah perutnya, aku takut keceplosan membicarakan kehamilannya.
“Iya mbak. Aku mau pulang saja lah mba.”
“Pulang? Nanggung ah Kas, tinggal satu jam lagi lho.”
“Aku mau bertemu lelaki itu mba. Ingin membicarakan masalah ini.”
“Oh... ya sudah, ijin sama mandor sana, tapi dia dimana ya? Aku tak melihatnya, mungkin sedang di warung Mbok Darmi.”
Kasri memberesi idep-idepnya dan memasukkannya ke dalam tas rajut ungunya tersebut kemudian dia pergi masih dengan raut muram yang menghiasi wajahnya. Aku hanya bisa berharap, semoga masalahnya cepat selesai.
***
Sekarang sudah pukul 15.30, aku meninggalkan tempat kerja sekitar 30 menit yang lalu. Lelah sekali hari ini, tapi hasilnya lumayan. Nanti malam aku berniat mau lembur lagi. Ku lihat suamiku sedang duduk di ruang tamu bertemankan secangkir kopi dan sebatang rokok yang  terlihat nikmat sekali saat dia menghirupnya serta menghembuskan asapnya. Aku duduk disamping suamiku.
“Mas coba cari kerja lah”
“Kerja apa? Emang cari kerja gamapang apa? Sekarang ini sulit cari kerja, kebanyakan lowongan kerja membutuhkannya tenaga perempuan, bahkan pabrik rokok yang terkenal di Purbalingga itu, membuka lowongan besar-besaran tapi untuk perempuan, benar-benar penjajahan gender ini.”
“Haha... penjajahan gender, lambemu iku lho mas, kaya ngerti aja artinya apa.”
“Haha... biar terlihat keren sedikit lah Dar. Aduh ada panggilan alam ini Dar, aku ke WC dulu”
“Halah, mas ini ada-ada saja, ya sana gih”
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Di atas meja terlihat ada kue bolu. Aku jadi teringat Kasri, kasian sekali dia. Apa kabarnya ya? Apakah masalahnya sudah selesai. Aku keroncongan, ku ambil satu kue bolu tersebut, enak juga. Mungkin kue bolu Kasri juga seenak ini. Ku putuskan untuk mencuci baju. Saat mengambil jaket suamiku yang tergeletak di meja, tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dari balik jaket tersebut “Blakk...”. Sebuah tas rajut ungu terjatuh, bulu mata yang ada di dalamnya pun turut keluar dan jatuh terurai. Aku lemas. Ku dapati nama Kasri di tas itu.
  “Inikah bolumu Kas? Rasanya berubah pahit...”

Keterangan      :
Gedhek           : Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
Alas                 : Hutan.
Ngempeng       : Menyusu
Bathang           : Bangkai.
Biyung                        : Ibu.
Uwak              : Pak dhe / Bu dhe.
Idep                 : Bulu mata.
Ngidep                        : Bekerja membuat bulu mata.
Lambe             : Bibir.



Semarang, 07 Januari 2013
            Dina Ahsanta Puri
Pendidikan Bahasa Inggris
Kajian Ilmu Apresiasi Sastra
Buletin Keris

Tidak ada komentar:

Posting Komentar