Janji Penunggu Malam
Tentang cahaya? Aku tak bisa menceritakannya. Aku lebih suka
gelap. Tak pernah ku hiraukan ketika gelap selalu dihakimi dengan ketakutan,
dengan hal negatif, dengan imajinasi di luar nalar. Kebanyakan dari mereka yang
bersebrangan denganku berkata gelap itu tidak ada. Kata gelap digunakan manusia
hanya untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya. Pernyataan itu menciptakan sebuah
tanya. Apakah hidupku terlalu jauh dari cahaya? Sungguh kalimat tanya yang membuatku
seakan dikepung oleh sekompi pasukan bersenjata yang bergerak maju dengan
senapan terhunus siap memuntahkan peluru. Perdebatan batin pun tercipta, apakah
aku mulai ragu dengan keyakinanku? Aku bungkam. Sejenak ku lempar sunyi pada
air mata.
***
Tuhan, aku
masih menyimpan nama-Mu, tapi untuk nanti. Percayalah, nanti aku bakal mengingat-Mu, meski aku tak tahu
apakah nantinya aku sempat mengingat atau keburu mati. Entahlah, aku juga
bingung dengan diriku sendiri, aku selalu berusaha menepati janji pada orang
lain, janji keluar bersama kawan, janji kencan di tempat ini, itu, dan janji-janji
lainnya. Tapi, janjiku pada diri sendiri, aku sering mengabaikannya. Teringat
masa kecil, saat seragam sekolah masih melekat di keseharianku, aku sering berjanji
akan belajar di jam ini, jam itu. Namun, saat tiba waktunya aku cenderung menundanya
bahkan melewatkannya. Janji yang sederhana dan pengingkaran yang sederhana
pula. Ah, Sebegitu mudahnya memaafkan diri sendiri.
Kembali pada
ceritaku tentang malam. Memang benar adanya, banyak sekali alasan untuk
menghidari malam. Tapi, tak bagiku! Canduku pada malam, membuatku menyukai
segala sesuatu hal yang di tawarkan oleh malam dan kegelapannya. Aku tak tahu
sejak kapan aku tak bisa akrab dengan matahari. Aku tak memikirkan sengatannya
yang menggelapkan kulit, sebab kulitku sudah sejak lahir coklat, sawo matang
tepatnya. Jika banyak orang membutuhkan beberapa helai kain tebal untuk
membungkam dinginya malam, maka tak bagiku! Malam memberikan kehangatan
tersendiri seperti induk ayam yang mengerami telur-telurnya hingga bisa menetas,
“kehangatan yang pas, iyakan bu? Aku sudah mulai merasakan itu semua.” Kataku
sembari mengenang masa lalu.
***
Orang-orang
yang selalu mencerca dunia malam tak tahu bahwa uang yang ku dapat dari gelapnya
malam justru mampu menjadi penerang dalam hidupku, dari malam aku mampu menikmati
rasa sakit, merasa nyaman di tengah orang-orang yang lupa diri karena menenggak
alkohol, mengajariku sebuah pertemanan yang sesungguhnya, yakni pertemanan yang
hanya memikirkan rupiah dari balik lipatan dompet, hanya hadir kala suka,
sedangkan duka? Jangan berharap medapatkan tempat untuk membaginya. Lebih dari
itu, ada banyak cinta yang bisa ku dapati dari malam, cinta yang kan habis kala
terang dan kepuasan nafsu sesaat sudah
terengkuh. Inikah yang disebut gelap dapat menutupi penglihatan?
Malam, aku tak menyalahkanmu. Gelap memang
suguhan khasmu, jika banyak tuduhan atas dirimu, itu semua karena para pelaku malam yang
terlalu mencintaimu dan membutuhkanmu. Mereka yang datang dari beragam latar
belakang, sifat, watak, dan profesi mempunyai alasan masing-masing untuk
hinggap di setiap kehadiranmu. Hampir tak didapatinya cahaya dalam gelap membuat
mereka dan juga aku tak perlu takut bercermin dengan wajah yang mengerikan,
takkan ada cermin yang mampu memantulkan bayangan kami, aku yakin itu. Tak
seperti siang yang selalu mengumbar si hitam, si coklat, si kuning dan si
putih. Membuat mereka yang tak tahan, akan menangisi diri. Tak usahlah memuja
cahaya yang terang-terangan memancar, cahaya macam itu keabadiannya diragukan.
Ada banyak cahaya yang tak terlihat yang terangnya menyilaukan, barangkali hati
atau sekeliling kita kan mampu menjawabnya.
Aku sudah
lelah dipandang sebelah mata tanpa orang-orang mengerti semua alasanku, sebuah
alasan yang tak pernah ditanyakan dan tak diberi kesempatan untuk
dipernyatakan. Miris, semua itu hanya membuatku semakin ingin menggelap
gulitakan diri saja, gerutuku Tuhan.
***
Hanya malam yang
mampu mengakui keberadaanku di saat sekelilingku menghujat adanya diriku di
sisi mereka. Ku mohon Jangan tegur diriku, jangan menghentikan sesuatu hal yang
ku sukai, biarkan aku memilih bahagiaku sendiri meski di matamu bahagiaku ini
menyakitkan. Ku katakan sekitar sembilan purnama lalu, ketika kau menemukanku, membujukku
untuk tinggal bersamamu dan aku menyetujuinya, asal kau jangan menguliti
kemasanku saat ini. Dapat dihitung bukan? Aku baru sembilan bulan kembali
bersamamu, sedang kita pernah berpisah sekian belas tahun lamanya. Terdapat
jarak sekian tahun yang membuatmu tak menyaksikan kisah hidupku, hai lelaki
yang sudah lama tak ku panggil ayah.
Ayah, kau pernah
meninggalkanku dan ibu sendiri, kau marah pada ibu, kau marah padaku. Mungkin
hanya kebiasaan marahmu yang menjadi satu-satunya sisa kenangan yang masih sangat membekas dalam ingatanku. Aku
masih sakit hati padamu ayah, kau tak sepert ibu. Saat kecil kau selalu
memarahiku, melarangku bermain dengan teman-teman baiku, memukuliku saat aku
merengek dibelikan boneka atau gaun indah yang ku lihat di toko, tak seperti
ibu yang mau mengabulkan permintaanku. Bisa dibilang pendapatan ibu memang
lebih tinggi darimu yang hanya bekerja sebagai buruh di suatu pabrik gula
dengan gaji yang sangat minim, mungkin itu salah satu hal yang selalu membuatmu
uring-uringan di rumah karena tidak bisa menyukupi kebutuhan keluarga.
***
Saat malam
tiba, ibu berubah menjadi sangat cantik, benar-benar cantik. Aku ingin secantik
ibu. Tapi, di saat itu juga aku harus siap berada sendiri di rumah dan harus
siap mendengarkan persetruan antara ibu dan ayah, karena di setiap kepergian
ibu kala malam hari selalu menyulut emosi ayah, ibu tak menghiraukannya, ia
pergi begitu saja. Sebenarnya apa yang membuat ayah sangat membenci ibu saat
keluar malam? Ibu adalah orang yang baik, tak hanya mau membelikan boneka dan
gaun untukku, tapi juga mau berbagi kosmetik denganku, meski aku masih kecil
dan awalnya dia ragu, tapi karena aku terus membujuknya, akhirnya dia
mengabulkan permintaanku. Aku belajar bagaimana menggunakan lipstick dengan benar, memoles bedak
dengan rapi, memilih warna eyeshadow
yang tepat, menggarisi pinggir mata dengan rapi dan lain sebagainya, semua ibu
berikan asal aku bahagia. Semenjak itu, aku tak lagi murung saat setiap malam
hari ibu harus meninggalkanku sendiri, sebab ibu juga meninggalkan mainan baru
untuku, seperangkat alat rias, aku langsung mengunci kamar takut ketahuan ayah.
Di depan cermin aku berias.
Suatu hari sebelum
kau marah besar, kau mendapati aku sedang bersolek di depan cermin, kau
mengambil kotak riasku dan membakarnya, semalaman aku tak bisa tidur, hanya
menangis dan menangis, lalu kau menampar ibu yang pulang waktu subuh. Kalian
bertengkar hebat, aku menangis di sudut kamar, menutup telinga dengan kedua tanganku, memejamkan
mata begitu kuat, aku tak ingin melihat kalian bertengkar. Aku rasa inilah awal
aku berkenalan dengan gelap dari pejaman mata. Tujuh tahun setelah aku
ditinggalkan ayah, ibu meninggal terserang suatu penyakit. Akupun mulai
bertahan hidup sendiri. sembilan tahun kemudian kita bertemu lagi, yakni di
usiaku yang ke 22 tahun.
***
Di bawah
malam, ku tatap bulan sabit yang melengkungkan senyum. Beberapa gumpal awan
hitam yang mengepungnya mulai merenggang, pudar, lalu hilang tertiup angin
malam. Beberapa bintang mulai menampakkan diri. Ada cahaya di sana, hatiku
bergetar seakan aku kembali kepada rasa yang pernah tiada, rasa sebelum diriku
terlampau jauh mengenal gelap. Namun, aku tak terlalu menghiraukan perasaan
itu.
Sendiri
menyisir jalanan pinggir kota, menyusur lorong-lorang gelap, menghirup udara
yang membawa bau khas tanah yang habis terguyur hujan, menyisakan beberapa
genang air. Langkahku terdengar menggema bersahut-sahutan, terpantul
dinding-dinding lorong. Tak lama kemudian, masih dalam gelapnya lorong jalan
kala malam, terdengar suara beberapa langkah-langkah lain semakin cepat,
semakin mendekat, “sialan kau! Ini balasan sakit hatiku!” seru seorang lelaki
dibelakangku dan langsung mendekapku bersama beberapa orang lain. Semua
benar-benar sangat gelap. Aku tergeletak tak berdaya, memerahkan beberapa
genang air yang bersentuhan dengan lukaku. Sebenarnya malam ini aku hendak
pulang tak terlalu larut, meninggalkan semua perjanjian dengan beberapa lelaki
malamku dan sebaliknya aku berjanji pada diri sendiri untuk menyampaikan sesuatu pada ayah, benar-benar sebuah janji yang ingin segera ku
katakan, tentang diriku yang sudah bisa merubah pikiran. Sebelum aku
benar-benar terlelap tak sadarkan diri, aku teringat ayah dan percakapan kami
sore tadi.
“Bagaimana tawaran ayah kemarin, kau mau?”
“Oh, yang datang kemarin?” Jawabku datar.
“Iya, kau sudah bisa merubah pikiranmu?” Tanya ayah penuh harap.
“Tidak, aku tidak tertarik padanya!”
“Ibumu tak hanya liar dan tak mau mengikuti perkataanku, tapi...” Mendadak
perkataannya terpotong, bibirnya bergetar menyisakan beberapa kata yang
terlihat alot, tak kunjung terucap. Terlihat air mata sedikit mengembun di
sudut matanya, menunggu detik-detik
untuk merayap jatuh di permukaan kulit keriput pipinya itu.
Aku tetap konsentrasi merias diri, tak menghiraukan. Tak lama kemudian dia
melanjutkan perkataannya, ”tapi... dia juga sudah salah asuh, maafkan ayah.”
Aku menatap bayangan ayah yang berada di dalam cermin meja riasku, “sudahlah,
setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing.” Aku kembali melanjutkan
merias wajah yang belum kunjung selesai.
“Padahal ayah berharap dia mampu menjadikanmu imam yang baik. Perempuan
muslimah itu, kurang cantikkah dia?” Tanya ayah sembari berurai air mata.
Aku berhenti
menepuk-nepukan spons bedak ke pipiku
dan mengahadap ke arah cermin. Terdiam memandangi bibir merah, pipi pink merona, mata biru dengan garis pinggir tajam dan kelopak mata
lentik serta alis tipis yang sedikit ku kerik menggaris diatasnya, dalam hati
aku berkata, “aku masih ingin cantik.”
Dina Ahsanta Puri, lahir di
Purbalingga 06-06-95, mahasiswi semester 2, FPBS, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP PGRI
Semarang, aktif di UKM KIAS dan LPM Vokal, e-mail :
Ahsantapuipui@gmail.com/Diari_lyan@yahoo.com.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar