Sabtu, 30 Juli 2022

Puipui Reborn!

 


TERAPI DIRI UNTUK KEMBALI

Jika ada kesempatan, aku ingin kembali mengunjungi Semarang. Kota yang pernah menumbuhkan suatu mimpi dan sekaligus menjadikanku pecundang yang melepaskan mimpi itu. Mimpi yang seandainya mewujud manusia, ia baru sebesar balita. Balita yang digadang tumbuh menjadi jawara itu, kutelantarkan karena kepayahan dan langkah yang tertahan kekecewaan. Berkali kali aku menyalahkan diri, dasar pecundang! Sungguh aku egois pada diri.

Aku terus berlari dengan dalih menyembuhkan diri. Pelarian yang memperparah dan menghambat kesembuhan. Banyak kawan mencoba meraih tanganku dan memintaku kembali, ‘menulislah, kami rindu tulisanmu.” Aku selalu sensitif jika ada seseorang membahas aku yang dulu, “dulu kamu... aku mengenal kamu sebagai... aku selalu ingin sepertimu, kenapa kamu berhenti.” Aku membenci pertanyaan macam itu, tanya yang membuatku merasa semakin payah. Mentalku payah, bukannya terpantik untuk memulai kembali, justru semakin kencang berlari. Memasuki persinggahan demi persinggahan yang mengungkung jati diri.

Pertama aku mengenali apa itu mimpi, saat aku sadar aku sangat ingin menjadi atlet badminton. Tapi aku sadar, itu berat dan sudah ikhlas menjadi penggemar bulu tangkis saja. Serupa hukum kekekalan energi, bahwasannya energi tidak pernah musnah, ia hanya berubah wujud. Seperti itulah mimpiku, mimpiku masih hidup dan berubah ke tulisan.

Hampir 7 tahun aku berhenti dan meyakini mimpi itu telah mati. Namun, hari-hari yang kulewati serupa malam yang berkepanjangan. Gelap dan menyesakkan, mimpi itu kerap menyelinap dan menghantui diri. Ia seperti meminta pertanggung jawabanku menghidupkannya.

7 tahun aku menyepi dengan caraku. Merenungi setiap langkah, setiap tatap, setiap aroma, setiap sentuhan, setiap ingatan. Aku mencoba menggapai kepercayaan diri kembali dan mengajak diri ini berdamai dengan diri.

MULAI BANGKIT

Aku bertapa dalam senyum, dalam komunikasi, dalam bacaan, dalam kesabaran, dalam keberanian. Sampai aku mendapati Haruki Murakami saja melahirkan karya ketika usia 29 tahun, banyak karyanya yang lahir dari kesepian. Menilik usiaku, aku belum terlambat dan memang tidak ada batasan usia. Ini bukan perekrutan CPNS.

 

MENGINGAT KEMBALI AWAL MULA

1.       Receh, humoris, ‘aneh dan nyleneh’, imajinatif, memiliki sudut pandang berbeda.

Seorang kawan belum lama ini mengatakan, “kamu ada-ada saja ya, dulu perkara tai kuda saja bisa kamu tulis semenarik itu.” Tai kuda? Biasanya ingatanku sangat tajam. Tapi memang karena there were some problems hit me hard, membuat sebagian ingatanku hilang. Bukan semacam amnesia tapi seperti autoprotect dari pikiran yang mengeblok beberapa file ingatan untuk melindungi diri dari rasa sakit. Dan ia serupa antibody yang tak bisa memilih mana bakteri baik dan bakteri jahat, atau serupa antivirus yang justru mengformat banyak file penting.

Aku bekerja pada suatu tempat yang mungkin agak susah untuk mengembangkan kesenanganku ini, jadi tak banyak orang yang tahu siapa aku. Aku sebenarnya menikmati ketidaktahuan itu. Karena terkadang banyak pencapaian masa lalu yang tidak bisa kita banggakan di masa yang lain, kebangaan yang sudah tidak relevan dan perlu diupdate.

2.       Media

Aku pun teringat dulu banyak mengenalku karena ‘notes’ FB. Keberadaan FB kala itu sebenarnya sangat berjasa untukku. Keisenganku menulis mengundang pembaca gabut yang makin gabut dengan mengeshare tulisan receh itu.

3.       Wadah atau Komunitas

Di semarang, aku di dukung Vokal, KIAS, dan kenalan dari beragam komunitas. Setiap saat otakku bekerja, menjadikan diri semakin haus akan ilmu. Bisa kusebut beberapa orang yang sangat berjasa, Mas Sanul, Mbak Tami, Mas Farid, Mas Priyo, Fauzi, Widha, Evi, Mas Hajir besar, Mbak Rini, Mbak Ari, Mbak Hani, Mbak Sofi, Mas Wid, Mbak Santi, Mas Deska, Pak Pras, Mbak Hae, Ita, Putri, Si Kembar and family dan rekan-rekan Vokal dan KIAS yang mampu mengapresiasi karya dengan baik

4.       Kopi, Musik, Malam

Mbak Hae, senior kos ucup mungkin kerap kaget melihatku pukul 1 atau 2 dini hari nangkring di genting kos dengan laptop. Katanya kos itu sebenarnya angker tapi sepertinya setan akan takut kepadaku, karena aku lebih berani. Ia mendukungku untuk menulis dan berkeyakinan suatu saat nanti aku bisa melahirkan suatu karya. Saat itu aku berpikir, ia memiliki keyakinan yang aku sendiri tak terpikirkan apalagi memiliki.

Dokter klinik kampus sangat hafal denganku. Saat aku menempuh pendidikan PPG (2 tahun setelah lulus) ia masih mengenalku. Memang aku dulu kerap ke klinik. Salah satunya karena kopi. Karena kebanyakan kopi jadi magh atau anyang-anyangen hahaha.

Aku tidak menyebut diri maniak kopi. Aku hanya menyukainya.

Laptop masa kuliahku full dengan beberapa lagu. Jangan tanya siapa penyanyi favorit atau genre apa yang kusukai, pokoknya asal enak didengar. Aku pernah menemukan suatu flashdisk, entah milik siapa. Aku cek isinya untuk mengidentifikasi pemiliknya tapi tidak ada jejak-jejak kepemilikan. Yang kudapati hanya folder-folder album dari naif, sheila, dewa19, slowrock, indie, payung teduh, pop 2000an, lagu jadul barat, banyak lainnya. Aku mengopy semuanya. Meski selama ini bisa mendengarkan lewat YT, ini bisa menjadi alternatif jika tidak ada koneksi. Lagu-lagu itu kerap menemani malamku juga. Salah satu yang sering kuputar “mama dan bulan purnam-Naif”

 

5.       Diam-diam berusaha

Aku tidak pernah sesumbar mengikuti perlombaan atau mengirim karya ke media massa. 15% tidak suka pamer, 85% malu-maluin lah kalau gagal hahaha. Gak sih, lebih tidak ingin terintervensi orang lain.

 

6.       Menulis seperti hasrat BAB

Pak Pras, pernah berkata menulis seperti hasrat BAB. Ia tidak bisa kita tahan. Jika ada hasrat untuk menulis, meski hanya satu kalimat. Maka tulislah. Dulu aku memiliki banyak draft tulisan. Tapi sayamg, laptopku rusak.

 

7.       Intuisi, Logika dan Analogi yang baik

Satu hal sih, jangan bodoh karena cinta.

 

Dan saya menulis ini bagian dari pemberhentian pelarian. Aku sudah mendeklarasikan diri aku akan kembali di instagram. Bukan berarti aku menyalahi poin 5. Ini sebagai pengikat sosial saja. Serupa diet yang katanya kalau mau berhasil harus diumumkan, agar orang lain memperhatikan perubahan kita. Ya kalau ada yang perhatian ya ....

 

Sekarang aku mulai stabil, berkarib dengan laptop kembali, membuka wacana dengan banyak membaca kembali, mulai pemanasan dengan asal menulis begini. Dan memiliki support systems: kopi, musik plus kucing. Meooong...

Ya semoga juga dapat bonus support system hidup hahaha

 

Welcome back, Puipui!

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar