Jumat, 18 Oktober 2013

OPINI-Tantangan Kampus Pencetak Guru- Suara Kampus Competition



 Tantangan Kampus Pencetak Guru
Sebagai negara berkembang, Indonesia masih perlu meningkatkan mutu pendidikan agar bisa sejajar dengan negara maju. Mutu pendidikan ini erat kaitannya dengan mutu guru/pendidiknya. Semantara kualitas guru/pendidik tak bisa tidak dipengaruhi oleh kualitas "pabrik" pencetak guru dalam hal ini LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Hanya LPTK yang bermutulah yang akan menghasilkan guru bermutu juga.  Pertanyaannya seberapa bermutukah IKIP PGRI Semarang?
Saat ini IKIP PGRI Semarang merupakan satu-satunya LPTK yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menyiapkan guru-guru berkualitas internasional melalui program PGMIPA (Pendidikan Guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) bertaraf internasional. Selain itu, juga merupakan satu-satunya PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Jawa Tengah yang dipercaya oleh pemerintah menjadi model pendidikan karakter sekaligus penyelenggara Character Award. Institut keguruan tersebut juga semakin melebarkan sayapnya untuk go internasional, yaitu dengan melakukan program pertukaran pelajar dengan UTM (Universitas Teknologi Malaysia) dan juga sebagai pusat belajar bahasa dan budaya Indonesia para mahasiswa luar negeri. Sebuah kampus yang dikenal dengan motto “Melaju dengan Mutu” ini pun memiliki program PPG (Pendidikan Profesi Guru) serta masih banyak keunggulan lainnya sehingga patut diperhitungkan sebagai perguruan tinggi berkualitas yang dapat menghasilkan tenaga kependidikan profesional dan berjati diri.
Sejauh ini, IKIP PGRI Semarang juga merupakan salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia yang menjadi incaran banyak lulusan SLTA. Hal ini terbukti dengan pendaftar lima tahun terakhir melonjak, yaitu dengan rata-rata per-tahun mencapai 12.000 pendaftar. Melihat kedepannya, bukan tidak mungkin perguruna tinggi swasta yang berdiri  pada tanggal 23 Juli 1981 ini menjadi perguruan tinggi yang lebih besar lagi dan lebih disegani calon mahasiswa. Tentunya apabila terus berkonsentrasi dalam menyiapkan calon guru berkualitas melalui pembelajaran kreatif inovatif yang berjatidiri. Bahkan bukan tidak mungki bisa menjadi kiblat model pembelajaran bagi LPTK lain dalam menjawab tantangan dan kebutuhan kualitas dan kualifikasi guru yang dibutuhkan di persekolahan. 
Dibalik sebuah kesuksesan pasti akan ada banyak rintangan. Sebagai salah satu LPTK penghasil tenaga pendidik dan kependidikan yang  profesional dan berjati diri, IKIP PGRI Semarang hendaknya mampu menjawab tantangan pendidikan di masa yang akan datang. Jangan hanya dimaknai sebagai lembaga “pencetak” ijazah sarjana pendidikan  mengingat di tangan sarjana pendidikan inilah masa depan pendidikan dipertaruhkan.  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa kualifikasi akademik guru minimal sarjana (S1) atau Program Diploma IV yang sesuai dengan tugasnya sebagai guru. Konsekuensinya, guru yang sudah menduduki jabatan fungsional guru namun belum sarjana (S1) harus menyesuaikan diri.
Ada banyak cara yang ditempuh oleh para guru untuk menyikapi amanat Undang-Undang tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah studi lanjut dan  up grading bagi guru yang sudah memiliki ijazah diploma II atau diploma III. Mereka melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S1).  Namun yang harus menjadi bahan renungan bersama, apakah mereka memilih LPTK yang berkualitas dan kredibilitasnya baik? Hal ini penting, mengingat tidak semua LPTK itu baik (yang ditunjukkan oleh grade akreditasinya). Bahkan, ada juga yang masih proses akreditasi namun berani merekrut mahasiswa dalam jumlah banyak. Hal tersebut harus menjadi perhatian penting bagi IKIP PGRI Semarang yang harus bisa memperlihatkan “dirinya” secara apa adanya, khusunya dalam hal grade akreditasi. Jangan sampai sudah susah payah kuliah namun kompetensi dan ijazahnya tidak diakui.
Seorang guru juga dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Tidak semua orang bisa menjadi pendidik, meski semua orang bisa mengajar.  Mungkin kebanyakan guru-guru hanya menjalankan tugasnya sebagai “pengajar” yang hanya melakukan aktivitas transfer of knowledge. Akibatnya, tidak jarang orang yang pandai secara akademik tapi malah cacat secara moral, misalnya melakukan kekerasan, korupsi dan sebagainya.
Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas IKIP PGRI Semarang perlu melakukan perbaikan pada saat rekruitmen calon mahasiswa. Calon mahasiswa harus diseleksi secara ketat agar dihasilkan sarjana yang juga berkualitas. Selain itu, kurikulum, kualitas dosen, atmosfir akademik, sarana, dan budaya akademik yang dibangun juga harus mendukung lahirnya sarjana pendidikan yang handal secara intelektual dan memiliki kualitas akhlak yang baik. Jika masih ada sarjana menganggur, mungkin ada banyak sebabnya. Namun, jika sebabnya karena buruknya mutu kampus maka inilah yang jadi masalah. IKIP PGRI Semarang harus bisa mempersiapkan calon sarjana yang siap pakai dengan rancangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk mencapai semua itu tentu tidak semudah membalikan telapak tangan.  Di butuhkan kerja keras dan kerja sama seluruh civitas academica agar bisa terus melaju dengan mutu. Akan tetapi, Sebaik serta sebagus apapun rencana dan usaha tidak akan mencapai tujuan tanpa konsistensi bersama, sebab mutu bisa dihasilkan dari sebuah konsistensi berkelanjutan.
Semarang, 22 Juni 2013
Dina Ahsanta Puri
Aktif di UKM KIAS dan LPM Vokal
Mahasiswi semester 2/IKIP PGRI SMG/FPBS/PBI

Kabar dari Laut-Di bedah di Meja Cerpen #8-Komunitas Lembah Kelelawar Semarang



Kabar dari Laut
Seperti malam-malam yang lain. Pastilah Sapto akan keluar menemui laut. Duduk sejenak di hamparan pasir yang tak tersentuh oleh ombak. Mencoba membaca isyarat laut sebelum berlayar ke tengahnya. Terlihat jejak kaki kura-kura di sekelilingnya yang begitu dia hafal. Tak ketinggalan jejak manusia pun masih terlihat nyata, bahkan jejak mereka di pasir tak terhapus oleh ombak sekali pun. Jejak-jejak yang mengusik pandangan Sapto; segerombolan sampah.  
Debur ombak semakin terdengar jelas menyisipi sunyi malam. Kadang menerjang, surut, mengalir perlahan, dan menyisakan buih di hamparan pesisir. Selalu begitu sebelum hilang tak berbekas. Sesekali air ombak itu tersangkut  dilekuk batu karang, sejenak beristirahat di sana. Apapun yang terjadi ombak-ombak itu akan selalu kembali ke pelukan samudra luas dengan membawa semua kisah-kisahnya.
Dan seperti malam-malam kemarin pula. Bulan masih terlihat begitu terang. Adalah suatu kebiasaan para nelayan selama terang bulan untuk tidak melaut. Mereka lebih memilih memperbaiki alat tangkap yang kondisinya rusak. Namun, tidak sedikit dari mereka beralih profesi menjadi buruh tani, buruh bangunan, dan pedagang demi memenuhi ekonomi keluarga. Percuma saja jika dipaksakan melaut. Tangkapan ikan akan sedikit. Pantulan cahaya bulan di permukaan air laut yang mengandung garam, membuat senar pancing ataupun jala yang terbenam terlihat menyala. Tentu ikan-ikan akan enggan mendekat. Dan Sapto bukanlah nelayan kemarin sore yang tak tahu tanda-tanda alam. Berlayar ke tengah laut baginya bukanlah semata menacari ikan. Bagi yang pertama kali mendengarnya mungkin ini akan terdengar konyol bahkan gila. Iya, Sapto lebih sering berlayar ke tengah laut untuk mencari mayat. Aneh bukan? Memang begitu adanya. Ombak pantai kidul yang ganas kerap mengambangkan mayat manusia. Entah korban kecelakaan, dibunuh, ataupun bunuh diri, bahkan mungkin juga tumbal Nyi Roro Kidul. Pekerjaan ini jauh lebih menguntungkan ketimbang mencari ikan di waktu-waktu seperti  ini. Dia cukup membawa mayat itu dan membuat semacam pengumuman baik dari mulut ke mulut atau pun melalui selebaran. Setelah itu, keluarga yang kehilangan akan menghampirinya dan memberinya uang sebagai tanda terima kasih.
            Ketika pengamatannya dirasa sudah cukup, Sapto tahu sisi mana yang harus dia tuju. Segeralah dia berlayar dengan perahu tuanya, menuju ombak yang paling keruh. Itulah patokannya selama ini. Dan benar adanya, mayat seorang lelaki tengah mengambang di tengah laut. Sekuat tenaga dia dayung perahunya untuk mendekat dan dengan sigap diangangkatnya mayat itu ke atas perahu. Hidungnya benar-benar sudah tumpul terhadap bau busuk yang menyeruak. Baginya bau busuk itu lebih nikmat ketimbang bau amis ikan-ikan yang pernah terperangkap jalanya.
***
            Keesokan harinya Sapto segera mengumumkan mayat yang telah dia temukan. Kabar tersebut segera menyebar luas bahkan sampai keluar perkampungan pesisir pantai. Warga berbondong-bondong mendatangi rumah gubuk Sapto yang hanya di huni olehnya serta putra semata wayangnya, Dirun. Bocah usia delapan tahun itu terlihat begitu kurus, nampak kurang gizi. Sejak lahir Dirun juga tidak sempat menyusu puting ibunya, sebab Jumairoh, istri Sapto tersebut meninggal ketika melahirkan Dirun.
            Kedatangan seorang perempuan muda beserta ajudannya, membuat orang-orang yang awalnya berdesakkan sembari menutup hidungnya mulai mundur dan mengatur jarak, memberikan ruang yang luas kepada perempuan dengan dagu terangkat dan tangan disilangkan. Perempuan itu menyerbakan aroma rosemary. Wewangian yang cocok untuk perempuan energik, keras, berani dan menyukai petualangan.
             Salah seorang ajudan mendekat ke mayat yang terbujur di tengah ruangan dan ditutupi beberapa lembar kain jarit. Dibukanya sedikit kain yang menutupi wajah. Ajudan tersebut mengangguk kepada perempuan itu seakan memberikan isyarat lantas berkata, “benar, nyonya.”
            Dari sekian puluh mayat yang pernah dia pertemukan dengan keluarganya, baru kali ini dia menyaksikan wajah tak berduka dari orang yang jelas-jelas mengenal si mayat.
“Syukurlah,” gumam perempuan itu. “Laki-laki brengsek! Menyesal aku menjadi istirmu!” tambahnya. Bersama ajudannya dia berbalik hendak pergi, namun Sapto mencegatnya.
Dari pernyataan itu Sapto tahu bahwa perempuan itu adalah istri lelaki yang telah terbujur kaku di hadapannya. “Maaf, nyonya. Apa nyonya tidak ingin membawa suami nyonya pulang?” tanya Sapto heran.
            “Tidak.”
            “Kenapa tidak? Suami nyonya harus segera di makamkan, sudah membusuk. Bawalah nyonya, tenang aku tak meminta bayaran.”
            “Kamu kira aku tak membawanya lantaran aku tak punya uang? Buat apa membawa mayat terkutuk seperti dia? Sudah satu bulan ini dia meninggalkanku. Kawin lagi dengan perempuan lain! Biarlah, lempar saja ke laut lagi. Untuk pakan ikan!”
            Jika sudah begini,  Sapto terpaksa harus menguburkan mayat laki-laki itu secara pantas. Seperti mayat-mayat yang pernah dia temukan, namun tak diketahui siapa keluarganya.  Hari ini Sapto harus mengurus mayat itu dan dia memilih untuk tak berlayar malam ini. Tak ada satu pun tetangganya yang mau mendekat, membantu menguburkan mayat itu. Bagi mereka itu tanggungan Sapto atas tindakan konyolnya.
***
            Seperti keputusannya pagi tadi, malam ini dia tak berlayar baik berburu ikan maupun mayat. Dia memilih tidur bersama Dirun, bocah kecil yang sering dia tinggal malam hari ketika sudah tidur terlelap. Sapto tertidur pulas, hingga menjelang fajar dia terpaksa bangun karena kaget oleh suara seseorang yang menggedor-gedor pintu rumahnya.
            “Kang, kang Sapto! Keluar, Kang! Ini Sarti, Kang!”
            Setengah sadar Sapto berjalan membukakan pintu. Rupanya di luar sudah banyak orang.
            “Kang, tolong saya, kang, tolong!”
            “Tolong apa, Sar?”
            “Tolong carikan suamiku, Kang. Lihat itu, Kang!”
            “Itu perahu Karyo, bukan?”
            “Iya, malam ini suamiku nekat melaut. Dia pergi bersama beberapa nelayan lain. Wasmin salah satunya. Kata dia perahu kang Karyo sempat terbalik terkena goncangan ombak ganas . Sekarang hanya perahunya yang kembali. Kang Karyo hilang.”
            “Iya, To, tolong carikan Karyo!” seru para warga. Awalnya Sapto merasa heran atas permintaan warga yang sebelumnya sempat menyepelekan kemampuanya mencari mayat di lautan.
            “Baik, baik.”
            Sapto masuk ke dalam rumahnya mengambil beberapa perlengkapan. Dia juga mencium kening Dirun yang masih terlelap dalam tidurnya. Kemudian kembali keluar bersiap menjamah laut.
            “Sar, titip Dirun, ya?”
            “Iya, Kang.”
            Warga secara beriringan mengantar kepergian Sapto untuk mencari Karyo. Mereka sangat mengharapkan Sapto menemukannya. Entah masih hidup maupun sudah mati.  Mereka juga membantu mendorong perahu Karyo menuju ke tengah laut.
***
Terhitung sedari fajar Sapto pergi. Cukup lama. Warga telah menanti kedatangan Sapto di bibir pantai. Awan-awan tampak liar. Bergulung-gulung, membukit dan kelam dalam warna kelabu. Bergelayut diberati beban. Menambah muram wajah langit senja dengan desir angin yang parau membawa debu. Dari kejuhan ternyata perahu Sapto mulai nampak. Warga pun bersorak sorai melihatnya. Ketika ombak kian mendekatkan Sapto ke bibir pantai dia berteriak, “hai, aku menemukannya!”
Seperti yang telah di duga sebelumnya, pastilah Karyo sudah tak bernyawa. Tangis Sarti langsung pecah mendahului langit yang masih mempertahankan mendungnya. Empat orang warga memanggul mayat Karyo, sedang sisanya membuntuti dengan raut duka begitu dalam. Ketika warga sibuk membantu Sarti mengurus mayat suaminya, Sapto memilih untuk beristirahat sejenak di rumah gubuknya. Pencarian kali ini sangatlah melelahkan.
“Dirun, buatkan bapak kopi, nak.”
Tidak ada tanggapan. Biasanya jika Dirun terdiam itu pertanda dia tengah kebingungan sebab persediaan kopi atau gula sudah habis. Namun, Sapto yakin dia masih memiliki persediaan kopi dan gula setengah toples.
“Dirun, Run?”
Tetap tidak ada jawaban. Sapto mengahampiri kamarnya. Kosong. Dirun tidak ada. Dia cari ke belakan rumah pun tak ada. Kembali dia ke depan rumah, dan berteriak memanggil-manggil anaknya, “Diruuun! Kamu di mana!”
Dari kejauhan terlihat lambaian bocah laki-laki. Dia berlari melambai-lambaikan tangan. Samar-samar bocah tersebut berteriak mengatakan sesutau. Suaranya kalah keras dengan debur ombak. Sapto mengira itu adalah Dirun, tapi ternyata bukan. Itu adalah Mi’un anak adik iparnya.
“Paman, paman Sapto!” kata Mi’un dengan nafas tersengal-sengal. “Dirun, paman, Dirun.”
“Iya, Dirun kenapa?”
“Dia terseret ombak.”
“Apa?” Sapto benar-benar kebingungan, “toloooooongg!” teriak Sapto. Namun, tak seorang warga pun mendekat, mereka semua tengah sibuk mengurusi kematian Karyo. Rumah Karyo berada di ujung kampung, suara Sapto tak kan mampu menjangkaunya.
Mendung telah meluruh menjadi gerimis. Sapto merasa sangat tidak karuan. Di antara gerimis putih  yang menaburi senja. Keabu-abuan telah memeluk waktu dengan diiringi langit jingga yang kian lama kian memudar. Hari sudah mendekati pelukan malam. Perlahan gerimis mulai berganti hujan. Hujan yang kian deras. Dengan langkah kecilnya, Mi’un berlari pulang ke rumah, sedangkan  Sapto bergegas mendorong perahunya yang baru saja menepi untuk kembali berlayar ke tengah laut. “Diruuunnn!!!” teriak Sapto  ditengah tirai ombak  yang mengepung perahunya dari segala arah bersama  hujan tak hentinya terus mengguyur.
***
Pagi harinya warga berkumpul di bibir pantai dan sepakat untuk mencari Sapto serta anaknya. Namun ombak seolah memulang-pulangkan mereka kembali ke bibir pantai. Seakan mereka hanya akan mendapati kesia-siaan jika terus memaksa.
Semenjak saat itu tidak ada seorang pun  yang tahu keberadaan Sapto dan Dirun. Mungkin sudah mati di tengah laut dan dikoyak oleh ikan hiu. Beberapa orang kerap mendengar suara rintihan pilu serupa kesedihan yang mengapung di udara. Para nelayan yang berlayar malam hari pun terkadang melihat bayangan perahu Sapto, nampak seorang lelaki tengah memangku anaknya. Dan siapapun yang menyaksikannya, maka ia sama saja mendapatkan tanda kesialan. Tak dapat ikan, kapal rusak terterjang ombak dan beragam kesialan lainnya.
***
“Syukurlah mati. Hanya mencampuri urusan orang lain saja!” ucap seorang perempuan setelah membaca berita di koran mengenai seorang nelayan dan anaknya yang hilang di lautan dan dikabarkan mati.
“Nyonya, perempuan itu sudah kami bunuh. Akan diapakan nantinya?” 
“Buang saja ke laut. Biar dia ketemu dengan pasangannya yang brengsek! Pastikan kau buang mayat itu di tempat yang banyak ikan hiunya. Biar lekas lenyap dan tak ada yang menemukan!”
Para ajudan mengangguk. Perempuan itu mengambil botol parfum kecil di atas meja. Menyemprotkannya ke sisi kanan kiri leher secara bergantian, menyerbakan aroma rosemary. Wewangian yang cocok untuk perempuan energik, keras, berani dan menyukai petualangan.




Dina Ahsanta Puri
Semarang, September 2013

Cerpen-Berumah Rahasia-Tabloid Cempaka-Edisi 29.XXIV.12-18 Okt.2013



Berumah Rahasia

Muka Hajir masih masam semenjak Hani melontarkan pernyataan semalam. Farid, akan melamar Hani. Dia adalah anak Bu Sofiyah, janda yang menjadi tetangga sebrang jalan. Tak hanya tangisan Hani yang pecah semalam. Cangkir kopi pun ikut pecah mengakhiri perdebatan antara ayah dan anak. Hani melengos masuk ke kamar. Sedang istri Hajir marah-marah karena cangkir baru; hadiah arisan ikut jadi sasaran. Hajir tahu ketika putri semata wayangnya terbangun nanti, akan ada sebuah tanya yang akan menohoknya. Tentu perihal alasan penolakan lamaran.
Istri Hajir sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Secangkir kopi menemani Hajir duduk di kursi teras depan rumah. Dia menyeruputnya pelan. Matanya merem melek. Jidatnya mengeryit, membuat kerut keriput samar di wajahnya kian nyata. Hajir yakin betul, gula di toples masih penuh. Mungkin istrinya masih ngambek perihal cangkirnya yang pecah semalam. Hajir tak ingin marah-marah dan memperpanjang masalah kopi pahit buatan istrinya.  Baginya ini tak akan sepahit kata yang membuat lidahnya kaku untuk memberikan alasan kepada Hani.
 “Pagi, Pak Hajir,” sapa Priyo, tetangga samping rumah. Seorang bujang lapuk. Hingga kepala empat pun dia tak kunjung menikah.
“Pagi,” balas Hajir dengan senyum yang sejatinya alot dipampangkan. Perasaannya masih semrawut.
Seperti pagi-pagi yang lain. Priyo selalu mengurusi burung kutilang  kesayangannya. Membersihkan kandang dan memberi pakan. “Woy, ngurus burung kutilang mulu! Urus burung sendiri dong. Masa sudah empat puluh tahun cuma buat pipis doang. Ya, nggak, Pak Hajir?” celetuk Rofiq yang pagi-pagi itu menunggangi sepeda ontel tuanya, melewati jalan depan rumah Priyo dan Hajir.
“Hahaha.... ada-ada saja kau,” timpal Priyo yang sudah terbiasa dicandai orang-orang.
Mendengarnya Hajir merasa agak geli. Sedikit senyum tersungging diantara bibirnya yang kusut. Namun, senyum itu tak berlangsung lama ketika Hani muncul dihadapannya.
“Bagaimana, ayah?” tanya Hani dengan mata yang masih terlihat sembab.
“Bagaimana apanya?” kata Hajir pura-pura tidak tahu. Diraihnya koran yang ada di atas meja, lantas membukanya lebar, menutup wajah hingga dadanya.
“Yang kemarin itu,ayaaaahh,” ucap Hani kesal.
“Lamaran?”  tanya Hajir sembari menurunkan koran ke pangkuan. “Kamu dengar ayah ngomong apa kemarin?”
Hani duduk di kursi sebelah Hajir. Merengek mencoba meluluhkan kerasnya hati Hajir, “Ayaahhhh...”
Hajir melipat koran dan membantingnya keras ke meja. Dia ingat betul untuk tidak membanting cangkir lagi. Bisa-bisa istrinya membuatkan kopi sepahit bratawali. “Pokoknya ayah tidak setuju!” Hani melihat sekeliling, takut jadi perhatian tetangga. Untung masih sepi hanya  Priyo  yang menoleh ke arah Hajir  dan Hani. Tanpa sepatah kata Hajir masuk ke dalam rumah. Hani membuntuti.
“Mas Farid orang baik-baik kok. Ayah tahu  keseharian mas Farid seperti apa, bukan? Rajin beribadah, sudah mapan juga.”
Hajir tak mengacuhkan. Dia duduk di sofa dan menyalakan televisi.
“Ayah  mau aku jadi perawan tua?”
Nggak mungkin! Ayah bisa carikan laki-laki lain.”
“Tapi  ayah, Hani cuma mau mas Farid. Ayah ini kaya nggak pernah muda aja, sih!”
Hajir menaikan volume televesi begitu keras. Lelaki usia empat puluh tiga tahun itu pura-pura menikmati tayangan kartun yang sebenarnya sama sekali tak disukainya.
“Oke, kalau ayah tidak setuju! Jangan salahkan Hani, jika Hani nanti nekat kawin lari!”
Hajir mematikan televisi dan berdiri membentak Hani, “jangan konyol kamu!”
“Ayah yang jangan konyol! Apa alasan ayah melarang mas Farid melamarku?” ucap Hani dengan nada lebih tinggi. Hajir duduk kembali dan terdiam.
“Ayah tidak bisa menjawab, bukan? Hani sudah besar, yah! Hani berhak menentukan pilihan!” Kamar kembali menjadi tempat pelarian Hani untuk memeras air mata. “Brakkk,” Dibantingnya pintu kamar keras-keras. Menggoyangkan beberapa bingkai foto jadul Hani saat kecil, yang terpajang di dinding. Hani; gadis kecil Hajir sudah tumbuh dewasa. Kemarahannya bukanlah hal sepele seperti dulu lagi. Bukan amarah seorang anak kecil yang bisa diobati dengan permen, boneka atau iming-iming pergi ke tempat wisata dan hiburan.
 Pernikahan adalah hal yang sakral. Tak boleh main-main. Kalau bisa hanya sekali seumur hidup. Tapi, putrinya telah menjatuhkan pilihan pada lelaki yang tak Hajir inginkan. Walau bagaimanapun, Hani berhak tahu alasan penolakan itu. Hajir memantapkan diri untuk menghadapi putrinya.
tok...tok...tok...,” Hajir mengetok pintu kamar Hani pelan. “Hani, keluar nak, ayah ingin bicara sebentar,” pinta Haijr. Hani pun keluar tersedu-sedu dengan hidung kembang kempis menahan laju ingus akibat derasnya tangis. Dia berharap ayahnya telah berubah pikiran.
“Ayo, duduk dulu.” Ajak Hajir ke arah sofa depan televisi.
            “Hani, kamu mau tahu alasan ayah menolak lamaran itu?”
Hani mengangguk dengan bibir menyat-menyot menahan tangis.
“Tapi, kamu janji ya? Jangan beri tahu ibumu dulu.”
Hani kembali mengangguk; serupa boneka di dashbor mobil yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa sepatah kata.
“Farid itu kakakmu.”
“A..a..Apa?”  Sepatah kata keluar bersama nafas yang agak tersengal oleh sisa tangis tersedu-sedunya.
“Itulah sebabnya bapak tidak setuju.”
Semasa SMAnya dulu, Bu Sofiyah adalah kekasih Hajir. Diam-diam Sofiyah hamil tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa itu anak Hajir. Saat Hajir akan melamarnya, orang tua Sofiyah dan Hajir tidak setuju. Hubungan orang tua mereka memang tak terlalu baik. Sofiyah dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Dia adalah Pak Zainudin yang sejak dua tahun lalu sudah menjadi almarhum. Setelah Hajir kuliah dan bekerja, dia dijodohkan dengan Sumarini. Anak gadis lurah Rasyid, sahabat kakek Hani. Hajir pun tahu sebenarnya Sumarini juga terpaksa menikah dengannya, tapi lambat laun Hajir dan dan Sumarini terbiasa menjalani kehidupan berumah tangga. Meski tak tercipta romantisme ala suami istri seperti biasanya. Hajir percaya Hani pun bisa melakukannya. Bukan melalui perjodohan, tapi dengan mencoba mencari laki-laki lain yang lebih pantas meminangnya.
***
Sepulang dari pasar, Sumarini hendak menjemur se-ember pakaian. Semua sudah dicuci dan dibilas bersih. Dia bingung ketika mendapati putrinya melamun di teras belakang rumah. “Sedang apa kamu di sini, Han?” nampaknya tanya Sumarini hanya membentur tiang jemuran dan pepohonan di belakang rumah. Hani masih saja terdiam. Sumarini meletakkan ember jemurannya.  “Ayahmu sudah setuju, Han?” tanya Sumarini.
Hani menggeleng lemah,“tidak, bu.”
“Ayahmu aneh! Nanti ibu yang ngomong langsung ke ayah.”
“Tidak usah, bu.”
“Kamu kok jadi ikut-ikutan aneh? Kemarin nangis-nangis, ngotot minta direstuin.”
“Sudah lah, bu. Jangan bahas ini lagi. Sampai kapan pun, aku tak bisa menyatu dengan mas Farid.”
“Ah, kata siapa? Kamu jangan jadi perempuan lemah dong, Han! Nanti kamu menyesal, lho! Selama kamu yakin, apa salahnya coba? Tidak boleh pesismis. Cinta harus diperjuangkan!“ ucap Sumarini yang berbalik lebih ngotot memperjuangkan cinta anaknya.
Hani meremas rambutnya, pusing dan geram. “Ibu, yang namanya kakak adik pasti tidak boleh menikah!”
“Ha?” Sumarini tercengang kaget.
Hani sadar dia keceplosan. Mau bagaimana lagi, kata-katanya sudah tidak bisa ditarik. Pendengaran ibunya masih baik. Mana mungkin dia pura-pura mengatakan ibunya salah dengar. Perkataan adalah do’a. Itu sama saja dia mendo’akan ibunya biar budeg.
“Kata ayah, Mas Farid itu sebenarnya kakakku.” Hani menunduk, air matanya kembali menetes. “Maaf jika aku membuat ibu sedih dengan kenyataan ini.”
“Tidak apa-apa,” jawab Sumarini datar.
Hani menatap wajah ibunya. Tak disangka-sangka ibunya akan setegar itu. Kemarau bertahan di mata Sumarini, menatap kosong halaman belakang rumah. Bukan tidak mungkin jika kemarau di mata itu  membuat retakan-retakan kecil di relung hatinya. Mungkin saja ada tangis yang tak basah dan tak nampak oleh pandangan. Hani merasa sangat tak pantas untuk terus menangis. Ibunya yang jelas telah tersakiti saja masih bisa tegar, mengapa dia tidak? Hani mengusap air matanya sendiri.
Pintu belakang rumah Priyo terbuka. Dia keluar dan duduk di kursi belakang sembari menyedu teh hangat. Memandangi kebun bunga mawarnya yang mulai bermekaran. Sepasang kupu-kupu terbang rendah di atasnya, seakan menggoda Priyo yang masih saja betah melajang. Rumahnya dengan tetangga hanya dibatasi pagar kayu setinggi satu meter, karenanya dia bisa melihat jelas; dua perempuan penghuni rumah sebelah, tengah duduk memperbincangkan sesuatu yang terlihat serius. Tak mau dicap mengintai atau mengurusi urusan orang lain, Priyo memilih untuk menikmati tehnya sebelum dingin.
“Dengarkan ibu, Hani! Kamu masih berhak menikah dengan Farid,” ucap Sumarini. Priyo menoleh ke arah tetangganya dan menggeleng keheranan. Dia tak tahu persis masalah apa yang ada di tetangganya. Tidak di depan, tidak di belakang. Masih saja ribut di hari sepagi ini. Dari pernyataan Sumarini, tanpa disengaja Priyo mulai tahu akar permasalahannya, namun dia tetap memilih untuk menikmati secangkir teh hangatnya. Menghirup asapnya yang bergemulai lemah, menyerbakan aroma teh dan melati.
“Tapi, kata bapak...”
Sumarini segera memotong pembicaraan, “ibu sedang mencari cara untuk bicara dengan ayahmu.”
“Masalah sedarah itu sudah tidak bisa dibicarakan lagi, bu!”.  Mendengar hal itu, Priyo mulai menajamkan kupingnya. Kini dia merasa penasaran dengan kegaduhan tetangganya. Seandainya bisa, dia akan menggunakan telinga setajam sunyi untuk mendengar sejelas-jelasnya.
“Bukan masalah itu.”
“Lalu?”
“Masalah bahwa kamu juga bukan anak ayahmu,” ucap Sumarini pelan sembari menatap Priyo yang sedang memperhatikan mereka.
Priyo yang saat itu juga tengah menyeruput teh, tersedak kaget. Dia rasa teh hangatnya sudah tidak nikmat lagi. Sepasang kupu-kupu yang menyaksikan, terbang mendekat ke arahnya. Bersama jawaban yang diyakini sepasang kupu-kupu itu, mereka seakan hendak menanyakan alasan Priyo melajang.


Purbalingga, 02-09-2013
Dina Ahsanta Puri.
Mahasiswi semester 3/PBI/IKIP PGRI Semarang