Ulang
Tahun, suatu perayaan; waktu yang dikenang dalam pengulangan. Saya pun
terkenang seseorang di ulang tahun Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI)
ke-23 ini.
Akhir-akhir
ini waktu seakan mengepung saya untuk sering teringat nama Minke. Minke, Minke,
Minke, begitu nama itu berkelebatan di kepala. Melihat buku-buku karangan Pram
di lemari, saya teringat Minke. Membuka BBM, ada kawan membuat PM tentang
Minke. Membuka Line, kawan saya
menjual kaos bertemakan Minke. Membuka Facebook,
ada Fanspage humor meme yang memposting plesetan buku Pram
dari Gadis Pantai menjadi Gadis Partai, teringat Pram, tentu saya teringat
Minke lagi. Apalagi, di kota yang saya tinggali untuk beberapa tahun ini, para
pegiat pers kampus seluruh Indonesia tengah merayakan Dies Natalis ke-23 PPMI, saya pun jadi teringat Minke lagi.
Mungkin
beberapa awam akan bertanya-tanya mengapa harus teringat Minke? Atau mungkin
justru pembaca tulisan ini memilih
berhenti membaca lantaran sudah tahu Minke atau bosan di awal lantaran saya berkisah
tentang ingatanku.
Kali pertama saya mengenal Minke ialah lewat Roman
Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta
Toer. Bumi Manusia merupakan satu dari
tertralogi Pulau Buru; Bumi Manusia, Anak semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Lewat
tulisan Pram itu, saya menjadi pengagum sosok Minke; pemuda terpelajar yang dalam bayang saya
begitu karismatik. Bahkan Annelis, gadis jelita peranakan Indo-Belanda, putri
Nyai Ontosoroh, tergila-gila padanya.
Kamis
malam lalu, kawan saya menyambangi kos, lantas dia berkisah tentang Pram. Habis
baca karya Pram rupanya. Pada intinya dia merasa kagum. Dia banyak cerita
tentang Minke pula dan bertanya-tanya, apakah tokoh-tokoh dan cerita itu fiksi
belaka atau nyata? Saya menjawab setahu saya saja. Awalnya memberikan
pengandaian Pegasus. Pegasus itu fiksi, mana ada kuda bersayap dengan tanduk unicorn. Tapi, pengarang tokoh pegasus
mempunyai latar belakang mengapa dia bisa membangun tokoh itu, tak lepas dari
kehidupan. Bukankah di dunia nyata ada kuda, ada angsa? Saya tak menerangkan
lebih lanjut perumpamaan itu, biar kawan saya menyerap sendiri.
Lalu
siapakah Minke? Apakah sosok Minke benar-benar pernah hidup? Berdasarkan
berbagai sumber yang saya peroleh selama ini, baik dari buku-buku Pram, bincang-bincang
ringan, serta sumber lain, Pram memang menggambarkan seseorang dengan tokoh
Minke. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang memiliki nama kecil Djokomono.
Banyak tokoh yang terlepas dari kesadaran historis
kita. Ada dua kemungkinan mengapa kita seakan ‘hilang ingatan’. Bisa karena ‘pemburaman
‘sejarah’ oleh kaum penguasa atawa diri kita saja yang tak sungguh-sungguh
mempelajari sejarah.
Seperti buku Seno Gumiro Adjidarmo , Jika
Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Dan memang begitu adanya,
membaca karya-karya sastra membuat saya kadang harus menyetting ulang memori
saya yang sebelumnya terisi materi-materi dari bangku sekolah. Juga menambah
informasi tak terjamah. Dan sebagai pegiat pers kampus, saya merasa ironis pada
diri, merasa terlambat mengenal R.M. Tirto Adhi Suryo.
Minke; R.M.
Tirto Adhi Soerjo dan Bangkitnya Pers Pribumi
Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah
penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20, R.M. Tirto Adhi Suryo lah pelopor
pers pertama pribumi. Menjadi titik pergerakan nasional bangkitnya pers
pribumi. Lewat tulisan-tulisan kritis dan tajam, mengajarkan kaum terjajah
untuk beralih ke alam demokrasi modern, menjadi kaum mardika.
1969-1979-dalam pengasingannya di Pulau Buru, lewat
tulisnya, Pram menghidupkan sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dalam
pribadi tokoh Minke.
Minke digambarkan sebagai putra bangsawan yang
berjuang dari bawah. Dalam Roman Bumi Manusia, Minke memiliki panutan, mama
dari Annelis, Nyai Ontosoroh dari nama Buitenzorg
(Boerderij Buitenzorg: Perusahaan Pertanian). Meski gundik Belanda, Nyai
Ontosoroh ialah perempuan tegar dan lebih terpelajar ketimbang orang Belanda.
Minke mengenyam
bangku sekolah Belanda HBS, dan berlanjut ke sekolah kedokteran Stovia di
Batavia. Namun, sekolahnya terbengkalai dan dikeluarkan dari sana. Dia lebih
suka dunia tulis-menulis.
Pada awal kiprahnya di dunia menulis untuk dimuat
disurat kabar, dia menggunakan bahasa Belanda. Hanya bisa dibaca golongan
terpelajar, bukan mayarakat kelas bawah macam pribumi. Dan dalam Anak
Semua Bangsa, sahabat Minke, Jean Marais, Pelukis Prancis juga mantan
tentara berkaki buntung, memperingatkan Minke.
“Kau pribumi
terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin
mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan
bahasa yang mereka tahu. Kau tak kenal bangsamu sendiri,” kata Jean Marais.
Minke merasa terpukul dengan kata-kata itu juga terpecut semangatnya
untuk memperjuangkan bangsanya; bertekad menyadarkan masyarakat bangsanya
dengan menulis dalam bahasa Melayu. Dikisahkan dia belajar langsung mengenal
seluk beluk kehidupan rakyat jelata dari seorang petani Jawa bernama
Trunodongso.
Selanjutnya,
Jejak
Langkah, mengisahkan perjuangan Minke alias Tirto dalam mendirikan
organisasi dan surat kabar. Organisasi
pribumi pertama yang didirikan Minke pada masa pergerakan nasional adalah
Sarekat Priyayi 1904. Tiga tahun kemudian, 1907, Minke mendirikan surat kabar
nasional Medan Priyayi di Bandung. Surat kabar nasional pertama yang berbahasa
Melayu (bahasa Indonesia). Seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan,
penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Di sana, Minke amat
berani dan terang-terangan membongkar kebusukan Belanda, hingga dia ditangkap
dan diasingkan.
Rumah Kaca,
mengisahkan penghujung perjalanan hidup Minke. Dia tak hanya dikagumi bangsanya
tapi juga Belanda. Meski begitu, Minke tetap menyatakan perlawanan terhadap
Belanda seperti kata-katanya:
“Kita semua
harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia
yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin
kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan
baru, maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus
umat manusia.”
Di luar tetralogi Pulau Buru, penggambaran R.M. Tirto Adhi Soerjo
tertuang di Biografi Minke, Sang
Pemula. Pram, seakan ingin berseru bahwa kita pernah memiliki pejuang bersenjata
pena yang ditakuti Belanda. Sosok terpelajar Minke atawa R.M. Tirto Adhi Soerjo
bagi saya sendiri, mengingatkan pentingnya keberanian dalam menulis. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Berkat
jasa-jasa dan pergerakan R.M. Tirto Adhi Soerjo, beliau dinyatakan sebagai
Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI. Pemerintah RI juga menganugerahkan
gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.
Itulah
Minke, Begitulah R.M. Tirto Adhi Soerjo... .
Kamar Diam, 29 Januari 2016