Tantangan
Kampus Pencetak Guru
Sebagai negara
berkembang, Indonesia masih perlu meningkatkan mutu pendidikan agar bisa
sejajar dengan negara maju. Mutu pendidikan ini erat kaitannya dengan mutu
guru/pendidiknya. Semantara kualitas guru/pendidik tak bisa tidak
dipengaruhi oleh kualitas "pabrik" pencetak guru dalam hal ini LPTK
(Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Hanya LPTK yang bermutulah yang akan
menghasilkan guru bermutu juga. Pertanyaannya seberapa bermutukah IKIP PGRI
Semarang?
Saat ini IKIP PGRI Semarang merupakan
satu-satunya LPTK yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menyiapkan guru-guru
berkualitas internasional melalui program PGMIPA (Pendidikan Guru Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam) bertaraf internasional. Selain itu, juga merupakan satu-satunya
PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Jawa Tengah yang dipercaya oleh pemerintah
menjadi model pendidikan karakter sekaligus penyelenggara Character Award. Institut keguruan tersebut juga semakin melebarkan
sayapnya untuk go internasional, yaitu
dengan melakukan program pertukaran pelajar dengan UTM (Universitas Teknologi
Malaysia) dan juga sebagai pusat belajar bahasa dan budaya Indonesia para
mahasiswa luar negeri. Sebuah kampus yang dikenal dengan motto “Melaju dengan
Mutu” ini pun memiliki program PPG (Pendidikan Profesi Guru) serta masih banyak
keunggulan lainnya sehingga patut diperhitungkan sebagai perguruan tinggi
berkualitas yang dapat menghasilkan tenaga kependidikan profesional dan
berjati diri.
Sejauh
ini, IKIP PGRI Semarang juga merupakan salah satu perguruan tinggi favorit di
Indonesia yang menjadi incaran banyak lulusan SLTA. Hal ini terbukti dengan
pendaftar lima tahun terakhir melonjak, yaitu dengan rata-rata per-tahun
mencapai 12.000 pendaftar. Melihat kedepannya, bukan tidak mungkin perguruna
tinggi swasta yang berdiri pada tanggal 23
Juli 1981 ini menjadi perguruan tinggi yang lebih besar lagi dan lebih disegani
calon mahasiswa. Tentunya apabila terus berkonsentrasi dalam menyiapkan calon
guru berkualitas melalui pembelajaran kreatif inovatif yang berjatidiri. Bahkan
bukan tidak mungki bisa menjadi kiblat model pembelajaran bagi LPTK lain dalam menjawab
tantangan dan kebutuhan kualitas dan kualifikasi guru yang dibutuhkan di
persekolahan.
Dibalik sebuah kesuksesan pasti akan
ada banyak rintangan. Sebagai salah satu LPTK penghasil tenaga pendidik dan
kependidikan yang profesional dan berjati
diri, IKIP PGRI Semarang hendaknya mampu menjawab tantangan pendidikan di masa
yang akan datang. Jangan hanya dimaknai sebagai lembaga “pencetak” ijazah
sarjana pendidikan mengingat di tangan sarjana pendidikan inilah masa
depan pendidikan dipertaruhkan. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang
Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa kualifikasi akademik guru minimal sarjana
(S1) atau Program Diploma IV yang sesuai dengan tugasnya sebagai guru.
Konsekuensinya, guru yang sudah menduduki jabatan fungsional guru namun belum
sarjana (S1) harus menyesuaikan diri.
Ada banyak cara yang ditempuh oleh
para guru untuk menyikapi amanat Undang-Undang tersebut. Salah satu cara yang
dilakukan adalah studi lanjut dan up grading bagi guru yang sudah
memiliki ijazah diploma II atau diploma III. Mereka melanjutkan studi ke
jenjang sarjana (S1). Namun yang harus menjadi bahan renungan bersama,
apakah mereka memilih LPTK yang berkualitas dan kredibilitasnya baik? Hal ini
penting, mengingat tidak semua LPTK itu baik (yang ditunjukkan oleh grade akreditasinya). Bahkan, ada juga
yang masih proses akreditasi namun berani merekrut mahasiswa dalam jumlah
banyak. Hal tersebut harus menjadi perhatian penting bagi IKIP PGRI Semarang yang
harus bisa memperlihatkan “dirinya” secara apa adanya, khusunya dalam hal grade akreditasi. Jangan sampai sudah
susah payah kuliah namun kompetensi dan ijazahnya tidak diakui.
Seorang guru juga dituntut memiliki
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan
kompetensi sosial. Tidak semua orang bisa menjadi pendidik, meski semua orang
bisa mengajar. Mungkin kebanyakan guru-guru hanya menjalankan tugasnya
sebagai “pengajar” yang hanya melakukan aktivitas transfer of knowledge. Akibatnya,
tidak jarang orang yang pandai secara akademik tapi malah cacat secara moral,
misalnya melakukan kekerasan, korupsi dan sebagainya.
Untuk menghasilkan lulusan yang
berkualitas IKIP PGRI Semarang perlu melakukan perbaikan pada saat rekruitmen
calon mahasiswa. Calon mahasiswa harus diseleksi secara ketat agar dihasilkan
sarjana yang juga berkualitas. Selain itu, kurikulum, kualitas dosen, atmosfir
akademik, sarana, dan budaya akademik yang dibangun juga harus mendukung
lahirnya sarjana pendidikan yang handal secara intelektual dan memiliki
kualitas akhlak yang baik. Jika masih ada sarjana menganggur, mungkin ada
banyak sebabnya. Namun, jika sebabnya karena buruknya mutu kampus maka inilah
yang jadi masalah. IKIP PGRI Semarang harus bisa mempersiapkan calon sarjana yang
siap pakai dengan rancangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk
mencapai semua itu tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Di butuhkan kerja keras dan kerja sama seluruh
civitas academica agar bisa terus
melaju dengan mutu. Akan tetapi, Sebaik serta sebagus apapun rencana dan usaha tidak
akan mencapai tujuan tanpa konsistensi bersama, sebab mutu bisa dihasilkan dari
sebuah konsistensi berkelanjutan.
Semarang, 22 Juni 2013
Dina Ahsanta Puri
Aktif di UKM KIAS dan LPM Vokal
Mahasiswi semester 2/IKIP PGRI SMG/FPBS/PBI