Kamis, 30 Mei 2013

Menyantap Suguhan Cerpen dari Widha, Prodi Biologi.




Suatu ketika sebelum postingan ini nangkring di blogku...





Penantian di ujung telfon

Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi (Ketika aku membaca kalimat pembuka cerpen ini yang mampir di otakku adalah Peterpan & Sheila on7, entahlah...) . Untuk sekarang apakah dia mengenali Atdam atau tidak (Atdam dan hawa, atau atdam maghrib, subuh atau Isya? nama tokohnya asing sekali di lidahku.). Satu pijakan kaki yang Atdam miliki sekarang menjadi pukulan kerasnya (yang ku ingat adalah Chris Jhon) . Seseorang di sana tak jua menelepon Atdam. Betapa kesal hati Atdam menanti yang tak kunjung berdering untuk sekedar panggilan masuk ataupun pesan pendek untuknya. Rasa kesal padanya kenapa seseorang di sana tak kunjung menghawatirkannya. Padahal sebelumnya sudah Atdam kabarkan padanya tentang yang Atdam alami. Namun sampai sekarang itu hanya ilusi (yang terbayang dalam benakku adalahhh.... Demian “Sempoaaa...”  ) yang sampai saat ini dia tak beri kabar.
Waktu berjalan serasa cepta sekali. Ini malam tiba-tiba sudah pagi telah datang (ngomong opo kowee???) . Pikiran Atdam melayang jauh ke pulau Jawa (Aduhhh ,,, bahasane ngeri iki, ngeri,,, ngeriii...) , mengapa dia tidak meneriakkan sepatah katapun untuk dirinya. Satu minggu berlalu masih saja handphone Atdam tak berdering. “Apakah dia lupa denganku” ucap Atdam dalam hati. Terlihat ia setia menunggu handphonenya di dekat kepelanya. Baginya penantian menunggu balasan darinya belum samapi pada titik akhir, Atdam menguatkan dirinya kalau pujaan hatinya baik-baik saja ( yang ku ingat adalah Andika Kangen Band, Hai pujaan hatii... apa kabarmuu... ku harap kau baik2 saja...). Sempat Atdam menanyakan kabar tentang seseorang di Jawa pada ibunya, namun ibunya tak tahu menahu tentang dia.
“Gak tau ini ibumu tentang dia, lha kamu gimana? Disms saja atau ditelfon. Yang tunangan kamu malah ibumu yang mau dibuat pusing tentang itu” jawab ibunya sambil menampakkan raut muka marah.
Sejak saat itu Atdam tak mau merepotkan ibunya. Memang benar apa yang dikatakan ibunya itu. Atdam bertekad akan tetap menunggu dan berusaha sendiri tentang pujaan hatinya itu. Kelakuan Atdam membuat ibunya marah karena kerjaannya cuman mantengin handphone yang tidak jelas akan berdering atau tidak.
Kringgg
Bunyi handphone berdering keras, Atdam cepat sigap menyambar handphone cina miliknya dari atas meja (Merk’a Cross ya mba?? #sensorr). Tanpa basa basi dan melihat dulu dari siapa panggilan masu itu, Atdam langsung saja. (langsung saja apa tu sess??)
“Sayang, kenapa gak telfon atau sms kemaren-kemaren, aku sms dan kutelfon tak kau angkat, apa yang terjadi padamu” ucapnya dengan nada tak sabar.
Atdam terlihat menghentikan bicaranya dan memberi kesempatan pada suara jauh itu untuk menjawab, tapi apa yang dia dengar. Yang terdengar bukan suara merdu dari seorang cewek namun suara yang familiar di kelas waktu dulu sekolah di Jawa.
“Sayang-sayang. Heh bro, ini gue! Bukan dia!” tegas Joni dengan suara lantang.
Semangat yang tiba-tiba nyala dan membara, tiba-tiba padam begitu saja menyisakan sisa pembakaran yang belum selesai terbakar semua.
“Ada apa Jon?” ucap Atdam pada Joni.
Terdengar suara tawa yang menggelegar dari sebrang sana. Membuat Atdam menjadi kesal. Ditanya malah tertawa. Ia pun menutup handphone dari Joni dan menanti handphone berdering lagi yang pastinya bukan dari si Joni.
Kriingggg
Suara handphone Atdam terdengar lagi.
Tanpa basa-basi seperti awal tadi, Atdam langsung saja menyambar handphonenya. Dan masih sama kata yang terucap pada perkataan awal. Lagi-lagi Atdam tertipu karena ketidaksabarannya. Ia mengira dari kekasih hati yang sudah lama ia rindukan. Rindu yang tak berujung dan tak berbentuk. Sampai tak terbentuknya itu ia semakin seperti gila saja menunggu balasan panggilan masuk dari suara merdu penuh dengan cinta atau pesan dengan kata-kata mesra.
Tapi sayang dua minggu tak ada kabar pun. Membuat Atdam semakin bertambah tidak sabar. Ingin sekali ia datang padanya. Tapi jarak memisahkan mereka. Ia berada di atas pulau lain sedangkan pujaan hatinya di belahan pulau Jawa yang sudah lama ia tinggalkan lima bulan lalu karena masalah kecelakaannya ketika akan kembali ke pulau Jawa.
Atdam tak henti-hentinya mencoba menelfon dan sms berkali-kali tapi tak ada jawaban. Beribu-ribu telah Atdam kirimkan pesan yang berisi rasa kangen dirinya. Sebetulnya apa yang ia lakukan, apa yang terjadi. Pikiran Atdam hanya tertuju banyak pertannyaan.
Malam itu, Atdam berencana untuk kabur dari rumah berdinding putih untuk keluar dan menemui si pujaan hati tapi nasib tak berpihak padanya. Ia ketahuan oleh orangtuanya. Atdam sering mau kabur, memaksa kedua orangtuanya mengurung dan mengunci Atdam agar tak kabur dalam keadaaan yang belum sembuh benar. Atdam merasa dijadikan orang yang sakit parah. Menurut Atdam, mereka telah berkomplot untuk memisahkan dirinya dengan tunangannya.
Meronta-rontalah Atdam. Kemarahannya mengusai jiwa dan pikirannya. Ia pun menjadi tak mampu berpikir secara rasional. Tapi bagi Atdam apa yang dia lakukan itu hal yang wajar kalau ia meronta karena dirinya dikurung dengan sebab tak jelas. Tapi kata mereka Atdam gila. Perasaan yang jatuh bangun dan sakit menusuk-nusu masuk dalam rongga dan pikirannya saat mendengar orangtua mengatakan seperti itu.
Semakin tak terkendalilah Atdam. Sampai akhirnya Orangtuanya pun tak sanggup menghadapi Atdam. Sabtu pagi, mereka menyerahkan Atdam ke rumah sakit. Atdam semakin menjadi-jadi saja karena tahu dirinya dimasukkan dalam rumah sakit jiwa.
Jiwa Atdam semakin tak terkendali. Kondisinya semakin memprihatinkan saja, baik dari segi fisik maupun mental. Handphone Atdam pun menjadi sahabat dimanapun ia berada. Selang beberapa hari di rumah sakit, handphonenya berdering.
Kringgggg
Deringan handphone Atdam mengagetkan dirinya. Ingin rasanya cepat-cepat tangan Atdam tuk menjangkau deringan itu. Namun fisiknya semakin lemah dan tak bertenaga menyebabkan ia butuh waktu sampai ia bisa menjangkaunya. Deringan pertama kedua mati belum juga tangan Atdam menjangkaunya. Sampai deringan ketiga kalinya, tangan Atdam dapat menjangkau handphonenya itu. Suara merdu dari ujung telfon terdengar menyejukkan pikiran Atdam.
“Hallo” ucap seorang cewek dengan lembut.
Atdam tak mampu tuk menjawab. Bibirnya terkunci. Hanya bisa menangis dan menjawab dalam hati. Suara itu mampu membuat Atdam menjadi tenang. Pada menit kesepuluh (pertandingan bola kaleee...) . Tiba-tiba Atdam tergeletak dan menjatuhkan handphonenya.
“Aku sudah menikah”.
Praanggg (Itu yang jatuhh apa?? HP berbentuk piringkahhh??)
Terlihat raut muka Atdam yang pucat pasi. Bibirnya membuka-menutup (Kok yang kebayang adalah bibir sensual ikan di  aquarium yahh??). Matanya tak berkedip memandang jauh keluar jendela di depannya dengan panorama malam lampu yang berkilau-kilau. (Lho... lho... lho... kok jadi panorama, jalan-jalan bu?? Kok lampu berkilau-kilau mendadak disco ni yeee??) Tapi seindah apapun cahaya lampu yang tercipta malam itu, Atdam tak terbawa suasa. Kedipan matanya perlahan menutup (Ih genit ahh, mau pingsan aja pake kedip2 dulu). Membasahi bantal putih di bawahnya. (Wah... parah iki cahhh... ngiler opo ngompol kuiii??)
Ruangan menjadi hening dan sangat hening. Tak ada pergerakan pun dari dalam ruangan yang berukuran 4X6 meter itu (kalauuu luas liang kubur berapa ya??? Ehh... runagan buat WC yang ideal juga berapa ya?).


The end

Sekian komentar dari saya, makasiiiihhhhh  :D


Komentar di atas hanyalah fiktif belaka, Ini yang ASLINYA>>HAHAHAHAHAHAHA 3:)
Hmmmm... Aku juga belum paham benar mengenai dunia tulis  menulis, masalah EYD aku ga mau komentar,  sebagai pembaca tulisan itu telah menjadi milikku, maka terserah aku dalam menilainya, ya mungkin begitu secara kasarnya. Mungkin kamu ingin membuat unpredictable surprise ending, tapi jalinan ceritanya tidak mengajak pembaca untuk penasaran, ini masuknya cerepn teenlit ya? mungkin hal ini dilatar belakangi ide cerita yang cenderung sudah biasa di sinetron, atau FTV, tapi seharusnya hal tersebut bisa ditanggulangi dengan inovasi cerita. Masih tidak konsen memadukan kata, aku juga sering seperti itu, jadinya rancau, mungkin karena kurang teliti, terburu-buru. Ceritanya tidak bergetar, aku sebatas pembaca, seakan tidak ada pintu bagiku untuk masuk bermain ke dalam cerita, mungkin pengendapan dalam membuat cerita kurang, butuh penghayatan, terburu-buru mungkin #soalnya aku juga sering gitu.
Jika ini dibukukan jangan buat buku itu bersentuhan dengan tangan si pembaca, tapi buatlah buku itu bersentuhan dengan hati si pembaca, biarkan cerita itu mengalir bahkan menjalin ikatan batin dengan si pembaca, karena tulisan itu telah menjadi milik si pembaca. Masalah pengangkatan ide dan pengembangannya selain bisa banyak baca, juga bisa dengan mengasah kepekaan, baik melihat sekitar atau melalui perenungan, dan dalam menulis buatlah seolah-olah kamu peran dalam cerita itu, atau setidaknya kamu seakan ada/menyaksikan/merasakan/terlibat dalam cerita itu yang akan membuat cerita menjadi gurih dan renyah. Tapi, saya suka dengan keluguan kata-katamu, sudah ku bilang bukan? Kau bukan manusia. Aku menaruh curiga padamu. Ya, aku akaui itu. Aku rasa kau adalah siluman, siluman ulat bulu yang menjelma menjadi manusia, sehingga sering menebar kegelian secara ghaib. #Diam-diam menggelikan gitruuuuu.....                     

*Kawan seandainya kau kini sebatas ulat  bulu, kehadirannya tak teranggap bahkan tak dinginkan, seringkali sedal jepit menggilas dirimu,bebatuan menggerus tubuhmu karena kau mengerikan baginya yang tak mengenal dirimu sejatinya, teruslah bergerak sampai ke pucuk dan pucuk, nanti kau kan mendapatkan ketenangan dalam kepompong, manfaatlah masa kesendirianmu dalam kepompong, setelah semua yang ada dipikiran dan hatimu terendap kuat, keluarlah, terobos dinding kepompong itu, ada banyak bunga yang menunggu kehadiranmu. Meski dulu bunga pernah menghindarimu yang berwujud ulat bulu, jangankan bunga, daun, batang, sampai akarpun pernah mengamini ketiadaanmu, oleh karena itu tunjukanlah  


Inilah wujud Widha yang sesungguhnya :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar