Suatu ketika sebelum postingan ini nangkring di blogku...
- May 22
- Friday
- Dina Ahsanta Puri
Gak mauuuu,, kan buat arsip catatanku dii FB, masa yg lihat cm akuuu?? ga da jempol lewattt...hahaha - Solidaritasplur WidhaTosca
wkwkwkwkw, up to you tapi klu ada apa2 dngn ku tanggung jawab yow...
pedes pora kritikanne...
Penantian
di ujung telfon
Hari yang cerah untuk
jiwa yang sepi (Ketika
aku membaca kalimat pembuka cerpen ini yang mampir di otakku adalah Peterpan
& Sheila on7, entahlah...) . Untuk sekarang apakah dia mengenali Atdam atau tidak (Atdam dan hawa, atau atdam maghrib, subuh atau Isya? nama tokohnya
asing sekali di lidahku.). Satu pijakan kaki yang Atdam miliki sekarang
menjadi pukulan kerasnya (yang ku ingat adalah Chris Jhon) . Seseorang
di sana tak jua menelepon Atdam. Betapa kesal hati Atdam menanti yang tak kunjung
berdering untuk sekedar panggilan masuk ataupun pesan pendek untuknya. Rasa
kesal padanya kenapa seseorang di sana tak kunjung menghawatirkannya. Padahal
sebelumnya sudah Atdam kabarkan padanya tentang yang Atdam alami. Namun sampai
sekarang itu hanya ilusi (yang
terbayang dalam benakku adalahhh.... Demian “Sempoaaa...” ) yang sampai saat ini dia tak beri kabar.
Waktu
berjalan serasa cepta sekali. Ini malam
tiba-tiba sudah pagi telah datang (ngomong
opo kowee???) . Pikiran Atdam melayang jauh ke pulau Jawa
(Aduhhh ,,, bahasane ngeri iki, ngeri,,,
ngeriii...) , mengapa dia tidak meneriakkan sepatah katapun untuk dirinya.
Satu minggu berlalu masih saja handphone
Atdam tak berdering. “Apakah dia lupa denganku” ucap Atdam dalam hati. Terlihat
ia setia menunggu handphonenya di dekat kepelanya. Baginya penantian menunggu
balasan darinya belum samapi pada titik akhir, Atdam menguatkan dirinya kalau pujaan hatinya baik-baik saja ( yang ku
ingat adalah Andika Kangen Band, Hai pujaan hatii... apa kabarmuu... ku harap
kau baik2 saja...). Sempat Atdam menanyakan kabar tentang seseorang di Jawa
pada ibunya, namun ibunya tak tahu menahu tentang dia.
“Gak
tau ini ibumu tentang dia, lha kamu gimana? Disms saja atau ditelfon. Yang tunangan kamu malah ibumu yang
mau dibuat pusing tentang itu” jawab ibunya sambil menampakkan raut muka marah.
Sejak
saat itu Atdam tak mau merepotkan ibunya. Memang benar apa yang dikatakan
ibunya itu. Atdam bertekad akan tetap menunggu dan berusaha sendiri tentang
pujaan hatinya itu. Kelakuan Atdam membuat ibunya marah karena kerjaannya cuman
mantengin handphone yang tidak jelas
akan berdering atau tidak.
Bunyi
handphone berdering keras, Atdam cepat sigap menyambar handphone cina miliknya dari
atas meja (Merk’a Cross ya mba??
#sensorr). Tanpa basa basi dan
melihat dulu dari siapa panggilan masu itu, Atdam langsung saja. (langsung
saja apa tu sess??)
“Sayang,
kenapa gak telfon atau sms kemaren-kemaren, aku sms dan kutelfon tak kau
angkat, apa yang terjadi padamu” ucapnya dengan nada tak sabar.
Atdam
terlihat menghentikan bicaranya dan memberi kesempatan pada suara jauh itu
untuk menjawab, tapi apa yang dia dengar. Yang terdengar bukan suara merdu dari
seorang cewek namun suara yang familiar di kelas waktu dulu sekolah di Jawa.
“Sayang-sayang.
Heh bro, ini gue! Bukan dia!” tegas Joni dengan suara lantang.
Semangat
yang tiba-tiba nyala dan membara, tiba-tiba padam begitu saja menyisakan sisa pembakaran
yang belum selesai terbakar semua.
“Ada
apa Jon?” ucap Atdam pada Joni.
Terdengar
suara tawa yang menggelegar dari sebrang sana. Membuat Atdam menjadi kesal.
Ditanya malah tertawa. Ia pun menutup handphone
dari Joni dan menanti handphone
berdering lagi yang pastinya bukan dari si Joni.
Kriingggg
Suara
handphone Atdam terdengar lagi.
Tanpa
basa-basi seperti awal tadi, Atdam langsung saja menyambar handphonenya. Dan masih sama kata yang terucap pada perkataan awal.
Lagi-lagi Atdam tertipu karena ketidaksabarannya. Ia mengira dari kekasih hati
yang sudah lama ia rindukan. Rindu yang tak berujung dan tak berbentuk. Sampai
tak terbentuknya itu ia semakin seperti gila saja menunggu balasan panggilan
masuk dari suara merdu penuh dengan cinta atau pesan dengan kata-kata mesra.
Tapi
sayang dua minggu tak ada kabar pun. Membuat Atdam semakin bertambah tidak
sabar. Ingin sekali ia datang padanya. Tapi jarak memisahkan mereka. Ia berada
di atas pulau lain sedangkan pujaan hatinya di belahan pulau Jawa yang sudah
lama ia tinggalkan lima bulan lalu karena masalah kecelakaannya ketika akan
kembali ke pulau Jawa.
Atdam
tak henti-hentinya mencoba menelfon dan sms berkali-kali tapi tak ada jawaban.
Beribu-ribu telah Atdam kirimkan pesan yang berisi rasa kangen dirinya.
Sebetulnya apa yang ia lakukan, apa yang terjadi. Pikiran Atdam hanya tertuju
banyak pertannyaan.
Malam
itu, Atdam berencana untuk kabur dari rumah berdinding putih untuk keluar dan
menemui si pujaan hati tapi nasib tak berpihak padanya. Ia ketahuan oleh orangtuanya.
Atdam sering mau kabur, memaksa kedua orangtuanya mengurung dan mengunci Atdam
agar tak kabur dalam keadaaan yang belum sembuh benar. Atdam merasa dijadikan
orang yang sakit parah. Menurut Atdam, mereka telah berkomplot untuk memisahkan
dirinya dengan tunangannya.
Meronta-rontalah
Atdam. Kemarahannya mengusai jiwa dan pikirannya. Ia pun menjadi tak mampu
berpikir secara rasional. Tapi bagi Atdam apa yang dia lakukan itu hal yang wajar
kalau ia meronta karena dirinya dikurung dengan sebab tak jelas. Tapi kata mereka
Atdam gila. Perasaan yang jatuh bangun dan sakit menusuk-nusu masuk dalam
rongga dan pikirannya saat mendengar orangtua mengatakan seperti itu.
Semakin
tak terkendalilah Atdam. Sampai akhirnya Orangtuanya pun tak sanggup menghadapi
Atdam. Sabtu pagi, mereka menyerahkan Atdam ke rumah sakit. Atdam semakin
menjadi-jadi saja karena tahu dirinya dimasukkan dalam rumah sakit jiwa.
Jiwa
Atdam semakin tak terkendali. Kondisinya semakin memprihatinkan saja, baik dari
segi fisik maupun mental. Handphone Atdam
pun menjadi sahabat dimanapun ia berada. Selang beberapa hari di rumah sakit, handphonenya berdering.
Kringgggg
Deringan
handphone Atdam mengagetkan dirinya.
Ingin rasanya cepat-cepat tangan Atdam tuk menjangkau deringan itu. Namun
fisiknya semakin lemah dan tak bertenaga menyebabkan ia butuh waktu sampai ia
bisa menjangkaunya. Deringan pertama kedua mati belum juga tangan Atdam
menjangkaunya. Sampai deringan ketiga kalinya, tangan Atdam dapat menjangkau handphonenya itu. Suara merdu dari ujung
telfon terdengar menyejukkan pikiran Atdam.
“Hallo”
ucap seorang cewek dengan lembut.
Atdam
tak mampu tuk menjawab. Bibirnya terkunci. Hanya bisa menangis dan menjawab
dalam hati. Suara itu mampu membuat Atdam menjadi tenang. Pada menit kesepuluh (pertandingan
bola kaleee...) . Tiba-tiba Atdam tergeletak dan menjatuhkan handphonenya.
“Aku
sudah menikah”.
Praanggg
(Itu yang jatuhh apa?? HP berbentuk
piringkahhh??)
Terlihat
raut muka Atdam yang pucat pasi. Bibirnya
membuka-menutup (Kok yang kebayang
adalah bibir sensual ikan di aquarium
yahh??). Matanya tak berkedip memandang jauh keluar jendela di depannya
dengan panorama malam lampu yang
berkilau-kilau. (Lho... lho... lho...
kok jadi panorama, jalan-jalan bu?? Kok lampu berkilau-kilau mendadak disco ni
yeee??) Tapi seindah apapun cahaya lampu yang tercipta malam itu, Atdam tak
terbawa suasa. Kedipan matanya perlahan
menutup (Ih genit ahh, mau pingsan
aja pake kedip2 dulu). Membasahi bantal
putih di bawahnya. (Wah... parah iki cahhh... ngiler opo ngompol
kuiii??)
Ruangan
menjadi hening dan sangat hening. Tak ada pergerakan pun dari dalam ruangan
yang berukuran 4X6 meter itu (kalauuu luas liang kubur berapa ya???
Ehh... runagan buat WC yang ideal juga berapa ya?).
The
end
Sekian
komentar dari saya, makasiiiihhhhh :D
Komentar
di atas hanyalah fiktif belaka, Ini yang ASLINYA>>HAHAHAHAHAHAHA 3:)
Hmmmm...
Aku juga belum paham benar mengenai dunia tulis
menulis, masalah EYD aku ga mau komentar, sebagai pembaca tulisan itu telah menjadi
milikku, maka terserah aku dalam menilainya, ya mungkin begitu secara kasarnya.
Mungkin kamu ingin membuat unpredictable surprise
ending,
tapi jalinan ceritanya
tidak mengajak pembaca untuk penasaran, ini masuknya cerepn teenlit
ya? mungkin hal ini dilatar belakangi ide cerita yang cenderung sudah biasa di
sinetron, atau FTV, tapi seharusnya hal tersebut bisa ditanggulangi dengan
inovasi cerita. Masih tidak konsen memadukan kata, aku juga sering seperti itu,
jadinya rancau, mungkin karena kurang teliti, terburu-buru. Ceritanya tidak
bergetar, aku sebatas pembaca, seakan tidak ada pintu bagiku untuk masuk
bermain ke dalam cerita, mungkin pengendapan dalam membuat cerita kurang, butuh
penghayatan, terburu-buru mungkin #soalnya aku juga sering gitu.
Jika
ini dibukukan jangan buat buku itu bersentuhan dengan tangan si pembaca, tapi
buatlah buku itu bersentuhan dengan hati si pembaca, biarkan cerita itu
mengalir bahkan menjalin ikatan batin dengan si pembaca, karena tulisan itu
telah menjadi milik si pembaca. Masalah pengangkatan ide dan pengembangannya
selain bisa banyak baca, juga bisa dengan mengasah kepekaan, baik melihat
sekitar atau melalui perenungan, dan dalam menulis buatlah seolah-olah kamu
peran dalam cerita itu, atau setidaknya kamu seakan
ada/menyaksikan/merasakan/terlibat dalam cerita itu yang akan membuat cerita
menjadi gurih dan renyah. Tapi, saya suka dengan keluguan kata-katamu, sudah ku
bilang bukan? Kau bukan manusia. Aku menaruh curiga padamu. Ya, aku akaui itu.
Aku rasa kau adalah siluman, siluman ulat bulu yang menjelma menjadi manusia,
sehingga sering menebar kegelian secara ghaib. #Diam-diam menggelikan gitruuuuu.....
*Kawan seandainya
kau kini sebatas ulat bulu, kehadirannya
tak teranggap bahkan tak dinginkan, seringkali sedal jepit menggilas
dirimu,bebatuan menggerus tubuhmu karena kau mengerikan baginya yang tak
mengenal dirimu sejatinya, teruslah bergerak sampai ke pucuk dan pucuk, nanti
kau kan mendapatkan ketenangan dalam kepompong, manfaatlah masa kesendirianmu
dalam kepompong, setelah semua yang ada dipikiran dan hatimu terendap kuat,
keluarlah, terobos dinding kepompong itu, ada banyak bunga yang menunggu
kehadiranmu. Meski dulu bunga pernah menghindarimu yang berwujud ulat bulu,
jangankan bunga, daun, batang, sampai akarpun pernah mengamini ketiadaanmu,
oleh karena itu tunjukanlah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar